What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 20



Beberapa hari kemudian, pak Daniel dan Bu Sofia sudah pulang dari luar kota dan luka Kyra juga sudah memudar.


Eric yang sudah lega karena kedua orang tuanya sudah pulang kini ia kembali bekerja ke kantor seperti biasa.


"Ayah, Ibu, besok Kyra sudah mulai masuk kuliah" kata Kyra kepada kedua orangtuanya yang kini tengah makan malam.


"Hemm, baguslah, semakin cepat kamu selesaikan pendidikan mu semakin cepat pula kamu meraih mimpimu" ucap Pak Daniel sembari melahap makanannya.


"Oh ya Kyra, selama Ayah dan Ibu tidak di rumah apakah ada sesuatu yang terjadi? kenapa rumah kita sekarang banyak penjaganya?" kata Bu Sofia.


"Emmm ... itu ..."


"Aku yang menyuruh mereka berjaga disini bu" seru Eric yang baru saja datang dari kamarnya dan menghampiri mereka.


"Ayah tidak keberatan kan?" lanjut Eric sembari mengambil nasi dan lauk yang ada di meja.


"Tentu saja, ayah tau, kamu pasti memiliki alasan untuk itu" jawab pak Daniel dengan santainya, ia bahkan sepertinya tau banyak hal meskipun Eric tidak mau mengatakannya.


"Kyra, besok aku antar ya?" tanya Eric.


"Nggak perlu, Kyra bisa berangkat sendiri kok" ucap Kyra.


"Nggak bisa, pokoknya harus mau"


"Maksa banget sih Kak?"


"Biarin, pokoknya aku yang antar kamu besok"


"Nggak mau"


"Harus mau"


"Ihhh, udah di bilang nggak mau ya nggak mau"


Dan begitulah keributan kecil antara Kyra dan Eric, Bu Sofia dan Pak Daniel yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua.


...----------------...


Keesokan harinya.


"Ayo," ucap Eric yang berada di dalam mobil kepada Kyra yang baru saja keluar dari rumah.


"Ishh" gerutu Kyra.


Kyra pun masuk kedalam mobil Eric. Dan Eric pun melajukan mobilnya menuju kampus Kyra.


"Kakak, kalau aku minta izin sama ayah dan ibu untuk tinggal di apartemen sendiri boleh nggak ya"


"Nggak boleh!" jawab Eric dengan cepat.


"Kenapa?"


"Akan ada banyak bahaya di luar sana Kyra, aku takut, pak Freddy akan menggunakan mu untuk melawanku suatu saat nanti" batin Eric.


"Kamu kan perempuan, nggak baik tinggal sendirian di luar sana"


"Tapi Kak, jarak kampus dan rumah memakan waktu satu setengah jam, kalau setiap hari bolak-balik aku rasa nggak sanggup deh" jelas Kyra.


"Aku tau, tapi aku tidak mengizinkanmu untuk tinggal sendirian, aku tidak mau terjadi sesuatu kepadamu"


Kyra pun mulai terbayang kejadian di mana dia di cekik dan di culik oleh farel malam itu. Perasaan ngeri masih menyelimutinya, dalam hatinya membenarkan apa yang di katakan Eric, apa jadinya jika dia tinggal seorang diri di luar sana.


"Lalu bagaimana?"


"Nanti Kakak akan cari solusinya, sementara, aku akan mengantarmu setiap hari" kata Eric sembari mengusap rambut Kyra.


"Kalau tidak boleh sendirian, Kakak saja yang tinggal denganku? heemm, bagaimana? jadi aku tidak perlu repot-repot mencari sopir sekaligus bodyguard untuk menjagaku" ucap Kyra dengan tersenyum lebar.


"Heemm, dasar kamu ini, baiklah nanti aku akan merundingkannya dengan ayah" ucap Eric.


"Yeay , Kakak memang yang terbaik" kata Kyra dan tanpa sadar ia dengan refleknya mencium pipi Eric. "Ups" gumam Kyra sembari menutup mulutnya.


"Ishhh,.. mulutku ini nggak bisa di ajak kompromi banget sih, main nyosor aja ... Habisnya Kakak hari ini ganteng banget sih nggak kayak biasanya" batin Kyra sambil memukul ringan kepalanya.


Eric tersenyum melihat tingkah Kyra, entah kenapa ia merasa bahagia jika dekat dengan Kyra.


"Kenapa?" tanya Eric.


"Jam berapa nanti kuliahmu akan selesai?" tanya Eric.


"Entahlah, kenapa?"


"Kalau sudah selesai, hubungi aku ya, aku akan menjemputmu!"


"Ok"


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan kampus Kyra, Eric pun memarkirkan mobilnya di seberang jalan.


"Aku turun dulu ya, kakak hati-hati di jalan" ucap Kyra sembari melepaskan sabuk pengaman dan hendak membuka pintu.


"Kyra ..." seru Eric sembari menahan tangan Kyra.


"Kenapa"


Eric pun dengan cepat menarik tangan Kyra dan membuatnya duduk lebih dekat dengannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Eric langsung menarik tengkuk Kyra dan mulai mencium lembut bibir mungil Kyra.


Kyra hanya diam saja dan memejamkan matanya, Eric terus menciumi, mengh*sap, bahkan mel*mat bibir Kyra dengan mesra dan membuat Kyra terbuai karenanya.


"Oh tidak,... ini masih di depan kampus" batin Kyra, ia tidak ingin ada seseorang yang melihat mereka sedang berciuman di dalam mobil.


Kyra pun berusaha mendorong tubuh Eric, namun Eric malah semakin menarik tubuh Kyra agar lebih dekat dengannya.


"Mmmhhh, mmhhh," gumam Kyra yang berusaha melepaskan ciuman Eric


"Kenapa?" tanya Eric.


"Ini di depan kampus kak, nanti di lihat orang"


"Oh ... jadi kamu tidak mau di lihat orang ya?" kata Eric sembari menurunkan senderan kursi Kyra.


"Kakak, apa yang kamu lakukan"


Tanpa menjawab Eric mulai mencium bibir Kyra lagi.


"Mmmhh, Kak, ... mmhh" gumam Kyra.


Namun Eric sepertinya tidak membiarkan Kyra berbicara dan terus saja mel*mat bibir Kyra, dan kini bahkan lidah Eric telah meresak ke dalam rongga mulut Kyra dan menari-nari di sana.


Entah sejak kapan, kini Kyra malah menikmati ciuman Eric, semakin Eric menyecap dan menghisap bibirnya, semakin erat Kyra meremas jas hitam milik Eric.


Beberapa saat kemudian Eric pun melepaskan ciumannya.


"Kakak ..." ucap Kyra yang masih memegangi jas Eric. "Lain kali jangan lakukan itu di tempat umum" lanjut Kyra.


"Jadi ... aku boleh melakukanya lagi lain kali?" ucap Eric sembil menyapukan ibu jarinya ke bibir Kyra.


Mendengar ucapan Eric hati Kyra menjadi berdebar-debar dan kini mukanya memerah.


"Ish, apa sih Kak ..." sambil tersipu malu "Aku sudah mau telat nih, minggir sana" ucap Kyra dan mendorong tubuh Eric agar menjauh darinya.


Kyra yang masih malu dan berdebar-debar, lalu dengan cepat membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Eric.


"Heemm, jadi masih ada lain kali ya" gumam Eric sambil tersenyum lebar dan merasa senang, ia pun melajukan mobilnya menuju kantor.


...****************...


Di tempat lain.


"Bi, dimana papa?" ucap farel kepada pembantu di rumahnya.


"Eh, Tuan Farel, Tuan Besar sudah berangkat ke kantor" jawabnya.


"Kak Jony?"


"Tuan Jony akhir-akhir ini tidak pulang ke rumah, mungkin dia sedang menemani istrinya di rumah sakit" kata pembantu tersebut.


"Mana mungkin Jony ke rumah sakit, dia pasti sekarang ada di apartemennya" batin farel dan beranjak pergi.


"Eh, kenapa dengan Tuan Farel, dia sudah tidak pulang beberapa hari ini, lalu pulang-pulang wajahnya sudah babak belur ... aish anak muda jaman sekarang memang suka bermain-main daripada bekerja, ck ck ck" gerutu pembantu farel.