
"Kamu ..." kata Eric dengan suara bergetar.
Dengan posisi yang masih bersimpuh, Eric pun meraih kerah pekerja tadi yang kini ada di sebelahnya.
"Kamu ..." ucap Eric lagi sambil memandang wajah pekerja tadi dengan tatapan tajam.
Semua orang yang ada di sana pun di buat bingung karenanya.
"Eric, kamu kenapa?" tanya Jacob yang kini melihat Eric seperti ingin membunuh orang yang ada di hadapannya.
Dengan nafas yang masih terengah-engah dan badan yang masih gemetaran Eric pun berteriak di depan wajah pekerja tersebut. "KAMU PEMBUNUHNYA!!!"
Sontak mereka semua yang menyaksikannya terkejut dan heran dengan kelakuan Eric.
"A—apa maksud anda pak?" kata pekerja tersebut dan menunjukkan tatapan ketakutan namun sebenarnya tidak sama sekali.
"Eric, ap—" ucap Jacob terpotong.
"KAMU YANG MEMBUNUH MAMA, KAMU JUGA YANG MEMBUNUH KAK FELIX, DAN KAMU JUGA YANG TELAH MENEMBAKKU!!!" teriak Eric semakin menjadi-jadi dengan mata merah yang menyimpan amarah.
Deg
.
.
.
"Oh ... jadi kamu masih hidup tikus kecil" batin pekerja itu dan sebut saja namanya Brian.
"Apa maksud anda pak?" kata Brian dengan nada ketakutan namun matanya menunjukkan ketenangan.
"Ric, apa maksudmu" ucap Jacob dan hendak menarik Eric.
"Aku akan membawamu ke kantor polisi sekarang" kata Eric dan menarik Brian agar berdiri.
Namun belum sempat mereka berdiri, Brian dengan cepat menarik tubuh Eric dan menancapkan pisau ke perut Eric.
"Akh!!" Tubuh Eric pun tersentak karenanya.
Jacob yang merasa terkejut, dengan cepat hendak memukul tengkuk Brian, namun Brian berhasil menghindar dan menarik pisau tadi dari tubuh Eric. Alhasil darah Eric malah keluar dengan deras dan membuatnya terduduk kembali ke tanah.
"Ric ..." ucap Farel dan memegangi pundak Eric.
Jacob langsung saja melayangkan pukulan ke Brian, namun berhasil di tangkis dengan mudah. Malahan dengan cepat Brian menendang kaki Jacob dan membuatnya berlutut. Melihat kesempatan itu, Brian pun segera melarikan diri.
"CEPAT TANGKAP DIA!!" teriak Jacob kepada beberapa pengawal mereka.
"Jack ..." kata Eric yang masih bersimpuh, dia pun meraih lengan Jacob yang ada di sampingnya dan meremasnya dengan kuat. "Aku mau kamu menangkapnya hidup-hidup" lanjut Eric dengan mata merah seolah menahan sakit dan amarah yang begitu besar.
"Tenang saja Ric, aku pasti bisa mendapatkannya" kata Jacob sambil memegangi pundak Eric dan membantunya berdiri. "Farel cepat bawa mobilku ke sini!"
Tanpa sepatah kata, Farel pun segera melakukan perintah Jacob .
"Bertahanlah" kata Jacob sambil membopong Eric.
Tak berselang lama, farel pun datang dengan mobil Jacob dan segera berlari keluar lalu membukakan pintu mobil untuk mereka.
Jacob pun masuk ke dalam mobil bersama Eric dan duduk di kursi belakang, sedangkan Farel duduk di depan untuk menyetir.
"Kita mau kemana?" tanya Farel sambil mengenakan sabuk pengaman.
"Ke rumah sakit lah go*blok ... Masa iya mau ke kebun binatang" kata Jacob sambil menekan luka di perut Eric agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi.
"Yah maaf, aku kan gugup"
"Cepat! sekali lagi kamu berbicara, aku gorok leher mu!" tegas Jacob.
Farel pun dengan cepat melajukan mobilnya. Sedangkan kini Eric terlihat pucat dan meringis menahan sakit di perutnya.
"Bertahanlah, tetaplah terjaga Eric" ucap Jacob dengan khawatir.
"Uhuk"
Byurrr
Eric pun muntah darah dan mengenai kemeja Jacob. Dengan cepat Jacob meraih tangan Eric dan memeriksa denyut nadinya dengan tangan kanannya dan yang satunya lagi tetap berada di perut Eric.
"Ck, Sial" kata Jacob setelah memeriksa denyut nadi Eric.
"Ada apa?" tanya Farel sambil melirik ke arah mereka berdua.
"Di pisaunya ada racun, cepat ke rumah merah sekarang!" teriak Jacob.
"Hey, kau gila ya? dimana-mana orang kena racun ya di bawa ke rumah sakit ngapain di bawa pulang?" protes Farel.
"Susan bisa menawar racunnya, jika kita ke rumah sakit, kita tidak akan sempat" jelas Jacob.
"Ah, sial" gerutu Farel dan menambah kecepatan mobilnya menuju ke rumah merah.
"Hey, Ric ... tetap buka matamu, kalau kamu menutup matamu aku akan membunuhmu" kata Jacob berusaha membuat Eric tetap tersadar.
"Berani kamu menutup mata, akan aku nikahi Kyra sekarang juga" lanjut Jacob.
"Dasar orang gila" gerutu Farel yang mendengar kata-kata Jacob.
"Diem! fokus aja ke jalan"
"Ceh"
Beberapa saat kemudian mereka tiba di rumah merah dan langsung di sambut Susan yang membawa kursi roda.
Farel pun menghentikan mobilnya dan langsung berlari keluar untuk membantu Jacob membopong Eric.
Susan segera mendorong kursi roda dan menghampiri mereka.
"Bagaimana persiapannya Susan" tanya Jacob sambil mendudukkan Eric di kursi roda.
"Semuanya sudah siap, aku hanya butuh satu orang untuk membantuku di dalam" jelas Susan sambil mendorong kursi roda ke dalam rumah.
"Hey, hey ... Apa tidak apa-apa? perlu aku panggilkan dokter nggak?" tanya Farel sambil berlari kecil menghampiri mereka.
"Tidak usah"
"Tapi, dia terlihat sangat parah"
"Susan juga seorang dokter, hanya saja dia tidak bekerja di rumah sakit. Dia juga bisa menawar racun, sampai saat ini belum pernah ada racun yang tidak bisa dia atasi" jelas Jacob.
"Tapi, apa kalian punya perlengkapannya?"
"Tentu saja, Eric sudah menyiapkan keperluan kita bersama rumah ini" kata Jacob sambil membuka pintu sebuah kamar.
Farel pun tertegun dengan isi ruangan tersebut, benar-benar seperti kamar operasi di rumah sakit.
"Aku hanya butuh Jack untuk membantuku di dalam" ucap Susan sambil terus mendorong kursi roda ke dalam kamar.
"Lah aku ngapain?" tanya Farel.
"Kamu di sini saja, membantu di dalam pun percuma. Palingan juga kamu akan nangis nanti kalau liat darah" kata Jacob Lalau menutup pintunya.
"Hey, sialan" gerutu Farel.
......................
Di ruang inap Farhan.
"Hahaha ... yang benar saja, kak Farhan benar-benar memberikan dia hadiah pembalut?" kata Kyra yang kini sedang duduk di ranjang Farhan.
"Yah ... itu memalukan sekali, seharusnya aku tidak bertanya kepada kakakmu. Karena kejadian itu, aku jadi di putus dengannya" ucap Farhan yang masih duduk di kursi roda.
"Bwahaha ... Salah sendiri kenapa tanya ke orang yang belum pernah pacaran, hahaha"
"Aish, Eric memang sialan" kata Farhan sambil menundukkan kepalanya.
"Hehehe, kak Farhan emang lucu deh"
"Nyaman banget di dekat Kyra dan ngobrol kayak gini" batin Farhan sambil tersenyum melihat Kyra yang tengah cekikikan.
Tring tring
Bunyi ponsel Farhan yang mendapat pesan. Farhan pun merogoh sakunya dan mengeluarkan poselnya lalu melihat pesan masuk.
Jacob : "Eric sedang mengalami kecelakaan, aku dan Susan sedang merawatnya. Tolong tahan Kyra di sana, jangan biarkan dia tau tentang keadaan kakaknya. Takutnya dia akan bertindak gegabah jika tau yang sebenarnya, itu akan membuat peluang bagi musuh untuk melukai Kyra lagi"
Farhan : "Ya, aku akan menjaganya di sini. Kabari aku tentang perkembangannya nanti"
Farhan pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Ada apa kak?" tanya Kyra yang merasa aneh sebab ekspresi Farhan berubah serius setelah melihat ponselnya.
"Tidak ada" ucap Farhan sambil memandang Kyra dan tersenyum. "Siapa yang mencelakai Eric? atau jangan-jangan pak Freddy lagi? wah ngajak perang beneran nih orang ..."
"Kak, udah sore nih aku pulang dulu ya" kata Kyra hendak turun dari ranjang dan di cegah oleh Farhan. "Ada apa?"
"Eric tidak pulang malam ini, kamu nginep di sini aja ya temenin aku" pinta Farhan sambil menggenggam kedua tangan Kyra yang kini masih duduk di tepi ranjang.
"Yah, meskipun kakak nggak pulang aku berani kok di rumah sendirian"
"Ayolah, aku kesepian nih ... Nggak ada hiburan, nggak ada temen, jadi bosen di sini" lanjut Farhan dengan wajah memelas.
"Nggak"
"Please ... nanti kamu tidur di ranjang aja deh, aku yang tidur di sofa" kata Farhan dengan mata berbinar.
"Hem, ya udah deh ... Tapi cuma semalam aja ya, besok pagi aku ada kelas" jelas Kyra.
"Yeay ... makasih" seru Farhan lalu memeluk kaki Kyra yang menggantung di ranjang dan menaruh kepalanya di atas paha Kyra.
"Apa sih kak, kayak anak kecil deh" kata Kyra sambil mengacak-acak rambut Farhan.
"Aku tidak bisa membiarkan mu sendirian Kyra, pelaku yang berusaha menabrak mu dan yang mencelakai Eric belum tertangkap. Jika kamu sendirian maka akan mudah bagi mereka untuk menyakitimu lagi"