
Setelah bertemu dengan Zian, Kyra pun pulang ke apartemen. Kyra masuk begitu saja tanpa sadar bahwa Eric juga sedang tidak ada di rumah.
Kyra pergi ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan piyama.
Drrrt drrrt drrrt
Ponsel Kyra pun berbunyi, dan terlihatlah pesan dari Zian.
"Kyra, bolehkah aku menjemputmu besok?" Isi pesan Zian namun Kyra tak membalasnya. "Ah, nggak mau ya? Kalau begitu, besok kita makan siang bareng yuk?"
"Ck, lama-lama banyak maunya nih orang" gerutu Kyra.
"Kyra, kalau kamu menolak, aku akan sedih ..." lanjut pesan Zian.
"Iya kak, ini sudah malam ... Aku sudah ingin istirahat" balas Kyra.
"Baiklah, istirahatlah Kyra. Sampai jumpa besok"
Tak berselang lama, bel apartemen mereka pun berbunyi.
Ting tong Ting tong
"Eh? Siapa yang bertamu malam-malam begini?" ucap Kyra. "Ah biarlah, nanti juga kakak yang akan membukakan pintunya" gumam Kyra dan hendak naik ke atas ranjang, namun bel apartemen malah berbunyi sekali lagi.
Ting tong Ting tong
"Duh, kakak kemana sih?" gerutu Kyra lalu pergi untuk membukakan pintu.
Ting tong Ting tong
"Iya iya sebentar" teriak Kyra lalu membukakan pintunya.
Setelah pintu terbuka, betapa terkejutnya Kyra melihat seseorang yang ada di sana.
"Kakak ..." gumam Kyra yang melihat Eric tengah di bopong oleh Serlyn. "Apa yang terjadi dengan kakak?" lanjutnya dan berusaha membantu Serlyn membopong Eric.
"Jadi sedari tadi kakak nggak di rumah? Dia dari mana? Kenapa dia bisa dengan kak Serlyn? Dia juga bau alkohol" batin Kyra.
Eric yang sudah mabuk berat kini mulai mengerjapkan matanya dan melihat ke arah Kyra.
"Kamu ... Kyra?" gumam Eric sambil menyipitkan matanya.
"Iya kakak, ini aku Kyra ... Ayo kita masuk" kata Kyra lalu mempopong Eric.
Namun Eric tak bergeming dari tempatnya, dia pun menarik tangan Kyra dari tubuhnya.
"PERGI DARIKU!!" teriak Eric lalu mendorong tubuh Kyra hingga jatuh tersungkur. "Kamu hanya bisa menyakitiku ... jangan ... dekat-dekat dengan ku" Kata Eric lalu berjalan gontai menuju kamarnya.
"Tuan, biar saya bantu" kata Serlyn lalu memeluk tubuh Eric dari samping.
Eric tidak menolak Serlyn, malah dia melingkarkan tangannya di bahu Serlyn. Mereka berdua pun berjalan menuju ke kamar Eric dan meninggalkan Kyra yang masih terduduk di lantai.
"Kakak ..." gumam Kyra lalu mengusap air matanya dengan kasar.
Kya pun berdiri dari tempatnya lalu berjalan menuju dapur untuk mengambilkan air minum untuk Eric. Dengan membawa segelas air, Kyra pun pergi ke kamar Eric.
Setelah sampai di depan pintu kamar Eric, Kyra pun menghentikan langkahnya. Tangannya menggenggam erat gelas berisi air tersebut agar tidak terjatuh ke lantai.
Rasa sakit, cemburu dan marah kini menjadi satu di dalam hati Kyra ketika melihat Eric dan Serlyn yang tengah berciuman di atas ranjang. Eric bahkan memeluk erat tubuh Serlyn dan itu malah membuat Kyra semakin merasa sakit hati.
Ingin rasanya Kyra menghampiri mereka, namun hatinya terasa tidak sanggup terus melihat mereka, Kyra pun berlari menuju kamarnya. Dia berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
"Kakak, kenapa?" gumam Kyra dengan berlinangan air mata dan duduk di bawah tempat tidurnya.
"Kenapa aku merasa sakit? aku tidak rela, aku sangat marah ketika kakak menyentuh wanita lain ... Kakak ... Aku benci perasaan seperti ini ... hiks hiks ... ini begitu menyakitkan..." Kyra pun membenamkan wajahnya di antara kedua kakinya. "Rasanya sangat menyakitkan melihatmu bersamanya ,.. hiks hiks"
Drrrt drrrt drrrt
Ponsel Kyra pun berbunyi, namun Kyra tak mengidahkannya.
Drrrt drrrt drrrt
Kyra pun mengangkat kepalanya dan berdiri untuk mencari ponselnya. Kyra mulai melihat layar ponselnya dan nampak Farhan tengah meneleponnya.
"Halo Kyra?" kata Farhan.
"Hiks ..." Bukannya menjawab Kyra malah kembali menangis tersedu-sedu.
"Kyra, kamu kenapa?" ucap Farhan terdengar khawatir. "Kyra ... Kyra ... Jawab Kyra ... Apa ada seseorang yang mau menyelakai mu, Kyra ... kamu di mana ... halo, halo ... Kyra?"
Kyra pun menarik nafasnya dalam-dalam dan mulai menenangkan dirinya sendiri.
"Kak Farhan ... Ada apa?" ucap Kyra.
"Kyra, apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu menangis?"
"Aku? Aku tidak menangis ..." kata Kyra berbohong.
"Jangan berbohong Kyra, aku jelas-jelas tadi mendengar mu menangis"
"Kamu memang pandai berbohong Kyra. Sekarang kamu di mana?"
"Aku di apartemen kak, kenapa?" ucap Kyra.
"Apa, kakak mu berada di rumah?"
Kyra pun diam sejenak ketika mendengar kalimat Farhan.
"Kyra..."
"Iya kak, dia baru saja pulang"
"Apa dia pulang sendirian?" tanya Farhan lagi.
"Tidak ... Dia ... pulang bersama ... kak Serlyn" jelas Kyra dengan suara lirih.
"Serlyn? Dia siapa?"
"Adik kak Susan?"
"Adik Susan? Susan tidak punya adik tuh" kata Farhan.
Deg
.
.
"Kak Susan tidak punya adik? Lalu kenapa kakak ... Apa dia membohongiku .."
"Kyra, halo?"
"Ah iya kak"
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Farhan.
"Iya kak, dia baik-baik saja kok"
"Baguslah, aku bisa tenang sekarang. Udah malam nih, kamu tidur sana gih" ucap Farhan.
"Hem, kak Farhan ... Sebenarnya apa yang terjadi dengan kakak malam ini?"
"Ah, tidak ada ... Kami tadi sedang membicarakan pekerjaan, dan kakakmu tiba-tiba menghilang jadi aku sedikit khawatir" kata Farhan berbohong.
"Jadi begitu ya ... Kenapa dia bisa bersama kak Serlyn?"
"Mana aku tau Kyra, aku bahkan tidak kenal yang namanya Serlyn"
"Oh ... Baiklah" gumam Kyra.
"Aku tutup teleponnya ya , dah ..."
Tut Tut Tut Tut Tut
"Kakak, kenapa kamu membohongiku" Gerutu Kyra.
Tok tok tok
"Kyra ..." teriak Serlyn dari balik pintu kamar Kyra.
Entah mengapa mendengar suara Serlyn, Kyra pun mulai menjadi geram.
Kyra mengusap air matanya dengan kasar dan berjalan membukakan pintu untuk Serlyn.
"Ada apa?" ucap Kyra dengan dingin.
"Aku mau pulang" jawab Serlyn tak kalah dingin.
Serlyn pun memandang Kyra dengan tatapan tak suka dan meremehkan, begitupun sebaliknya. Kyra juga memandang Serlyn dengan tak suka.
"Ya pulang saja sana" ucap Kyra ketus.
"Baiklah, jaga Eric dengan baik, dia lagi sakit. Sebagai adiknya kamu bertanggung jawab untuk mengurusnya, apalagi kalian hanya tinggal berdua" kata Serlyn.
"Aku tau itu, jadi kamu tidak perlu menggurui ku"
Serlyn pun tertawa sinis melihat Kyra. "Oh ya, aku rasa ... Kamu tidak becus menjaganya"
"Itu semua, bukan urusan mu" kata Kyra sambil menyilangkan kedua tangannya.
Serlyn pun di buat kesal karena Kyra, sebelum hari ini, Serlyn selalu ramah terhadap Kyra. Namun hari ini entah apa yang sudah terjadi kepada Serlyn, ia merasa kesal sekali kepada gadis yang ada di hadapannya itu.
"Baguslah, aku akan pergi kalau begitu" ucap Serlyn lalu berjalan meninggalkan Kyra.
"Lebih baik kamu tidak perlu datang ke sini lagi" gerutu Kyra.