
WARNING!!! AREA 21+++
"Kamu tidak akan bisa kabur kali ini ... Kyra" ucap Eric dengan tatapan penuh gai*rah.
"Kakak, sadarlah ... Kamu sedang mabuk" ucap Kyra sambil meronta-ronta.
Semakin Kyra mencoba melepaskan diri, semakin Eric menindih tubuhnya. Eric yang kini tengah mabuk berat dan terpengaruh obat dari Serlyn tidak mengindahkan ucapan Kyra sedikitpun.
"Kak ... eumhh" ucap Kyra tertahan karena Eric dengan cepat ******* bibir Kyra.
Tanpa memberikan celah sedikitpun, Eric semakin gencar menyecap dan mengisap bibir Kyra. Eric semakin memperdalam ciumannya dan sesekali menautkan lidahnya dengan lidah Kyra.
"Hhnngg, eeeuummhh" hanya de*sahan tertahan Kyra yang kini terdengar.
Suara-suara kecupan Eric dan de*sahan Kyra kini mendominasi ruang kamar Eric.
Beberapa saat kemudian Eric pun melepaskan ciumannya.
"Eeuuhh, hah ... kak ... huh huh ... berhenti" ucap Kyra yang kini hampir kehabisan nafas.
Bagaikan angin lalu, Eric tak menghiraukan ucapan Kyra dan malah menyeruak ke leher jenjang Kyra.
Dengan kedua tangan yang masih menyatu dengan tangan Kyra, Eric menyibukkan bibirnya dengan mengecup leher Kyra dan sesekali menggigit kecil di sana.
"Mmmmhh, kak ... Sadarlah" kata Kyra namun masih tidak di hiraukan oleh Kyra. Eric kini sudah benar-benar kehilangan kesadarannya dan sudah tak mampu membendung hasrat dalam dirinya akibat pengaruh obat dari Serlyn.
Berkali kali Kyra terus menyadarkan Eric, namun yang ada Eric malah semakin berna*su ketika mendengarkan suara Kyra.
Bagaikan singa yang kelaparan dengan cepat Eric membuka paksa semua pakaian Kyra tanpa tersisa.
"Hiks kak, jangan" ucap Kyra yang kini sudah mulai menangis dan mencoba menutupi bagian tubuh atasnya.
"Sssttt" Eric menaruh jari telunjuknya di depan bibir Kyra. "Jangan menangis Kyra, aku akan memperlakukan mu dengan lembut" bisik Eric dengan suara parau.
Eric kembali menautkan bibirnya ke bibir Kyra, ciuman yang masih sama, ganas dan tak memberikan celah untuk Kyra bernafas. Tubuh Eric kini tengah mengangkangi Kyra yang sudah tak memakai sehelai benang di tubuhnya.
Kyra hanya bisa menangis dan pasrah dengan apa yang di perlakukan Eric kepadanya. Sesaat kemudian Eric mulai menggerayangi tubuh Kyra, mengusap lembut perut rata Kyra yang membuatnya meliuk-liukkan tubuhnya akibat sensasi geli yang Kyra rasakan.
Sentuhan itupun semakin naik dan semakin menuju ke buah da*da Kyra. Tanpa melepaskan ciumannya tangan kanan Eric mulia menangkup buah da*da Kyra.
"Engghhh ... Sshhh" Leng*uh Kyra ketika merasakan tangan Eric mulai bermain-main di sana.
Tanpa Kyra sadari, ia pun mulai terlena dan terbuai dengan permainan Eric. Rasa penolakan yang tadi ia lakukan kini berganti menjadi rasa candu baginya.
"Uhhh ..." Kyra pun meremas rambut Eric yang kini mulutnya mulai menjalari kedua buah da*danya. "Kakak ... mmhhh" ucap Kyra sambil mengigit bibir bawahnya.
Eric yang sedari tadi sudah tak mampu membendung hasratnya kini sudah mulai tak tahan. Dengan cepat ia membuka semua pakaiannya.
Mata Kyra terbelalak ketika melihat tubuh telanjang Eric, pandangannya mulai menelusuri semua bagian tubuh Eric, mulai dari otot lengannya, otot perut dan benda di bawah sana yang terlihat sangat keras dan panjang.
Kyra pun menelan salivanya ketika Eric hendak memasukan benda tersebut ke dalam miliknya.
"Kak .." ucap Kyra dengan tangan yang menahan perut sixpack Eric. "Kakak, aku belum siap" lanjut Kyra.
Tanpa menjawab Eric malah tersenyum senang mendengar ucapan Kyra. Ia kembali menautkan jari-jarinya dengan jari Kyra. Ia kembali menciumi bibir Kyra namun kini terasa sangat lembut dan tidak sekasar tadi yang membuat Kyra mulai terlena kembali.
"Ugghh ..." Kyra memekik keras ketika merasakan ada benda asing yang mencoba masuk di bawah sana.
Perlahan namun pasti, benda itupun mulai menyeruak masuk ke dalam milik Kyra. Rasa sesak, penuh dan rasa sakit kini bercampur menjadi satu.
"uuahh, kak ... Mmhh, hentikan ... shhtt, ini menyakitkan ... AW" pekik Kyra ketika Eric mulai menghentakkan pinggulnya dengan kasar.
"Aaahhh, sakit ... hiks hiks" ucap Kyra dengan berlinangan air mata ketika merasakan perih tak tertahankan di bawah sana.
"Hiks hiks"
Eric yang sudah di butakan oleh naf*su tak menghiraukan Kyra yang sedang menangis, ia justru malah menarik dan memasukkan lagi benda miliknya itu. Semakin lama semakin Eric menggila di buatnya, ia pun terus menga*gahi Kyra tanpa henti.
Sedangkan Kyra yang kini berada di bawah kungkungannya hanya bisa pasrah menahan rasa sakit yang masih tersisa di bawah sana.
...----------------...
Jam dinding mulai menunjukkan pukul enam pagi, Kyra yang kini tertidur di pelukan Eric pun mulai membuka matanya.
"Euummh" gumam Kyra sambil meliukkan badannya yang terasa sangat pegal.
Ia pun melihat ke arah jam dinding dan matanya mulai terbelalak. Kyra sadar jika dirinya hari ini memiliki kelas pagi.
Dengan perlahan, Kyra memindahkan tangan Eric yang kini melingkari pinggangnya. Ia pun segera bangkit dari tempat tidur.
"Ugghh" pekik Kyra.
Ia merasa rasa sakit dan perih di bagian bawahnya. Sesaat Kyra melihat ke arah seprai putih di bawahnya, terdapat noda darah di sana yang menunjukkan bahwa ia telah kehilangan keperawanannya.
Seperti tak ada rasa penyesalan, Kyra pun turun dari ranjang dan mulai mengenakan pakaiannya. Sebelum ia keluar dari kamar Eric, Kyra pun menyempatkan mencium kening Eric yang kini masih terlelap dalam tidurnya.
Dengan buru-buru Kyra pun kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Tanpa Kyra sadari ada seseorang yang masuk ke dalam apartemen mereka.
"Kyra?" gumam orang tersebut yang tak lain adalah Serlyn yang tiba-tiba masuk ke dalam apartemen Eric karena mendapatkan kuncinya kemarin malam.
"Kenapa Kyra keluar dari kamar Eric sepagi ini?" gerutu Serlyn. "Atau jangan-jangan mereka ..."
Serlyn pun dengan cepat masuk ke dalam kamar Eric. Ketika ia membuka pintu, Serlyn masih mendapati Eric yang masih terlelap di balik selimut dengan tubuh telanjang.
"Hah? apakah mereka berdua melakukannya tadi malam?"
Serlyn pun berjalan menghampiri ranjang milik Eric. Dan betapa terkejutnya Serlyn ketika melihat noda darah dia atas seprai putih di sana.
"Ah bagus sekali" ucap Serlyn sambil tersenyum senang. "Kemarin aku gagal untuk mendapatkan mu, tapi tak apa. Aku masih punya cara lain" gumam Serlyn.
Serlyn pun melepaskan semua pakaiannya, dan mengambil lipstik di dalam tasnya. Setelah selesai memberikan lipstik di beberapa bagian tubuhnya, Serlyn pun merangkak naik ke atas ranjang.
Sebelum ia menutup tubuhnya dengan selimut, ia pun mengacak-acak rambutnya sehingga terlihat sangat berantakan.
Dengan senyum kemenangan, Serlyn pun mulai pura-pura menangis sesenggukan.
"Hiks hiks"
Dan beberapa saat kemudian Eric pun terbangun karenanya. Dengan kepala yang masih terasa pusing, Eric pun mulai membuka matanya.
"Se-serlyn"