
Keesokan harinya Eric pun meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk kembali bekerja karena ada sesuatu yang penting yang harus ia lakukan di perusahaannya.
Kyra ingin ikut kembali bersama Eric namun kedua orang tuanya melarang Kyra untuk kembali sebelum pernikahan mereka dilaksanakan. Dan karena alasan Kyra sedang hamil dan baru saja terluka.
"Untuk beberapa hari kedepan kamu tetaplah disini Kyra, ada ibu dan ayah yang menjagamu" kata Pak Daniel
"Tapi ayah, Kyra juga mau mau kembali masuk kuliah" pinta Kyra.
"Tunggu keadaanmu baru benar-benar membaik, kamu boleh kuliah lagi Sayang" ucap Sofia sambil membelai pucuk kepala Kyra.
"Benar apa yang dikatakan ayah dan ibu Kyra, kamu tetaplah di sini kamu baru saja pulih. Kamu harus banyak istirahat, jika kamu di apartemen tidak ada orang yang akan menjagamu" kata Eric yang kini sedang berdiri di teras hendak pergi menuju ke mobilnya.
Dengan berat hati Kyra pun menerima saran mereka untuk tetap tinggal di rumah kedua orang tuanya.
"Aku akan sangat bosan nanti. Tapi baiklah aku akan menuruti kalian" ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Anak pintar" kata Bu Sofia sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu aku pergi dulu ayah ibu" kata Eric.
"Pergilah"
Sesaat kemudian Eric pun segera melangkahkan kakinya menuju ke arah mobilnya.
"KAKAK TUNGGU" teriak Kyra lalu berlari kecil menghampiri Eric.
"Jangan lari-lari, kalau kamu jatuh bagaimana? Ingat sekarang kamu kamu tidak sendirian" kata Eric mengingatkan.
"Kakak, apakah kamu setiap hari akan pulang ke sini?"
"Entahlah, memangnya kenapa?"
Kyra pun memasang wajah cemberut sambil menarik lengan jas Eric.
"Bagaimana jika aku merindukanmu? kamu harus sering-sering pulang ke sini" kata Kyra dengan manjanya.
Eric lalu tersenyum sambil mengusap kepala Kyra.
"Tentu saja aku akan sering kesini. Ini kan juga rumahku. Kenapa kamu berbicara seperti itu seakan-akan Aku akan pergi jauh dan untuk waktu yang lama?"
"Ini bukan keinginanku, ini keinginan bayi yang ada di dalam perutku" kata Kyra mencari alasan.
"Benarkah?"
Kyra pun mengangguk.
"Kalau kamu tidak mau mengecewakan anak kita, maka kamu harus sering-sering pulang. Aku tidak ingin terlalu lama menunggumu"
"Apa yang kamu bicarakan? Aku akan pergi bekerja bukan pergi untuk berperang" kata Eric sambil terkekeh.
"Aku tahu aku tahu. Tapi jika jauh dari kakak, waktu akan terasa sangat lama"
"Baiklah baiklah. Setiap hari aku akan pulang setelah bekerja. Aku akan pulang setiap hari seperti dulu lagi"
Kyra pun tersenyum senang mendengar kata-kata Eric.
"Baiklah kalau begitu silakan pergi Pak bos"
Sekali lagi Eric pun tersenyum sambil mengusap kepala Kyra.
"Kamu juga baik-baik di rumah. Aku akan membawakan martabak kesukaanmu nanti setelah pulang bekerja"
"Baiklah akan aku tunggu"
Tanpa mereka sadari kedua orangtua mereka yang sedari tadi berdiri di depan pintu rumah tengah memandangi mereka dari kejauhan.
"Lihatlah ayah, sepertinya kita tidak salah memilihkan suami untuk Kyra"
"Ya. Aku harap mereka akan bahagia sampai mereka tua kelak" kata Pak Daniel sambil bernafas lega.
"Aku sangat bahagia melihat mereka berdua. Aku juga tidak sabar ingin segera menggendong cucuku" ucap Sofia dengan mata berbinar-binar.
"Kenapa ayah tiba-tiba terpikirkan hal itu? Tumben sekali?"
"Entahlah, ayo kita masuk saja"
Sesaat kemudian Eric pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju ke kantornya.
"Kenapa Kyra manja sekali? Bahkan lebih manja daripada dulu" gumam Eric sambil mengemudikan mobilnya di jalan raya. "Apa ini karena dia sedang hamil makanya dia begitu manja? Ah ... Tapi tidak apa-apa, aku bahkan lebih suka ketika dia manja seperti itu kepadaku" Eric pun tersenyum kecil sambil membayangkan kan wajah Kyra.
Beberapa saat kemudian ketika Eric sampai di kantornya, ia pun langsung disambut Farhan, Susan dan Jacob di dalam ruangannya.
"Ahh, kalian mengagetkanku saja" kata Eric setelah ia masuk dan terkejut melihat teman-temannya di dalam ruangannya
"Kami memang sengaja mengagetkan mu" kata Jacob.
"Ada apa?" kata Eric sambil berjalan kearah meja kerjanya.
"Tidak ada semuanya berjalan lancar. Aku dan Farel sudah hampir selesai mengerjakan proyek kita" kata Jacob.
"Aku yang ingin protes. Kenapa kamu selalu mengambil cuti seenaknya saja. Aku selalu kewalahan dengan semua pekerjaanmu" dengus Farhan kesal.
"Kenapa kamu protes? Itu sudah menjadi tugasmu karena kamu bekerja sebagai sekretaris" kata Eric.
"Selalu saja begitu" gumam Farhan sambil menyilangkan kedua tangannya.
Eric pun menyeringai dan kini tanpa sadar mengalihkan pandangannya kearah Susan yang sedari tadi ternyata menatapnya.
"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?" kata Eric penasaran karena Susan memandangnya penuh amarah.
"Kamu yang melakukannya kan?"
"Apa maksudmu?" ucap Eric tak mengerti.
Farhan dan Jacob pun juga merasa bingung lalu memandang ke arah Susan dan Eric.
"Kamu yang yang telah mencelakai Serlyn"
"Aku tidak tahu apa maksudmu. Tapi aku tidak pernah mencelakainya" kata Eric sambil menyandarkan punggungnya.
"Jangan pura-pura Eric. Aku tahu kamu yang melakukan semua itu. Kamu telah menyuruh seseorang untuk menculik dan mencelakai adiknya, dan sekarang kamu tahu? Adik Serlyn sekarang terbaring koma di rumah sakit karena hal itu. Karena hal itu sekarang Serlyn menjadi sangat terpukul dan kehilangan bayinya" kata Susan dengan penuh amarah.
"Apa yang dipikirkan Susan? Bukankah itu salahnya Serlyn sendiri?" gumam Farhan.
"Kenapa kamu tega sekali Eric? Kenapa kamu harus melakukan itu kepada Serlyn?" ucap Susan hampir meneteskan air matanya karena menahan amarah.
Ekspresi wajah Eric pun berubah menjadi datar dan kini ia menyatukan kedua tangannya lalu menaruhnya di atas meja.
"Kamu tanya kenapa aku melakukannya?" kata Eric sambil menatap tajam kearah Susan. "Lalu apakah kamu tidak bertanya kepada temanmu itu apa yang sudah dia lakukan kepadaku?"
"Apa salahnya? Dia melakukan itu karena dia mencintaimu. Dia hanya ingin mendapatkan perhatianmu, tapi kenapa kamu malah menyakiti adiknya dan juga telah membahayakan bayinya. Apakah kamu tidak kasihan kepadanya?" kata Susan mencoba membela Serlyn.
"Aku tidak pernah meminta dia untuk mencintaiku. Aku juga tidak menyentuh bayinya. Lalu kenapa kamu harus marah kepadaku? Yang dia dapat sekarang adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Aku sudah bilang, aku tidak akan pernah menyentuhnya karena aku masih memandangmu karena kamu adalah temannya. Tapi aku berjanji aku aku akan membalas semua perbuatannya kepadaku dan juga Kyra" ucap Eric dengan tegas.
"Eric... Kamu" teriak Susan tertahan karena Jacob memegang bahunya mencoba menenangkannya.
"Sudahlah Susan. Tidak ada gunanya kamu bertengkar dengan Eric seperti ini" bisik Jacob.
"Tapi Jack, Eric sudah keterlaluan"
"Sudahlah, lebih baik kita keluar dari sini" kata Jacob sambil mendorong tubuh Susan untuk keluar dari ruangan Eric.
Sebelum belum Jacob keluar dari ruangan, ia pun melirik ke arah Eric.
"Tenang saja aku akan menenangkannya" arti dari tatapan mata Jacob.
Eric pun tak bergeming dan masih saja menatap dengan tajam dari balik meja kerjanya.
"Apa dia sudah gila? Ini semua kan salah Serlyn sendiri. Siapa suruh dia mencari gara-gara denganmu" kata Farhan ketika Jacob dan Susan sudah keluar dari ruangan tersebut.
"Serlyn pantas mendapatkan semua itu. Kehilangan bayinya dan juga kehilangan adiknya. Bahkan jika perlu, aku juga bisa menghancurkan hidupnya" gerutu Eric geram.