What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 60



"Emmmhh"


Kyra pun menggeliatkan badannya di balik selimut. Cahaya matahari yang hangat mulai menyapu wajahnya.


"Shhtt, kenapa kepalaku pusing sekali?" gumam Kyra sambil memegangi kepalanya.


"Sudah bangun?''


Kyra pun menoleh ke sumber suara. Dan terlihatlah Eric yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Kyra pun membuang mukanya, ia masih teringat kejadian di restoran malam hari. Hati kecil Kyra merasa sakit mendengar Eric yang akan tiba-tiba menikah dengan Serlyn.


Eric pun naik ke atas ranjang Kyra dan duduk di sampingnya.


"Apa kamu sudah merasa baikan? Apa ada yang sakit?" kata Eric sambil hendak memegang dahi Kyra namun di tepis olehnya.


"Aku baik-baik saja"


Tanpa menoleh, Kyra pun mengatakannya dengan nada malas.


"Oh, baiklah. Emm ... pergi mandi sana, aku sudah siapkan sarapan untukmu" ucap Eric sambil mengusap lembut kepala Kyra.


"Hem, terimakasih. Tapi mulai sekarang, kakak tidak perlu repot-repot membuatkan ku sarapan. Aku bisa buat sarapan sendiri"


Eric pun menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Kyra. Ia pun mulai memeluk Kyra dari belakang.


"Hey, kenapa pagi ini kamu jutek sekali huh?" bisik Eric lalu mencium pipi Kyra.


"Tidak apa, aku hanya malas bicara sama kakak"


"Kenapa?" Eric pun semakin mempererat pelukannya.


"Bukankah kakak akan menikah bulan depan? Seharusnya sekarang kakak lagi sibuk kan? Pergi sana ..."


Eric pun tersenyum mendengar ucapan Kyra.


"Ahhh ... Kamu marah karena hal itu"


Eric pun melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Kyra untuk menghadapnya.


"Kyra, kakak minta maaf untuk hal itu" ucap Eric dengan lembut.


"Kenapa kakak jahat sekali kepadaku? Kakak bahkan tidak memberitahu ku, dan aku malah tau dari orang lain. Apa kakak tidak menganggap ku penting?"


Eric pun menangkup kedua pipi Kyra.


"Hey, kenapa bicara seperti itu? Tentu saja kamu sangat penting untukku" Eric pun mulai menarik Kyra ke dalam pelukannya. "Kamu bahkan jauh lebih penting dari apapun"


"Bohong" gumam Kyra.


"Kakak bilang mencintaiku, tapi kenapa sekarang mau menikah?" batin Kyra.


Dalam hati kecil Kyra, terbesit rasa tak rela jika Eric menikah dengan Serlyn. Entah mengapa, sejak malam itu saat Eric telah merenggut keperawanannya. Kyra merasa ingin memiliki Eric seutuhnya dan tidak ingin membaginya dengan siapapun. Namun sampai saat ini, Kyra masih heran, kenapa sejak saat itu Eric bahkan tidak pernah menyinggung akan hal itu.


"Apa semua yang aku lakukan tidak bisa membuktikan jika kamu adalah hal terpenting dalam hidupku?" kata Eric sambil melepaskan pelukannya.


"Kalau begitu kenapa kakak harus menikah dengan dia? Apa kakak bisa meninggalkannya? Apa kakak bisa membatalkan pernikahan dengannya?"


Sejenak Eric pun terdiam.


"Maaf Kyra, untuk saat ini. Kakak belum bisa jelaskan semuanya" ucap Eric dengan lirih.


Ia ingin menyembunyikan kebenaran bahwa ia menikahi Serlyn karena ia telah menodainya. Eric tak ingin sampai Kyra tau akan hal itu, dan membuatnya benci terhadap Eric.


"Baiklah, tidak perlu di jelaskan"


Kyra pun turun dari ranjangnya dengan wajah kesal.


"Kyra ... Kyra"


Eric pun menyusul Kyra yang kini sedang marah.


Setelah beberapa langkah dari ranjang, tiba-tiba Kyra merasa kepalanya sangat pusing. Badannya mulai terhuyung dan dengan cepat di tangkap oleh Eric.


"Kyra? Kamu tidak apa?" kata Eric yang khawatir melihat wajah Kyra tiba-tiba berubah menjadi pucat.


"Aku- hoooeek" ucap Kyra tertahan karena merasa ingin muntah.


"Kyra ..."


"Hoooeeekk"


Kyra pun melepaskan tangan Eric dan segera berlari ke kamar mandi.


"Hoooeeekk hoek" Kyra pun mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel.


"Kyra, apa kamu baik-baik saja?"


Eric pun masuk kedalam kamar mandi menyusul Kyra.


"Hoek"


Merasa kasihan dengan Kyra, Eric pun membantunya memijat tengkuk Kyra.


Kyra pun hanya mengangguk saja. Segera ia membasuh wajahnya dengan air.


"Apa perlu kita ke rumah sakit?"


"Tidak perlu kak, mungkin ini efek dari minuman semalam" kata Kyra sambil mengusap wajahnya dengan handuk.


"Tapi wajahmu pucat sekali, akan aku panggilkan dokter ya?"


"Tidak perlu kak, istirahat sehari juga akan sembuh"


Kyra pun hendak keluar dari kamar mandi namun kehilangan keseimbangannya.


"Ugh"


Eric pun segera menggendong Kyra keluar dari kamar mandi dan menuju ke tempat tidurnya.


"Berbaringlah sebentar, aku akan membuatkan mu teh hangat" ucap Eric sambil meletakkan tubuh Kyra dia atas ranjang.


Eric pun keluar dari kamar Kyra dan pergi ke dapur untuk membuatkannya teh hangat.


"Apa efek mabuk semalam masih belum hilang? Aku juga merasa sangat lemas" gumam Kyra.


Sesaat kemudian Eric pun datang dan membawa secangkir teh hangat dan juga bubur.


Eric pun kemudian duduk di samping Kyra dan meletakkan tehnya di atas nakas.


"Minum dulu, setelah itu makan buburnya ya" kata Eric penuh perhatian.


"Aku mau minum tehnya, tapi tidak mau makan buburnya" ucap Kyra sambil cemberut.


"Hey, perutmu mual tadi, lebih baik makan bubur dulu, oke?"


Eric pun mulai menyuapi Kyra.


"Aku gak mau kak" kata Kyra sambil memalingkan wajahnya.


"Ayolah sedikit saja"


"Sudah aku bilang aku gak mau, aku malah ingin muntah jika melihat bubur itu" kata Kyra dengan kesal.


"Baiklah, baiklah ... Minum ini dulu"


Eric lalu membantu Kyra untuk meminum tehnya.


"Kalau kamu tidak mau bubur, kakak akan buatkan yang lain"


"Kak ..."


"Ada apa?" kata Eric sambil memandang lembut wajah Kyra.


"Aku gak enak badan, apakah kakak mau menemani ku hari ini?" ucap Kyra merasa ingin di manja Eric.


Eric hanya tersenyum kecil sambil mengusap pipi Kyra.


"Baiklah, aku akan menemanimu seharian"


"Gak perlu ke kantor?"


"Ya, kakak tidak akan pergi ke kantor hari ini" ucap Eric sambil tersenyum.


"Gak perlu ada nenek lampir hari ini" kata Kyra sedikit tidak senang sambil memanyunkan bibirnya.


"Hahaha ... Iya iya, gak akan ada orang lain hari ini. Hanya kamu, kakak akan menemanimu sampai kamu sembuh" Eric pun mencubit hidung Kyra dengan gemas.


"Beneran?"


"Iya sayang ..." kata Eric dengan manja.


Entah mengapa di panggil sayang oleh Eric membuat Kyra berdebar dan merasakan banyak bunga bermekaran dalam hatinya.


"Kalau begitu, temani aku tidur lagi" ucap Kyra dengan manjanya.


"Baiklah"


Eric pun berpindah ke atas ranjang Kyra lalu membaringkan tubuhnya di samping Kyra.


Dengan cepat, Kyra memeluk tubuh Eric dari samping. Ia pun mulai membenamkan wajahnya di dada bidang Eric yang terbalut kaos hitam.


"Ada apa?" kata Eric terheran.


"Entahlah, aku ingin sekali mencium aroma tubuh kakak hari ini" gumam Kyra sambil memejamkan matanya merasakan aroma tubuh Eric memenuhi hidungnya.


"Apa perlu aku melepaskan pakaian ku?" kata Eric menggoda Kyra.


"Gak usah berlebihan" cetus Kyra.


"Hehehe"


Eric pun tersenyum sambil mengusap kepala Kyra.


"Kenapa hari ini kamu aneh sekali? Tadi marah dan sekarang manja sekali. Perubahan sikap yang drastis ini membuatku sedikit agak bingung. Tapi ... aku malah suka dengan sikap manjamu ini" batin Eric.