
Beberapa saat kemudian, Eric masuk ke dalam aula sekolah tempat acara di selenggarakan. Namun ketika Eric tiba, acaranya sudah hampir selesai.
Sedari tadi Kyra mengedarkan pandangannya ke seluruh aula mencari-cari wajah kedua orang tuanya namun tidak ia temukan.
Beberapa saat kemudian Kyra menghentikan pandangannya dan beralih ke sesosok lelaki tampan yang berada di tengah kerumunan para siswa.
Seketika itu juga Kyra berlari dan berhambur ke dalam pelukan lelaki tersebut yang tak lain adalah Eric kakaknya.
"Maaf, aku terlambat Kyra" ucap Eric lirih sembari membalas pelukan Kyra.
Kyra yang masih memeluk erat tubuh Eric, tak terasa ia pun meneteskan air matanya.
"Eh, kenapa kamu menangis?" tanya Eric sambil mengusap lembut air mata Kyra.
"Kakak, aku lulus dengan nilai terbaik, aku terharu karena kerja kerasku dan dukungan dari ayah dan ibu akhirnya tidak sia-sia. Sebentar lagi aku bisa mewujudkan cita-citaku untuk menjadi dokter" ucap Kyra yang masih memeluk pinggang Eric.
Eric pun tersenyum, dan mengecup kening Kyra lalu kembali memeluknya.
"Gadis pintar, kakak bangga sekali sama kamu"
Karena acara sudah selesai, Eric pun mengajak Kyra untuk pulang. Sesampainya di dalam mobil, Eric memberikan setangkai bunga mawar merah yang ia beli di pinggir jalan tadi kepada Kyra sebagai hadiah darinya.
"Ck, ada apa denganmu kak?" ucap Kyra sembari memandangi bunga yang di berikan Eric.
"Apa?" kata Eric melajukan mobilnya.
"Bukanya bunga mawar merah seharusnya kakak berikan ke pacar kakak ya?"
"Apa maksudmu?" kata Eric tak mengerti.
"Aish, setangkai bunga mawar merah artinya sama saja dengan 'Aku Mencintaimu' " jelas Kyra.
"Memangnya kenapa kalau artinya 'Aku Mencintaimu'? Memang aku mencintaimu" jawab Eric santai sembari fokus menyetir.
Deg
"Kakak, apa yang baru saja dia katakan?" batin Kyra.
Sembari fokus menyetir Eric sesekali melirik Kyra dan tersenyum.
"Kalau kamu tidak suka, kakak ganti deh hadiahnya. Kamu mau apa sebagai gantinya?"
"Beneran nih?" tanya Kyra sembari tersenyum manja.
"Iya dong, kamu boleh minta apapun yang kamu mau" ucap Eric sembari mengusap lembut rambut Kyra.
"Hemmm, yang paling aku inginkan sekarang adalah pergi ke Korea, jalan-jalan menikmati keindahan musim semi dan makan daging Bulgogi di sana. Bagaimana? Kakak nggak sanggup kan memenuhi keinginan aku?" ucap Kyra dengan tersenyum sembari menoel hidung kakaknya itu.
"Hah, untuk saat ini aku memang tidak bisa memenuhi keinginanmu itu. Tapi sebagai ganti daging Bulgogi yang kamu inginkan, aku akan mengajakmu ke restoran Barbeque di sekitar sini, bagaimana?"
"Boleh, boleh. Lagipula aku juga sedang lapar sekarang" ucap Kyra sembari memandang ke luar jendela.
Eric pun melajukan mobilnya menuju ke restoran. Di tengah perjalanan mereka berdua melewati sebuah toko bunga yang berada di pinggir jalan, toko itu tidak terlalu ramai namun ada yang menarik perhatian Kyra.
"Kakak, berhenti!" seru Kyra.
Eric pun dengan cepat langsung menginjak rem mobilnya dan mendadak berhenti di pinggir jalan.
"Ada apa Kyra?" tanya Eric.
"Itu ... bukanya itu kak Farel?" ucap Kyra sembari turun dari mobil.
"Farel?" gumam Eric dan kemudian mengikuti Kyra yang sudah berada jauh darinya.
Sesampainya di depan toko itu Kyra segera masuk ke dalam toko tersebut, namun beberapa saat kemudian ia berhenti melangkahkan kakinya.
Eric yang sedari tadi mengikuti Kyra kini sudah ada di sampingnya.
Setelah Eric sadar ternyata adiknya tengah melihat seorang pria yang tadi ia sebut dengan nama Farel, kini tengah berciuman mesra dengan seorang gadis cantik yang berpakaian sederhana yang terlihat seperti penjaga toko bunga tersebut.
"Kak Farel" ucap Kyra lirih sambil menahan air matanya.
Farel yang merasa ada seseorang yang mengawasinya seketika ia pun menoleh ke arah Eric dan Kyra.
"Kyra? Kamu ada di sini?" Farel terkejut melihat Kyra dan Eric sedang berdiri di sana.
Entah kenapa, Kyra yang melihat pemandangan itu merasa hatinya sakit sekali. Ternyata apa yang di bilang kakaknya waktu itu benar. Bahwa Farel tidak pernah menyukainya sehingga dia tidak pernah mencium Kyra, namun sekarang dia tengah mencium orang lain di hadapannya. Ingin sekali Kyra berlari pergi dari tempat itu, namun hati kecilnya masih ingin menunggu penjelasan dari Farel.
"Kenapa?" tanya Kyra yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
Melihat air mata Kyra yang menetes entah kenapa hati Eric juga merasa sakit sekali. Ingin rasanya Eric mencabik-cabik lelaki yang ada di hadapannya itu, namun ia tau adiknya kini tengah menunggu penjelasan dari Farel.
Sedangkan gadis yang bersama Farel tadi tengah bersembunyi di balik lengan Farel karena merasa tidak nyaman dengan tatapan tajam Eric.
Farel pun berjalan mendekati Kyra.
"Untunglah kamu berada di sini Kyra" gumam Farel dengan santainya seperti tidak pernah terjadi sesuatu.
"Apa maksudmu? Siapa dia?" tanya Kyra sembari menatap tajam ke arah gadis tadi yang sebenarnya adalah Luna.
"Baiklah Kyra, aku tidak akan menyembunyikannya lagi sekarang. Mari aku perkenalkan dia kepadamu, dia adalah Luna. Wanita yang aku cintai selama ini" ucap Farel sembari memandang ke arah Luna tanpa rasa bersalah sedikitpun terhadap Kyra, begitupun dengan Luna.
Mendengar ucapan Farel, Kyra pun tidak percaya dan mundur satu langkah dari hadapannya. Bahkan kini air matanya mengalir lebih deras. Melihat keadaan adiknya, Eric tidak terima, ia ingin sekali menghajar Farel namun di hentikan oleh Kyra.
"Kenapa?" ucap Kyra tertunduk sembari masih memegangi lengan kakaknya dengan kedua tangannya.
"Maaf Kyra, Selama ini aku hanya berpura-pura mencintaimu. Selama ini aku hanya terpaksa karena papaku" ucap Farel tanpa merasa bersalah sedikitpun karena yang ia rasakan terhadap Kyra hanya kebencian, ia merasa Kyra lah sumber dari masalah yang kini dihadapinya.
Karena Papanya selalu memaksa Farel untuk mendekati Kyra, sehingga ia tidak bisa bersama dengan orang yang ia cintai.
Mendengar penuturan Farel hati Kyra bak tersambar petir, ia tidak menyangka selama setahun ini senyuman Farel, kata-kata manis Farel dan sikap Farel terhadapnya hanya pura-pura saja.
Tidak ada penyangkalan dari Farel juga tidak ada rasa bersalah sedikitpun darinya. Membuat hati Kyra teramat sakit sekali.
"Kenapa?" tanya Kyra sekali lagi.
"Karena kau adalah anak dari keluarga Karendra. Dan hanya karena harta keluargamu Kyra. Perasaan ku kepada mu tidak lebih dari itu, karena sekarang kamu sudah tau semuanya, maka pergilah dari hidupku. Aku hanya mencintai Luna" ucap Farel dengan nada sedikit kesal.
"Kau!" bentak Eric.
Karena sudah tidak bisa menahannya lagi Eric pun melepaskan tangan Kyra dan memukul keras wajah Farel hingga tubuhnya terpental dan jatuh tersungkur.
"Hehe" kekeh Farel yang sedang berusaha berdiri. "Apa? Kamu ingin menghajar ku? Memangnya siapa kamu? Kamu bahkan tidak sepadan dengan ku" ejek Farel kepada Eric yang memang ia tak tahu kalau Eric adalah kakak Kyra.
Mendengar ocehan Farel membuat Eric semakin naik darah dan menghajar nya berkali-kali sampai babak belur dan tidak dapat berdiri lagi.
"Uhuk-uhuk" suara Farel yang menahan sakit.
Melihat keadaan Farel, Luna pun tak tega.
"Tuan, tolong ampuni dia. Dia tidak bersalah, aku lah yang salah" kata Luna menangis sembari memohon kepada Eric.
Eric pun tak menggubris perkataan Luna dan beranjak menghampiri adiknya yang sedari tadi masih tertunduk di tempatnya.
Ia pun menangkup kedua pipi Kyra dan mengusap air matanya.
"Angkat kepalamu" perintah Eric kepada Kyra.
Kyra pun mengangkat kepalanya dan menatap mata eric dalam-dalam.
"Lupakan dia, tikus pengecut seperti dia sama sekali tidak pantas untukmu"
Eric pun menggenggam erat tangan Kyra dan membawanya pergi dari tempat itu, meninggalkan Farel dan Luna di sana.