
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu melihat mereka?" kata Eric saat melihat Kyra senyum-senyum sendiri melihat Farhan dan Mikha keluar dari ruangan.
"Tidak ada"
"Benarkah?'' Eric pun berjalan mendekati Kyra yang tengah duduk di sofa. "Kamu berencana menjodohkan mereka ya?"
"Hem? Bagaimana kakak bisa tau?"
"Tentu saja aku tau" kata Eric sambil duduk di samping Kyra.
"Dasar sok tau" gumam Kyra.
"Hem, bagaimana? Apa sudah merasa baikan?" ucap Eric sambil mengelus pucuk kepala Kyra.
Kyra hanya mengangguk sambil memakan buah anggur yang ada di atas meja.
"Baguslah, besok kamu sudah boleh pulang. Aku sudah tidak sabar menunggumu pulang"
"Hem? Benarkah?" ucap Kyra tak percaya.
"Tentu saja, memangnya kenapa?" tanya Eric sambil memainkan anak rambut Kyra.
"Terakhir kali aku pulang, kakak bahkan langsung membawaku pergi dan-"
"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak berbuat seperti itu" sanggah Eric. "Aku terlalu marah dan cemburu. Maafkan aku"
Kyra terdiam dan kini beralih memandang Eric yang ada di sebelahnya.
"Kak ... Tentang malam itu ... Apa kakak benar-benar lupa? Sebenarnya ... Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepada kakak" ucap Kyra lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari bola mata Eric.
"Tanya saja. Aku pasti menjawabnya" kata Eric sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kyra dan menaruh dagunya di bahu Kyra. "Tentang malam itu ... Sebenarnya, aku sedikit mengingatnya. Meskipun aku di pengaruhi obat, tapi sepertinya aku ingat jika orang yang berada di atas ranjang ku adalah kamu. Tapi setelah aku membuka mataku di pagi hari, aku mendapati Serlyn yang ada di sana" jalas Eric.
"Serlyn?"
"Ya, dia menangis di bawah selimut saat itu. Aku kira itu tidak mungkin, karena aku merasa bahwa kamu yang bersama ku malam itu. Dia memaksaku untuk bertanggung jawab. Lalu dia memperlihatkan bekas darah di sprei. Saat itulah aku merasa tidak tega. Kamu tau sendiri sifatku kan, aku pasti akan bertanggung jawab atas kesalahan yang aku perbuat"
"Bagaimana dia bisa masuk apartemen kita? Aku bahkan tidak tau jika dia datang"
"Mungkin dia mengambil kunciku saat aku mabuk"
"Lalu, apakah dia juga yang memberi obat kepada kakak?"
"Hem ... Aku tidak tau jika dia menaruh obat perangsang dengan dosis tinggi di minumanku"
" Dasar wanita sialan" gerutu Kyra. "Jadi karena itu kakak mau menikah dengannya?"
"Ya. Sebenarnya aku mau mengulur waktu agar bisa menyingkirkan dia. Tapi, pada saat kita makan malam, dia bilang bahwa dia hamil. Aku menyuruhnya untuk mengetes terlebih dulu. Tapi dia mengancam ku jika aku tidak segera bertanggung jawab dan menikahinya maka dia akan memberitahumu tentang hal ini. Karena aku tidak ingin kamu tau, jadi aku terpaksa menyetujuinya" jelas Eric lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Kyra.
"Kenapa kakak tidak mau aku tau? padahal jika kakak cerita, aku pasti akan memberitahu kakak kejadian yang sebenarnya. Dan kakak tidak perlu menikah dengannya. Juga ..." ucap Kyra menggantung. "Kakak pasti tidak akan marah saat tau aku hamil dan tidak akan memaksaku untuk membunuh janin ini" lanjutnya lirih.
"Itu karena kakak tidak mau kamu menganggap ku sebagai laki-laki brengsek yang telah menghamili anak orang"
"Aku tidak mungkin berfikiran seperti itu. Aku tau kakak orang yang seperti apa, jadi aku tidak akan meragukanmu"
Eric pun mengangkat kepalanya. "Benarkah?"
"Tentu saja"
"Lalu sekarang?"
"Apa?"
"Aku sudah menghamili anak orang. Apakah kamu marah kepadaku karena hal itu?"
"Bagaimana denganmu? Kenapa kamu tidak mengehentikanku malam itu? Kamu bisa memberontak atau memukulku jika perlu'"
"Bagaimana bisa. Kakak bahkan jauh lebih kuat daripada aku. Aku tidak bisa melawan kakak saat itu. Dan kakak juga ..."
"Benarkah? Aku sangat kuat? Wah ... Apakah aku mematahkan pinggang mu? Apa aku juga kasar? Aish, jika aku ingat pasti aku memperlakukan mu dengan lembut ..."
"Kakak" teriak Kyra sambil menghadap Eric yang ada di sampingnya. "Hentikan, itu sangat memalukan" Kyra pun menutup mulut Eric dengan telapak tangannya.
"Pffftt" Eric melepaskan tangan Kyra dari mulutnya. "Kenapa malu? Disini tidak ada orang"
"Meskipun begitu, tetap saja ... itu memalukan" kata Kyra lirih sambil menundukkan kepalanya.
Eric pun menangkup kedua pipi Kyra. "Kyra ... apa kamu menyesal?"
"Menyesal?"
"Ya, apa kamu menyesal karena telah melakukannya dengan ku? Tanpa sengaja aku telah mengambil sesuatu yang sangat berharga darimu. Aku tau aku tidak pantas tapi ... Aku benar-benar minta maaf"
Kyra pun memegang tangan Eric yang ada di pipinya. "Daripada menyesal. Sekarang aku malah merasa lega dan senang"
"Kenapa?"
"Karena kakak mau mengakuinya. Karena kakak mau mengakui anak ini sebagai anak kakak" Kyra pun melepaskan tangan Eric. "Meskipun aku tau, suatu saat aku dan anak ini harus hidup tanpa kakak. Tapi aku tidak menyesal, setidaknya kakak tidak akan membunuh anak ini karena kakak tau kalau dia adalah anakmu juga. Itu sudah lebih dari cukup untukku"
"Kamu bicara apa? Aku tidak akan membiarkan kamu dan anak kita hidup sendirian. Aku pasti akan menjaga kalian seumur hidupku"
"Itu tidak mungkin, suatu saat nanti kakak akan menikah dan punya kehidupan sendiri. Bukankah kakak juga punya janji akan menikah si Serlyn itu"
Eric pun terdiam sejenak. "Dasar bodoh, jadi itu yang kamu pikirkan" kata Eric sambil menjitak dahi Kyra.
"Aaww... Apa sih kak sakit tau" ucap Kyra sambil memegangi dahinya.
"Dengar baik-baik, aku tidak akan menikah dengannya. Aku sudah tau kebenaranya, jadi untuk apa menikah dengannya"
"Baguslah kalau begitu, aku tidak mau punya kakak ipar seperti dia" gerutu Kyra.
"Tunggu dan lihat saja, aku akan mengatasi masalah yang kamu khawatirkan itu"
"Apa maksud kakak?"
"Tunggu saja, setelah kamu keluar dari rumah sakit aku akan memberitahumu" kata Eric sambil tersenyum.
"Apa sih? Kenapa harus menunggu sampai aku keluar dari rumah sakit? Sekarang saja beritahu aku"
"Gak mau" Eric pun menjauhkan dirinya dari Kyra.
"Ahh ... Kakak ... Jangan buat aku penasaran. Cepat katakan"
"Gak mau"
"Cih, dasar. Baiklah, akan aku tunggu. Lagipula besok aku sudah boleh pulang" kata Kyra dengan nada kesal sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kamu marah?" ucap Eric sambil mendekati Kyra.
"Tidak, siapa juga yang marah"
"Baguslah" Eric pun kembali mendekap tubuh Kyra dari belakang. "Aku sangat merindukanmu"
Kyra terdiam dan sedikit terkejut mendengar kata-kata Eric yang tepat berada di telinganya.
"Aku merindukan saat-saat bersamamu seperti ini. Kyra, berjanjilah kamu tidak akan pergi dariku. Dan maaf untuk kesalahan ku yang sudah menyakitimu"