What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 107



Jio segera membuka laptop yang ada di hadapannya. Tak butuh waktu lama, Jio segera menemukan lokasi Farhan.


"Sudah ketemu?"


"Heemm ... Ada di bar Tears gak jauh dari sini" kata Jio.


"Baiklah Terimakasih" Mikha buru-buru keluar dari kamar Jio.


"HEY, KAMU MAU KEMANA?" teriak Jio saat melihat Mikha terburu-buru pergi.


"MENEMUI DIA" balas Mikha.


Jio segera berlari ke arah pintu. "INI SUDAH MALAM BODOH"


"DAAAHHH" teriak Mikha sambil melambaikan tangannya dan berjalan cepat menuruni tangga.


"Ck, dasar keras kepala. Aahh biarkan saja" gumam Jio lalu masuk ke dalam kamarnya.


Mikha segera mengendarai mobilnya dan menuju ke alamat yang sudah di berikan oleh Jio. Benar saja, bar yang di tuju Mikha tak jauh dari rumah Jio. Mikha menghentikan mobilnya dan segera turun. Langkah kakinya masuk ke dalam bar, matanya mencari-cari seseorang.


"Itu dia" gumamnya saat melihat seseorang duduk di depan meja bartender. Mikha segera berjalan mendekat. "Tuan"


Farhan pun menoleh ke arah Mikha. "Kamu? ... Kenapa kamu ada di sini?" ucap Farhan setengah mabuk.


"Aku datang untuk mencaraimu"


Farhan memalingkan wajahnya. "Pergilah"


"Tidak mau, aku mau menemanimu di sini" Mikha pun segera duduk di kursi sebelah Farhan.


"Sudah aku bilang pergilah, di sini bukan tempat yang baik untukmu" Farhan melanjutkan menenggak minumannya.


"Lalu? Apakah ini adalah tempat yang baik untukmu?"


Farhan hanya diam saja, ia datang ke tepat itu untuk menenangkan dirinya. Ia ingin melupakan Kyra barang sejenak. Tak berapa lama, ada dua orang berbadan tinggi besar menghampiri mereka.


"Gadis cantik, lebih baik kamu menemani kami minum. Pria ini tidak mau bersamamu. Pergi saja dengan kami. Aku jamin, kami akan menjagamu dengan baik. Bagaimana?" kata salah satu dari mereka.


Mikha tak mengindahkan mereka, dia hanya menatap Farhan yang terus menenggak minumannya.


"Benar gadis cantik, lihatlah dia bahkan tidak peduli dengan mu. Ayo minum dengan kami setelah itu kita mainkan satu permainan. Bagaimana?"


"Siapa juga yang mau ikut dengan kalian, pergi saja sana" kata Mikha tegas tanpa melihat ke arah mereka.


"Cih, sombong sekali"


"Kita paksa saja dia, lagipula dia juga adalah wanita penghibur di sini"


Mikha menoleh ke arah mereka. "Siapa yang wanita penghibur? Jaga mulut kalian ya"


"Jangan berpura-pura, ayo iku kami. Aku sudah menginginkan mu, maka kamu harus ikut kami. Lagipula kami juga akan bayar mahal"


Pria yang satu lagi mencoba menarik Mikha.


"Aakkhh, lepaskan tanganmu dasar brengsk" Mikha mencoba menarik tangannya.


"Jangan keras kepala, menurut lah"


Mereka mendorong Mikha agar ikut bersama mereka. Mikha menoleh ke arah Farhan, dan terlihat dia sama sekali tak bergeming.


"Apa dia buta? Dia bahkan membiarkan orang-orang ini mengganggu ku. Apa dia tidak berniat menolongku?"


"Lepaskan aku! Aku bukan wanita penghibur di sini"


"Ayolah manis, jangan melawan"


Sebuah botol pecah di atas kepala salah satu dari orang berbadan tinggi besar tersebut. Mikha menoleh ke belakang, dan ternyata Farhan yang memukulkan botol tersebut.


"Lepaskan dia" kata Farhan sambil menatap tajam.


"Dasar bocah tengik. Beraninya kamu memukulku"


"Biar aku beri dia pelajaran" Salah satu dari orang tersebut hendak memukul Farhan, namun beberapa saat kemudian para keamanan datang menghampiri mereka.


"Jangan buat keributan di sini, jika tidak bisa mematuhi peraturan di sini silahkan pergi"


Melihat kesempatan itu, Mikha segera menarik tangan Farhan.


"Baik pak, kami akan segera pergi dari sini" kata Mikha. "Ayo"


"Aahh, aku tidak mau. Aku masih mau minum" kata Farhan yang sudah mabuk.


"Ayo" Mikha menarik paksa Farhan.


"Hey, bocah tengik. Mau kabur kemana kamu" teriak orang yang terluka akibat di pukul Farhan.


Karena Mikha, ingin menghindari masalah. Ia segera membawa Farhan keluar dari sana. Di tempat parkir, Farhan melepaskan tangan Mikha dengan kasar.


"Susah aku bilang, pergi dari sini. Kenapa kamu tidak mendengarkan ku?"


"Aku hanya ingin menemanimu, aku hanya ingin menghiburmu. Lagipula, apa bagusnya tempat ini. Lebih baik kita cari tepat lain"


"Apa pedulimu? Kamu tidak tau apa yang aku rasakan"


Mikha memandang Farhan penuh kehangatan. "Aku tau, aku bahkan sangat tau bagaimana perasaan mu. Karena aku juga mengalaminya"


Farhan terdiam sejenak. Ia pun mulai merasa mual di perutnya.


"Ukkk ... Ueeeeekkk" Farhan muntah dan mengotori bajunya.


"Lah? tuan. Kamu baik-baik saja?" Mikha menepuk-nepuk punggung Farhan. "Ayo, masuk ke mobilku"


Farhan yang lemas, terpaksa mengikuti Mikha. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil.


"Tuan, berikan alamatmu. Aku akan mengantarmu"


Farhan sudah lemas dan ia pun menunjukkan ponselnya. Mikha tidak mengerti maksudnya, dia pun segera membuka ponsel Farhan dan tertera di GPS alamat rumahnya. Segera, Mikha langsung mengemudikan mobilnya. Mikha menghentikan mobilnya, namun Farhan sudah tertidur pulas.


"Tuan, dimana apartemen mu?" kata Mikha namun Farhan tak menyahut. "Tuan"


"Hemmm"


"Aku tidak tau dimana letak apartemen mu"


"301" gumam Farhan lalu tertidur kembali.


"Ck, baiklah" Mikha segera turun dari mobilnya. Ia berusaha memapah Farhan masuk ke dalam apartemen. "Pak, apartemen nomor 301 di lantai berapa ya?" kata Mikha dengan seorang satpam penjaga.


"Lantai dua non"


"Baik terimakasih" Mikha kembali melangkahkan kakinya sambil memapah Farhan yang sudah mabuk dan lemas tersebut. "Ck, kamu berat sekali sih"


Dengan susah payah, Mikha membopong Farhan. Ia pun sampai di lantai dua dan segera mencari apartemen Farhan. Setelah itu, ia mencoba merogoh saku Farhan untuk menemukan kuncinya. Setelah pintu terbuka, Mikha sudah tak tahan menaruh Farhan di sofa ruang tamu.


"Woooaahh, pinggang ku" gumam Mikha sambil memijat punggungnya. Farhan yang sudah kehilangan kesadarannya ia pun berbaring di sofa dengan keadaan baju yang kotor. Mikha pun membantu Farhan melepaskan jas dan sepatunya yang kotor karena terkena muntahan nya tadi. Sesaat kemudian tanpa sadar Mikha mulai memandangi wajah Farhan yang tertidur di sofa.


"Sangat tampan" gumam Mikha sambil menaruh dagunya di pinggiran sofa sehingga wajah mereka sangat dekat. "Wah tidak kusangka bulu matamu panjang juga ya" kata Mikha saat pandangannya menelusuri wajah Farhan. "Huuuhh. Hanya memandangmu saja aku bisa mabuk seperti ini" Mikha pun mengalihkan pandangannya ke arah bibir Farhan. "Kamu juga mempunyai bibir yang sangat seksi. Andai saja kamu jatuh cinta terlebih dulu kepadaku, maka kamu pasti tidak akan berakhir seperti ini sekarang. Sayang sekali" kata Mikha sambil membelai pipi Farhan.


Baru pertama kali ini dia begitu dekat dengan Farhan, ia terkagum akan ketampanannya itu. Baginya Farhan adalah tipe laki-laki yang sangat ia idam-idamkan. Sangat lama Mikha memandangi wajah Farhan sampai-sampai dia tertidur di sana.