
Eric pun segera menggendong Kyra menuju ke basement, disana Farhan sudah menunggunya di salam mobil.
Tanpa banyak basa-basi, Eric langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang sambil memeluk Kyra.
"Ada apa dengannya?" tanya Farhan khawatir.
"Demam, cepat pergi ke rumah sakit" kata Eric.
Tanpa banyak bertanya lagi, Farhan pun melajukan mobilnya.
"Bertahanlah sebentar lagi Kyra" kata Eric sambil memeluk erat adiknya tersebut.
Melihat wajah pucat Kyra, Eric yang tadinya kesal kini malah merasa khawatir dan sedih dengan keadaannya.
"Tenang Ric, dia akan baik-baik saja" kata Farhan menenangkan.
"Ini semua salahku, harusnya aku tidak membiarkan dia di rumah sendirian"
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit. Kyra pun segera di masukkan ke dalam ruangan dan di periksa oleh dokter.
Di depan ruangan tersebut, terlihat Eric tengah mondar-mandir dengan wajah yang terlihat cemas.
"Ric, tenanglah. Aku yakin dia akan baik-baik saja" kata Farhan.
"Aku benar-benar tidak tenang Farhan" Eric pun duduk di bangku.
"Dia pasti baik-baik saja. Kamu tunggu disini, aku akan membelikanmu minum"
Farhan pun meninggalkan Eric sendirian di sana.
Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruangan inap Kyra.
Eric segera beranjak menemui dokter tersebut.
"Apa anda suami nyonya Kyra?" kata dokter tersebut kepada Eric.
"I-iya dok" jawab Eric tak ingin membuang waktu.
"Selamat tuan. Istri anda sedang hamil. Usianya sudah hampir dua Minggu. Tapi saya sarankan, untuk menjaga dia agar tidak kelelahan. Karena ini adalah kehamilan pertamanya" jelas dokter tersebut.
Bak di sambar petir di siang bolong. Jantung Eric seakan berhenti berdetak. Bagaimana bisa, orang yang ia cintai dan ia jaga selama ini tiba-tiba hamil di luar nikah.
"H-hamil?"
"Iya tuan. Selamat sekali lagi untuk anda. Oh ya, istri anda sudah sadar, anda bisa menemuinya. Saya permisi"
Dokter tersebut pun pergi meninggalkan Eric yang diam mematung di depan pintu. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Serasa badan Eric tak memiliki tulang, ia merasa lemas ketika mengetahui Kyra kini tengah berbadan dua. Hatinya serasa remuk berkeping-keping. Ada rasa tak rela dan marah bercampur jadi satu di dalam hatinya. Siapa yang mendahuluinya? Siapa yang telah menyentuhnya? Siapa ayah dari anak tersebut?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Eric. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang inap Kyra.
"Kakak, apa dokter mengatakan sesuatu?" kata Kyra yang melihat Eric masuk ke dalam.
Tanpa menjawab, Eric malah menatap Kyra dengan tajam dan menghampirinya.
"Katakan siapa dia?" kata Eric dengan dingin.
"Apa?"
Kyra pun bingung dengan pertanyaan kakaknya.
"Siapa yang pertama kali menyentuhmu?"
"Apa maksudmu kak?" Kyra semakin bingung di buatnya.
"SIAPA AYAH DARI ANAK YANG ADA DI DALAM PERUTMU ITU?" teriak Eric yang sudah tidak bisa membendung amarahnya.
Kyra pun tercengang mendengar ucapan Eric.
"A-Apa maksudmu kak?" kata Kyra terbata. "A-anak?"
"Apa dia orangnya?" kata Eric sambil melemparkan beberapa lembar foto kepada Kyra.
Kyra pun mengambil satu persatu foto tersebut yang jatuh di atas selimutnya.
"Kak, aku bisa jelaskan tentang foto ini"
"Jelaskan apa? Jelaskan bagaimana dia membuatmu hamil? Katakan, apa dia orangnya?" kata Eric setengah berteriak.
"Kak, ini tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Kyra sambil menahan tangisnya.
"Lalu apa yang harusnya aku pikirkan? Adikku berada di sebuah kamar hotel dengan seorang pria dan sekarang dia hamil. Lalu apa yang seharusnya aku pikirkan?" kata Eric tak bisa menahan emosinya.
"SUDAH AKU BILANG AKU BISA JELASKAN. KENAPA KAKAK TIDAK MAU DENGAR" teriak Kyra tak dapat ditahan.
"Kamu-" kata Eric geram lalu hendak memukul Kyra.
Plak
Dengan cepat Farhan pun menahan tangan Eric.
"Kamu mau memukulnya? Apa kamu begitu pengecut sampai mau memukul perempuan?" kata Farhan.
Eric pun menghentakkan tangannya dengan kasar.
"Jangan ikut campur Farhan. Ini adalah urusanku dengan Kyra" kata Eric mengingatkan.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur, tapi aku tidak bisa membiarkanmu memukulnya" ucap Farhan.
"ARRGGH" teriak Eric sambil menjambak rambutnya sendiri dengan kesal.
Farhan pun mengalihkan pandangannya ke arah Kyra. Terlihat dia sedang menundukkan kepalanya menyembunyikan air matanya.
Eric pun beralih melihat ke arah Kyra dan menatapnya datar.
"Tunggu aku bereskan pria busuk itu. Baru aku akan mengurus mu" kata Eric dengan nada mengancam.
Dia pun melangkahkan kakinya keluar ruangan dan membanting pintu dengan kesal.
Farhan yang kasihan terhadap Kyra, kini menghampirinya dan duduk di sebelah Kyra.
"Kamu tidak apa?" ucap Farhan dengan lembut sambil mengusap kepala Kyra.
"Hiks hiks hiks" Kyra hanya bisa menangis tersedu-sedu.
Farhan pun menarik Kyra ke dalam pelukannya.
"Ssstt, tenanglah. Semuanya akan kembali seperti semula" kata Farhan menenangkan.
"Kenapa kakak tidak mau mendengarkan penjelasan ku" kata Kyra dari balik dada bidang Farhan.
"Tunggu sampai amarahnya mereda, lalu nanti jelaskan kepadanya"
"Hiks hiks ... kak Farhan ... apa yang harus aku lakukan hiks hiks"
Farhan pun melepaskan pelukannya.
"Sekarang aku tanya kepadamu. Tolong jawab dengan jujur" kata Farhan sambil menangkup kedua pipi Kyra. "Siapa ayah dari anak ini?"
Kyra hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya sambil menggenggam erat foto yang ada di tangannya. Ia tidak bermaksud untuk menyembunyikan kebenarannya, namun ia belum bisa mengatakan kepada siapapun bahwa anak yang ada di dalam perutnya adalah hasil buah dari perbuatannya bersama Eric, kakaknya sendiri.
"Baiklah baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi jika kamu tidak mau mengatakannya" kata Farhan. "Sekarang istirahatlah, aku akan menjagamu di sini"
Farhan pun membantu Kyra berbaring dan menyelimutinya.
"Hey, jangan menangis lagi" kata Farhan sambil mengusap air mata Kyra.
"Ini bukan pertama kalinya kakak marah kepadaku. Tapi entah kenapa, hatiku sakit ketika melihatnya seperti itu" ucap Kyra.
"Tidak apa, lupakan kejadian hari ini. Anggap saja kamu bermimpi" kata Farhan yang kini duduk di samping ranjang Kyra. "Kamu tidak perlu takut Kyra, jika Eric tidak bisa mempercayai mu. Masih ada aku, aku akan selalu menjagamu dan percaya kepadamu. Tenang saja" lanjut Farhan sambil tersenyum manis.
"Kenapa kakak selalu baik sama aku. Waktu itu, kak Farhan juga rela tertabrak mobil karena menyelamatkan ku"
Farhan pun hanya tersenyum sambil menatap Kyra.
"Tentu saja karena aku menyukai mu Kyra" batin Farhan.