What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 28



Flashback, beberapa hari yang lalu di kediaman William.


Ketika Farel hendak ke kamarnya dia melihat Jony sedang masuk ke ruang kerja papanya. Ia pun berniat ingin mengetahui apa yang mereka bicarakan, Farel pun berdiri di depan pintu sambil menguping pembicaraan mereka.


"Apa kamu sudah menyuruh pak Wira untuk bersembunyi?" tanya pak Freddy kepada Jony.


"Tentu saja Pa, dia dan keluarganya telah bersembunyi di kota N yang daerahnya sangat terpencil" jawab Jony.


"Bagus, jangan biarkan Eric menemukannya, dan lagi, cepat kamu bereskan barang buktinya! Aku tidak ingin Eric menemukan barang bukti kalau kita menyuap pak Wira agar proyek hotelnya Eric gagal" ucap pak Freddy.


"Akan segera aku laksanakan Pa"


"Hahaha ... begitu banyak dana yang telah keluar karena kegagalan proyek itu, dan juga banyak sekali tuntutan dari keluarga pekerja, maka Eric sekarang ini pasti sedang kualahan. Dengan begitu anggota dewan pasti akan menyuruhku turun tangan sendiri dan Eric pasti akan ada dalam kendaliku" kelakar pak Freddy yang selalu saja meremehkan kekuatan Eric.


"Tapi ayah, dia seperti tidak khawatir tentang masalah ini, bahkan aku dengar besok dia akan bekerjasama dengan Tuan Lee pengusaha dari Korea" jelas Jony.


"Hem, kalau begitu ... rebut saja proyeknya" sambil menyatukan kedua tangannya di atas meja. "Buat tuan Lee terkesan dengan ide kita, maka proyek ini pasti akan menjadi milik kita"


"Baik pa" ucap Jony. "Tapi sepertinya, Eric bukanlah lawan yang mudah Pa. Sudah berapa kali dia mempermalukan Papa di rapat Dewan Direksi, lebih baik kita juga harus berhati-hati Pa ... Apalagi ada ketiga orang hebat yang ada di sampingnya itu"


"Aku tidak takut dengannya, tinggal selangkah lagi. Aku akan membuatnya berada di bawah kendali ku" kata pak Freddy dengan bangganya.


"Jika Papa gagal dalam rencana ini dan ketahuan karena menggelapkan dana proyek hotel itu. Bukankah nanti imbasnya akan sangat parah, bahkan mungkin para dewan direksi tidak akan mendukung kita" jelas Jony.


"Siapa bilang? aku sudah mempunyai rencana lain"


"Jika Eric bisa mendapatkan pak Wira dia juga tidak mungkin mau berbicara. Tapi kalau dia memiliki bukti lain, kamulah yang akan aku jadikan kambing hitam Jony" batin pak Freddy.


"Kamu sudah mengintai mereka kan?" tanya pak Freddy.


"Sudah pa"


"Bagaimana hasilnya?"


"Selain kedua orang tuanya dan ketiga temannya, dia paling dekat dengan Kyra bahkan dia tinggal satu apartemen bersama Kyra" jelas Jony.


"Bagus, dialah yang akan kita targetkan" ucap pak Freddy sambil menyeringai.


Begitulah percakapan mereka seterusnya. Farel yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, entah kenapa dengan cepat dia langsung pergi ke kamar Jony. Farel pun langsung menuju ke laptop yang berada di atas meja kerja milik Jony.


Di sana Farel mencari-cari data yang di maksud oleh Papanya tadi. Dan benar saja, data itu adalah bukti bahwa Pak Freddy dan pak Wira tengah menggelapkan dana proyek hotel yang kini tengah di jalankan oleh Eric.


"Apakah dengan ini, aku bisa membalas apa yang telah papa berbuat kepada Luna?" batin Farel lalu meng-copy data tersebut ke flashdisk yang sudah di siapkan.


Belum sampai selesai Farel meng-copy data tersebut, samar-samar terdengar suara langkah kaki menuju ke kamar Jony.


"Sial ayo cepatlah ..." gerutu Farel.


Suara langkah kaki itu terdengar semakin lama semakin dekat, untung saja data sudah tersalin semua ke flashdisk milik Farel.


"Ah, sial sudah tidak ada waktu untuk keluar"


Farel pun segera bersembunyi di balik tirai hitam yang ada di kamar Jony. Dan benar saja, sesaat kemudian Jony datang ke kamarnya.


"Eh, aneh sekali. Perasaan aku tinggal tadi laptopku sudah aku matikan" gerutu Jony sambil berjalan menghampiri laptopnya.


Diapun segera melihat laptopnya dan menghapus semua data tentang penggelapan dana tersebut tanpa merasa curiga jika ada seseorang yang baru saja memakai laptopnya.


Jony yang tengah sibuk dengan laptopnya tidak merasa bahwasanya ada seseorang di dalam kamarnya. Sesaat ponsel Jony pun berdering dan diapun pergi dari kamarnya.


Segera setelah Jony pergi, Farel pun langsung bergegas keluar dari kamar itu dan menuju ke kamarnya sendiri.


"Dengan ini aku bisa membalaskan dendam kepada mereka"


......................


Keesokan harinya, Farel sudah bersiap dan berpakaian rapi dengan memakai jas hitam dan dasi yang melingkari lehernya. Ya, dia kini sedang bersiap untuk melamar pekerjaan di perusahaan milik Karendra.


"Aku pasti bisa buktikan kalau aku juga mampu seperti mereka"


ucap Farel sambil berjalan keluar rumah menuju mobil.


...****************...


Di kantor Eric.


Tok tok tok


"Kakak" kata Kyra sambil tersenyum manis dan berjalan masuk.


"Eh, kenapa kamu disini bukannya ke kampus?"


"Nih, aku bawakan sarapan untuk kakak" ucap Kyra lalu meletakkan kotak sarapan Eric di atas meja.


Eric segera berjalan menghampiri Kyra dan memeluknya dari belakang.


"Terimakasih ya" bisik Eric lembut di telinga Kyra.


Kyra hanya tersenyum mendengarnya, lalu Eric malah semakin mempererat pelukannya dan mencium pipi Kyra, yang membuat Kyra tersipu malu dengan perlakuan dan kata-kata Eric kepadanya.


Tanpa mereka sadari Farhan sudah masuk ke dalam ruangan tersebut dan melihat Eric yang memeluk bahkan mencium pipi Kyra.


Karena sedari kemarin Eric sangat merindukan Kyra, ia pun tak mampu untuk menahan perasaannya. Dengan cepat Eric membalikkan tubuh Kyra dan menangkup kedua pipinya. Tanpa sungkan lagi Eric mulai mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Kyra.


"Ehem" Suara Farhan yang mengagetkan mereka berdua.


"Eerr ... Bagaimana bisa mereka melakukan itu? di kantor pula" batin Farhan sambil mendengus kesal.


"Eh, em ... Kak Farhan" sapa Kyra dengan gugup.


"Farhan, sudah berapa kali aku bilang, kalau masuk ketuk pintu dulu" gerutu Eric dengan kesalnya.


"Aku cuma mau bilang, rapat dengan tuan Lee akan di mulai 5 menit lagi ... dan juga, anak pak Freddy tengah mengajukan lamaran ke perusahaan ini, apa yang akan kita lakukan? apa kita harus mengusirnya sekarang?" jelas Farhan.


"Maksudmu, Farel" tanya Eric.


Deg


.


.


.


"Kak Farel?" gumam Kyra lirih.


Entah mengapa, mendengar nama Farel membuatnya teringat ketika malam dimana dia menculiknya. Kyra yang masih mengingat kejadian itu, masih ada rasa ngeri ketika Farel tersenyum mengerikan dan mencekiknya tanpa ampun.


"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan dia'' jelas Farhan.


"Hem, biarkanlah ... nanti aku akan me—"


"Aku pergi dulu!" kata Kyra dengan cepat lalu berlari keluar dari ruangan Eric.


Kyra ingin segera pergi dari sana, dia tidak ingin bertemu dengan Farel jika dia tinggal lebih lama di kantor Eric.


"Eh ... Kyra" teriak Eric. "Aku akan mengejarnya, dia pasti tidak ingin bertemu dengan Farel mangkanya dia bereaksi seperti itu, aku takut dia akan kenapa-kenapa"


"Kau gila ya?" sanggah Farhan. "Sebentar lagi rapat akan di mulai, biar aku saja yang mengejarnya dan mengantarnya ke kampus"


Eric pun mengangguk dan Farhan langsung saja berlari mengejar Kyra.


Farel yang sedari tadi menunggu untuk di interview, melihat Kyra yang keluar dari kantor Eric dengan tergesa-gesa.


Rasa hati Farel ingin sekali meminta maaf atas kejadian di malam itu, ia pun berniat menghampiri Kyra dan ingin meminta maaf kepadanya.


"Kyra!" teriak Farel dari kejauhan.


Kyra yang mendengar suara tersebut mendadak menghentikan langkahnya.


"Tidak ... tolong ... jangan cekik aku lagi" batin Kyra yang kini tengah ketakutan mendengar suara Farel.


Mendengar suara langkah kaki Farel yang semakin mendekatinya, Kyra pun semakin ketakutan. Alhasil Kyra malah ingin berlari dari tempat itu namun dengan cepat Farel menarik tangan Kyra.


"Kyra ..." Ucap Farel namun Kyra tidak ingin menoleh ke arahnya.


Merasa tangan Farel menggenggam erat tangannya, justru Kyra malah semakin ketakutan.


"Kyra ... aku—"


"TIDAK! Lepaskan aku ... tolong jangan cekik aku ... hiks hiks hiks" tangis Kyra yang kini bersimpuh di lantai karena merasa kakinya lemas.