What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 81



Dio pun memutar arah kembali ke kerumunan yang baru saja dilewatinya. Setelah Dio menepikan mobilnya, Serlyn langsung saja terburu-buru turun dari mobil.


"Serlyn tunggu" ucap Dio sambil turun dari mobil menyusul Serlyn yang berlari ke arah kerumunan.


''Permisi" kata Serlyn saat mencoba masuk ke dalam kerumunan tersebut dan hendak melihat seseorang yang tergeletak di sana.


"Serlyn Kenapa kau-"


Brughh


Serlyn pun terduduk lemas di samping seseorang tersebut yang tak lain adalah adiknya Zian.


"Z-zian" ucap Serlyn sambil memegang lembut pipi Zian yang terbaring tak sadarkan diri.


"Serlyn, kamu tidak apa-apa?" ucap Dio sambil memegang kedua bahu Serlyn. "Dia ... Apa kamu mengenalnya?"


"D-dokter Dio, dokter Dio tolong dia, dia adalah adikku. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit" kata Serlyn sambil memegang jas Dio dengan tangan gemetar.


''Tenanglah Serlyn aku akan segera menelepon ambulan"


Dio pun dengan cepat mengambil ponsel dari saku celananya dan langsung menelpon ambulan. Sedangkan Serlyn kini setengah duduk lemas di samping Zian. Dia menatap tubuh adiknya yang terlihat memar di sekujur tubuhnya.


"Zian, siapa yang melakukan ini kepadamu? Bangunlah, aku mohon" gumam Serlyn sambil berlinang air mata.


''Permisi nyonya" kata seorang pria paruh baya yang menghampiri mereka.


Serlyn dan Dio pun menoleh ke arahnya pria tersebut.


"Apakah anda kakaknya yang saya telepon tadi?" kata pria paruh baya tersebut kepada Serlyn.


Serlyn hanya diam saja, dia merasa lemas dan tidak mampu berbicara sepatah kata pun.


''Iya dia adalah kakaknya, Ada apa Pak?" kata Dio sambil berdiri menghampiri pria tersebut.


"Oh, ini ponsel pria tersebut. Waktu saya berjalan melewati daerah ini tadi pagi, saya tidak sengaja menemukan anak muda ini tergeletak di sini. Saya berusaha menelpon ambulan dari tadi tapi sampai saat ini tidak ada yang datang ke sini. Saya kasihan terhadapnya, karena dia terlihat sekarat maka saya memeriksa nya dan mencari identitasnya. Tapi tidak ada KTP atau tanda pengenal apapun. Jadi saya mengambil ponselnya dan menelepon nomor kontak yang tertulis Kakak di sana" jelas pria tersebut.


"Lalu kenapa anda tidak langsung membawanya ke rumah sakit? Lihatlah adikku sedang sekarat dan kalian semua hanya melihatnya dan tidak membawanya ke rumah sakit" kata Serlyn dengan nada bergetar.


"Tenanglah nyonya, saya tidak mempunyai mobil dan dari tadi tidak ada kendaraan yang lewat di sini" ucap pria tersebut mencoba menjelaskan.


"Meskipun begitu tapi seharusnya kalian segera menolong dia dan tidak membiarkan dia tergeletak di sini" Serlyn pun sedikit kehilangan kendali.


"Serlyn tenanglah, sebentar lagi ambulan akan datang" kata Dio mencoba menenangkan Serlyn.


"Lihatlah dia, dia bahkan tidak mengucapkan terima kasih tapi malah memarahi pria tersebut" bisik beberapa orang di sana.


"Iya, sungguh tidak tahu terima kasih. Untung saja pria tersebut menemukan adiknya, andai aku yang menemukannya pasti aku akan menelantarkannya"


"Ayolah, lebih baik kita pergi saja dari sini"


Dio yang mendengar bisikan mereka, dia pun melirik ke arah Serlyn yang duduk sambil memangku kepala adiknya.


"Maaf pak, ini ponselnya saya kembalikan" kata pria paruh baya tersebut sambil mengarahkan ponsel kepada Dio.


"Ah terima kasih pak dan maaf karena tadi Serlyn berbicara kasar kepada anda" ucap Dio sungkan.


"Tidak apa-apa Pak, saya mengerti kok kalau begitu saya permisi"


"Iya silakan Pak"


"Zian tolong bertahanlah sebentar lagi" gumam Serlyn sambil memeluk kepala adiknya tersebut.


Tak beberapa lama kemudian ambulan pun datang. Dan Zian segera dilarikan ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Zian pun langsung ditangani oleh dokter.


"Tenanglah Serlyn dia akan baik-baik saja" kata Dio menenangkan Serlyn saat Zian dimasukkan ke dalam ruang operasi.


"Zian" gumam Serlyn sambil menitikkan air mata.


''Ayo duduklah" Dio pun membantu Serlyn duduk di bangku rumah sakit. "Dia akan baik-baik saja, kamu sudah melihatnya kan, bahkan dokter Varo yang menanganinya sendiri. Jadi dia akan baik-baik saja, kamu tenanglah. Kasihan anak yang ada di dalam perut mu" ucap Dio sambil menepuk-nepuk punggung Serlyn untuk menenangkannya.


"Siapa yang telah membuatmu seperti ini Zian? apakah mungkin Eric yang melakukannya?" batin Serlyn bertanya-tanya.


Melihat keadaan Zian yang begitu tragis, Serlyn langsung terpikirkan dengan kata-kata Eric tadi pagi.


"Eric jika benar kamu yang melakukan ini, kamu begitu kejam sekali. Zian tidak salah, akulah yang salah. Tidak seharusnya kamu menyakiti dia, seharusnya kamu membalasnya kepadaku bukan ke adikku"


"Kenapa?" gumam Serlyn menghentikan Dio.


Dio pun langsung menoleh ke arah Serlyn yang menundukkan kepalanya.


"Kenapa anda baik kepadaku? Aku tidak butuh bantuan anda. Anda boleh pergi sekarang" ucap Serlyn tanpa menoleh kearah Dio.


"Aku akan pergi jika kamu sudah merasa baikan. Aku akan menemanimu di sini" kata Dio.


Serlyn pun memandang Dio yang kini tengah berdiri disampingnya.


Tanpa sadar Serlyn pun meneteskan air matanya dan malah menangis sesenggukan dihadapan Dio.


"Kamu ..."


Dio pun duduk di samping Serlyn dan memeluknya untuk menenangkannya.


Serlyn pun malah menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Dio.


"Tenang saja aku disini, aku akan membantumu dan aku akan menjagamu" kata Dio sambil menepuk-nepuk bahu Serlyn.


Bagaimana tidak sedih, kemarin Serlyn baru saja diputuskan oleh Eric, seseorang yang sangat ia cintai namun tidak bisa ia miliki. Dan sekarang dia melihat adik satu-satunya sedang sekarat. Itu membuat dia merasa sakit dan sangat sedih.


"Dasar bodoh. Kamu bertanya kepadaku kenapa aku baik kepadamu. Apa selama ini kamu tidak merasakannya, bahwa aku menyukaimu? Aku bahkan menyukaimu saat kamu pertama kali datang ke rumah sakit ini" batin Dio sampai terus menepuk-nepuk bahu Serlyn.


Satu jam telah berlalu dan dokter Varo pun keluar dari ruang operasi.


Serlyn dan dia pun segera menghampiri dokter Varo.


"Dokter Varo bagaimana keadaan adik saya? Apakah dia baik-baik saja? Tidak ada luka serius kan?" ucap Serlyn sedikit cemas.


"Emmm ... Itu ..." ucap dokter Varo menggantung. "Maafkan saya dokter Serlyn, keadaan adik anda tidak baik. Dia mengalami beberapa patah tulang rusuk dan ada bekas benda tumpul yang melukai kepalanya"


Tubuh Serlyn pun terasa lemas mendengar penjelasan dokter Varo.


"Lalu bagaimana keadaan dia sekarang?" kata dokter Dio sambil memegangi bahu Serlyn agar tidak tumbang.


"Untuk sekarang dia tidak bisa sadarkan diri dan kemungkinan besar dia akan koma" lanjut dokter Varo.


"A-Apa? koma?" gumam Serlyn tak percaya. "Tidak mungkin ..."


Tiba-tiba Serlyn merasa pusing dan merasa seluruh tubuhnya lemas. Dia merasa syok dan tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Serlyn?" kata Dio khawatir saat melihat Serlyn tiba-tiba tak sadarkan diri.


"Dokter Dio kita harus segera membawanya dan memeriksanya"


Segera Dio pun langsung menggendong tubuh Serlyn dan membawanya ke ruang UGD.


Setelah hampir tiga jam Serlyn pingsan. Kini dia pun mulai sadar dan mulai membuka matanya.


"Sssttt" gumam Serlyn sambil memegangi perutnya. "Aku di mana?" Serlyn pun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut dan mendapati infus yang kini menancap di tangannya.


Tak berselang lama dokter Varo pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Anda sudah sadar dokter Serlyn? Aku akan memeriksa keadaanmu sekarang" ucap dokter Varo sambil menghampiri Serlyn dan mulai memeriksa keadaannya.


"Dokter Kenapa aku bisa ada disini?"


"Tadi anda pingsan dokter Serlyn saya dan dokter Dio membawa anda ke sini" ucap dokter Varo sambil memeriksa Serlyn. "Sepertinya anda sudah baik-baik saja sekarang"


Serlyn pun mulai mengingat-ingat kembali kejadian tadi, dia pun mulai merasa sedih karena mengingat keadaan Zian sekarang. Setelah diam beberapa saat Serlyn pun tersadar perutnya terasa seperti tidak enak.


"Dokter bagaimana keadaanku? Bagaimana dengan bayiku?" ucap Serlyn penuh kekawatiran.


"Anda sudah baik-baik saja sekarang, tapi untuk bayi anda ... Maaf dokter Serlyn, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda" ucap dokter Varo menjelaskan.


"A-Apa? Apa maksud anda dokter?"


"Bayi anda sudah meninggal dokter Serlyn"


Seketika tubuh Serlyn bak disambar petir.


"A-Apa? Ma-mati ... Dia ... Sudah mati ..."