
"Ayah" ucap Kyra yang masuk ke ruang inap pak Daniel dan di ikuti Eric di belakangnya.
"Eh, kalian sudah ada di sini?" kata pak Daniel yang terbaring di ranjang dan jarum infus yang menancap di tangannya.
"Ayah sudah baikan? Dimana ibu?"
"Ayah sudah baikan, besok juga sudah boleh pulang. Sedangkan ibumu tadi pergi keluar, katanya mau membeli beberapa buah segar di dekat sini"
"Oh ... kalau begitu, apa ayah sudah makan?"
"Ayah sudah makan, oh ya, bagaimana acaranya tadi?" kata pak Daniel sembari mengusap rambut Kyra yang sekarang duduk di sebelahnya.
"Lancar yah, dan aku juga lulus dengan nilai terbaik" ucap Kyra sambil tersenyum gembira.
"Oh, ya? baguslah, Ayah percaya kamu akan berhasil" kata pak Daniel.
Setelah beberapa saat kemudian, Bu Sofia pun datang dengan membawa beberapa buah-buahan di tangannya. Kyra pun membantunya memotong kan beberapa buah-buahan untuk ayahnya.
"Eric" kata pak Daniel sembari melambaikan tangannya.
"Ada apa Yah?" Eric pun pergi duduk di kursi sebelah ranjang.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja aku melihatmu diam saja dari tadi. Apa ada sesuatu yang terjadi di kantor?" ucap pak Daniel yang memang sedari mereka berdua datang, Eric hanya diam saja.
''Tidak ada, Ayah jangan khawatir kantor masih aman-aman saja" ucap Eric.
"Hemmm, baguslah, tapi kamu jangan lengah Eric. Kita tidak tau seberapa kuat musuh kita nanti"
"Aku tau Ayah"
Mereka berdua pun melanjutkan perbincangannya tentang masalah kantor, sedangkan di sisi lain Kyra meminta izin kepada ibunya untuk tinggal dan menemaninya menjaga ayahnya, namun Bu Sofia melarangnya dan menyuruhnya pulang. Karena pak Daniel hanya di rawat sehari saja di rumah sakit, besok juga sudah di perbolehkan pulang.
Jam dinding pun menunjukkan pukul 9 malam.
"Ayah, Ibu. Kalau begitu, kami pulang dulu" ucap Eric.
"Ibu, jika perlu sesuatu kabari kita ya" kata Kyra sembari melangkah ke luar kamar.
"Iya, kalian hati-hati di jalan ya" seru Bu Sofia yang di balas lambaian tangan Kyra yang semakin menjauh.
"Ayah, apa yang kalian bicarakan sedari tadi?" tanya Bu Sofia sembari duduk di kursi dekat ranjangnya.
"Kita hanya membicarakan tentang pekerjaan"
"Ayah, apa kamu yakin Eric bisa melawan pak Freddy? Dia bukan orang yang sembarangan bahkan kamu sendiri menghindari pertentangan dengannya" ujar Bu Sofia khawatir.
"Tentu saja aku yakin, Bu ... jangan khawatir, ini adalah satu-satunya cara agar kita bisa melindungi Kyra. Aku sudah tua dan penyakitan si Freddy itu pasti akan menggunakan Kyra untuk melemahkan kita, hanya Eric yang bisa melindunginya" jelas pak Daniel.
"Lalu, kalau dia bisa mengalahkan Eric juga bagaimana?"
"Tidak ada pilihan lain, selain menggunakan cara terakhir kita" ucap pak Daniel serius.
"Tapi bukankah lebih baik kita berterus terang dulu kepada Eric sekarang?"
"Jangan gegabah dan malah membingungkan Eric. Kita lihat dulu dalam beberapa bulan kemudian bagaimana dia mengatasi si Freddy itu, dan kita harus menunggu ingatannya pulih dengan sendirinya. Jika hari itu tiba, barulah kita jelaskan kepadanya"
"Aku takut ..." ucap Bu Sofia lirih.
"Takut apa?"
"Aku takut dia akan pergi meninggalkan kita jika tau yang sebenarnya" kata Bu Sofia sambil menitikkan air mata.
"Jangan khawatir Bu, kita sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang seperti anak kita sendiri. Aku yakin dia tidak akan pergi meninggalkan kita jika dia tau yang sebenarnya"
...****************...
Di sepanjang perjalanan pulang, Kyra hanya duduk diam saja di dalam mobil. Ia masih mengingat kejadian di atas villa tadi sore yang membuatnya merasa canggung dengan kakaknya.
Sedangkan Eric yang sedari tadi melihatnya, merasa bahwa Kyra masih merasa sedih atas apa yang terjadi antara dia dengan Farel tadi siang.
"Kyra, apa kamu lapar?" ucap Eric yang di balas gelengan kepala Kyra.
"Kamu mau beli sesuatu?" tanya Eric lagi yang masih saja di balas gelengan kepala oleh Kyra.
"Nggak kenapa-kenapa kok" ucap Kyra lirih.
Eric tiba-tiba menghentikan laju mobilnya di pinggir jalanan sepi.
"Kak, kenapa kamu menghentikan mobilnya? Disini gelap sekali" ucap Kyra sambil menoleh ke arah Eric yang sekarang berwajah serius.
"Kyra, tak peduli seberapa besar rasa cinta mu kepadanya, aku ingin kamu melupakannya mulai sekarang" tegas Eric tanpa melihat kearah Kyra.
Kyra yang melihat tingkah kakak nya ini, hanya bisa diam saja. Sebelum nya Eric hanya memperlihatkan sikap lembut dan perhatian saja kepada Kyra, tapi sekarang untuk pertama kalinya dia bersikap tegas dan serius terhadap Kyra.
"Kakak ... meskipun dia mencintai orang lain, tapi saat kamu tidak bersama ku dialah yang menjagaku" ucap lirih Kyra.
"Dan perasaan ku kepada nya tidak sedalam apa yang kamu pikirkan" batin Kyra.
Meskipun selama setahun ini Farel bersamanya, namun Kyra belum mempunyai perasaan cinta yang mendalam untuknya. Dan yang membuatnya sakit adalah perasaan Kyra yang sangat tulus, ternyata di balas kepura-puraan oleh Farel selama ini.
"Dia tidak mencintaimu Kyra, dia hanya berpura-pura baik selama ini. Apakah pantas dia membuatmu sedih seperti ini?" ucap Eric dengan nada agak tinggi.
Entah mengapa melihat Kyra yang sedang memikirkan lelaki lain membuat hati Eric sedikit tidak tenang. Dan untuk pertama kalinya ia memperlihatkan kegusarannya kepada Kyra.
"Kakak ..." ucap Kyra lembut yang langsung di potong oleh Eric.
"Aku tidak suka kamu diam saja saat bersamaku, dan aku tidak suka kamu memikirkan orang lain saat berada di dekatku apalagi memikirkan lelaki itu"
"Kakak!" teriak Kyra sembari memandangnya. "Aku hanya sedikit canggung saat bersamamu, itu saja. Dan, lagi pula aku sudah berjanji akan melupakannya"
Deg
"Apa? Canggung? Jadi, sedari tadi dia diam karena memikirkan kejadian tadi sore ya? Hem, bodohnya aku"
"Canggung kenapa?" tanya Eric yang berpura-pura tidak tahu.
Melihat ekspresi wajah Kyra yang sedang tidak nyaman, membuat Eric sedikit senang.
"Itu ... " ucap Kyra menggantung.
"Itu, apa?" kata Eric yang terus menggoda Kyra.
"Ya, itu ..." kata Kyra sembari memalingkan wajahnya dari Eric.
"Ini maksudmu?" Eric langsung meraih wajah Kyra lalu mencium bibirnya.
"Kakak!" Kyra mendorong wajah Eric darinya.
"Apa? Bukanya ini yang kamu maksud?" kata Eric sembari tersenyum.
"Iya, tapi jaga sikapmu itu!" Kyra sedikit kesal dengan tingkah Eric yang tiba-tiba menciumnya.
"Kalau aku tidak mau?"
"Kakak, kamu jangan gila ya" Kyra memukul-mukul lengan Eric kesal.
"Hahaha ... Oke, oke" ucap Eric sembari menghidupkan mobilnya lalu melajukannya.
"Kyra?"
"Hemm"
"Jika seandainya aku bukan Kakak mu, apakah kamu mau jadi pacarku?" tanya Eric yang membuat Kyra terkejut.
"Ck, jangan menghayal deh" jawab Kyra dengan tak percaya.
"Aku kan cuma tanya, memang nggak boleh? Kan hanya seandainya" jelas Eric.
"Aish, jika aku bukan adikmu, apa kamu juga mau mendekatiku? Kamu bahkan tidak mau tersentuh oleh wanita" ucap Kyra yang memang tau sifat kakaknya yang sangat dingin terhadap wanita kecuali kepada ibu dan adiknya.
"Iya juga ya? Mana mungkin aku tertarik denganmu? Di lihat dari sudut pandang manapun kamu tidak menarik sama sekali" kata Eric sambil memandang buah dada Kyra.
"Hey, dasar mesum" seru Kyra sembari mencubit pipi Eric.