What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 30



Wajah dan seluruh tubuh Kyra terlihat kotor terkena noda darahnya Farhan, Eric yang melihatnya segera memeluk tubuh Kyra karena merasa cemas dengan adiknya itu.


"Kakak .. ini semua salahku ... " ucap Kyra dengan berlinangan air mata.


"Ssttt ... tidak apa Kyra, dia akan baik-baik saja ... tenanglah ... " kata Eric sambil mempererat pelukannya dan mengecup ujung kepala Kyra.


"Hufft ... bagaimana keadaan Farhan?" tanya Susan yang baru saja datang dengan setengah berlari.


Namun mereka berdua tidak ada yang menjawab pertanyaan Susan.


"Err ... aku dicuekin ternyata" dengus Susan dengan kesal.


"Apa kamu baik-baik saja Kyra? apa ada yang terluka?" kata Eric sambil mendudukkan Kyra di bangku rumah sakit.


Kyra hanya menggelengkan kepalanya dan mengusap air matanya.


"Bagaimana bisa Farhan kecelakaan?" tanya Eric sambil duduk di sebelah Kyra.


"Ini semua salahku ... kalau dia tidak menyelamatkanku mungkin dia tidak akan masuk rumah sakit" jelas Kyra.


"Apa maksudmu kyra?" tanya Susan yang ikut duduk di sebelah Kyra.


"Tadi ada mobil yang ingin menabrak ku ... tapi Kak Farhan malah mendorongku ke seberang jalan, jadinya ... hiks ... dia yang malah tertabrak" kata Kyra dan kini air matanya mulai mengalir kembali.


"Hey, sudahlah ... dia akan baik-baik saja" ucap Eric menenangkan.


"Tapi Kak .. aku bahkan hiks ... melihat darahnya keluar begitu deras dari kepalanya ... Kalau dia kenapa-kenapa ... aku ... aku akan merasa sangat bersalah ..." gumam Kyra sambil melihat kedua tangannya yang masih berlumuran darah Farhan.


"Sudahlah ... kakak akan berusaha keras untuk menyelamatkannya" sambil meraih kepala kyra ke dalam dada bidangnya. "sudah ya jangan menangis ... kamu ini calon dokter, masa iya melihat darah saja kamu menangis"


"Kakak jangan bercanda deh ..." kata Kyra sambil mencubit dada Eric.


"Ketika aku melihat Eric dan Kyra kok jadinya seperti orang lagi pacaran ya? ahh ... perasaan ku aja kali" batin Susan.


Beberapa saat kemudian dokter pun keluar dari ruangan Farhan. Mereka bertiga pun berdiri lalu menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana dokter keadaan teman saya" kata Susan.


"Dia mengalami pendarahan di otaknya dan beberapa tulang rusuknya patah ... Jadi sekarang kita akan melakukan operasi segera" jelas pak dokter.


"Baiklah dokter ... lakukan yang terbaik untuk Farhan" kata Eric.


"Hem, kalau begitu saya permisi dulu" ucap dokter itu dengan ramah lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.


"Hufft ... Eric sebaiknya kamu antar saja Kyra pulang ... Biar aku saja yang menunggu Farhan di sini" kata Susan.


"Tidak Kak .. aku akan menunggu Kak Farhan di sini" ucap Kyra dengan nada khawatir.


"Hey ... lihat keadaan mu itu adik kecil" kata Susan sambil menunjuk pakaian Kyra yang penuh dengan noda darah. "Pulang dulu sana, nanti kalau keadaan Farhan membaik baru kamu balik lagi ya" sambil menepuk-nepuk pundak Kyra.


"Iya Kyra, betul apa yang di katakan Susan, kita pulang dulu ya?" ucap Eric.


"Hem, baiklah ..." gerutu Kyra.


Kyra sebenarnya ingin menunggu Farhan sampai siuman, ia ingin memastikan bahwa Farhan akan baik-baik saja.


"Kalau begitu, ayo ..." ucap Eric sambil menggandeng tangan Kyra. "Susan, kalau ada apa-apa kamu cepat kabari aku ya!"


"Hem, baiklah" kata Susan sambil memandang mereka yang berjalan menjauhinya.


Kyra dan Eric pun pulang menuju ke apartemen mereka, di perjalanan pulang Kyra hanya diam saja dan tak berselang lama dia pun ketiduran. Melihat Kyra yang tertidur, Eric pun meraih kepala Kyra agar bersandar di bahunya.


Sesampainya di depan apartemen, Eric pun keluar dari mobil dan menggendong tubuh Kyra menuju ke apartemen mereka.


Setelah sampai di kamar Kyra, Eric pun membaringkan tubuh Kyra dengan pelan-pelan.


"Kyra ... ayo bangun ... mandi dulu gih" ucap Eric sambil mengusap-usap rambut Kyra. "Kyra ..." bisik Eric.


"Emmm..."


"Mandi dulu sana" kata Eric.


"Hem ..." gumam Kyra sambil mengusap matanya.


Beberapa saat kemudian Kyra pun bangun dari tempat tidurnya.


"Hem ... iya ..." ucap Kyra sambil berjalan menuju ke kamar mandi.


Eric pun berjalan keluar dari kamar Kyra dan duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan ponselnya.


Terdapat beberapa pesan di sana, salah satunya pesan dari Jacob tentang pekerjaan di kantor. Di rasa sangat gerah, Eric pun melepaskan dasi dan jasnya lalu menggulung lengan kemejanya.


Lalu Eric pun pergi ruang kerjanya dan mengambil laptop di sana kemudian dia kembali lagi ke ruang tengah. Sambil sibuk dengan pekerjaannya Eric juga tengah sibuk menyuruh seseorang untuk menyelidiki siapa yang ingin menabrak Kyra tadi.


Beberapa saat kemudian Kyra pun keluar dari kamarnya.


"Kamu sudah selesai?" ucap Eric sekilas melihat Kyra dan kembali lagi memandang laptopnya.


Kyra pun berjalan menghampiri Eric dan duduk di sebelahnya.


"Kenapa?" tanya Eric yang masih bergulat dengan laptopnya. "Kamu masih kepikiran Farhan?"


"Kakak, sibuk sekali ya akhir akhir ini?" ucap Kyra lirih.


Eric pun tersenyum dan sejenak ia menghentikan kegiatannya.


"Sejak proyek hotel gagal dan proyek dengan tuan Lee yang sudah ditentukan, memang sepertinya aku kurang memperhatikan Kyra. Jadi sekarang dia lagi ngambek ya" batin Eric.


"Sini" ucap Eric sambil meraih kepala Kyra dan menaruhnya di pangkuan Eric. "Aku ingin kamu temani hari ini" lanjutnya sambil kembali bergulat dengan laptopnya.


"Kakak ... kenapa seperti tidak khawatir sama sekali dengan kak Farhan?" tanya Kyra.


"Siapa bilang? tentu saja kakak khawatir, Farhan itu sudah kakak anggap sebagi saudara sendiri. Mana mungkin kakak nggak khawatir"


"Mana? itu buktinya kakak nggak khawatir sama sekali" dengus Kyra.


"Ck, memangnya kalau orang khawatir itu harus di tunjukkan dengan kata-kata? atau harus nangis-nangis lebay gitu" balas Eric.


"Ish ... kakak ngeledek aku ya?" ucap Kyra dengan kesal lalu hendak bangun dari pangkuan Eric.


"Hahaha ... jangan marah dong" kata Eric sambil menarik Kyra kembali ke pangkuannya. "Kamu tau Kyra? ketika aku mendengarmu menangis di telepon tadi, aku sangat khawatir sekali ... aku takut terjadi sesuatu sama kamu" lanjutnya sambil menggenggam tangan Kyra.


Kyra hanya diam saja dan merasakan detak jantungnya kini berdetak kencang.


"Kenapa?" tanya Eric.


"Enggak kenapa-kenapa kok"


"Kok pipimu jadi merah? kamu demam ya?" tanya Eric sambil memegangi pipi Kyra bergantian. "Enggak demam juga" lanjutnya.


"Ish ...'' gerutu Kyra lalu bangun dari pangkuan Eric. "Kakak ... berhentilah bersikap seperti itu kepada ku" lanjut Kyra.


"Memangnya kenapa?"


"Aku takut ..." ucap Kyra menggantung.


"Takut apa?" kata Eric lalu mendekati Kyra. "Apa yang kamu takutkan?"


"Aku takut ... aku ... aku akan jatuh cinta sama kakak dan itu salah"


"Apanya yang salah?" kata Eric sambil memeluk Kyra dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu Kyra. "Kyra ... aku sudah pernah bilang, aku mencintaimu ... Sebelum kamu menerimanya, aku masih dalam batasan ku ... Lalu apa yang kamu khawatirkan?"


Deg


.


.


.


Mendengar penuturan Eric, jantung Kyra bahkan berdetak lebih kencang.


"Kakak ... ini salah, aku adalah adikmu ... dan kamu adalah kakakku mana mungkin kita bisa—"


"Aku akan tetap seperti ini" sanggah Eric yang semakin mempererat pelukannya.


"Kenapa kamu keras kepala sekali kak" ucap Kyra lirih.


Eric tidak menjawab dan malah memejamkan matanya sambil mengirup aroma tubuh Kyra dalam-dalam.