
"Duduklah" kata Farhan sambil menunjuk sofa yang ada di ruangan kerjanya.
"Heemm, ruangan mu cukup luas juga tuan"
Farhan pun meletakkan kotak makan pemberian Mikha di atas meja. "Kamu mau kopi?"
"Boleh" ucap Mikha tanpa ragu.
"Buat saja sendiri" lanjut Farhan sambil menunjuk dispenser air di pojokan ruangannya.
"Ish, aku kira mau buatin aku kopi" gumam Mikha. "Baiklah, aku akan buat sendiri. Apa tuan juga mau kopi?"
"Heeemmm" Farhan pun membuka kotak makan dan Mikha berjalan ke arah dispenser.
"Hitung-hitung sedang belajar jadi istri yang baik Mikha. Buatin calon suami kopi adalah hal yang harus di lakukan" batin Mikha sambil tersenyum-senyum sendiri.
Segera Farhan pun memakan makanan yang ada di kotak makan. Setelah itu Mikha sudah selesai membuat kopi dan menaruhnya di depan Farhan.
Mikha pun kembali duduk di sofa, di depan Farhan. Terlihat sekilas, Farhan melirik Mikha yang sedang menengguk kopinya.
"Ehem .." gumam Farhan sambil mengusap mulutnya dengan tisu. "Aku tau kamu kesini bukan hanya mengantarkan makan siang saja"
"Hah? Benarkah? Tidak ada maksud lain, aku hanya mengantar Kyra ke sini sekaligus membawakan mu makan siang sebagai tanda terimakasih karena sudah mengantar ku pulang waktu itu"
"Tidak usah berpura pura. Aku tau kamu kesini bukan hanya mengantar Kyra"
"Heeemmm ... Memangnya kenapa kalau aku ada maksud lain?"
Farhan pun mencondongkan badannya ke depan. "Aku tidak tertarik kepadamu. Berhenti membuang-buang waktumu untuk mengejar-ngejar aku. Sampai kapanpun kamu tidak akan dapat apa yang kamu inginkan karena aku sudah menyukai wanita lain"
Deg
"Jadi selama ini dia tau kalau aku menyukainya?"
Mikha menyeringai dan ikut mencondongkan badannya ke depan. "Memangnya kenapa kalau aku mengejar mu? Lagipula kamu belum menikah. Dan dari pengamatan ku, wanita yang kamu sukai tidak menyukaimu kan? Aku masih banyak kesempatan"
"Gadis ini ... Apa dia tidak punya otak? Sudah tau di tolak bukanya menangis dan menyerah malah semakin tertantang"
Farhan kembali membenarkan posisi duduknya. "Mau seberapa keras kamu berusaha, aku tetap tidak akan tertarik dengan mu. Aku mengajak mu kesini hanya untuk mengatakan itu. Sekarang kamu boleh pergi"
"Ck ck ck. Bukan hanya dingin tapi kamu itu sangat kejam ya. Baiklah, tidak apa-apa. Aku punya segala cara untuk membuatmu jatuh cinta kepadaku. Lagipula, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan sesuatu di hidupku. Tuan Farhan, tunggu saja" Mikha berdiri dari tempatnya dan mengedipkan sebelah matanya kepada Farhan.
"Kau-"
"Oh ya, terimakasih tuan sudah membawaku ke ruanganmu. Lain kali aku akan mengunjungi ke sini" Mikha segera berjalan keluar dari ruangan Farhan.
"Di-dia ... Apa dia sudah gila? Haahh" Farhan menyandarkan punggungnya. "Bagaimana dia begitu percaya diri seperti itu?"
Sedangkan Mikha kembali menemui Kyra di ruangan Eric. Di perjalanan ia sambil berpikir tentang kata-kata Farhan tadi.
"Pria yang malang, dia mencintai seseorang yang tidak menyukainya. Huhh, aku penasaran seperti apa wanita yang dia sukai ini. Aku ingin tau seperti apa rupanya" gumamnya sambil melangkahkan kakinya. "Tapi tenang saja tuan, aku tidak akan menyerah karena hal ini" katanya sambil cekikikan.
"Ada apa denganmu Mikha?" kata Kyra sesaat setelah Mikha masuk ke ruangan Eric.
"Tidak ada, apa kamu sudah selesai Kyra? Jika sudah ayo kita pulang, aku ingin makan rujak buah nih"
"Ah, Mikha. Kamu membuatku ngiler. Ayo cepat pergi beli rujak buah, nanti kita makan di balkon kamarku. Bagaimana?"
"He'em, ayo cepat"
Eric hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua.
"Tuan Eric, aku bawa Kyra pergi ya?"
"Ya, tapi kalian harus hati-hati. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Kyra"
"Siap bos" kata Mikha sambil mengangkat tangannya. "Ayo Kyra" lanjutnya sambil menarik tangan Kyra. Kyra melambaikan tangannya ke arah Eric dan segera keluar dari sana.
"Mikha, kamu terlihat senang sekali. Apa dia yang terjadi di antara kalian berdua tadi?" kata Kyra yang sekarang hendak masuk ke dalam lift. Lift pun terbuka dan mereka segera masuk ke dalam.
"Tidak ada, dia hanya menyuruhku untuk tidak mengejarnya karena dia sudah punya seseorang yang dia sukai"
Deg
"Jangan bilang, orang yang kak Farhan maksud adalah aku. Bagaimana bisa kak Farhan masih menyimpan perasaan itu? Tidak bisa dibiarkan, aku akan menegaskan kembali kepada kak Farhan"
"Aku penasaran sekali, seperti apa wanita yang dia sukai" gumam Mikha lalu melirik ke arah Kyra. "Kenapa kamu melamun Kyra?
Ting
Pintu lift pun terbuka.
"Tidak ada, ayo"
Mereka berjalan keluar dan menuju ke lobi perusahaan.
"Lalu, apa kamu menyerah begitu saja?"
"Tentu saja tidak Kyra. Aku masih ingin mengejarnya sampai aku benar-benar merasa lelah"
"Baguslah Mikha"
"Hey kalian"
Mereka berdua pun segera menoleh ke arah sumber suara dan terlihatlah Yeni yang berdiri di belakang mereka sambil berkacak pinggang.
"Kamu ..." kata Kyra mengingat-ingat wajah Yeni.
"Ada apa Kyra? Kamu mengenalnya?"
"Oh aku ingat, dia yang waktu itu kasih aku botol air mineral. Dan setelah aku minum itu ..." katanya menggantung saat mengingat kejadian di mana dia tak sadarkan diri dan malah mencium Eric di kantornya. "Kamu sengaja menaruh obat di air minum itu kan?"
"Dasar kamu, apa mau mu? Aku bahkan tidak pernah menyakitimu ataupun mengganggumu. Tapi kamu melakukan itu kepadaku?"
Yeni pun menyeringai dan dan berjalan perlahan mengahampiri Kyra. "Karena kamu wanita jalng"
"Hey jaga ucapan mu" Mikha segera maju di depan Kyra.
"Apa yang di lakukan Yeni?" bisik salah satu karyawan yang melihat Yeni dan Kyra.
"Entahlah, sepertinya dia sedang mencari masalah"
"Kamu pasti temanya di jalng ini? sama-sama jalng"
"Kamu-"
"Sudahlah Mikha" Kyra menarik Mikha yang hendak menghampiri Yeni. "Katakan saja kalau aku ada salah, aku pasti akan minta maaf. Tapi kamu malah berniat jahat kepada ku dan menaruh obat di minumanku. Kamu kau aku laporkan ke polisi karena telah menggangguku?"
"Aku tidak takut, jalng seperti mu mana ada bukti untuk melaporkan ku ke polisi. Hah, sudahlah. Aku ke sini untuk mengingatkan mu. Jangan pernah dekati pak Eric karena dia adalah milikku"
"Hey kamu gila ya, dia adalah ca-" Sebelum Mikha menyelesaikan kalimatnya Kyra pun menghentikannya.
"Oh ya? Apa buktinya?" kata Mikha.
"Bukti apa? semua orang di sini tau kalau aku adalah calon istrinya"
"Pffftt ... Hahahaha" Mikha dan Kyra pun tertawa terbahak-bahak sehingga membuat semua karyawan di sana melihat mereka.
"Kamu mimpi ya?" imbuh Mikha.
"Hahahaha, dia sedang berimajinasi rupanya" kata Kyra tak henti-hentinya tertawa.
Yeni geram karena di tertawakan oleh mereka. "Dasar kalian wanita jalng" Yeni pun berusaha mendorong tubuh Kyra ke lantai.
Pak
Sebelum Yeni bisa menyentuh tubuh Kyra, ada tangan kekar yang mencegahnya mendorong Kyra.
"Pak Eric?" gumam Yeni.
Eric pun langsung menghentakkan tangan Yeni.
"Pak Eric, lihatlah mereka mengganggu saya. Mereka harus segera di usir dari sini"
"Apa? Dasar wanita gila" kata Mikha tak terima.
Eric lalu segera menelepon seseorang dan menyuruhnya ke sana.
"Mampus kalian para wanita jalng" gumam Yeni.
"Dia itu gila ya? Lihatlah, aku belum pernah bertemu orang segila dia. Kyra, jangan hanya diam saja. Jelaskan kepada kakakmu" kata Mikha.
"Tunggu dan lihat saja apa yang akan di lakukan kakak, Mikha. Dia pasti ada cara lain untuk mengatasi wanita ini"
Tak lama kemudian datanglah dua bodyguard Eric menghampiri mereka.
"Ada apa tuan?"
"Seret wanita ini dan patahkan satu tangannya" perintah Eric sambil menunjuk ke arah Yeni.
"A-apa? pak, kenapa?"
Para bodyguard itu pun segera memegangi kedua tangan Yeni.
"Pak, apa salah saya? Kenapa anda melakukan ini kepada saya? Mereka yang salah, para wanita jalng itu yang salah"
"Kesalahanmu adalah dulu kamu menaruh obat di minuman Kyra"
"Apa? Bagaimana anda tau?"
"Kedua kamu berani-beraninya mengaku sebagai calon istriku. Ketiga ... Tanganmu ini, mau menyakiti calon istriku dan juga calon anakku"
Deg
Seketika tubuh Yeni melemas. Ia tidak menyangka, bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah calon istri dari bosnya sendiri.
"Mati aku, kenapa aku begitu bodoh"
"Dulu aku membiarkan mu, sekarang aku tidak akan mentolerir kesalahanmu"
"Maafkan aku tuan. Jangan patahkan tanganku"
"Pergi dan segera lakukan perintahku"
"Baik tuan"
Para bodyguard itu pun segera membawa pergi Yeni yang meronta-ronta.
"TIDAK, JANGAN"
"Ck, kakakmu kejam sekali Kyra" bisik Mikha.
"Dia bahkan bisa lebih kejam dari ini"
"Kamu tidak keberatan akan hal itu?"
"Kenapa tidak"
"Kamu tidak apa-apa?" kata Eric.
"Tidak, kakak datang tepa waktu" ucap Kyra sambil menyunggingkan senyuman.