
Satu tamparan keras dari Eric kini mendarat di pipi kiri Kyra.
"Apa yang kamu katakan Kyra? Sejak kapan kamu berubah jadi wanita seperti ini" teriak Eric.
Kyra masih tertunduk dan memegangi pipinya.
"Kamu pikir aku lelaki yang seperti apa? Kamu pikir aku hanya menyukai tubuhmu saja?" Lanjut Eric yang kini sudah tidak bisa membendung amarahnya.
"Aku ... aku hanya ..."
"Jika kamu tidak bisa merasakan perasaan ku setidaknya jangan berfikir seperti itu" ucap Eric masih kesal. "Pergi dari hadapan ku"
"Kakak ..." gumam Kyra sambil berlinang air mata.
"Aku ingin sendiri untuk beberapa hari ini, jadi jangan menggangguku"
Eric pun pergi meninggalkan Kyra yang masih terdiam di tempatnya.
"Kakak ..."
...----------------...
Hari-hari Kyra kini bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Eric kini malah jarang pulang ke apartemennya sejak kejadian tersebut.
Namun Kyra masih tidak menyerah, setiap kali Eric pulang dia selalu saja mencoba berbicara kepada kakaknya itu.
Dan beberapa hari juga Serlyn tidak terlihat datang ke apartemen mereka.
Suatu hari di malam hari, Kyra berjalan menuju ke ruang kerja Eric.
"Kakak ..." ucap Kyra yang kini berjalan masuk ke dalam ruangan Eric.
"Jangan menggangguku, aku sedang sibuk" balas Eric dengan dingin.
"Aku hanya ingin minta izin sama kakak ..." ucap Kyra lirih.
"Katakan"
"Eemmm, bolehkah teman-teman ku main ke sini?" kata Kyra dengan gugup takut Eric akan marah.
"Terserah kamu" ucap Eric dan mulai menyibukkan diri dengan laptopnya.
"Eemm, baiklah"
Kyra pun pergi dari ruangan itu dengan wajah yang sedih.
"Kenapa kakak masih saja bersikap dingin kepada ku" gerutu Kyra.
...----------------...
Keesokan harinya Eric pergi ke kantor lebih pagi dari biasanya dan Kyra sudah mulai terbiasa dengan itu.
Hari ini, Kyra sedang tidak ada kelas, dan para sahabatnya sudah janji akan datang ke apartemennya.
Tangan mungil Kyra kini sedang sibuk menyiapkan beberapa camilan dan juga minuman untuk sahabatnya. Tanpa ia sadari jam dinding sudah menunjukkan pukul dua siang.
Ting tong
Bel apartemen pun berbunyi. Dengan cepat Kyra berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya.
"Tada ..." teriak Nuril yang kini sudah ada di depan pintu bersama Mikha.
"Kalian lama sekali, aku sudah menunggu kalian dari tadi" ucap Kyra.
"Ah, maaf Kyra. Tadi kami mampir dulu di mall sekalian beliin kamu ini ..." kata Mikha sambil menyodorkan sebuah paper bag hitam ke arah Kyra.
"Hng, apa ini?" ucap Kyra sambil menerima paper bag dari Mikha.
"Buka aja" kata Mikha.
Kyra pun membuka paper bag tersebut dan melihat isi yang ada di dalamnya.
"Wuaahh, boneka panda. Imutnya" ucap Kyra dengan mata berbinar.
"Aku tau kamu pasti suka" kata Mikha sambil tersenyum gembira.
"Makasih banyak ya Mikha, aku suka bonekanya"
"Hemm.. sama-sama"
Tanpa mereka sadari, Nuril terlihat jengah dengan sikap mereka dan memutar bola matanya malas.
"Eh? kita nggak di suruh masuk nih?" ucap Nuril.
"Oh iya, sampai lupa. Ayo masuk"
Kyra pun mempersilahkan mereka masuk ke dalam apartemen.
"Silahkan duduk, aku akan ke dapur sebentar" ucap Kyra.
"Enggak repot kok. Lagian kalian kan pertama kali datang ke sini, aku seneng banget loh" ucap Kyra.
Kyra pun beranjak pergi menuju dapur. Sedangkan Mikha dan Nuril kini sedang duduk di sofa ruang tamu.
Tak berselang lama Kyra pun datang dengan membawa beberapa makanan ringan dan minuman dingin.
"Sudah ku bilang nggak perlu repot-repot Kyra" kata Mikha.
"Nggak repot kok"
Mereka pun melanjutkan berbincang-bincang dan bersenda gurau hingga hampir sore hari.
"Kyra ... apakah kamu dengan kak Zian pacaran?" ucap Nuril.
"Apa maksudmu ril? Tentu saja tidak" kata Kyra.
"Ada apa dengan Nuril? Kenapa tiba-tiba membahas soal kak Zian. Dia jelas-jelas tau kalau Kyra tidak menyukainya" batin Mikha sambil sesekali melirik ke arah Nuril.
"Kenapa nggak jadian aja Kyra? Kalian berdua cocok loh ... Dan lagi kak Zian selain ganteng kan juga perhatian sama kamu" lanjut Nuril.
"Apa sih, nggak mungkin lah aku sama kak Zian jadian" jelas Kyra.
"Kenapa? apakah kamu masih terpaku kepada kakak ganteng mu itu? jangan-jangan kamu sudah mulai mencintainya ya" ucap Nuril dengan gamblangnya.
"Ya Nuril, kenapa bahas soal itu sih" bisik Mikha namun Nuril tak menghiraukannya.
"Ya enggak lah Nuril ngaco kamu" ucap Kyra dengan gugup.
"Hem ... masa sih nggak ada perasaan sama kakakmu? kamu bahkan pernah di cium sama dia" lanjut Nuril.
"Yakk!" teriak Mikha sambil menepuk paha Nuril.
"Mana ada, itu cuma kesalahan doang kok ... Kamu kan tau sendiri ril, aku juga sepertinya sudah pernah cerita sama kamu ... Bagaimana pun juga, aku adalah adiknya. Jika ayah dan ibu tau aku dan kakak punya hubungan terlarang bukankah itu akan membuat mereka malu? Aku tidak mau mempermalukan mereka dengan hal seperti itu" jelas Kyra.
Nuril pun tersenyum senang mendengar hal tersebut. "Betul sekali Kyra, itu akan menjadi hal yang sangat memalukan" ucap Nuril.
"apa yang Nuril sedang lakukan?" batin Mikha.
Secara tidak sadar, Mikha menoleh ke arah pintu dan terlihat seperti bayangan seseorang yang keluar dari apartemen.
"Oh? siapa itu tadi?" kata Mikha sambil menunjuk ke arah pintu apartemen.
"Ada apa Mikha?" ucap Kyra.
"Itu tadi seperti ada yang keluar dari pintu, sepertinya seorang laki-laki" jelas Mikha.
"Masa sih?"
"Hem, apakah itu tadi kakakmu?" ucap Mikha lagi.
"Kakak? ... iya juga sih, biasanya kakak pulang jam segini"
Kyra pun pergi melihat ke arah pintu, dan benar saja terlihat pintu apartemen tidak tertutup sempurna menandakan ada seseorang yang baru saja keluar dari sana.
"Hng, bukankah aku tadi sudah menutup pintunya? apakah benar tadi kakak sudah pulang?" gumam Kyra.
"Ada apa Kyra?'' kata Mikha lalu menghampiri Kyra.
"Emm, tidak ada"
Nuril yang kini masih duduk di sofa terlihat tengah tersenyum senang.
"Berhasil" batin Nuril.
Mikha dan Kyra pun kembali ke ruang tamu dan duduk kembali ke sofa.
"Apakah tadi beneran kakakmu Kyra?" tanya Mikha.
"Entahlah, aku juga tidak pasti"
"Kyra sepertinya ini sudah hampir malam, kita balik dulu ya" kata Nuril.
"Heeemm... iya juga sih, lagian besok kita juga ada kelas pagi kan?" tambah Mikha.
"Hemmm" Kyra pun mengangguk tanda setuju.
Nuril dan Mikha pun beranjak dari tempat duduknya. Kyra pun mengantar mereka sampai di depan pintu.
"Kita pulang dulu ya Kyra" ucap Mikha.
"Iya, hati-hati di jalan ya... Dah" ucap Kyra sambil melambaikan tangan.
"Dah" ucap Nuril dan Mikha serentak.
Kyra pun memandangnya punggung kedua sahabatnya itu hingga mereka menjauh.
"Kenapa hari ini aku merasa tidak tenang ya" gumam Kyra. "Ah sudahlah, lebih baik masak makan malam. Sebentar lagi kan kakak akan pulang"