
"Oh? Kyra ... Apa yang dia lakukan? Dia berinisiatif menciumku?"
Eric merasa bingung dengan sikap Kyra yang tiba-tiba menciumnya. Ia tidak pernah berfikir Kyra akan berinisiatif untuk menggodanya.
Setelah beberapa saat Kyra melepaskan ciuman panasnya.
"Kakak, kenapa kamu diam?" kata Kyra yang masih melingkarkan tangannya di leher Eric. "Kenapa kamu menatap ku seperti itu?"
Eric pun merebahkan tubuhnya di samping Kyra. "Aku hanya terkejut. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya"
"Entahlah, aku merasa kakak sangat menggoda akhir-akhir ini. Aku tidak tahan hanya karena mencium aroma tubuh kakak. Aku ingin-"
Eric pun menempelkan jari telunjuknya di bibir Kyra untuk membuatnya berhenti berbicara. "Tidak boleh"
Kyra mengerutkan keningnya dan segera menyingkirkan jari telunjuk Eric yang ada di bibirnya. "Kenapa? Bukankah kakak dulu yang selalu menggodaku? Kenapa sekarang malah terlihat aku yang seperti babi liar?" dengus Kyra kesal.
Eric tersenyum kecil mendengar ucapan Kyra. "Ya, kamu memang terlihat seperti babi liar" gumam Eric sambil terkekeh.
"Kakak ..." Kyra pun mengubah posisi menjadi di atas tubuh Eric. "Aku tidak mau tau ... Aku menginginkan mu sekarang" rengek Kyra dengan tatapan manja kepada Eric.
"Ada apa dengannya? Dia ... Meminta itu ... Apa ini juga efek karena dia sedang hamil?" batin Eric sambil menyelipkan anak rambut Kyra ke telinganya. "Dia terlihat sangat cantik hari ini ... Tapi ... Jika di biarkan seperti ini terus. Mungkin aku tidak akan bisa mengendalikan diriku lagi. Tidak Eric, tahan ... Satu bulan adalah waktu yang singkat. Tunggu sampai saatnya tiba kamu bisa memiliki dia seutuhnya. Jangan kecewakan ayahmu lagi kali ini"
"Kakak ..." rengek Kyra yang melihat Eric bahkan tidak meresponnya.
Eric pun bangun dari posisi tidurnya dengan Kyra yang masih di atasnya. Kini Kyra duduk di paha Eric dan mereka pun saling menatap satu sama lain.
"Apa kamu benar-benar menginginkannya?" kata Eric sambil membelai pipi Kyra.
Kyra mengangguk dan melingkarkan kedua lengannya di pinggang Eric.
"Tapi tidak untuk sekarang" ucap Eric yang membuat wajah Kyra menjadi tidak bersemangat dari sebelumnya.
"Kenapa?" gumam Kyra manja.
"Sayang ... Apa yang kita lakukan sebelumnya adalah sebuah kesalahan. Meskipun sudah lama aku ingin memilikimu tapi aku tidak pernah berniat untuk melakukannya tanpa sebuah ikatan dengan mu" ucapnya dengan lembut sambil memainkan ujung rambut Kyra. "Jangan tergesa-gesa, satu bulan lagi kita akan menikah. Tunggu sampai saatnya tiba, kamu akan mendapatkan semuanya" kata Eric sambil menatap Kyra dengan tersenyum.
Kyra terdiam lalu menaruh kepalanya di dada bidang Eric. "Tapi ... Satu bulan waktu yang lama" gerutu Kyra sambil memanyunkan bibirnya.
"Aku tau ... Tapi bersabarlah sedikit lagi. Kita tidak boleh mengecewakan ayah lagi. Kamu mengerti?" ucap Eric sambil mengusap kepala Kyra dan di balas anggukan malas olehnya. "Apa kamu marah?"
"Tidak ... Hanya ... Entahlah ... Aku merasa kecewa"
Eric tersenyum kecil melihat tingkah Kyra. "Mungkin itu karena kamu sedang hamil. Apa kamu tidak tau?"
"Tidak tau" ucap Kyra kesal. "Tentu saja aku tau, wanita hamil kan hormon progesteronnya tinggi. Aku hanya ingin di manja olehmu saja"
"Pffftt" Eric pun semakin di buat gemas oleh sikap Kyra. "Aku malah suka dengan sikap manjamu ini"
Eric lalu menarik lalu menarik Kyra dari pelukannya. "Baiklah, sekarang ayo bangun dan segera pergi ke bawah untuk makan malam. Aku khawatir bayi kita kekurangan nutrisi jika kamu tidak mau makan"
"Aku tidak mau makan. Membayangkan nasi saja aku rasa aku mau muntah" kata Kyra sambil bergidik membayangkan nasi.
"Hemmm ... Baiklah, kalau begitu kamu mau makan apa? Aku akan membelikannya untukmu" Erik pun menaruh tangannya di pinggang Kyra.
"Entahlah aku tidak ingin makan apapun"
"Kalau makan buah?"
"Tidak berselera"
"Kalau martabak? Aku tadi membelikanmu martabak saat dalam perjalanan pulang"
"Tadinya aku ingin makan martabak, tapi sekarang aku sudah tidak berselera"
"Lalu, kamu mau makan apa kasihan anak kita yang ada di dalam perutmu"
"Eeeemmm" gumam Kyra sambil menaruh dagunya diantara ibu jari dan jari telunjuk nya. "Bagaimana kalau makan mie instan? Rasanya aku ingin makan mie instan, tapi harus kakak yang memasaknya untukku"
"Iya iya aku tahu dasar cerewet" gumam Kyra.
"Kalau begitu ayo kita turun. Aku akan mengganti pakaianku sebentar, kamu tunggu lah di meja makan"
Kyra pun mengangguk dan segera turun dari tubuh Eric. segera setelah itu merekapun keluar dari kamar Kyra. Kyra berjalan menuju ke ruang makan dan Eric pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.
Saat Kyra menuruni tangga, terlihatlah sang ayah yaitu Pak Daniel sedang duduk di ruang tengah bersama Bu Sofia.
"Kamu sudah bangun sayang?" kata Bu Sofia.
"Iya Bu" Kyra pun terus berjalan ke arah meja makan dan segera duduk di kursinya.
Bu Sofia yang melihat Kyra pergi ke arah ruang makan ia pun segera mengikuti Kyra
"Apa kamu lapar? Ibu akan buatkan sesuatu untukmu"
"Tidak perlu Bu, aku sudah meminta kakak untuk membuatkanku mie instan"
"Ibu bisa buatkan untukmu sekarang. Kamu tunggu di sini ya" kata Bu Sofia hendak pergi ke arah dapur.
"Ibu, sudah aku bilang tidak perlu. Aku hanya ingin makan masakannya kakak"
"Apa bedanya jika ibu yang memasak ataupun kakak mu yang memasaknya. Toh itu juga sama-sama mie instan" kata Bu Sofia.
"Seperti tidak tahu saja, bukankah ibu dulu ketika mengandung Kyra juga begitu. Jika bukan Ayah yang menyuapimu, kamu juga tidak akan mau makan" kata Pak Daniel dari ruang tengah mereka yang tidak ada penyekat ruangan nya.
"Oh ... Iya juga. Ibu lupa, baguslah kalau begitu. Setidaknya kamu mau makan sesuatu. Lalu di mana kakakmu sekarang?"
"Dia sedang ganti baju, aku akan menunggunya disini"
"Baiklah kalau begitu ibu akan pergi ke kamar"
"Hemmm" gumam Kyra sambil tersenyum.
Bu Sofia pun pergi ke kamarnya dan tak lama kemudian Pak Daniel pun mengikutinya. Beberapa saat kemudian Eric pun turun ke bawah dan menghampiri Kyra yang sedang menunggunya di meja makan.
"Kenapa Kakak lama sekali Aku sudah menunggumu dari tadi" ucapnya sambil cemberut.
"Maaf maaf. Kalau begitu aku akan segera memasakannya untukmu" kata Eric sambil mengusap pucuk kepala Kyra dan segera pergi ke arah dapur.
Eric dengan segera memasakkan mie instan yang diinginkan Kyra. Tidak lama kemudian mie instan pun telah jadi ia pun segera membawanya ke hadapan Kyra.
"Ini mie rasa ayam bawang yang kamu inginkan tadi" kata Eric sambil menaruh semangkuk mie yang terlihat masih panas dihadapan Kyra.
"Uuwah" gumam Kyra dengan mata berbinar-binar. "Sepertinya enak sekali Aku bahkan hampir meneteskan air liurku hanya dengan mencium aromanya saja"
Eric tersenyum senang. "Kalau begitu cepat makanlah"
"Suapin" kata Kyra dengan manjanya
Tanpa basa-basi Eric pun segera mengambil sendok dan garpu lalu menyuapi Kyra.
"Enak?"
Kyra pun mengangguk dengan mata berkaca-kaca
"Apa ini terlalu panas? Atau ini tidak enak? Kenapa kamu hampir menangis?" kata Eric khawatir.
"Entahlah aku tidak tahu, tapi aku merasa ini adalah mie instan terlezat yang pernah aku makan seumur hidupku"
"Huh, kamu ini membuatku khawatir saja" kata Eric sambil bernafas lega.
"Kenapa Kakak bisa masak mie instan seenak ini?"
Eric pun kembali menyuapi Kyra. "Ini hanya mie instan biasa. Yang membuatnya berbeda adalah rasa cinta yang aku campur kan di dalamnya"