What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 7



Sedangkan di tempat lain, di keluarga William.


Satu keluarga sedang berada di meja makan untuk sarapan pagi.


"Farel, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Kyra?"


tanya pak Freddy William kepada anaknya.


"Ya, seperti biasa pa" jawab Farel santai sembari melahap makanannya.


"Papa sudah kasih kamu waktu satu tahun Farel, sudah saatnya kamu serius dengan rencana kita. Kalau kamu terus bermain-main saja, bagaimana kita bisa merebut semuanya dari keluarga Daniel Karendra?" jelas Pak Freddy.


"Iya Pa, aku masih ingat rencana kita" jawab Farel malas.


"Dengarkan kata papa, Farel. Kamu jangan buang-buang waktu, kita sudah tidak bisa lagi menunggumu bermain-main dengannya" kata Jony William kakak laki-laki Farel.


"Kakak tidak usah ikut campur dengan urusanku"


"Ck,ck,ck, dasar anak kecil, memangnya kamu pikir urusanmu itu tidak ada hubungannya dengan kita hah?" seru Jony sembari memandang remeh Farel.


"Aku bisa mengurusnya sendiri, kamu tidak usah menggurui ku" kata Farel dengan nada sedikit kesal.


"Cih, rupanya bukan hanya soal urusan pekerjaan ya kamu payah, ternyata soal wanita juga kamu payah sekali" lanjut Jony dengan tersenyum miring.


Jony adalah satu-satunya saudara Farel, namun keduanya tidak pernah bisa akur selama ini. Jony yang selalu berambisi ingin menjadi penerus ayahnya, ia tidak rela jika kekayaan ayahnya di bagi kepada adiknya itu. Karena itu Jony selalu memandang adiknya sebagai halangan menuju tujuannya, hingga ia selalu mengambil celah untuk menjatuhkan Farel di hadapan papanya.


"Atau jangan-jangan kamu masih menyukai gadis miskin itu, sehingga kamu tidak mau serius dengan Kyra? selera mu rendah sekali ternyata"


kata Jony yang semakin membuat farel geram.


"Jaga ucapan mu itu" seru Farel sembari menatap Jony dengan tajam.


"Apa? aku benar kan?" lanjut Jony yang terus saja memojokkan Farel.


"CUKUP!!" teriak pak Freddy yang membuat mereka berdua terdiam. "Farel, papa sudah tidak bisa menunggu lagi. Hari ini, hari kelulusan Kyra. Ambil kesempatan ini untuk terus membuat dia tidak bisa menolak pernikahan kalian" jelas pak Freddy.


"Pa, aku tidak bisa menikahi dia" jawab Farel serius.


"Papa tidak peduli!"


"Demi harta dan kekuasaan, papa sama sekali tidak peduli denganku?" seru Farel sembari menatap tajam papanya itu.


"Kalau kamu terus membangkang, papa tidak akan mengasihani mu lagi" tegas pak Freddy.


"Cih, aku tidak perlu kamu kasihani" jawab Farel sembari beranjak dari tempat duduknya.


"Oh ... begitu ya" kata pak Freddy sembari menyandarkan tubuhnya di kursi.


Sedangkan Jony yang kini melihat pertikaian di antara mereka berdua, merasa sangat puas.


"Bagaimana dengan Luna?" kata pak Freddy dengan nada sedikit mengancam.


Farel yang sedari tadi tak ingin menghiraukan mereka berdua, mendengar nama yang di sebutkan papanya itu membuatnya menghentikan langkahnya dan terdiam di tempat.


"Jangan kamu pikir, papa tidak bisa menyentuhnya Farel" kata pak Freddy sembari menyunggingkan senyuman.


Pak Freddy dan Jony tau, dengan menyebutkan nama Luna, maka Farel tidak akan pernah bisa melawan dan akan menurut seperti anjing peliharaan.


"Jangan pernah kalian menyentuhnya, urusanku tidak ada hubungannya dengan dia" geram Farel sembari mengepalkan tangannya.


"Kalau kamu tidak mau membayar nyawa ibumu dengan nyawa Luna, maka lakukanlah apa yang aku perintahkan" bisik pak Freddy di telinganya.


Farel tau seperti apa papanya itu, dia adalah orang yang kejam dan tak punya perasaan. Dia tak bisa melawannya, yang bisa ia lakukan hanya diam dan melakukan apa yang ia perintahkan.


Beberapa tahun yang lalu, rumah keluarga William mengalami perampokan. Dan di dalam rumah itu hanya ada Farel dan ibunya, Farel yang masih berusia 19 tahun berusaha untuk melawan para perampok itu. Namun sayang sekali perampok itu berhasil melukai Farel dengan menusukkan belati ke perutnya.


Setelah berhasil membawa kabur barang yang di curi, para perampok itu berusaha menghapus jejak dengan membakar rumah tersebut. Ibu Farel yang melihat anaknya tersungkur di tengah kobaran api berusaha menyelamatkannya, Farel bisa di selamatkan namun ibu Farel meninggal ketika melindungi Farel dari benda-benda yang runtuh akibat kebakaran tersebut.


Pak Freddy yang begitu mencintai istrinya, masih tidak bisa menerima jika ia harus kehilangan istrinya. Sehingga sampai dengan saat ini pak Freddy masih saja menyalahkan Farel atas kematian istrinya tersebut.


Sejak kematian ibunya, semua orang seperti menghindari Farel termasuk kakaknya yang lebih menganggap Farel sebagai saingannya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Luna.


Pak Freddy adalah orang yang licik, dia bisa menghalalkan segala cara agar semua keinginannya bisa tercapai. Dia tau bahwa Luna adalah orang yang di lindungi oleh Farel, maka dia menggunakan Luna untuk mengancam Farel agar ia mau melakukan apa yang pak Freddy perintahkan.


"Jony" kata pak Freddy sembari berdiri memandang Farel yang pergi dengan muka masam.


"Iya pa?" jawab Jony sembari menghampiri papanya.


"Kita sudah terlalu lama menunggu, kita tidak bisa mengandalkan si kucing lemah itu" kata pak Freddy serius.


"Lalu, apa rencana papa?"


"Apa boleh buat, singkirkan semua sampah yang menghalangi jalan kita" jelas pak Freddy.


"Tapi pa, kita memang mengenal siapa Daniel Karendra. Tapi kita belum mengenali seperti apa anaknya ini" kata Jony mengingatkan.


"Cih, hanya seorang bocah bau kencur, mana bisa dia melawanku. Akulah pemegang saham terbesar, semua orang pasti akan lebih mematuhi ku daripada anak itu. Jika cara halus tidak bisa, maka kita harus menggunakan cara yang keras" kata pak Freddy.


"Baiklah pa, aku akan mengurusnya" kata Jony.


"Hemm, bagus, jangan mengecewakan aku" kata pak Freddy sembari berjalan meninggalkan Jony.


...----------------...


Di sisi lain, Eric sudah sampai di sekolah Kyra dan hendak memarkirkan mobilnya. Ketika ia turun dari mobil, ia melihat ibu dan ayahnya yang hendak masuk ke mobil mereka.


"Ayah, ibu, kenapa kalian di sini? Kenapa tidak temani Kyra di dalam?" tanya Eric sembari menghampiri mereka.


"Eric? Kenapa kamu di sini? Bukankah kamu mau ke kantor?" tanya Bu Sofia yang sedang membantu pak Daniel berjalan.


"Ayah kenapa?" tanya Eric khawatir melihat ayahnya yang sedikit pucat sembari membantu Bu Sofia membawa ayahnya masuk ke dalam mobil.


"Penyakit jantung ayahmu kambuh lagi ric, jadi ibu mau membawanya ke rumah sakit sekarang" jelas Bu Sofia.


"Ibu, aku akan mengantar kalian ke rumah sakit"


"Eh, tidak usah" kata Bu Sofia menghentikan Eric. "Kamu harus temani Kyra, kasihan dia" kata Bu Sofia sembari masuk ke dalam mobil.


"Tapi, ayah ..."


"Tidak apa-apa, ada ibu dan pak sopir yang menemani ayahmu. Kamu temani Kyra saja sana. Tidak ada keluarga yang menemani dia di acara kelulusan. Pasti dia sangat sedih" kata Bu Sofia.


"Baiklah, kalau ada apa-apa ibu kabari aku ya" kata Eric yang melihat ayahnya yang sudah lemas.


Bu Sofia hanya mengangguk dan segera pergi menuju ke rumah sakit.