
Kyra kini sedang duduk di atas ranjang dan sedang menikmati sarapan paginya.
"Ini minumnya" ucap Farhan sambil menyodorkan segelas air putih kepada Kyra.
"Hem, terima kasih" Kyra pun menerima gelas tersebut. "Kak Farhan. Kenapa kakak masih ada di sini? Bukannya di kantor sedang sibuk" tanya Kyra sambil memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Iya, tapi kan di sana sudah ada kakakmu" kata Farhan dengan santainya.
"Bagaimana bisa kak Farhan sesantai ini? kak Farhan kan sekretaris Kak Eric. Seharusnya kak Farhan lebih sibuk daripada dia"
"Memang aku sekretarisnya, tapi aku lebih suka menjagamu di sini. Dan Eric juga tidak akan mungkin memecat ku karena itu" ucap Farhan sambil menyunggingkan senyuman.
"Kak Farhan terlalu percaya diri. Bagaimana jika Kakak kesal dan akan memecatmu sekarang juga?"
"Sudah kubilang itu tidak akan pernah terjadi. Karena kakakmu itu masih membutuhkan seseorang yang sangat pintar sepertiku" kata Farhan dengan percaya dirinya.
"Hais benar-benar. Karena kakak sudah menganggapmu saudaranya maka dia tidak akan memecat mu" kata Kyra sedikit kesal. "oh ya Kak, bagaimana bisa kalian bertemu dulu?"
"Emm ... Itu ya ... Kalau tidak salah aku kenal dengannya karena salah satu guruku menemukan kakakmu sedang tergeletak di pinggir jalan. Sepertinya karena habis dirampok oleh seseorang. Maka dari itu, guruku membawanya pulang ke asrama. Dari situlah aku mengenal kakakmu" jelas Farhan sambil duduk di bangku yang ada ada di samping ranjang Kyra.
''Dirampok? Benarkah? Kenapa Kakak tidak pernah bercerita tentang itu? Dan aku juga tidak pernah mengetahui hal itu dari ayah ataupun ibu"
"Tentu saja kalian tidak pernah mengetahui hal itu. Karena itu terjadi waktu dia baru pertama kali pergi ke luar negeri untuk mengurusi bisnis ayahmu yang ada di sana" jelas Farhan.
"Ah ... Kasihan sekali kakak. Waktu itu dia pasti sangat kesulitan"
"Hem tidak juga. Sepertinya dia tidak kesulitan sama sekali" gumam Farhan sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Lalu apa yang terjadi kepada kakak setelah itu?" tanya Kyra penasaran.
"Setelah dia membaik dia langsung kembali untuk mengurusi bisnis ayahmu. Tapi tidak kusangka, detelah pergi dia kembali lagi dan menjadi murid guruku"
"Apa dari situ kalian mulai menjadi teman baik?"
"Iya ... Dulunya aku aku sedikit tidak suka kepada kakak mu. Karena dia adalah murid yang selalu dibangga-banggakan oleh guruku setelah Jacob. Aku sangat kesal karena hal itu tapi setelah aku mengenal lebih dalam siapa kakakmu itu. Aku mulai menyukainya, dari situlah kami bertiga menjadi teman baik. Karena bisnis kakakmu di sana tidak terlalu lancar kami pun mulai membantunya. Ya ... Bisa dibilang kami membantu perusahaan ayahmu untuk berdiri kembali" jelas Farhan dengan bangganya.
"Oh jadi begitu ya"
"Apa sudah selesai? Jika sudah, aku akan membereskan nya" kata Farhan sambil berdiri hendak membersihkan peralatan makan Kyra.
"Sudah terima kasih ya kak" ucap Kyra sambil tersenyum manis.
Farhan pun membalas senyuman Kyra dan mulai membereskan bekas piring makan Kyra.
"Oh ya Kak. Apa di sana Kak Eric pernah berpacaran ataupun menyukai seorang wanita?" tanya kaira penasaran.
"Di sana? Emmm ... Aku rasa tidak. Dia seperti alergi terhadap wanita. Entahlah mungkin aku yang tidak terlalu tau tentang hal itu" kata Farhan tanpa menoleh kearah kaira.
"Sudah kuduga. Kakak kan dari dulu selalu dingin terhadap perempuan manapun" gerutu Kyra sambil tersenyum-senyum sendiri.
Kyra merasa senang sekaligus bahagia dengan kenyataan itu. Bahwa Eric tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Dia sedikit lega karena hal itu. Serasa di dalam hatinya muncul bunga-bunga bermekaran yang membuat dia bahagia.
"Ada apa? Apa kamu tadi berbicara sesuatu?" tanya Farhan sambil menoleh kearah Kyra.
"Tidak ada, Aku tidak bicara apa-apa"
"Oh ... Ini minum obat mu dulu" kata Farhan sambil menyodorkan obat dan segelas air putih ke arah Kyra.
Kyra pun segera menerima obat tersebut dan langsung meminumnya.
"Ini ..." ucap Kyra sambil menyerahkan gelas kepada Farhan. "Kak Farhan. Terima kasih ya"
"Untuk apa? tanya Farhan.
"Karena kakak sudah baik kepadaku dan mau menjagaku selama ini" ucap Kyra dengan tulus.
Farhan pun tersenyum lalu mengusap lembut kepala Kyra. "Tidak perlu berterima kasih Kyra, aku malah senang karena bisa menjagamu. Dan aku malah berharap bisa menjagamu setiap hari"
.
.
.
Sesaat Kyra pun terdiam sambil menatap mata Farhan. Dia teringat kembali akan perkataan Farhan waktu itu yang meminta Kyra untuk menikah dengannya.
"Kenapa kamu bengong Kyra? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Ah tidak ada kok Kak. Aku hanya memikirkan sesuatu" kata Kyra sambil mengalihkan pandangannya dari Farhan.
"Hey ... Sudah kubilang jangan terlalu stres. Kasihan anak yang ada di dalam perutmu" kata Farhan sambil menggenggam dengan Kyra.
"B-baiklah" ucap Kyra sedikit gugup.
"Baguslah. Setelah minum obat kamu harus segera istirahat, dan besok kamu sudah boleh pulang. Aku akan pergi sebentar untuk mengurus sesuatu. Kamu tidak boleh kemana-mana dan harus tetap ada disini. Mengerti"
"Iya iya aku mengerti. Kak Farhan tidak perlu khawatir, lagi pula di sini banyak orang kok. Ada perawat yang menjagaku. Dan lagi aku bukan anak kecil, jadi aku tidak akan berkeliaran" ucap Kyra sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya baiklah, aku tahu itu. Jadi aku akan pergi sebentar dan nanti aku akan kembali ke sini. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik oke"
"Iya bawel, cepat pergi sana" kata Kyra sambil mendorong lengan Farhan.
"Baiklah aku akan pergi"
Farhan pun berjalan pergi meninggalkan ruangan Kyra.
"Hufft"
Kyra pun membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Bagaimana ini? Kak Farhan begitu baik kepadaku. Jika Aku menolaknya, nanti pasti akan canggung jika aku bertemu dengannya lagi. Tapi jika aku menerimanya, itu tidak akan adil baginya, dia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik daripada aku" gumam Kyra sambil tenggelam dalam lamunannya. "Tidak bisa Kyra kamu harus tegas dalam mengambil keputusan. Bagaimanapun juga, kamu tidak boleh membiarkan orang lain menanggung kesalahanmu"
Kyra pun tenggelam dalam pikirannya. Hingga tak terasa hari pun mulai siang.
Sesaat kemudian Farhan pun masuk ke dalam ruangan Kyra sambil membawa beberapa kantong plastik di tangannya.
"Kyra, lihatlah aku membawakan sesuatu untukmu" Farhan pun mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan Kyra di sana. Dia sedikit khawatir dan mulai mencari Kyra di dalam ruangan tersebut.
"Kyra kamu ada di mana?" teriak Farhan.
"Ada apa sih Kak? Kenapa teriak-teriak?" ucap Kyra yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku kira kamu tadi kemana. Aku khawatir sekali melihatmu tidak ada disini" kata Farhan sambil menghampiri Kyra.
"Kakak yang terlalu berlebihan. Aku baru saja dari kamar mandi. Memangnya ada apa?"
"Tidak ada, aku hanya membawakan beberapa cemilan untukmu"
"Besok aku akan pulang, kenapa Kakak membawa begitu banyak cemilan ke sini?" kata Kyra keheranan.
"Aku kira kamu sedikit bosan dengan makanan rumah sakit, jadi aku membelikanmu beberapa camilan tadi saat aku kesini. Tapi tidak apa, besok aku akan membantumu berkemas"
"Jika begini terus, aku akan cepat gendut" kata Kyra sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak apa meskipun kamu gendut kamu tetap cantik kok" kata Farhan sambil tersenyum manis.
Disaat Farhan sedang asik mengobrol dengan Kyra tiba-tiba Eric pun masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kakak? kamu ada di sini?" tanya Kyra saat melihat Eric yang masuk ke dalam ruangan.
"Rapat sudah selesai jadi aku langsung kesini dan lihatlah aku sedang membawa seseorang yang ingin menemuimu" kata Eric lalu mempersilahkan orang itu masuk.
"Mikha?" kata Kyra terkejut saat melihat orang tersebut.