
Eric dan Kyra masuk ke dalam rumah orang tua mereka dengan gugup dan jantung berdebar-debar.
"Kakak ..." gumam Kyra dengan nada sedikit takut.
Mereka saling mengeratkan genggaman tangan mereka mencoba menumpuk semua keberanian saat langkah kaki mereka sudah berada di ruang tamu rumah keluarga pak Daniel.
"Kyra? Eric? Kalian datang?" seru Bu Sofia saat hendak menuruni tangga rumah mereka.
"Ibu" gumam Kyra.
"Kenapa kalian tidak mengabari dulu kalau mau pulang, ibu kan bisa bersiap-siap" kata Bu Sofia sambil berjalan menghampiri mereka.
"Seorang anak pulang ke rumah, apa perlu mengabari terlebih dahulu? Ibu ini ..." kata Eric.
"I-ibu ..." gumam Kyra hampir meneteskan air matanya.
"Loh? Kyra ... Kenapa wajahmu sedih begitu? Apa ada yang menyakitimu?" kata Bu Sofia sambil menangkup kedua pipi putri semata wayangnya tersebut.
"Ibu ..." Kyra pun memeluk Bu Sofia. "Kyra kangen sekali sama ibu ..."
Bu Sofia pun membalas pelukan Kyra. "Ibu juga sangat merindukanmu" kata Bu Sofia sambil menepuk-nepuk punggung Kyra.
Kyra pun melepaskan pelukannya. "Ibu bagaimana kabar ibu sekarang? Apakah ibu dan ayah baik-baik saja selama ini?"
Bu Sofia pun tersenyum sambil mengusap lembut pipi Kyra. "Kami baik-baik saja sayang, kamu bagaimana? Apakah kuliah mu lancar akhir-akhir ini?" ucapnya kepada Kyra.
Kyra hanya mengangguk tanda mengiyakan.
"Eric, bagaimana dengan mu?"
"Aku juga baik-baik saja Bu. Oh ya, dimana ayah?" kata Eric sambil mengedarkan pandangannya.
"Aku di sini" kata pak Daniel dari balik pintu belakang rumah mereka. "Ugghh, sudah lama ayah tidak melakukan kerja berat" lanjutnya sambil meregangkan tubuhnya.
"Ayah, ayah sedang apa?" kata Kyra.
"Oh, ayah baru saja membersihkan halaman belakang" kata pak Daniel sambil berjalan menghampiri mereka.
"Ayah kenapa repot-repot, bukankah ada pak pak Samit yang membersihkannya?" kata Eric.
"Pak Samit sedang pulang kampung, anaknya sedang sakit. Halaman belakang sangat kotor jadi ayah membersihkannya" kata pak Daniel yang kini berdiri tepat di hadapan Eric.
"Ayah, sebaiknya jangan bekerja terlalu berat. Ayah harus menjaga kesehatan juga" ucap Kyra khawatir.
"Tidak berat, lagipula anggap saja seperti olahraga. Banyak gerak juga termasuk menjaga kesehatan" ucapnya. "Bu, pergi buatkan mereka minum. Mereka pasti capek habis melakukan perjalanan jauh"
Pak Daniel pun duduk di sofa di ikuti Kyra dan juga Eric yang duduk bersebelahan.
Eric dan Kyra yang merasa gugup kini saling mencuri pandang satu sama lain.
"Kakak ... bagaimana ini? Aku rasa aku tidak sanggup memberitahu mereka" batin Kyra sambil memandang ke arah Eric.
Eric yang mengerti Kyra sedang merasa cemas, kini meraih tangan Kyra dan menggenggamnya erat erat memberikan kekuatan kepada Kyra.
Tanpa mereka sadari, pak Daniel sedari tadi melihat gerak-gerik mereka yang terlihat gugup.
"Ehem, Kyra ... Bagaimana keadaan mu? Apakah baik-baik saja?" kata pak Daniel memecah keheningan.
"Iya, ayah aku baik-baik saja"
"Dan kamu Eric?"
"Aku juga baik-baik saja yah" kata Eric yang kini masih menggenggam tangan Kyra.
Beberapa saat kemudian Bu Sofia pun datang sambil membawa nampan.
"Kenapa kalian terlihat canggung sekali? Apa ada masalah?" kata Bu Sofia sambil menaruh cemilan dan teh hangat di atas meja.
"Emm ... T-tidak ada kok Bu" kata Kyra gugup.
"Ada apa Kyra? Apa kamu mau mengatakan sesuatu?" kata pak Daniel sambil menatap mereka satu persatu.
"Aishh, minum dulu tehnya" kata Bu Sofia sambil menyodorkan cangkir teh ke arah Kyra lalu bergantian ke arah Eric.
Eric dan Kyra pun perlahan menyeruput secangkir teh buatan Bu Sofia tersebut.
Lagi-lagi, tanpa mereka sadari pak Daniel menatap tajam ke arah mereka. Bak seperti mesin scanner Pak Daniel sepertinya bisa menebak apa yang sedang mereka cemaskan.
"Kyra ... Apakah kakakmu menjagamu dengan baik?" ucap pak Daniel sambil menyeruput teh miliknya.
"Te-tentu saja yah"
"Benarkah?"
"Kenapa ayah bertanya seperti itu? Dan juga tatapan ayah ... Apakah ayah tau sesuatu?" batin Kyra.
"Hem ...Lalu kamu Eric. Apa kamu mengingat sesuatu?" kata pak Daniel beralih memandang Eric.
"Apa maksud ayah?" ucap Eric bingung.
"Jangan kira ayah tidak tau. Kamu pasti mengenal orang yang telah menculik Kyra" kata pak Daniel membuat Eric terkejut.
"Bagaimana ayah bisa tau?" gumam Kyra.
"Kamu sudah lupa, meskipun ayah di sini tidak berbuat apa-apa. Tapi ayah pasti akan mencari tau tentang keadaan kalian di luar sana. Karena ayah tau, mungkin kakakmu bisa melindungimu. Tapi dunianya mungkin bisa sangat berbahaya untukmu" ucapnya kepada Kyra. "Apa dia ada hubungannya dengan masa lalumu?" lanjut pak Daniel kepada Eric.
"Jika ayah masih bertanya, berarti ayah juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padaku di masa lalu" kata Eric dengan tenang.
"Jika kamu bisa bicara seperti itu, itu artinya kamu sudah mengingat masa lalumu"
"Ayah tidak perlu khawatir, meskipun dia bagian dari masa lalu yang belum terselesaikan. Tapi aku akan sekuat tenaga menjaga Kyra, aku akan melakukan apapun untuk melindunginya"
Bu Sofia yang mengerti arah pembicaraan pak Daniel dan Eric kini diam membeku. Ia berfikir jika Eric mengingat masa lalunya dan tau jika mereka bukan orang tua kandungnya, Eric pasti akan meninggalkan mereka. Bu Sofia takut kehilangan Eric yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"A-ayah, sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apakah kakak memiliki masa lalu yang kelam" kata Kyra tak mengerti.
"Baiklah, kita bisa bahas itu lain kali. Masih ada banyak waktu untuk hal itu. Yang terpenting sekarang adalah hal yang ingin aku dengar dari Kyra" kata pak Daniel sambil menatap tajam ke arah Kyra.
Gluk, Kyra pun menelan salivanya karena merasa gugup dengan tatapan ayahnya.
"Ayah sudah mencari tahu, keadaan kalian beberapa hari terakhir ini. Kamu dua kali masuk rumah sakit selama sepekan, dan kamu juga belum masuk kuliah sampai hari ini..."
"Apa? masuk rumah sakit?" kata Bu Sofia memotong kalimat pak Daniel.
Kyra yang semakin gugup, ia pun meremas ujung bajunya. Eric pun melirik Kyra dan menggenggam tangannya kembali.
"Tidak apa ... Ada aku di sini ..." Isyarat tatapan mata Eric kepada Kyra.
Pak Daniel pun tak mengindahkan pertanyaan sang istrinya tersebut.
"Ayah sudah tau keadaan mu sekarang ... Jadi ..." Pak Daniel pun mencondongkan badannya ke depan. "Katakan ... Anak siapa itu?"
Deg
"Ayah sudah tau?"
"Ayah, apa maksudnya? Apa maksud ayah sebenarnya? Anak?" kata Bu Sofia tak mengerti.
"A-ayah ..." gumam Kyra sambil menundukkan kepalanya.
Eric masih saja menggenggam dengan erat tangan Kyra.
"KATAKAN" bentak pak Daniel membuat Kyra terperanjat.
Melihat ayahnya yang begitu marah, Kyra pun tak mampu memandang wajahnya dan menundukkan kepalanya sambil berlinang air mata.
"Sedari tadi aku sudah menahan amarahku ketika melihatmu pulang. Aku menunggumu untuk menjelaskan kesalahanmu kepada ayah" kata pak Daniel sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Hiks hiks ... maafkan aku ayah" gumam Kyra.
"Apa? Apa maksud ayah ... Kyra ..." kata Bu Sofia menggantung.
"Ibu tau apa yang ayah dapatkan setelah mencari tahu keadaan mereka? Kyra ... Kyra hamil. Dan lihatlah Eric, mana janjinya yang akan menjaga Kyra dengan baik?" kata pak Daniel yang sudah tak mampu menahan amarahnya.
"K-kyra ... Apakah benar apa yang ayahmu katakan sayang" ucap Bu Sofia dengan nada bergetar.
Kyra hanya diam dan menundukkan kepalanya sambil terus menangis.
"Katakan siapa ayah dari bayi yang ada dalam perutmu itu?" lanjut pak Daniel.
"A-ayah ..." gumam Kyra sambil memberanikan diri memandang wajah ayahnya.
"Katakan, siapa dia?"
"Aku" ucap Eric sambil berdiri dari tempatnya.
Semua orang pun kini beralih memandang Eric.
"Akulah ayah dari anak yang ada di dalam perut Kyra, ayah" jelas Eric.
"Apa?"
"Iya ayah, aku melakukan ke-"
Buaghhh
Satu pukulan keras mendarat di pipi Eric sebelum dia menyelesaikan kata-katanya.