What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 65



Malam hari, di rumah sakit. Kyra sedang di temani Farhan di sana. Sejak siang saat Eric marah-marah, Farhan tak pernah meninggalkan Kyra.


"Kamu mau makan apa? Biar aku belikan" kata Farhan.


"Hemmm, entahlah" kata Kyra yang kini duduk di atas ranjang.


"Bukankah wanita hamil biasanya sering ngidam?"


"Iya, tapi gak tau juga. Aku lagi gak ingin makan apapun"


"Baiklah, nanti kalau kamu butuh sesuatu kamu bilang saja" kata Farhan.


"Hem, makasih ya kak"


"Oh ya, apa perlu aku beritahu tuan Daniel? Mereka kan juga harus tau keadaan mu"


Mendengar nama ayahnya, seketika wajah Kyra berubah menjadi pucat.


"Jangan. Aku tidak mau mereka tau tentang hal ini" kata Kyra hampir meneteskan air matanya.


"Kyra" ucap Farhan sambil duduk di kursi dekat ranjang Kyra. "Cepat atau lambat mereka akan tau"


"Aku tau itu kak. Tapi aku belum siap mengatakan kepada mereka"


Farhan pun tersenyum sambil menggenggam tangan Kyra.


"Tidak apa, aku bisa membantumu jika kamu mau" kata Farhan.


"Caranya?"


"Kita lihat saja nanti"


"Hufft, daripada itu aku lebih memikirkan kakak sekarang" ucap Kyra lirih.


"Tidak perlu di pikirkan, dia hanya sedang marah. Nanti juga akan kembali seperti semula" kata Farhan menenangkan.


"Hemm ..." gumam Kyra sambil mengangguk. "Oh ya, kak Farhan gak pulang? ini sudah malam loh"


"Enggak, aku akan menginap di sini. Lagipula kamu tidak ada yang menjaga, aku tidak bisa membiarkan mu sendirian. Kalau kamu butuh apa-apa gimana?"


"Aku gak papa kok, lagian ada dokter dan suster di sini" jawab Kyra.


"Nggak papa, aku akan tetap di sini sampai kamu pulang. Hanya satu malam saja, besok kamu juga sudah di perbolehkan pulang"


"Baiklah, terserah kakak saja"


"Hemm, tidurlah. Ini sudah malam" kata Farhan sambil membantu Kyra berbaring. "Apa kamu masih merasa mual atau pusing?"


"Tidak kok kak, aku sudah mendingan"


"Baiklah, aku akan keluar sebentar. Kamu istirahatlah" ucap Farhan sambil menyelimuti Kyra.


"Makasih ya kak"


Farhan hanya tersenyum sambil mengusap kepala Kyra lalu berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Ardan, apa kau tau kemana perginya Eric setelah dari sini?" ucap Farhan kepada Ardan yang sedari tadi berada di luar ruang inap Kyra.


"Iya boss, tadi aku melihat dia sedang menghajar pemuda yang waktu itu bertemu Kyra di hotel" jelas Ardan.


"Pemuda? Apakah itu adiknya si Serlyn?"


"Iya"


"Ah? Apa Eric sedang mencurigai dia? Tapi bukankah kamu waktu itu melapor kepada ku jika di hotel itu Kyra langsung pulang setelah bertemu dengannya?" kata Farhan.


"Iya boss, aku melihat dia bertemu dengannya sebentar lalu pulang. Bahkan aku sendiri melihat dia masuk ke apartemennya" jelas Ardan.


"Hemmm ... Setelah di pikir-pikir lagi, kehamilan Kyra dengan waktu dia bertemu dengan adik Serlyn memang sudah hampir dua mingguan. Apa benar dia anak dari laki-laki itu? Tapi tidak mungkin, Kyra sepertinya tidak menyukainya. Lalu apa yang terjadi? Apa dia mendapatkan pelecehan seperti waktu itu lalu hamil? Itu juga tidak mungkin, Ardan selalu mengikuti kemanapun dia pergi" gumam Farhan. "Sebenarnya apa yang terjadi? Malam setelah dia ke hotel itu, kebetulan aku juga mengantar Eric yang sedang mabuk bukan? Aku juga melihat dia ada di rumah tidak kemana-mana. Apa jangan-jangan waktu Eric mabuk dia ...." Farhan pun terdiam sejenak.


"Ada apa boss? apa ada masalah?" kata Ardan yang kini melihat Farhan sedang melamun.


"Ah, tidak ada. Kamu bisa pergi"


Ardan pun segera pergi dari sana.


"Apa mungkin Eric yang melakukannya? Lalu kenapa dia bisa marah? Apa ada kesalahpahaman di antara mereka?" gerutu Farhan.


Keesokan harinya, di siang hari Kyra sudah di perbolehkan pulang karena keadaannya sudah membaik. Selama di rumah sakit, Eric tidak mengunjunginya sama sekali hanya Farhan yang selalu menemaninya. Beberapa panggilan dari Mikha pun tak pernah di jawab oleh Kyra, sebab ia tak ingin membuat sahabatnya itu khawatir kepadanya.


"Apa kamu mau membeli sesuatu dulu Kyra?" ucap Farhan sambil mengemudikan mobilnya.


"Tidak kak"


"Baiklah"


Saat Kyra melihat ke arah pinggir jalan, tiba-tiba saja matanya terbelalak.


"Kak ..." gumam Kyra.


"Rujak buah, aku ingin makan itu sekarang" kata Kyra dengan mata berbinar.


Farhan pun mengikuti arah pandang Kyra.


"Ah, itu. Mau aku beliin?" kata Farhan sambil tersenyum.


"Hemm" ucap Kyra sambil mengangguk anggukan kepala.


Farhan pun menepikan mobilnya.


"Kamu tunggu di sini ya, aku akan segera kembali"


Farhan pun segera turun dari mobil dan mengahampiri penjual rujak buah yang ada di seberang jalan. Ia membeli dua bungkus rujak buah sekaligus karena takut nanti Kyra merasa kurang.


"Ini" kata Farhan yang baru saja masuk ke dalam mobil sambil memberikan kantung plastik berisikan rujak buah.


"Woahh, makasih ya kak" kata Kyra.


"Sama-sama" ucap Farhan sambil mengacak-acak rambut Kyra.


"Apa aku boleh makan di sini?''


"Tentu saja"


Kyra pun terlihat senang dengan senyum menghiasi wajahnya. Satu persatu bungkusan ia buka dan memakan rujaknya dengan lahap.


Farhan pun ikut tersenyum senang melihat Kyra.


"Entah kenapa melihatmu bahagia seperti ini, rasanya aku juga ikut bahagia Kyra. Setidaknya kamu tidak menangis lagi seperti kemarin" batin Farhan.


Sesampainya di basement apartemen, Farhan turun dari mobilnya dan membantu Kyra berjalan.


"Aku bisa jalan sendiri kok kak" kata Kyra.


"Aku takut kamu tiba-tiba pingsan nanti. Kamu tadi dengar sendiri kata dokter, tubuhmu masih sangat lemah. Tidak boleh banyak beraktifitas" kata Farhan sambil meletakkan tangannya di pinggang Kyra.


"Ck, Kenapa kak Farhan cerewet sekali akhir-akhir ini?" gerutu Kyra.


"Hey, aku bukanya cerewet. Aku ini perhatian tau sama kamu" dengus Farhan.


"Iya iya, makasih untuk perhatiannya tuan cerewet" kata Kyra mengejek.


"Ck, kamu ini"


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di depan pintu apartemen. Setelah Farhan membuka pintu dan mereka masuk, mereka di kejutkan oleh Eric yang sedang duduk di sofa dengan menatap tajam ke arah Kyra.


Melihat ekspresi Eric, Farhan malah merapatkan lengannya di pinggang Kyra.


"Kak ..." bisik Kyra kepada Farhan yang merasa takut dan khawatir akan tatapan Eric.


"Tenanglah, ada aku disini. Aku tidak akan membiarkan Eric menyakiti mu"


Eric yang sedari tadi sudah kesal, kini malah di buat cemburu dan amarahnya serasa meledak dari ubun-ubunnya. Eric pun berdiri dari tempatnya dan menghampiri mereka dengan tatapan kemarahan.


"Lepaskan tanganmu" kata Eric.


"Tidak akan, ayo Kyra. Aku akan mengantarkan mu ke kamar" Kata Farhan hendak pergi namun di cegah oleh Eric.


"Ku bilang lepaskan" ucap Eric lalu menarik tangan Farhan dengan paksa. "Dan kamu, ikut aku" Eric pun menarik Kyra dengan kasar.


"Ah kak, sakit" rintih Kyra.


"Hey Ric, mau kamu bawa kemana dia?" teriak Farhan hendak menyusul.


Tuk


Tiba-tiba sebuah foto jatuh dari tas Kyra. Farhan pun mengambil foto tersebut dan melihatnya.


"Sudah ku duga, dia pasti terbakar cemburu gara-gara foto ini" kata Farhan sambil meletakkan foto tersebut ke saku jasnya.


Dia pun segera berlari menyusul Eric dan Kyra. Namun sesampainya di basement, dia sudah tidak menemukan mereka.


"Sial, kemana dia membawa Kyra?" gumam Farhan lalu mengambil ponselnya dan menelepon Ardan.


"Ada apa boss?" kata Ardan dari balik telepon.


"Kemana Eric membawa Kyra pergi"


"Ah, aku tidak tau boss. Dia menarik Kyra paksa ke dalam mobil. Aku pikir jika dia bersama tuan Eric maka akan baik-baik saja, jadi aku tidak mengikutinya" jelas Ardan.


"Baik-baik saja kepala mu. Cepat cari tau kemana dia pergi"


"Baik"


Tut Tut Tut


"Eric, aku harap kamu tidak berbuat nekat kali ini" gumam Farhan lalu masuk ke dalam mobil.