What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 90



Di tempat lain, Mikha sahabat Kyra kini sedang berbelanja di sebuah mall. Ia berniat membelikan sesuatu kepada Kyra, karena merasa bersalah sebab kemarin tidak bisa mengantarnya pulang.


"Sebaiknya aku beli apa ya?" gumam Mikha sambil terus berjalan dan celingak-celinguk kesana-kemari. "Apa aku aku belikan Kyra buah saja ya? Dia kan sedang hamil, ibu hamil kan perlu nutrisi lebih untuk bayinya. Oke kalau begitu, aku akan beli buah-buahan saja"


Mikha pun melangkahkan kakinya mencari penjual buah-buahan segar di mall tersebut. Setelah mendapatkan beberapa kantong buah, Mikha pun segera pergi dari sana.


Di perjalanan hendak keluar dari mall. Mikha pun melihat berbagai game yang sering dia mainkan bersama Kyra dan juga Nuril saat mereka pergi jalan-jalan bersama.


"Sekarang aku merasa kesepian, dulu kita sering ke sini dan bermain bersama. Sekarang aku sendirian, andai saja kalau Kyra ada di sini. Aku akan mengajaknya bermain, dia pasti senang sekali" gerutu Mikha.


Ketika pandangan Mikha kesana kemari, dia tak sengaja melihat seorang pria berdiri dibelakang kerumunan ibu-ibu yang sedang mengantri membeli makanan ringan.


Sebenarnya Mikha tidak tertarik dengan pemandangan itu, tapi yang membuatnya penasaran adalah pria tersebut berusaha mengambil sebuah dompet dari tas salah seorang pengunjung mall tersebut.


"Apa yang sedang dia lakukan?" gumam Mikha sambil berkacak pinggang.


Mikha pun segera menghampiri pria tersebut dan berdiri di belakangnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu mau mencuri ya?" kata Mikha mengejutkan pria tersebut.


Beberapa pengunjung yang mendengar kata-kata Mikha, mereka pun segera menoleh kearah Mikha dan pria tersebut. Karena pria tersebut menjadi pusat perhatian, dia pun menjadi gugup.


"Apa yang kamu katakan? Kamu menuduhku mencuri? Jangan bicara sembarangan, aku bisa melaporkan mu ke polisi atas pencemaran nama baik" kata pria tersebut mencoba membela diri.


"Aku tidak menuduhmu, aku jelas-jelas melihatmu ingin mengambil dompet ibu ini" kata Mikha dengan penuh percaya diri.


Ibu-ibu yang berada di depan pria tersebut pun segera mengecek tas yang mereka bawa.


"Iya resleting tas ku terbuka. Apa dia benar-benar ingin mencuri? Wah kita harus segera melaporkan dia kepada pihak keamanan Mall ini"


"A-apa? Saya tidak mencuri. Gadis ini telah memfitnah saya" kata pria tersebut terdengar lantang.


"Hey, jelas-jelas kamu mau mencuri. Kenapa kamu masih mengelak? Aku melihatmu dengan kepalaku sendiri, bahwa kamu jelas-jelas ingin mencuri dompet ibu ini" jelas Mikha.


"Hey anak kecil, jangan asal bicara. Tahu apa kamu? Aku disini untuk mengantri bukan untuk mencuri" balas pria tersebut mencoba meyakinkan pengunjung mall yang tengah melihat perdebatan mereka.


"Dia bilang, dia tidak mencuri. Tapi resleting tas ku juga terbuka. Ia patut untuk dicurigai" kata ibu-ibu itu.


"Kenapa anda bisa berpikir seperti itu ? Mungkin saja anda tadi lupa untuk menutup tas anda kembali" kata pria tersebut masih saja mengelak.


"Bohong jelas-jelas aku melihatmu ingin mengambil dompet ibu ini" kata Mikha memperjelas.


"Dasar anak kecil berani-beraninya kamu terus memfitnahku"


"Aku tidak memfitnah mu aku mengatakan fakta yang sebenarnya. Jadi ayo ikut aku aku ke pos satpam, mereka akan mengamankan mu" lanjut Mikha.


"Iya bawa saja dia ke pos satpam. Sekarang dia tidak berhasil mencuri, jika kita melepaskan dia. Dia akan mencuri lagi dan membuat resah pengunjung mall ini" ucap salah satu pengunjung mall.


"Benar benar, bawa saja dia" imbuh mereka.


Pria itu pun semakin gugup ketika para pengunjung sudah mulai mengintimidasi nya.


Karena takut ketahuan dan takut untuk dibawa ke kantor polisi, pria tersebut mencoba untuk melarikan diri.


"Hey mau kemana kamu? Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu" kata Mikha hendak mengejar.


Duaghh


Satu tendangan tiba-tiba dari pria tersebut mengenai perut Mikha.


"Akkkhh" gumam Mikha yang kini jatuh tersungkur.


"Kejar dia" kata salah satu pengunjung.


"Ughh" gumam Mikha sambil melihat sikunya yang terluka.


"Kamu tidak apa-apa?" kata seorang laki-laki yang menghampiri Mikha.


"Suara ini ... Sepertinya aku pernah dengar" batin Mikha lalu menengadahkan kepalanya.


"Tuan Farhan?" ucap Mikha.


Farhan pun mengulurkan tangannya untuk membantu Mikha berdiri.


Dengan senang hati Mikha menerima uluran tangan Farhan.


"Kamu terluka?" kata Farhan.


"Emmm ... Ya, sedikit. Tapi ini tidak apa-apa"


"Oh, baguslah. Kalau begitu aku pergi dulu"


"Apa? Itu saja? Dia bahkan tidak tanya dimana yang terluka. Setidaknya, belikan aku plester atau apalah"


Farhan pun hendak pergi namun dengan cepat Mikha menarik lengannya.


"Ada apa?"


"Bisa tolong saya berjalan, sepertinya kaki saya terkilir" kata Mikha berbohong.


"Benarkah?"


"Ya, lagipula saya tadi ke sini sendirian. Jadi saya mau minta tolong ke siapa? Apa tuan Farhan tidak mau membantu saya?"


"Ahhh, baiklah" ucapkan Farhan pasrah.


Farhan pun mengarahkan lengannya ke Mikha, untuk membantunya berjalan.


"Yes, berhasil" batin Mikha sambil tersenyum-senyum kecil.


"Aku harus mengantar mu ke mana?" kata Farhan tanpa basa-basi.


"Emmm ... Antarkan saja saya ke parkiran, mobil saya ada di sana"


"Jika kaki mu terkilir. Bagaimana kamu akan mengemudi?" tanya Farhan.


"Oh, itu .... Iya juga ya, Bagaimana aku bisa menyetir?" gumam Mikha mencoba memancing Farhan untuk mengantarnya pulang.


"Kamu ini, telepon supir mu sana. Suruh dia datang untuk menjemputmu"


"Hemmm ... supir ku sedang sibuk, dia sedang mengantar papa ke luar kota" kata Mikha ambil berjalan tertatih-tatih.


Farhan pun melirik Mikha. "Kamu sangat lambat"


Segera Farhan pun menggendong Mikha ala bridal style.


Tanpa menolak, Mikha justru malah tersenyum senang. Ia merasa berpura-pura terkilir adalah pilihan terbaik agar Farhan berada dekat dengannya.


"Pegangan yang erat, kamu ini cukup berat tau" kata Farhan sambil berjalan menggendong Mikha.


"Benarkah? Maafkan aku" Segera Mikha pun melingkarkan lengannya di bahu Farhan. "Jika tuan merasa aku berat bisa turunkan aku" kata Mikha sedikit merasa bersalah.


"Bagaimana ini? Seharusnya aku diet"


Farhan pun tersenyum sambil melirik Mikha yang merasa bersalah.


Tak berselang lama, mereka berdua pun sampai di parkiran mall.


"Eh? Tuan ... Ini bukan ke arah mobilku" kata Mikha yang sadar kalau arah Farhan salah.


"Siapa bilang kita akan ke mobilmu?"


Segera Farhan pun menurunkan Mikha ke sebuah mobil dan membukakan pintu untuknya.


"Masuklah" kata Farhan.


"Tapi ..."


"Masuk" Farhan pun mendorong kecil bahu Mikha.


Setelah Mikha masuk ke dalam mobil kali diikuti Farhan kemudian.


Setelah di dalam mobil Farhan pun mulai mencari sesuatu. Setelah ia menemukan kotak P3K, ia pun mengeluarkan plester dari sana.


"Sini aku lihat siku mu" kata Farhan.


Tanpa banyak bicara Mikha pun menunjukkan siku kirinya yang terluka.


Segera Farhan pun membersihkan luka Mikha dan memasang plester di sana.


Mikha yang sedari awal sudah menyukai Farhan kini tengah memandanginya yang berada tepat didepan wajah Mikha.


"Sangat tampan, bermimpi apa aku semalam bisa bertemu dengannya dan sedekat ini" dengannya batin nikah.


"Sudah selesai, sekarang aku akan mengantarmu pulang"


"Tuan Farhan, terima kasih"


"Sama-sama"


Farhan pun mulai melajukan mobilnya.


"Ngomong-ngomong tuan Farhan. Kenapa anda mau menolong saya padahal kita baru bertemu. Dan tampaknya, tuan juga sangat cuek kepada orang baru" kata Mikha penasaran


"Karena kamu teman Kyra, maka aku tidak bisa mengabaikanmu" jelas Farhan


"Oh begitu" gumam Mikha sedikit sedih.


"Dasar bodoh kamu Mikha. Apa yang kamu harapkan? Jelas saja karena kamu adalah teman Kyra. Bagaimana mungkin dia menolongmu karena suka sama kamu?"