What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 9



Di tengah perjalanan, Kyra hanya terdiam dan sesekali mengusap air mata yang lolos dari pelupuk matanya. Melihat keadaan Kyra yang seperti itu Eric memikirkan cara supaya bisa menghiburnya.


Ia pun melajukan mobilnya ke arah yang berlawanan dari rumahnya menuju ke villa kecil miliknya yang tak jauh dari kota.


"Kak kita mau kemana?" tanya Kyra yang sadar bahwa itu bukan jalan pulang.


Eric hanya diam saja tanpa menjawab pertanyaan Kyra.


Beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di sebuah villa yang tidak seberapa besar namun terlihat cukup nyaman. Di sekelilingnya terdapat tumbuh-tumbuhan hijau dan pohon-pohon rindang yang membuat udaranya sangat segar.


"Ayo turun!" kata Eric sembari turun dari mobil dan di ikuti Kyra.


"Untuk apa kita datang ke sini kak?"


"Sudahlah ayo" ucap Eric dengan menggandeng tangan Kyra.


Ia pun mengajak Kyra pergi ke atap villa lewat tangga yang berada di samping villa tersebut.


"Kakak sebenarnya kamu mau apa sih?" tanya Kyra setelah sampai di atas.


Tanpa menjawab Eric malah berteriak.


"KYRA! BERHENTILAH MENANGIS! KAMU JELEK SEKALI TAU!"


"Ssssttt, kakak. Kenapa kamu teriak-teriak? Nanti mengganggu orang-orang yang ada di sini" ucap Kyra sembari menutup mulut Eric dengan tangannya.


Eric pun melepaskan tangan Kyra darinya.


"Berteriak lah Kyra, di sini tidak ada siapapun. Teriak lah dan lepaskan semua keluhan mu!" ucap Eric sembari menatap Kyra.


"Tidak kak, ini terlalu kekanak-kanakan" jawab Kyra hendak pergi namun di tahan oleh Eric.


"Cobalah"


Kyra pun terdiam sejenak dan mulai mengambil nafas dalam-dalam.


"FAREL! KAMU BRENG**K SEKALI! AKU BENCI KAMU ... AKU BENCI CARAMU MENIPUKU...." Kyra melepaskan keluhannya tanpa berhenti sedikitpun.


Selagi Kyra berteriak-teriak, di sisi lain Eric sedang memandangi wajahnya sedari tadi tanpa mendengar apa yang baru saja Kyra katakan.


Entah mengapa saat itu Eric ingin sekali memeluk Kyra dengan begitu erat, pada saat itu juga Eric berharap kalau Kyra yang sekarang ada di hadapannya, bukanlah Kyra adik perempuannya yang sudah ia jaga dari kecil. Dengan begitu, Eric pasti akan mencintainya dengan sepenuh hati dan akan membahagiakannya seumur hidupnya.


"Sudah?" kata Eric yang masih memandang wajah Kyra yang sekarang terlihat sedikit tenang.


"Sudah, hahahaha ... aku seperti orang gila ya?" tawa Kyra lepas. "Kakak ... terimakasih" ucap Kyra sembari berhambur ke pelukan Eric.


Eric pun membalas pelukan Kyra dengan begitu erat, memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada Kyra.


"Kakak, terimakasih sudah menemaniku dan menghiburku hari ini" ucap Kyra dalam pelukan Eric.


Eric pun mengusap lembut rambut Kyra dan mengecup keningnya.


"Jangan bersedih lagi ya" ucap Eric lembut. "Aku akan terus bersama mu apapun yang terjadi dan akan selalu ada untuk mu" lanjut Eric.


Entah kenapa kata-kata Eric membuat Kyra merasa lebih tenang dan merasa nyaman. Kyra pun mendongakkan kepalanya dan menatap mata Eric.


"Kakak, jangan khawatir. Aku pasti bisa melupakannya"


Entah kenapa kata-kata Kyra itu terasa manis sekali di telinga Eric.


"Aku akan membantu mu melupakannya Kyra" ucap Eric dengan lembut sembari memandang wajah cantik Kyra.


"Andai saja kamu bukan adikku, aku pasti akan mencintaimu sepenuh hati. Memangnya kenapa dengan setangkai bunga mawar merah itu? Aku memang sengaja memberikannya kepada mu. Sekarang tak peduli seperti apa aku memandang mu, entah sebagai adikku ataupun sebagai seorang wanita. Yang jelas mulai hari ini, aku akan menjagamu, dan membahagiakan mu. Hingga suatu hari nanti tak akan pernah ada laki-laki yang akan bisa menyakiti mu"'


Tanpa sadar ia mendekatkan wajahnya ke wajah Kyra dan mengecup lembut bibirnya. Kyra yang sedari tadi masih memeluk tubuh Eric hanya memejamkan matanya menerima ciuman Eric.


"Mmmhhhh" desah pertama Kyra yang membuat Eric semakin semangat mel*mat habis bibirnya. Kecupan demi kecupan yang Eric berikan membuat Kyra semakin ingin merasakan lebih.


Beberapa saat kemudian, Eric melepaskan ciumannya dan menatap wajah Kyra yang kini pipinya berubah menjadi merah.


Perlahan Kyra membuka matanya dan melihat Eric yang sedang menatapnya dengan lembut, lalu mengusap air liur yang tertinggal di bibir bawah Kyra dengan ibu jarinya. Kyra yang merasa malu, seketika menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap mata Eric.


"Kenapa?" tanya Eric lirih sambil mendekatkan wajahnya.


Kyra hanya menggelengkan kepala dan masih menundukkan kepalanya. Eric tau kalau Kyra sedang merasa malu sekarang, ia pun menggunakan kesempatan ini untuk menggoda Kyra.


"Kenapa kamu tidak mau menatapku?"


"Mau kakak cium lagi ya?" ucap Eric menggoda adiknya.


"Kakak" seru Kyra sembari melepaskan pelukannya. "Aku malu sekali. Apa kamu gila Kyra? Bagaimana bisa kamu dan kakakmu berciuman seperti itu?" ucap Kyra lirih sembari beranjak meninggalkan Eric.


Eric tersenyum mendengar gerutu adiknya tersebut.


Sebelum Kyra sampai di anak tangga, dengan sigap Eric memeluknya dari belakang.


"Sudah nggak sedih lagi kan?" tanya Eric.


Kyra hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah sakit" ucap Eric sembari melepaskan pelukannya.


"Kenapa ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" tanya Kyra sambil membalikkan badannya menghadap Eric.


"Ayah, tadi di acara kelulusan kamu. Penyakit jantung nya kambuh lagi, dan ibu membawanya ke rumah sakit"


"Kenapa kakak tidak memberitahu ku dari tadi, dan malah membawaku ke sini?" kata Kyra sedikit kesal.


"Kakak tidak sempat memberitahumu, lagipula kakak cuma tidak mau kamu bertambah sedih, memangnya kakak salah ya?" ucap Eric sembari mendekati Kyra dan mengusap lembut pipinya.


Deg


"Kakak, apa yang salah dengan mu, kenapa kamu terus bersikap seperti ini terhadap ku ..." Kyra merasa akhir-akhir ini sikap kakaknya itu agak sedikit aneh dari biasanya.


"Kalau begitu cepatlah, aku ingin segera bertemu dengan ayah" kata Kyra sembari berlari menuju mobil yang di ikuti Eric di belakangnya.


...****************...


Hari pun menjelang senja, akhirnya mereka pun tiba di rumah sakit. Setelah melewati beberapa jam perjalanan. Eric pun memarkirkan mobilnya dan bersiap turun dari mobilnya, sejenak ia memandang wajah Kyra yang ternyata sedari tadi tengah tertidur.


"Ck, tertidur rupanya" kata Eric sembari menyibakkan rambut Kyra yang menutupi wajahnya.


Melihat wajah cantik Kyra yang tengah tertidur, Eric pun mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut bibir merah Kyra.


Entah kenapa, ketika berhadapan dengan Kyra ia seperti tak bisa mengendalikan dirinya.


"Kyra, bangunlah" ucap Eric sambil mengusap lembut pipi Kyra.


"Eemmm, sudah sampai ya" gumam Kyra sembari mengusap matanya.


"Ayo turun"


"Kakak, sedang memikirkan apa? Kenapa senyum-senyum sendiri?" kata Kyra yang melihat senyum aneh Eric.


"Tidak ada apa-apa"


"Ish, ya sudah ayo turun"


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah sakit untuk menjenguk pak Daniel.