
"Kakak dia siapa?" tanya Kyra.
"Oh, Hay cantik. Aku Serlyn dok—" sebelum Serlyn menyelesaikan kalimatnya Eric pun membekap mulut Serlyn.
"Dia ... dia ... adiknya Susan, iya" ucap Eric lalu melotot ke arah Serlyn memberi isyarat untuk tidak memberitahu Kyra yang sebenarnya.
Serlyn yang sedari tadi terpesona dengan ketampanan Eric, kini memandangi Eric yang tengah dekat dengannya.
Sadar sedari tadi di tatap Serlyn, Eric pun dengan cepat menarik tangannya dari mulut Serlyn.
"Oh, kak Serlyn. Perkenalkan namaku Kyra" Sambil tersenyum.
"Hay Kyra, kamu cantik" kata Serlyn.
"Ah kakak bisa aja"
"Oh ya, saya pamit dulu ya. Ada urusan mendadak nih" kata Serlyn lagi.
"Hem, hati-hati" kata Kyra.
Serlyn pun berjalan keluar dari apartemen mereka.
"Kamu tadi mau bilang apa?" kata Eric.
"Ah, itu. Aku lagi nggak ada kelas hari ini jadi aku pulang" kata Kyra sambil tersenyum.
"Oh ..." Ucap Eric lalu berjalan menuju ruang kerjanya.
"Kakak mau kemana?" tanya Kyra lalu berjalan mengikuti Eric.
"Mau kerja lah" ucap Eric. "Kenapa mau nemenin kakak kerja?" lanjutnya sambil membuka pintu.
"Boleh, lagian aku juga nggak ada kerjaan" Berjalan masuk mengikuti Eric.
Eric pun duduk di kursinya.
"Kak, itu tadi beneran adiknya kak Susan ya?" tanya Kyra.
"Hem," gumam Eric sambil membuka laptopnya.
"Kenapa tadi dia berada di sini? Dia kerja di kantor kakak ya?"
"Kenapa Kyra jadi seperti menginterogasi begitu? apa dia cemburu? ... Hehe baguslah kalau dia cemburu, itu tandanya dia ada sedikit perasaan kapadaku kan?" batin Eric.
Eric lalu menarik pinggang Kyra dan membuatnya duduk di pangkuan Eric. Dia pun melingkarkan tangan kirinya di pinggang Kyra dan yang kanan tengah bergelut dengan laptopnya.
"Memangnya kakak bisa bekerja dengan seperti ini?"
"Bisa kok" ucap Eric yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Kakak belum jawab pertanyaan ku tadi"
"Pertanyaan yang mana?"
"Kenapa tadi dia ada di sini?" ucap Kyra.
"Emmm ... Ada pekerjaan sedikit" ucap Eric, dia tidak ingin Kyra tahu tentang keadaannya dan juga dia tidak ingin membuat Kyra khawatir.
"Terus kenapa dia tadi bisa ada di kamar kakak?"
"Dia cuma mau numpang ke kamar mandi" jelas Eric.
"Yang bener?"
Eric pun menghentikan kegiatannya. "Kenapa? kamu cemburu ya?"
"Apa sih siapa juga yang cemburu" kata Kyra sambil memalingkan wajahnya. "Tapi ... kayaknya aku nggak suka liat kakak sama perempuan tadi. Apa iya aku cemburu?"
"Lah terus?"
"Ya, Aku kan cuma tanya" ucap Kyra. "Ada bagusnya juga kalau kakak deket sama cewek"
"Apa maksudmu Kyra?"
Eric pun terdiam dan mulai menarik tangannya dari pinggang Kyra.
"Apa ucapan ku ada yang salah ya?" kata Kyra sambil memandang ke arah Eric yang kini terlihat tidak senang. "Ah kalau begitu aku akan ke kamar sebentar ya kak" Sambil turun dari pangkuan Eric.
Kyra hendak pergi dari sana namun di hentikan oleh Eric.
"Eh?" gumam Kyra saat Eric mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di meja kerja Eric. "Apa yang sedang kamu lakukan kak?"
Eric pun menatap mata Kyra dengan tajam, menaruh kedua tangannya di samping Kyra bahkan kini wajah Eric sangat dekat dengan wajah Kyra.
"Apa kamu tidak punya hati?" kata Eric dengan tetap menatap tajam Kyra.
Kyra pun menelan salivanya ketika merasakan nafas Eric yang berhembus mengenai wajahnya, jantungnya kini berdetak sangat kencang.
"A-apa maksudmu kak?" ucap Kyra dengan gugup.
Eric merasa kesal sebab Kyra seperti tidak menganggap serius perasaannya, dia pun mulai mendekati wajah Kyra dan menempelkan dahinya di dahi Kyra.
"Sudah berapa kali aku bilang aku mencintaimu?" ucap Eric lirih namun sedikit di tekankan. "Jawab!"
"Emm, emmm, itu ... itu ... mungkin sudah beberapa kali" kata Kyra dengan gugup.
"Lalu apakah kamu tidak pernah bisa merasakan ketulusan ku?" ucap Eric dengan nada sedikit kesal. "Aku mencintaimu Kyra"
"Tapi kak ..."
"Sudah aku katakan aku mencintaimu jadi berhentilah menjauhiku Kyra, apalagi untuk menyuruhku menikahi wanita lain. Aku tidak bisa jauh darimu, aku tidak bisa melihatmu dengan laki-laki lain, aku juga tidak bisa melihatmu terus-terusan tidak menganggap perasaanku seperti ini" kata Eric sedikit kesal lalu menghentakkan ringan tangannya di atas meja.
"Aku ..."
"Berhentilah berpura-pura Kyra, berhentilah menyembunyikan perasaan mu yang sebenarnya. Kamu bahkan tidak pernah menolak ketika aku mencium mu, jadi berhentilah bersikap munafik. Apa perlu aku bertindak kasar kepadamu agar kamu berhenti bersikap kekanak-kanakan" kata Eric.
"Kak ..." ucap Kyra yang sedikit takut melihat perubahan sifat Eric yang tiba-tiba.
"Aku akan memberimu pelajaran karena kamu mempermainkan perasaanku Kyra" ucap Eric lalu membuka kancing baju Kyra.
"Kakak, jangan ... " Ucap Kyra sambil menahan tangan Eric.
Eric tak menghiraukannya, dia pun menarik tangan Kyra dan terus membuka kancing baju Kyra. Dengan cepat Eric pun membenamkan wajahnya di leher Kyra.
Kyra mencoba menarik Eric dari lehernya namun Eric malah mendekap tubuh Kyra dengan erat.
"Kak ..." ucap Kyra namun Eric tak mengidahkannya.
Eric justru malah semakin menciumi leher Kyra dengan kasar dan meninggalkan beberapa bekas merah kebiruan di sana.
Kyra pun mulai meneteskan air matanya, dia teringat kejadian di mana Farel menculiknya dan memperlakukannya dengan kasar seperti yang saat ini Eric tengah lakukan kepadanya.
"Kamu adalah kakakku ... Tolong berhentilah bersikap seperti ini" ucap Kyra lirih sambil menahan isakkannya.
Eric pun menarik wajahnya dari leher Kyra dan melepaskan dekapannya.
"AKU BUKAN KAKAKMU KYRA!" teriak Eric yang kini membuat Kyra kaget sekaligus terkejut.
Eric pun menjauhkan diri dari Kyra. "Pergilah dari hadapan ku" ucap Eric tanpa melihat ke arah Kyra.
"Kak ..." kata Kyra lirih dan mulai meneteskan air matanya lagi.
"PERGI!"
Tanpa sepatah kata, Kyra pun turun dari meja kerja Eric dan berlari keluar dari sana dengan kancing bajunya yang masih terbuka.
"AAAHHH!!" teriak Eric sambil menendang sofa yang ada di sana. "Kamu benar-benar membuatku gila Kyra"
Sedangkan Kyra saat ini tengah berlari menuju ke kamarnya. Dia pun masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Kyra merebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan menyembunyikan wajahnya di bantal. Air mata Kyra mulai membasahi pipi dan bantalnya. Kyra tidak menyangka bahwa sebegitu dalam perasaan Eric kepadanya.
"Apa yang harus aku lakukan? ... Apa aku juga menyukai kakak? Tapi kenyataannya kamu adalah kakakku, bagaimanapun perasaan kita, kita tidak mungkin bisa bersama" batin Kyra.
Setelah beberapa jam Kyra menangis, kini dia mulai tertidur karena kelelahan.