
Karena permintaan Eric, kini setiap hari Kyra pun membawakan makan siang dan menemaninya setiap jam istirahat. Eric senang sekali dengan kehadiran Kyra yang setiap jam makan siang menemaninya, sebab ia jarang sekali bisa bertemu Kyra meski mereka berdua tinggal satu rumah. Setiap pagi ia hanya bertemu Kyra sebentar, ketika Eric pulang Kyra pun juga sudah tertidur.
Suatu hari seperti biasa, Kyra pun pergi ke kantor Eric untuk membawakan bekal makan siangnya. Yeni, mantan sekretaris eric yang melihat Kyra setiap hari pergi ke kantor Eric merasa heran sekaligus cemburu, sebab setiap kali Yeni pergi ke ruangan Eric, dia bahkan tidak mau melihat dan memandangnya ataupun membiarkannya tinggal sedikit lama.
Yeni bahkan tidak tau bahwa Kyra adalah anak dari seorang Daniel Karendra, adik dari Eric sendiri.
Yeni yang melihat mereka makan berdua dan bercanda bersama setiap jam istirahat merasa sangat kesal sekali pada Kyra.
''Apa hebatnya dia, dilihat dari penampilannya saja dia bahkan tidak sepadan denganku" ucap Yeni kesal dengan memandangi Kyra yang hendak pergi ke ruangan Eric.
Yeni pun merencanakan sesuatu kepada Kyra. Ia pun mengambil sebotol air mineral dan memasukan beberapa butir obat ke dalamnya.
"Heem, bukankah dia benci sekali dengan wanita murahan? Kita lihat saja, setelah kamu meminum ini. Apakah Eric masih mau melihatmu? sebentar lagi dia pasti akan mengusir mu" gumam Yeni.
"Eh, Rico" ucap Yeni kepada salah satu karyawan yang baru saja lewat di depannya.
"Ya? ada apa?" jawab Rico.
"Kamu lihat wanita itu?" kata Yeni sembari menunjuk ke arah Kyra.
"Iya, emang kenapa?"
"Aku pengen banget kenalan sama dia, tapi aku takut untuk mendekati dia, jadi aku butuh bantuanmu" jelas Yeni berpura-pura penasaran dengan Kyra.
"Bantuan apa?"
Yeni pun membisikkan sesuatu di telinga Rico.
"Kamu gila ya? Nanti kalau dia terluka bagaimana? Aku juga nanti yang di salahkan" kata Rico tak percaya dengan apa yang Yeni bisikan.
"Hey, lagian nggak akan terluka parah juga, ya. Please ..." ucap Yeni.
"Ck, baiklah, tapi nanti kamu harus bertanggung jawab ya kalau ada apa-apa" ujarnya.
"Oke, sana buruan" ucap Yeni.
Lalu Rico pun pura-pura berlari menuju ke arah Kyra dan menabrak tubuhnya hingga terjatuh keras ke lantai di dekat meja karyawan seperti yang di rencanakan oleh Yeni.
"Awww"
"Eh, maaf Nona saya tidak sengaja" kata Rico dan beranjak pergi meninggalkan Kyra, ia pun mengedipkan matanya kepada Yeni, lalu Yeni segera pergi menghampiri Kyra.
Kyra pun meringis kesakitan merasakan perih di dahinya yang tanpa sengaja tadi terbentur meja.
"Kamu tidak apa-apa?" kata seorang wanita yang mengulurkan tangan ke Kyra dan tak lain adalah Yeni.
"Emm, tidak, aku tidak apa-apa" Kyra yang berusaha bangun dan di bantu oleh Yeni.
"Duduk sini dulu, eh kamu terluka, mau aku obati?" Yeni mempersilahkan Kyra duduk di kursi kerjanya.
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa"
"Kalau begitu minum ini dulu biar enakkan" kata Yeni sembari menyodorkan sebotol air mineral yang ia campur beberapa obat tadi.
"Terima kasih" ucap Kyra yang menerima botol tersebut dan meminumnya.
Yeni yang melihatnya pun tersenyum senang sebab apa yang ia rencanakan kini telah berhasil.
"Apa kamu beneran tidak apa-apa?" ucap Yeni pura-pura khawatir.
"Iya tidak apa-apa, terima kasih" kata Kyra sembari tersenyum manis dan mengembalikan botolnya kepada Yeni.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, masih ada pekerjaan lain nih" ucap Yeni sembari hendak melangkah pergi.
"Iya, terimakasih sekali lagi." kata kyra.
"Kita lihat saja, setelah obatnya bekerja, kamu pasti tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri. Dengan begitu Eric akan jijik sekali melihatmu dan pasti akan segera meninggalkan mu" batin Yeni sembari berjalan pergi meninggalkan Kyra.
"Masih rapat ya?" ucap Kyra lalu masuk ke ruangan Eric dan berjalan menuju sofa. "Ahhh, kenapa kepalaku pusing sekali?"
Karena merasa sangat pusing dan merasa tidak enak badan ia pun membaringkan tubuhnya di sofa sambil menunggu Eric datang.
...----------------...
"Bos, bukankah ini sangat hebat, kita bisa membuat para dewan direksi tertegun dengan kemampuan kita" kata Farhan yang berjalan di samping Eric.
"Jangan senang dulu Farhan, ini baru permulaan" ucap Eric yang berjalan menuju ruangannya.
"Iya sih, tapi kan ini awal yang bagus juga. Jika kita menekan mereka terus menerus, maka si pak tua itu pasti akan kehilangan dukungan dari mereka"
"Sekarang, kita hanya perlu membasmi tikus yang bersarang di sini, dengan begitu perusahaan ini pasti akan aman terkendali" jelas Eric sambil membuka pintu ruangannya.
"Tentu saja, aku pasti akan membawakan obat tikus yang banyak, hahahaha" kelakar Farhan yang ikut masuk ke dalam ruangan Eric. "Eh, Kyra? Kamu sudah di sini?" kata Farhan yang tersadar ada seseorang di ruangan Eric. "Kamu tertidur? Kamu sakit ya?" ucap Farhan lagi sembari pergi menuju Kyra yang tengah terbaring di sofa.
"Farhan ..." kata Eric menghentikan langkah Farhan untuk mendekati Kyra. Ia tidak mau seorang laki-laki manapun menyentuh adiknya itu. "Pergi dari sini"
"Aish, aku cuma mau melihatnya sebe—"
"Farhan!" ucap Eric sebelum Farhan melanjutkan kata-katanya.
"Ck, iya iya" gumam Farhan dan segera pergi dari ruangan Eric.
Eric pun menghampiri Kyra dan duduk di sebelahnya, ia merasa ada yang aneh. Sebab tidak biasanya Kyra tertidur di jam segini. Ia pun mengusap lembut pipi Kyra dan memandangi wajahnya yang tengah tertidur.
"Kenapa pipimu merah sekali, kamu demam ya?" gumam Eric lalu meletakkan tangannya di pipi Kyra.
Kyra membuka matanya terbangun dari tidurnya karena merasa ada yang sedang menyentuh pipinya.
"Hemmm ... Kakak sudah datang?" kata Kyra sembari mengerjapkan matanya.
"Kamu sedang sakit ya? Kenapa kamu bisa sampai tertidur di sini?" ucap Eric sambil membantu Kyra dudu.
"Aku hanya sedikit pusing tadi"
"Eh, kamu terluka?" kata Eric yang melihat luka di dahi Kyra dan menyibakkan rambutnya. "Tunggu sebentar, aku akan mengobati mu" Eric pun beranjak dari sofa menuju laci tempat ia menyimpan kotak obat dan mengambilnya.
"Sini"
Eric kembali duduk di samping Kyra dan mengoleskan obat ke dahinya.
"Shhhttt" desah Kyra karena menahan sakit di dahinya.
"A—a ... Sakit ya? Tahan sedikit ya, sebentar lagi selesai" kata Eric.
Kyra yang kini tengah berada dalam pengaruh obat yang di berikan oleh Yeni, merasa tubuhnya sangat gerah dan tidak nyaman. Ia yang sedari tadi memandangi wajah Eric dari matanya, hidungnya , hingga bibirnya kini merasa tergoda oleh ketampanannya. Tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Eric yang tepat berada di depannya.
Eric yang tengah memasang plester di dahi Kyra pun merasa terkejut karena Kyra yang tiba-tiba berinisiatif untuk menciumnya.
"Kamu ... kenapa aneh sekali?" kata Eric sambil memegangi pundak Kyra dan menjauhkan tubuhnya.
"Kakak, tolong hidupkan AC nya, aku gerah sekali. Bibir kakak dingin juga lembut seperti es krim" kata Kyra tanpa sadar.
Kyra membuat Eric semakin bingung, sebab suhu di ruangan Eric dirasa sudah cukup dingin.
"Kyra kamu ...."
"Kakak ... kenapa hari ini kamu terlihat sangat tampan" lagi-lagi Kyra mengucapkan kata-kata begitu saja, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Eric.
"Kyra-" ucap Eric yang terputus karena ciuman kyra yang tiba-tiba mendarat di bibirnya.
Kyra yang tengah berada dalam pengaruh obat, sudah benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya ketika melihat Eric. Sambil menciumi bibir Eric dengan penuh nafsu, kini ia mengganti posisi tubuhnya dan berada di atas pangkuan Eric tanpa berhenti dengan ciumannya.