
"Haish, baiklah. Kamu memang bosnya, terserah kamu mau ngapain" ucap Farhan malas.
"Oh, ya-" sebelum Eric menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Eric pun segera mengambil ponsel dari saku celananya lalu mengangkat telepon tersebut. "Ya Jacob, ada apa?"
"Hey, ini sudah jam berapa? Rapat akan segera di mulai dan kamu belum datang" kata Jacob dari balik telepon.
"Aku masih ada di rumah sakit, aku akan menyuruh Farhan untuk menggantikan ku"
"Kamu sudah gila? Mana bisa begitu, jika kamu tidak datang klien akan membatalkan kerjasama dengan kita" ucap Jacob kesal.
Eric pun beralih memandang Farhan, lalu Farhan membalasnya dengan mengangkat bahunya.
"Ck, baiklah baiklah. Aku akan pergi sekarang juga" kata Eric pasrah.
"Ya, cepatlah" teriak Jacob dari balik telepon lalu memutuskan panggilannya.
"Haishh, sebenarnya yang boss ini siapa sih?" gumam Eric sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ya, biar kamu pernah ngerasain rasanya jadi kita" kelakar Farhan.
"Ck, dasar. Baiklah kalau begitu aku akan berpamitan kepada Kyra"
"Aku bisa memberi tahu dia nanti, kamu pergi saja" kata Farhan mencegah Eric yang akan masuk ke dalam ruang inap Kyra.
"Ck, bilang saja kamu mau mencegahku untuk menemuinya"
"Ya memang, lagipula dia masih ganti baju"
"Sudah selama ini, jelas saja dia sudah selesai. Minggir" kata Eric lalu mendorong bahu Farhan.
Eric pun masuk ke dalam ruangan Kyra, namun Kyra masih belum keluar dari kamar mandi. Ia lalu bergegas menuju ke kamar mandi karena merasa khawatir dengan Kyra.
"Kyra, apa kamu baik-baik saja?" kata Eric setelah mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya, aku baik-baik saja. Hanya saja ..." ucap Kyra dari dalam kamar mandi.
"Hanya saja apa? Kamu jangan bikin kakak khawatir deh"
Karena khawatir dengan keadaan Kyra, Eric langsung saja masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh?" gumam Kyra sambil menoleh ke arah pintu. "Kakak, kenapa kamu masuk?"
Eric pun diam mematung di tempatnya. Pandangan Eric kini tertuju ke arah Kyra yang kini tubuh atasnya hanya berbalut bra saja. Terlihat Kyra sedang berusaha memasukkan lengan bajunya dan kesusahan karena masih ada jarum infus di tangannya.
"Kakak, kenapa malah diam saja" gumam Kyra.
"Mau aku bantu?" tanya Eric.
"Emm ... Tidak perlu, aku sudah hampir selesai. Kakak keluar saja" jawab Kyra sambil beralih memunggungi Eric.
Tanpa banyak bicara Eric langsung menghampiri Kyra dan merebut kantung infus yang sedang Kyra pegang.
"Eh? Aku bisa sendiri kok"
"Lihatlah, sudah berapa menit kamu ganti pakaian? Masih bilang tidak butuh bantuan?" kata Eric sambil membantu memasukkan lengan baju Kyra. "Ini, tanganmu sampai berdarah. Kamu pasti sangat berusaha keras tadi"
"Ya, itu karena aku berusaha untuk mengancingkan pengait bra ku" gumam Kyra lirih sambil mengalihkan pandangannya ke samping.
"Kalau kesulitan pakai itu, ya gak usah di pakai. Di lepas aja. Lagipula kenapa tidak minta tolong kepadaku. Aku kan bisa membantumu" lanjut Eric.
"Kakak kan laki-laki, mana bisa-"
"Hanya mengganti pakaian apa susahnya bagiku. Lagipula aku sudah pernah melihat semua isinya" kata Eric dengan santainya. "Pegang ini" Eric pun memberikan kantung infus kepada Kyra.
"Apaan sih" gumam Kyra. "Eh? Ada apa?" kata Kyra ketika melihat Eric tertunduk dan terdiam di hadapannya.
Eric kini sedang melihat bekas memar yang ada di perut Kyra. Ingatan ketika Brian menendang perut Kyra dengan kakinya kini terlintas di kepala Eric. Mengingat kejadian itu, Eric masih merasa sakit di dadanya. Mengingat ketika Kyra tak berdaya dan hanya terbaring di lantai sambil meminta pertolongannya agar menyelamatkan anak yang ada di dalam perutnya.
Tangan Eric pun menjulur dan mengusap lembut perut rata Kyra.
"Itu, pasti sangat menyakitkan" gumam Eric yang kini masih tertunduk, tanpa ia sadari bola matanya kini sudah di penuhi dengan air mata yang siap menetes.
"Ini semua salahku. Maafkan aku" gumam Eric yang terdengar serak.
"Ka-kakak ... Kamu, kamu kenapa? Kamu menangis?" kata Kyra kebingungan setelah melihat air mata Eric yang kini menetes di pipinya. "Kakak, aku tidak apa-apa. Kamu jangan sedih"
Dengan cepat Eric menarik Kyra ke dalam pelukannya.
"Aku janji, kedepannya aku akan menjagamu dan anak kita. Aku tidak akan membiarkan kalian terluka lagi. Kyra ... Maafkan aku. Ini semua salahku, aku tidak bisa menjaga dan melindungi kalian. Bahkan aku ... Aku malah ingin membuat kalian menderita karena keegoisan ku sendiri. Maafkan aku Kyra ..."
Deg
.
.
.
"Kakak ... Kamu mengakui ini adalah anak kita? Kakak ... Apakah kamu tau aku sangat bahagia mendengar ini"
Kyra pun membalas pelukan Eric dengan erat.
"Kakak ... Terimakasih ... Terimakasih karena sudah mau mengakuinya sebagai anakmu. Aku sangat bahagia, itu semua sudah lebih dari cukup bagiku" ucap Kyra terharu.
Kyra sangat bahagia mendengar ucapan Eric. Baginya meskipun dia tidak bisa menikah dengan Eric. Asalkan Eric mau mengakui anaknya itu sudah lebih dari cukup, karena itu membuktikan bahwa Eric percaya jika Kyra tidak pernah tidur dengan laki-laki lain.
"Maaf Kyra ... Maafkan aku ..."
Kyra pun melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Eric.
"Aku sudah memaafkan kakak. Jangan menangis lagi. Kakak terlihat jelek tau" ucap Kyra sambil menekan kedua pipi Eric.
"Kamu ini. Aku sedang serius, kamu jangan bercanda dong" kata Eric kesal.
"Terus? apa kakak mau menangis di sini seharian? Katanya mau membantuku mengganti pakaian" Kyra pun merentangkan kedua tangan dan memperlihatkan bajunya yang masih belum di kancing kan.
"Ya, kamu akan masuk angin nanti" Eric pun segera mengancingkan semua kancing baju Kyra. "Ayo, aku akan memanggil perawat untuk mengganti infus mu" Eric pun berjalan keluar sambil memegangi kantung infus Kyra.
Setelah sampai di ranjang, Kyra pun segera naik dan di bantu oleh Eric.
"Kak, sebenarnya aku sudah baik-baik saja. Kakak gak perlu repot-repot seperti ini"
"Aku gak repot kok, aku hany-"
Drrrt drrrt drrrt drrrt
Ponsel Eric pun berbunyi.
"Ah, sebentar" kata Eric lalu mengangkat telepon.
"Waktu rapat kurang dari 30 menit. Cepat datang"
Tut Tut Tut Tut
Jacob pun langsung mematikan teleponnya.
"Aish, dasar" gerutu Eric. "Kyra, aku akan pergi rapat dulu. Kamu baik-baik ya di sini"
"Iya , pergilah"
"Aku akan menemui mu lagi nanti" kata Eric lalu mengecup kening Kyra.
"Hati-hati di jalan kak"
"Hem"
Eric pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kyra.
"Kakak ... Sebenarnya aku sudah sangat lama merindukan sikap manis mu ini ... Sepertinya aku tidak bisa lama-lama marah dengan mu. Hufft ... tapi ... Apakah aku bisa merasakan kasih sayang mu seperti ini lagi nanti?"