
"Kyra ... kamu sudah siap belum?" seru Eric yang kini berada di depan pintu kamar Kyra.
"Sebentar!" teriak Kyra dari dalam kamarnya.
"Kalau begitu aku tunggu di bawah ya" lanjut Eric.
"Iya!"
Tak berselang lama, Kyra pun keluar dari kamarnya dengan membawa sebuah koper di tangannya.
Eric dan kedua orangtua mereka kini tengah menunggu Kyra di ruang tamu.
"Kamu sudah siap?" tanya Eric yang di balas anggukan kepala oleh Kyra.
"Kyra, jaga dirimu baik-baik ya ..." ucap Bu Sofia sambil memeluk putri semata wayangnya.
"Tentu saja Ibu, ada kakak juga yang menjagaku, jadi Ibu jangan khawatir" ucap Kyra sembari membalas pelukan ibunya.
"Jaga adikmu dengan baik Eric" kata Bu Sofia.
"Bu, jangan terlalu dramatis deh, mereka cuma sementara saja pergi dari rumah, kalau Kyra sudah selesai dengan pendidikannya, nanti juga akan pulang" seru Pak Daniel.
"Iya Bu, lagian aku dan Kyra pasti pulang kalau akhir pekan" imbuh Eric.
"Janji?" ucap Bu Sofia.
"Tentu saja" lanjut Eric.
"Kalau begitu kami pamit dulu ya Ayah, Ibu" ucap Kyra sembari meraih telapak tangan kedua orang tuanya dan menciumnya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan pergi menuju ke tempat tujuan.
"Aish, rumah ini jadi sepi sekali tanpa mereka" gumam Bu Sofia.
"Halah, kamu itu terlalu berlebihan" ujar Pak Daniel.
"Heih, memangnya Ayah tidak merasa begitu?"
"Ya kalau sepi, tinggal kita buat anak lagi aja gimana?" kata Pak Daniel dengan santainya sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hey! dasar mesum, sudah tua juga masih mikirin mau tambah anak!" gerutu Bu Sofia.
...----------------...
Di tengah perjalanan menuju ke apartemen baru Eric, Kyra hanya diam saja sepanjang jalan.
"Uhh ..." lenguh Kyra tiba-tiba sambil memegangi perutnya.
"Kenapa?" tanya Eric. "Perutmu sakit?" imbuhnya.
"He'em ..." jawab Kyra sembari menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.
"Perlu ke rumah sakit?" tanya Eric dengan Khawatir.
"Tidak, kita berhenti saja di supermarket" jawab Kyra.
Eric pun menghentikan mobilnya di depan supermarket seperti yang Kyra katakan.
"Kamu perlu obat ya? beri tahu aku, aku akan membelikannya, jadi kamu tunggu di sini saja" ucap Eric sembari melepaskan sabuk pengaman.
"Jangan ..." cegah Kyra. "Biar aku sendiri saja".
"Beneran nih?" tanya Eric.
"Iya" jawab Kyra singkat dan sambil keluar dari mobil dan berjalan gontai menuju ke supermarket.
"Sebenarnya perutku sakit sekali, tapi tidak mungkin juga kan aku bilang ke Kakak kalau aku butuh pembalut. Itu memalukan sekali" batin Kyra yang kini tengah berada di dalam supermarket.
Beberapa saat kemudian Kyra keluar dari supermarket dan masuk ke dalam mobil. Eric yang tengah melihat wajah Kyra yang pucat, dia menjadi sedikit khawatir.
"Aku antar ke dokter ya?" ucap Eric khawatir sambil menggenggam telapak tangan Kyra.
Kyra hanya menggelengkan kepalanya, hari pertama menstruasi sangat sakit baginya sehingga ia tidak mau membuang tenaganya untuk berbicara.
"Tapi kamu terlihat pucat se—"
"Kak, aku ingin istirahat" sanggah Kyra.
Tanpa banyak bertanya Eric pun melajukan mobilnya segera menuju ke apartemen mereka. Hari sudah semakin gelap, akhirnya mereka telah sampai di tempat tujuan.
Eric memarkirkan mobilnya dan berjalan keluar membukakan pintu untuk Kyra. Kyra berjalan keluar sambil masih memegangi perutnya.
"Ck, ternyata lagi datang bulan ya?" batin Eric yang melihat bercak darah di dress Kyra.
Eric yang melihat Kyra berjalan gontai yang hendak mengambil kopernya yang ada di bagasi dengan cepat menghentikan Kyra.
"Kenapa?" ucap Kyra lirih.
"Aku tidak mungkin membiarkan mu berjalan seperti itu" kata Eric sembari menggendong tubuh Kyra.
"Kak ... aku bisa jalan sendiri kok" ucap Kyra.
"Apartemen kita ada di lantai empat, dengan keadaan mu yang seperti ini, mungkin besok kita baru sampai di sana" kata Eric.
"Ck, baguslah, kakak kan memang punya tenaga yang besar untuk menggendong tubuh kecilku ini, perutku juga memang sangat sakit sekali" gerutu Kyra yang kini tengah membenamkan wajahnya di dada Eric.
"Siapa bilang tubuh mu ini kecil"
Sesampainya di dalam apartemen, Eric langsung menuju ke kamar dan membaringkan tubuh Kyra di atas kasur.
"Kakak ..." ucap Kyra sembari memegang tangan Eric. "Tolong ambilkan koperku, aku ingin mandi sekarang" lanjut Kyra.
Eric hanya mengangguk dan segera berjalan menuju ke mobilnya untuk mengambil barang-barang mereka. Sedangkan kini Kyra sedang mandi di dalam kamarnya.
Tak berselang lama, Kyra pun keluar dari kamar mandi.
Tok tok tok
"Kyra, kamu sudah selesai mandi?" tanya Eric di depan pintu kamar Kyra.
"Sudah!" teriak Kyra.
Eric lalu membuka pintu kamar Kyra dan berjalan masuk menghampiri Kyra sembari membawa secangkir teh hangat dan sebotol minyak kayu putih.
"Kamu sedang apa?" tanya Eric sambil meletakkan secangkir teh tadi di atas meja.
"merapikan pakaian" ucap Kyra yang kini tengah berada di depan lemari pakaiannya.
Eric pun menunggu Kyra dan duduk di tepi ranjang.
"Kakak bawa apa?" tanya Kyra yang sedang menghampiri Eric.
"Sini!" kata Eric sembari menarik tangan Kyra dan menyuruhnya duduk di sebelahnya. "ini minum" ucap Eric sembari menyodorkan secangkir teh ke hadapan Kyra.
"Kakak membuatnya sendiri?"
"Tentu saja"
"Terimakasih" ucap Kyra sembari tersenyum manis dan menyeruput tehnya.
"Bagaimana? sudah mendingan?" tanya Eric yang di balas anggukan kepala oleh Kyra. "Kakak tidak tau cara mengatasi sakitmu itu, tapi teh hangat mungkin bisa sedikit meredakan rasa sakitnya" kata Eric dengan tulus.
"Ini sudah cukup kok, terimakasih ya kak" seru Kyra.
"Hem, ini sudah malam, apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Eric.
"Tidak, aku hanya ingin beristirahat" kata Kyra yang masih saja merasa sakit di perutnya.
Melihat ekspresi wajah Kyra, Eric pun segera mengambil cangkir teh yang ada di tangan Kyra dan meletakkannya di atas meja. Dan langsung saja Eric meraih tubuh Kyra dan meletakkan kepala Kyra ke dalam pangkuannya.
"Kakak sedang apa?" ucap Kyra yang kini wajahnya tengah menghadap ke perut Eric.
"Tidak ada"
Eric pun langsung menyibakkan baju tidur Kyra dan memijat punggung Kyra dengan minyak kayu putih yang ia bawa tadi.
"Kakak tidak perlu repot-repot" ucap Kyra.
"Aku hanya tidak ingin melihatmu kesakitan" kata Eric sambil terus memijat lembut punggung Kyra.
"Aku sudah terbiasa seperti ini" lanjut Kyra lagi.
"Maka mulai sekarang, aku juga akan membiasakan diri untuk memijat mu seperti ini jika kamu sakit" kata Eric dengan lembut.
Kyra hanya tersenyum mendengarnya, lalu memeluk pinggang Eric dan membenamkan wajahnya di sana. Semerbak wangi aroma tubuh Eric dan parfum yang ia pakai, membuat Kyra tidak ingin jauh dari sana.
"Tunggu ... apa maksud kakak? dia ingin terbiasa memijatku seperti ini? dia berniat akan seperti ini terus dengan ku? ... Ah sudahlah, perutku sakit sekali, persetan dengan apa yang dipikirkannya" batin Kyra.
Kyra yang sedang nyaman dengan pijatan Eric di punggungnya dan wangi aroma tubuh Eric yang membuatnya perlahan memejamkan matanya lalu tertidur di pangkuan Eric.