What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 89



Pak Daniel dan Bu Sofia pun kini menghampiri mereka dan duduk di sofa.


"Ehem" gumam pak Daniel.


"A-ayah, apakah ayah baik-baik saja?" kata Kyra sedikit khawatir.


"Ayah baik-baik saja"


"Ayah, maafkan kita. Aku tau ayah sangat marah, dan kecewa kepada kita. Tapi Kyra mohon ... Jangan usir Kyra, Kyra masih mau menjadi anak ayah. Kyra masih mau menjaga ayah nanti" ucap Kyra dengan tangis sesenggukan.


"Dasar bodoh. Siapa yang mau mengusirmu?"


"Lalu ... ayah ..."


"Kalian berdua harus menikah" kata pak Daniel dengan tegas.


Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi terkejut kecuali Bu Sofia.


"A-Apa? Me-menikah?" gumam Kyra lirih merasa tak percaya.


Kyra merasa tak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan ayahnya tersebut. Dalam hatinya merasa senang sekali bisa menikah dengan laki-laki yang ia cintai, tapi juga sekaligus merasa bingung karena Eric adalah kakaknya sendiri. Bagaimana mungkin ayahnya bisa menikahkan mereka.


Sedangkan di sisi lain, Eric terlihat tersenyum-senyum kecil dengan keputusan yang di buat ayahnya tersebut.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat bingung seperti itu? Apa kalian tidak setuju?" kata pak Daniel setelah melihat wajah Kyra yang kebingungan.


"Aku pikir kalian akan senang jika kita nikahkan. Tapi Kyra ku malah terlihat sedih. Apa aku sudah salah mengambil keputusan karena membujuk ayah untuk menikahkan mereka?" batin Bu Sofia sedikit khawatir ketika melihat Kyra.


"Tidak ayah, kita se-"


"Tidak mungkin" kata Kyra memotong kalimat Eric.


"Apanya yang tidak mungkin?" lanjut pak Daniel.


"Bagaimana bisa ayah akan menikahkan ku dengan kakak? Kakak adalah saudara kandungku, jika ayah menikahkan ku dengan kakak itu jelas tidak mungkin" ucap Kyra.


"Mungkin saja, karena Eric bukan kakak kandungmu Kyra" kata pak Daniel.


"Apa?"


Kyra merasa terkejut dengan semua yang baru saja dia dengar. Ia tidak menyangka, kakak yang sedari kecil selalu menjaganya dan melindunginya ternyata bukan kakak kandungnya.


"Ayah. Apakah Ayah bercanda?" kata Kyra tak percaya.


"Apa yang dikatakan ayahmu benar Kyra, Eric memang bukan kakak kandungmu" sahut Bu Sofia.


"Tidak mungkin" gumam Kyra lirih. Kyra pun mengubah arah pandangnya dan melihat ke arah Eric "Kakak apa benar apa yang mereka katakan?"


Eric pun mengangguk tanda mengiyakan, lalu ia menangkup kedua pipi Kyra. "Iya Kyra, apa yang dikatakan ayah dan ibu benar. Aku bukan anak mereka"


Kyra merasa senang dengan kenyataan yang kini ia hadapi, bahwa Eric sekaligus orang yang ia cintai bukan kakak kandungnya. Tapi dalam hati kecilnya ia merasa seperti dibohongi, karena selama ini ia tumbuh besar bersama Eric, namun tidak ada yang memberitahunya tentang masalah ini.


Kyra pun segera menepis kedua tangan Eric yang berada di pipinya. "Lalu, kenapa kalian tidak memberitahuku dari dulu? Kenapa kalian menyembunyikannya dariku" katanya sambil menatap kedua orang tuanya.


"Maafkan kami Kyra bukan maksud kami menyembunyikannya darimu, tapi selama ini Eric mengalami amnesia, jadi ayah dan ibu tidak berani mengungkit masa lalunya" kata Bu Sofia.


"Nelihat ekspresimu yang begitu antusias, apakah kamu benar-benar sudah mengingat semuanya Eric?'' tanya Pak Daniel kepada Eric.


"Iya ayah, beberapa bulan yang lalu aku bertemu dengan pembunuh kedua orang tuaku. Saat aku melihat wajahnya, di saat itulah aku mendapatkan ingatanku kembali" jelas Eric.


"Baguslah jika kamu sudah mengingat semuanya Eric. Ada banyak hal yang ingin Ayah katakan kepadamu, setelah kamu sudah mengingat tentang kedua orang tuamu" kata Pak Daniel. "Tapi untuk sementara ini, kita bahas dulu pernikahan kalian. Ayah akan melangsungkan pernikahan kalian secepat mungkin. Paling tidak kita akan melakukannya bulan depan" lanjutnya.


"Eric, ibu harap setelah kamu mengingat masa lalumu, kamu tidak akan kecewa kepada kami karena telah menyembunyikannya selama ini" kata Bu Sofia.


"Tentu saja tidak Bu, justru aku berterima kasih sekali karena kalian telah membesarkan dan merawat ku selama ini" ucap Eric dengan tulus.


Di tengah-tengah pembicaraan mereka, tanpa mereka sadari. Kyra yang sedari tadi masih syok, kini menahan rasa sakit di perutnya. Semakin lama, perutnya semakin terasa sakit.


"Sssttt" desis Kyra.


"Kamu kenapa?" kata Eric khawatir sambil memegang tangan Kyra yang sedang memegangi perutnya.


Pak Daniel pun merasa khawatir melihat Kyra yang tiba-tiba meringis menahan rasa sakit.


"Sakit ... Sakit sekali" gumam Kyra lirih.


"Bu, cepat panggilkan dokter pribadi kita" perintah pak Daniel.


Bu Sofia pun segera pergi menelepon dokter seperti yang di perintahkan pak Daniel.


"Eric, bawa dia ke kamarnya" lanjut pak Daniel.


"Iya yah"


Segera, Eric langsung mengangkat tubuh Kyra. Kyra pun melingkarkan lengannya di bahu Eric.


"Kakak sakit sekali" gumam Kyra sambil menggigit bibir bawahnya.


"Tahan sebentar, dokter akan segera ke sini"


Segera setelah masuk ke kamar Kyra, Eric pun membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Sssttt" desis Kyra sambil memegangi perutnya.


"Sakit sekali? Bertahanlah sebentar lagi Kyra" ucap Eric penuh kekhawatiran sambil memegang tangan Kyra.


"Kakak ... Aku takut terjadi sesuatu kepada anak kita"


"Jangan bicara sembarangan. Tidak akan terjadi sesuatu kepada kalian berdua. Aku sudah berjanji untuk melindungi kalian berdua" kata Eric menenangkan Kyra lalu mencium tangannya.


Tak berselang lama pak Daniel dan Bu Sofia masuk kedalam kamar Kyra dan di ikuti oleh seorang dokter laki-laki di belakang mereka.


"Silahkan dok" ucap pak Daniel.


Dokter itupun segera menghampiri Kyra dan memeriksanya.


"Apa yang terjadi?" kata dokter itu sambil mengeluarkan stetoskop dari tasnya.


"Dia hamil hampir 3 mingguan, dan tadi tiba-tiba dia merasa sakit perut" jelas Eric.


Dokter pun segera memeriksa keadaan Kyra.


"Sssttt" desis Kyra.


Tak berselang lama, dokter pun selesai memeriksa Kyra.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Bu Sofia khawatir.


"Dia baik-baik saja, tadi saya sudah memberikan dia obat penghilang rasa sakit" jelas dokter tersebut.


"Bagaimana dengan bayinya? Apakah baik-baik saja?" kata Eric.


"Bayinya baik-baik saja. Dia hanya sedikit mengalami syok, dan terjadi kontraksi di perutnya. Apalagi sepertinya dia juga baru saja terluka. Tapi tidak sampai membahayakan sang bayi. Biarkan dia istirahat beberapa saat, dan ini resep obatnya" Dokter itupun memberikan secarik kertas kepada Eric.


"Baiklah, terimakasih dokter"


"Kalau begitu saya permisi dulu" kata dokter tersebut.


"Mari saya antar dok" ucap pak Daniel.


Mereka pun meninggalkan kamar Kyra, dan tinggallah Bu Sofia dan Eric di sana.


Segera Eric pun langsung duduk di samping tempat tidur Kyra dan mengusap kepalanya.


"Kamu pasti kesakitan sekali tadi" gumam Eric lirih.


Bu Sofia tersenyum melihat Eric yang begitu perhatian kepada Kyra.


"Ibu rasa, menikahkan kalian memanglah pilihan yang tepat"