What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 41



Sudah tiga hari berlalu Eric masih belum juga sadarkan diri, dia masih di rawat oleh Susan di rumah merah. Dan Kyra sudah pulang ke apartemen karena Farhan sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit.


Selama tiga hari juga Lee MinHyung selalu mengikuti kemanapun Kyra pergi, tapi untung saja ada Ardan yang selalu menjaga Kyra sehingga Lee MinHyung tidak berani berbuat macam-macam.


"Kyra!!" teriak seseorang dari kejauhan.


Kyra pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, terlihat Ardan tengah melambaikan tangan ke arah Kyra yang sedang berjalan keluar dari gerbang kampusnya.


Kyra membalas lambaian tangan Ardan dan mulai berjalan menghampirinya.


"Sudah dari tadi ya nungguin?" kata Kyra.


"Hem ya" jawab Ardan sambil membukakan pintu mobil untuk Kyra.


Kyra pun masuk ke dalam mobil dan di ikuti Ardan setelahnya.


"Kak, nggak perlu antar jemput aku setiap hari, aku bisa sendiri kok" kata Kyra sambil memasang sabuk pengaman dan duduk di sebelah Ardan.


"Nggak bisa, nanti boss akan marah kalau membiarkanmu sendirian di luar" ucap Ardan lalu mengemudikan mobilnya menuju apartemen Kyra.


"Ck, nggak sendirian juga, kan di kampus juga banyak temennya" protes Kyra.


"Protes saja ke boss sana, tugasku hanya untuk menjagamu dan melindungi mu kalau ada bahaya" kata Ardan yang sedikit kesal karena hampir setiap hari Kyra berbicara seperti itu dengannya.


"Huh, emangnya aku tawanan apa?" gerutu Kyra.


"Kamu mau kemana? mau mampir dulu ke suatu tempat?"


"Tau ah, pulang aja ... Males kemana-mana kalau di kintilin kak Ardan terus" kata Kyra sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Baguslah,"


"Ih kok bagus sih" kata Kyra sedikit kesal.


"Ya baguslah, liat tuh di belakang" ucap Ardan sambil mengarahkan pandangannya ke mobil yang sedang mengikuti mereka. "Bagus kalau kamu di rumah aja, kalau kamu nggak mau di ikuti orang Korea itu"


"Ish, ribet banget sih, tuh orang juga kenapa ngikutin terus jadi risih aku liatnya" kata Kyra. "Jadi kangen sama kak Eric, kalau ada kak Eric dia nggak bakal nggangguin aku lagi" gerutu Kyra.


"Oh jadi kamu mau aku singkirin tuh orang biar nggak nggangguin kamu?" kata Ardan yang mendengar gerutuan Kyra.


"Terserah kakak deh, aku mau pulang ... Capek"


Beberapa saat kemudian Kyra pun tiba di apartemen, namun kelihatannya Lee MinHyung masih saja mengikutinya.


"Kak, aku capek banget nih ... Tolong buat dia jauh-jauh dari sini dong" bisik Kyra kepada Ardan.


"Hem, baiklah, serahkan saja kepada ku ... Kamu pergi saja sana" kata Ardan.


Kyra hanya mengangguk dan berjalan masuk ke apartemen. Sesampainya di dalam, Kyra langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa dan melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore.


"Kakak ... Kenapa kamu belum pulang juga sih?" Sambil mengambil ponsel dan menelepon Eric. "Tuh kan ponselnya juga masih belum aktif" sambil menghempaskan ponselnya ke sofa.


"Kenapa hari ini aku capek banget sih," gerutu Kyra sambil memijat tengkuknya. "Tau ah, mandi aja terus tidur" lanjutnya.


Sesampainya di dalam kamar, Kyra lalu melemparkan tasnya ke atas kasur dan berjalan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi Kyra keluar dengan memakai kimono saja.


Kyra berjalan ke arah kasur dan mengambil pengering rambut di lacinya. Setelah rambutnya kering dia pun membaringkan tubuhnya ke kasur dengan kaki yang masih menjuntai ke lantai.


"Kak, aku sangat kesepian di sini ... Cepatlah pulang, aku sangat merindukanmu" gerutu Kyra lalu mengambil boneka di sampingnya dan memeluknya hingga dia terlelap.


Jam dinding mulai menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Kyra kini merasa lapar sebab belum makan malam. Hendak saja ia membuka mata, terasa nafas seseorang berada tepat di sebelahnya. Kyra merasakan aroma tubuh dan parfum yang familiar baginya.


Perlahan Kyra membuka matanya dan kini melihat tangan seseorang yang tak asing bagi Kyra tengah melingkar di perutnya. Dengan cepat Kyra menoleh ke samping dan terlihatlah Eric sedang tidur di sana.


Sesaat Kyra memandangi wajah Eric yang begitu tampan dan terlihat sedikit pucat.


Eric yang sadar Kyra sudah terbangun, dia pun malah semakin merapatkan pelukannya.


"Kenapa?" kata Eric yang masih memejamkan matanya. "Kenapa bangun di tengah malam?" lanjutnya.


"Emm, kakak kapan pulangnya?" tanya Kyra.


Eric pun membuka matanya. "Kenapa, aku nggak boleh pulang ya? jadi kamu bisa leluasa pergi bersama artis abal-abal itu?" dengus Eric sambil memicingkan matanya.


"Apa sih kak? baru pulang sudah ngomel-ngomel" kata Kyra dan hendak melepaskan tangan Eric.


"Mau kemana? kamu nggak di izinkan pergi malam ini. Temani aku tidur, oke?" kata Eric sambil semakin mempererat pelukannya.


Kyra hanya diam saja dan bahkan membalas pelukan Eric lalu menyeruak kan kepalanya ke dada bidang Eric yang kini terbalut kemeja putih dengan dua kancing atas terbuka.


"Kenapa?" tanya Eric.


"Hem ... Aku hanya suka sekali dengan aroma tubuh kakak" gumam Kyra.


Eric pun tersenyum mendengarnya. "Oh, mau aku buka semua bajunya biar kamu puas menghirup semua aroma tubuhku?" bisik Eric menggoda Kyra.


"Apa sih kak," kata Kyra sambil mencubit perut Eric yang tanpa sengaja mengenai luka yang ada di sana.


"Akh" teriak Eric sambil menahan sakit di perutnya.


"Eh kakak kenapa?" kata Kyra khawatir sambil menatap wajah Eric.


"E—enggak kenapa-kenapa kok" Lalu mengecup kening Kyra agar tak membuatnya khawatir.


"Kakak ... Terlihat pucat, kakak lagi sakit ya?"


"Dimana yang pucat?" kata Eric lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kyra.


Beberapa saat kemudian Eric pun mengecup bibir Kyra dengan perlahan.


"Tuh kan, bibir kakak aja terasa panas gitu" kata Kyra lalu menempelkan punggung tangannya di dahi Eric. "Hem, kakak sedikit demam"


Eric lalu menarik tangan Kyra yang ada di dahinya dan menaruhnya di pinggangnya. Setelah itu perlahan Eric mulai mengecup bibir Kyra lagi, sekilas dia melirik Kyra yang tengah terpejam, tidak ada perlawanan darinya. Eric semakin memperdalam ciumannya, dan kini dia menarik tengkuk Kyra agar mendapat celah dari bibirnya. Sedangkan tangan Eric kini mulai menarik tali kimono yang di pakai Kyra dan mulai mengusap lembut perut rata Kyra.


"Mmhhh ... Kak" ucap Kyra yang melepaskan ciumannya. "Aku ... A—aku ..." Sebelum Kyra menyelesaikan kalimatnya Eric langsung menyerbu leher Kyra dan mengecup lembut di sana.


"Tenang saja Kyra, aku tau batasan ku" ucap Eric sambil terus bermain-main di leher Kyra dan mulai menelusuri tubuh Kyra yang tidak memakai pakaian dalam sama sekali.


Kyra hanya diam saja dan sesekali menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan suara. Sedangkan Eric terus saja memainkan bibirnya di leher Kyra dan meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di pangkal leher Kyra dan tangannya mulai meraih bu*ah da*da Kyra dan memainkannya.


"Ssstt ... kakak" ucap Kyra sambil menggeliatkan tubuhnya ketika Eric menyentuh bu*ah da*danya. "Kakak ... aku lapar ..." ucap Kyra dengan lirih takut Eric tersinggung dengan kata-katanya.


Eric pun seketika menghentikan kegiatannya dan menatap Kyra yang kini wajahnya tengah memerah.


"Hem, pergilah makan. Aku akan menunggumu di sini" kata Eric lalu mengecup kening Kyra.


"Kakak tidak ikut makan?"


"Hem, aku sedang lelah. Pergilah sendiri" kata Eric lalu merebahkan tubuhnya di samping Kyra.


Kyra pun duduk dan membenahi piyamanya lalu berjalan ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan tengah malam seperti ini.


Diapun mengambil satu bungkus mie dan memasaknya. Setelah makan Kyra pun kembali ke kamar dan mendapati Eric yang sudah terlelap di sana.


Kyra berjalan masuk ke dalam kamar dan naik ke atas ranjang, dia kini tengah memandangi wajah kakaknya itu dan mengecup pipinya.


"Selamat malam kak" bisik Kyra lalu berbaring di samping Eric dan memeluknya.