What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 45



Kyra bangun di sore hari dengan mata sembab dan lesu. Ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Dia pun menyalakan kran di wastafel, memandangi wajahnya di depan cermin.


"Ah, betapa mengerikannya aku" ucap Kyra yang tengah melihat wajahnya.


Lalu pandangan Kyra pun tertuju ke bagian pangkal lehernya yang terdapat bekas merah keunguan akibat perbuatan Eric tadi pagi kepadanya.


"Kakak ..." Kyra pun kembali meneteskan air matanya.


Seumur hidupnya baru pertama kali ini Eric bersikap kasar kepada Kyra bahkan membentaknya.


Entah kenapa melihat Eric yang marah, hati Kyra juga ikut merasakan sedih.


"Aku mencintaimu Kyra"


"Aku tidak bisa jauh darimu"


"Aku tidak bisa melihatmu dengan laki-laki lain"


Kata-kata itu kini terus terngiang-ngiang di kepala Kyra.


"Aku juga merasa tidak ingin jauh dengan kakak ... Aku bahkan merasa sangat nyaman dengan kakak" Sambil memandang wajahnya di depan cermin.


"Entah kenapa, ciuman kakak bahkan aku ingin terus merasakannya" Mulai menangis.


"Kemarin bahkan aku sangat senang karena kakak pulang dan tidur di sampingku" Memegangi dadanya yang terasa sesak.


"Apakah ini yang dinamakan cinta? apa aku juga jatuh cinta kepada kakak? apa aku terlalu munafik? ... hiks ... Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu jika mereka tau ... hiks hiks" Terduduk di lantai kamar mandi.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa menjauhi kakak ... Tapi aku juga takut untuk melanjutkan perasaan ini bersama kakak ... hiks ... ibu..."


Kyra akhirnya keluar dari kamar mandi, setelah satu jam berada di sana. Dia juga sudah selesai mandi dan kini tubuhnya hanya terbalut handuk.


Ketika Kyra hendak mengambil piyamanya di lemari pakaian, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Terlihat di layar ponselnya bahwa temannya Nuril telah meneleponnya hingga 20 kali.


Kya pun segera menggeser layar ponselnya karena penasaran, sebab Nuril tidak pernah menghubunginya di jam seperti ini.


"Kyra" teriak Nuril dari seberang telepon.


"Ada apa Nuril, kelihatannya kamu panik sekali?"


"Kyra, kak Zian ..."


"Apa sih? ada apa dengan kak Zian?"


"Dia ... dia ... dia mau bunuh diri Kyra" jelas Nuril.


"Apa? ... Lah terus kenapa kamu menelpon ku, cepat panggil polisi sana" ucap Kyra terheran-heran.


"Duh Kyra, dia mau bunuh diri karena kamu"


"Aku? Kenapa?"


"Terakhir kali dia bilang, dia kini merasa putus asa karena kamu selalu menjauhinya, bahkan hanya sekedar berteman aja kamu nggak mau" jelas Nuril.


"Apa sih kekanak-kanakan deh"


"Ck, cepat datang dan bujuk dia Kyra kalau kamu tidak mau menyesal seumur hidupmu"


"Tapi ..."


"Hotel xx ... Entah kamu mau datang atau tidak terserah kamu, yang penting aku sudah memberitahumu"


Tut Tut Tut


"Halo Nuril, halo ..." Melihat ponselnya. "Ck, bukankah ini terlalu kekanak-kanakan, tapi apa artinya jika aku tidak datang maka aku akan menyesal? ... Separah itu ya? Ya udahlah aku samperin aja"


Kyra pun bergegas mengganti pakaiannya. Setelah selesai Kyra buru-buru keluar dari apartemen dan tidak menyadari bahwa Eric juga sedang tidak ada di rumah.


Ardan yang di tugaskan untuk menjaga Kyra kini tengah melihatnya keluar dari apartemen dengan terburu-buru.


Sesaat kemudian Ardan pun menelepon Farhan.


"Boss, Kyra keluar dari apartemen di jam seperti ini, apa perlu aku menghentikannya?" ucap Ardan.


"Tidak perlu, cukup ikuti dia dan jaga dia agar tidak terluka" jelas Farhan dari balik telepon. "Dan juga, kabari aku siapa yang dia temui malam-malam seperti ini"


"Baik boss"


Ardan mengikuti Kyra yang kini tengah menaiki taksi untuk pergi ke hotel yang sudah di beritahukan oleh Nuril.


Tepat sepuluh menit kemudian, Kyra pun sampai di depan hotel yang di maksud. Dia pun turun dari taksi dan terlihatlah sahabatnya Nuril tengah berjalan menghampirinya.


"Nuril apa yang terjadi?" tanya Kyra.


"Lihatlah" ucap Nuril sambil menunjuk ke atas.


"Benar-benar kak Zian" ucap Kyra tak percaya.


"Cepat bujuk dia Kyra" kata Nuril.


"Tapi aku ..."


"Kamar nomor 2331 di lantai 4 ... Cepat!" Nuril pun mendorong Kyra agar masuk ke dalam hotel tersebut.


Kyra pun berjalan menuju ke kamar yang Nuril katakan tadi, tanpa Kyra sadari Ardan kini tengah mengikutinya.


Setelah sampai, Kyra melihat kamarnya tidak terkunci bahkan tidak di tutup dengan rapat. Perlahan Kyra pun membuka pintunya dan berjalan menuju balkon.


Terlihat di sana Zian tengah berdiri di tepian balkon.


"Kak Zian" ucap Kyra.


Zian pun menoleh ke arah Kyra. "Kenapa kamu disini" ucap Zian dengan dingin. "Kamu ingin menyaksikan kematian ku kan, baiklah"


Zian hendak saja melompat namun dengan cepat Kyra menarik baju Zian ke belakang.


Dugh!


"Ah" teriak Kyra yang juga ikut terjatuh. "Apa kamu sudah gila? Kamu masih muda dan kamu mau mati di sini?"


"Pergilah" ucap Zian tanpa melihat ke arah Kyra.


"Nggak, sebelum kamu mengurungkan niat mu itu untuk bunuh diri"


"Pergi"


"Nggak!"


"Pergi Kyra, aku tidak ingin kamu melihatku mati mengenaskan di sini" kata Zian sambil berlinangan air mata.


"Apa yang kamu katakan kak? Jangan kekanak-kanakan seperti ini"


"Aku juga tidak tau, apa yang terjadi denganku. Aku sudah gila karena terus memikirkan mu, aku sudah berusaha melupakan mu. Tapi aku tidak bisa, aku hanya ingin berteman denganmu jika kamu tidak mau menjadi pacarku. Tapi kamu begitu jahat, sampai-sampai kamu bahkan tidak mau bicara dan terus menjauhiku"


"Kak Zian ..." mendengar ucapan Zian entah mengapa Kyra tiba-tiba teringat akan Eric yang tadi pagi menyatakan perasaannya.


"Kak Zian, bangunlah ... Jangan membuatku merasa bersalah. Ayo" ucap Kyra sambil mengulurkan tangannya. "Ayolah, kita bicara di dalam ya, di sini terlalu dingin. Tidak baik untuk kesehatan"


Zian pun menatap Kyra lalu menggenggam tangan Kyra dan berdiri dari sana.


"Kamu mau bicara dengan ku di dalam?" kata Zian.


Kyra mengangguk. "Hem, yah ayo bicara di dalam saja"


Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar.


"Kak Zian ... maaf sebelumnya, tapi aku ... tidak bisa menerima kakak" jelas Kyra.


"Tapi, tak bisakah kita berteman Kyra. Menjadi sahabat?"


"Tapi ..."


"Berjanjilah untuk tidak menjauh dariku ketika aku mendekatimu, dan tidak bersikap dingin kepada ku" kata Zian dengan wajah memelas.


Kyra lalu menghela nafas panjang. "Baiklah baiklah, kita berteman dan aku tidak akan menghindari kakak, oke. Jadi jangan bersikap seperti tadi ya, kalau tidak aku akan merasa bersalah"


"Hem, baiklah" Zian pun tersenyum mendengar penuturan Kyra. "Tapi Kyra ..."


"Hem?"


"Bolehkah aku memelukmu sebentar saja?" ucap Zian dengan gugup.


"Dia pasti merasakan sakit di hatinya, hanya satu pelukan saja. Tak apalah, siapa tahu bisa meringankan beban yang dia rasakan" batin Kyra.


"Baiklah, sini ... " Kyra berjalan menghampiri Zian dan memeluknya.


Zian pun membalas pelukan Kyra dan tersenyum bahagia. Kyra menepuk-nepuk punggung Zian memberikan ketenangan.


Beberapa saat kemudian Kyra pun melepaskan pelukannya.


"Sudah lebih tenang?" tanya Kyra.


Zian hanya mengangguk dan tersenyum.


"Baguslah, ini sudah malam, aku akan pulang dan kakak istirahatlah dengan baik ya"


"Iya Kyra, terimakasih ya" ucap Zian.


"Hem, aku pergi dulu ya. Dah"


Kyra pun pergi dari kamar tersebut meninggalkan Zian di sana. Zian yang sedari tadi menatap punggung Kyra yang tengah berjalan keluar, dia pun menyeringai.


"Hehe ... Kena kamu Kyra sayang"