What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 29



"Tolong ... jangan mencekik ku lagi aku mohon ... hiks hiks hiks" ucap Kyra menangis sambil bersimpuh di depan Farel.


"Kyra ... aku hanya—" sambil menarik tangan Kyra agar dia berdiri dari tempatnya.


Farhan yang tadi sedang mengejar Kyra mendadak berhenti, ia melihat Farel yang kini tengah menarik tangan Kyra. Sedangkan Kyra sendiri tengah bersimpuh dan menangis di hadapan farel.


"Hey! kau!" teriak Farhan dan dengan cepat melepaskan tangan Farel dari Kyra. "Apa yang kau lakukan?" sambil memegang pundak Kyra dan membantunya untuk berdiri.


"Aku ... aku hanya ingin minta maaf ..." ucap Farel dengan lirih.


"Sekali lagi kamu menyentuh Kyra, aku takkan membiarkan mu lepas!" kata Farhan dengan tatapan yang tajam dan nada mengancam.


"Kyra ... aku—"


"Ayo Kyra" bisik Farhan sambil menggandeng tangan Kyra.


Farhan dan Kyra pun pergi menuju ke mobil dan meninggalkan Farel yang tengah terdiam di tempatnya.


"Kyra ... aku tidak menyangka, perlakuan ku saat itu membuatmu begitu menderita ..." gerutu Farel.


Farhan pun melajukan mobilnya menuju ke kampus Kyra, di perjalanan Kyra masih saja menangis sesenggukan.


"Kyra, apa perlu aku antarkan pulang saja, kelihatannya kamu kurang baik" kata Farhan sambil sesekali melirik ke arah Kyra.


"Tidak Kak, aku ada kelas setengah jam lagi"


"Hem, baiklah" gumam Farhan sambil melihat Kyra.


Dalam pikiran Farhan saat ini, dia tak pernah menyangka bahwa Eric sahabatnya itu memberikan perhatian lebih kepada Kyra melebihi batas kewajaran seorang kakak kepada adiknya. Selama ini, dia pikir Eric hanya terlalu protektif terhadap adik perempuan satu-satunya. Tapi pagi ini Farhan malah melihat Eric yang tengah memeluk Kyra dan bahkan menciumnya.


"Aish ... pikiranku jadi kemana-mana" batin Farhan yang masih mengingat-ingat kejadian di ruangan Eric.


"Eh, kak ... berhenti di situ saja" ucap Kyra sambil menunjuk ke arah pinggir jalan.


Farhan hanya mengangguk dan segera menghentikan mobilnya di tempat yang Kyra bilang tadi.


"Terimakasih ya kak," kata Kyra sambil membuka pintu mobil dan berjalan keluar.


Sebelum Farhan mengucapkan sepatah kata, Kyra sudah jauh dari pandangannya.


"Ck, niat hati ingin lebih dekat dengan Kyra ... tapi malah tidak bisa memanfaatkan peluang tadi" gumam Farhan. "Eh, ini kan ponselnya Kyra" sambil mengambil ponsel di kursi mobil tempat Kyra duduk tadi.


Farhan pun segera turun dari mobil dan mengejar Kyra yang kini sudah berada di tengah jalan hendak menyeberang.


Dari kejauhan Farhan melihat sebuah mobil warna hitam yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Kyra.


"Kyra! Cepat lari!" teriak Farhan.


Kyra yang mendengar teriakkan Farhan bukannya berlari malah menoleh ke arah Farhan dan menghentikan langkahnya di tengah jalan.


"Ah! sial! mobil itu memang sengaja ingin mencoba mencelakai Kyra"batin Farhan sambil berlari kencang menuju ke tempat Kyra.


Dengan cepat Farhan mendorong Kyra ke pinggir jalan agar menghindari mobil tersebut.


"Ah!" teriak Kyra yang kini jatuh di atas trotoar karena di dorong oleh Farhan.


Bukannya mengurangi kecepatan, mobil itu justru malah semakin menambah kelajuannya.


"Sial! aku sudah tidak bisa menghindar" batin Farhan sambil menoleh ke arah mobil itu.


Braaaakk!


Mobil itupun menabrak tubuh Farhan dengan keras, membuat tubuhnya melayang dan akhirnya jatuh ke aspal.


"Kak Farhan!" teriak Kyra lalu segera berlari ke arah Farhan yang kini tergeletak di tengah jalan.


"Kak Farhan ... hiks hiks" tangis Kyra sambil mengangkat kepala Farhan dan meletakkannya di pangkuan Kyra.


Melihat keadaan Farhan, dengan tubuh yang terkulai lemas dan darah yang mengucur deras dari kepalanya membuat Kyra menangis sejadi-jadinya. Kyra merasa sangat bersalah kepada Farhan, sebab karena menolong Kyra lah Farhan menjadi terluka seperti itu.


Dengan sisa tenaganya, Farhan mencoba mengusap air mata Kyra dengan tangannya yang kini bersimbah darah. "Kyra ... Jang ... Ngan ... menangis" lalu menutup matanya.


Kyra pun menangkap tangan Farhan yang berada di pipinya dan menggenggamnya.


"Kakak ... bertahanlah ... sebentar lagi aku akan membawamu ke rumah sakit" kata Kyra sambil berlinang air mata.


Tak berselang lama, ambulans pun datang. Kyra pun mengantarkannya ke rumah sakit.


"Kak Farhan, kamu harus bangun ... hiks hiks ... kalau tidak ... aku akan merasa sangat bersalah kepada mu"


Tring! Tring!


Suara ponsel Farhan pun berbunyi dari balik saku jas yang dia kenakan. Kyra lalu mengambil ponsel tersebut, tertera jelas di layar ponsel Farhan, Eric tengah menelponnya.


"Farhan!" teriak Eric dari seberang telepon. "Kemana saja kamu? rapat sudah selesai dan kamu belum kembali"


"Hiks hiks hiks"


"Eh, Farhan? kamu dengar aku tidak?" tanya Eric yang merasa tidak ada tanggapan dari panggilan tersebut. "Farhan!"


"Ka—kak ... hiks hiks" ucap Kyra sambil menangis.


"Eh? siapa ini?" tanya Eric.


"Kakak ini aku ... hiks hiks"


"Kyra?" tanya Eric. "kenapa ponsel Farhan bisa ada di kamu?"


"Kakak ... Kak Farhan hiks hiks"


"Eh, kamu menangis? apa Farhan menyakitimu? apa dia berbuat sesuatu kepada mu?" ucap Eric dengan Khawatir dari balik teleponnya.


"Tidak kakak ... kak Farhan kecelakaan"


"Apa?" teriak Eric kaget.


"Hiks hiks hiks" tangis Kyra.


"Oke, oke ... jangan panik, kamu kirimkan saja alamat rumah sakitnya, kakak akan segera kesana" ucap Eric lalu menutup teleponnya.


...----------------...


Di kantor Eric.


"Ada apa Ric? kamu terlihat sangat cemas" kata Susan.


"Farhan mengalami kecelakaan, sekarang Kyra sedang mengantarnya ke rumah sakit" ucap Eric sambil memakai jasnya.


"Apa?" kata Jacob dan Susan secara bersamaan.


"Aku akan ke sana" kata Eric dengan tergesa-gesa.


"Aku ikut" kata Susan.


"Baiklah, kamu tetap di sini saja Jack" ucap Eric.


"Hem, baiklah" kata Jacob.


Tak berselang lama Eric pun tiba di parkiran dan segera masuk ke dalam mobil dan di ikuti oleh Susan. Dengan tergesa-gesa Eric melajukan mobilnya di jalanan.


"Hey! meskipun kamu khawatir, tapi hati-hati juga dong" kata Susan.


Tanpa merespon Eric malah semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Kenapa Farhan bisa dengan Kyra?" tanya Susan.


"Dia ingin mengantar Kyra ke kampus tadi" jawab Eric.


"Kenapa bisa sampai kecelakaan?"


"Diam lah Susan, kita akan tau kalau sudah tiba di sana nanti" gumam Eric.


Yang Eric pikirkan saat ini adalah bagaimana keadaan Kyra, karena Kyra bersama dengan Farhan waktu kecelakaan terjadi.


"Heish ... iya iya, aku diem nih" kata Susan sambil mendengus kesal.


Dua puluh menit kemudian, Eric pun tiba di rumah sakit yang di beritahukan oleh Kyra.


Dengan terburu-buru Eric turun dari mobilnya lalu menuju ke resepsionis dengan di ikuti Susan di belakangnya.


"Sus ... pasien dengan nama Farhan yang baru saja kecelakaan di mana ruangannya?" tanya Eric kepada petugas resepsionis.


"Eem, sebentar ya pak" kata petugas tersebut. "Ah, di ruang Dahlia di lantai dua pak"


"Terimakasih" ucap Eric lalu bergegas menuju ke ruangan tersebut.


Mereka pun menaiki lift untuk menuju ke lantai dua. Setelah pintu lift terbuka Eric langsung saja berlari untuk mencari Kyra.


"Ck, anak ini ... dia terburu-buru pasti khawatir dengan Kyra, bukan khawatir dengan Farhan" decak Susan yang melihat Eric.


Setelah beberapa saat, Eric pun berhenti dan kini tengah melihat Kyra yang duduk di bangku rumah sakit sambil menundukkan kepalanya.


Eric lalu menghampiri Kyra. "Ternyata kamu ada di sini Kyra" sambil ngos-ngosan.


Kyra pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Eric. "Kakak ...."