What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 110



"Bu, sedang buat apa?


'Ibu sedang buat puding. Kamu pasti suka. Beberapa hari ini, Eric bilang kamu sedang suka makan makanan manis dan lembut"


Kyra memeluk sang ibunya itu dari belakang. "Heeemmm ... Bukankah calon suamiku sangat perhatian bu? Dia bahkan tau apa yang aku suka dan yang aku mau" kata Kyra sambil menaruh kepalanya di bahu bu Sofia.


Bu Sofia tersenyum kecil sambil mengusap punggung tangan Kyra. "Ya ... Ibu sangat bahagia sekaligus lega kamu mendapatkan suami yang baik Kyra. Kedepannya ibu hanya berharap keluarga kalian akan di beri banyak kebahagiaan'


"Tentu saja bu, ini semua juga berkat ibu dan ayah. Aku sangat berterima kasih kepada kalian"


"Hah ... Kamu ini ... Mau buat ibu menangis ya? Sudah sana pergi saja ke kamarmu"


"Gak mau ... Aku masih mau memeluk ibu"


"Dasar anak manja"


"Biarin"


"Dimana Eric? Apa dia pergi bekerja? Kan sudah ibu bilang untuk libur"


"Enggak kok bu" Kyra melepaskan pelukannya. "Dia hanya bilang mau pergi beli sesuatu"


"Oh ... Ya sudah kalau begitu ...Ibu pikir dia bekerja, dia itu sama seperti ayahmu ... Sama-sama gila kerja"


"Ah ... ibu bisa saja, lagipula mereka bekerja juga untuk kita"


"Kyra, pergi ke depan. Ada seseorang yang datang mencari mu" ucap pak Danial dari ruang tamu.


"Siapa Kyra?"


"Mungkin teman Kyra bu. Kyra ke depan dulu ya bu"


"Ya, bawa dia kesini nanti untuk minum teh'


"Baik boss"


Kyra segera berlari ke depan rumahnya.


"Hay ..." sapa seseorang yang tak asing bagi Kyra sambil tersenyum lebar.


'Mikha ...." Kyra segera memeluk sang sahabatnya tersebut. "Aku sudah menunggumu dari tadi. Aku kira kamu tidak akan datang hari ini"


"Bodoh ... Aku kan sudah bilang akan menginap sebelum hari pernikahanmu. Mana mungkin aku mengingkari janjiku"


"Baguslah, ayo masuk"


"Apa kamu sudah bilang kepada ibumu kalau aku akan ke sini?"


"Tentu saja, ibu malah senang. Karena akan ada yang menemaniku besok"


Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dan menghampiri bu Sofia di meja makan.


"Bu, kenalkan. Ini teman kuliahku namanya Mikha"


Bu Sofia pun menoleh dan terkejut melihat Mikha. "Kamu ..."


"Hay tante ... Saya Mikha"


"Kamu bukannya anaknya bu Raya pak Fino?"


"Emmm ... Iya tante, kok tante bisa tau?"


"Ah ... Mereka adalah rekan kerja ayah Kyra. Kita juga sudah kenal sejak lama. Sini duduklah?"


"Jadi ibu kenal dengan orang tua Mikha?" kata Kyra sambil duduk di kursi meja makan.


"Ya, terakhir kita ketemu saat di luar kota"


"Wah ... Kebetulan sekali ya tante, aku dan Kyra juga berteman baik"


"Ya, memang sangat kebetulan sekali. Bagaimana keadaan orang tuamu?"


"Mereka baik-baik saja tante"


Tak berselang lama, Eric dan Farhan pun masuk ke dalam rumah sambil menenteng beberapa kantung plastik.


"Apa yang kamu bawa ric?" kata bu Sofia penasaran.


"Hanya beberapa bahan makanan bu. Aku mampir ke supermarket tadi"


"Ya ampun ric, bahan-bahan di rumah masih banyak"


Eric dan Farhan pun menaruh kantung plastiknya dia atas meja. Tak sengaja, pandangan mata Farhan dan Mikha pun saling bertemu.


"Dia ... Kenapa dia di sini?' batin Farhan sambil menatap Mikha yang sedang melihatnya dengan tatapan aneh.


"Dasar aneh, sejak di pukul bang Jio. Dia sudah tidak menghubungiku dan sekarang dia pura-pura tidak mengenalku?" gerutu Mikha dalam hati.


"Ya, dia baru saja datang" imbuh Kyra.


"Hemmm ... Baguslah, Kyra perlihatkan kamarnya. Mungkin saja di lelah"


"Enggak kok, aku sama sekali tidak lelah'' kata Mikha tanpa mengalihkan pandanganya dari Farhan.


Eric dan Kyra saling melirik ke arah mereka mengetahui sesuatu dari pandangan mereka.


"Apa Farhan juga akan menginap di sini?" kata bu Sofia memecah kesunyian.


"Ya, dia akan membantu kita besok'


"Baguslah, kalau begitu Farhan bisa membantu Mikha bawa barangnya ke kamar. Kamar kalian kan satu arah. Kamu masih ingat kan kamarnya Farhan?" lanjut bu Sofia.


"A-apa?" gumam Farhan tergagap.


"Ya, kak Farhan kan dulu juga pernah tinggal di sini. Tentu saja tau kamarnya kan?" kata Kyra sambil tersenyum.


"Emmm ... Y-ya ..."


Mikha melirik Kyra dan tersenyum kecil sedangkan Kyra membalas dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Baguslah, kalian istirahat saja dulu. Setelah makan malam, aku dan ayahmu akan pergi melihat lokasi pernikahan kalian besok"


"Baiklah bu, aku juga agak capek nih" kata Kyra sambil memijat tengkuknya.


"Kamu tidak apa-apa sayang?'


"Tidak apa-apa, hanya sedikit capek saja.


"Ayo aku antar kamu ke kamar" Eric pun segera menggandeng tangan


Kyra.


Di sisi lain, Farhan sangat sedih melihat gadis yang dia cintai akhirnya akan menikah dengan sahabatnya besok. Ada perasaan tidak rela, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kini yang ia bisa lakukan hanya merelakannya.


"Farhan, antar kan Mikha ke kamarnya" imbuh Eric sambil melangkahkan kakinya bersama Kyra pergi ke kamarnya.


"Hemmm ... Ayo ikut aku"


"Kalau begitu, aku pergi istirahat dulu ya tante' kata Mikha.


"Ya, kalau kamu butuh sesuatu tinggal cari bi Sumi saja"


"Baik tante"


Mikha segera berlari kecil menyusul Farhan yang sudah terlebih dulu berjalan di depannya.


Sesampainya di depan kamar tamu, Farhan segera membuka pintu dan berdiri di depan Mikha.


"Hemmm ... Masuklah" kata Farhan cuek.


Mikha yang sudah tak tahan, ia pun segera menarik tangan Farhan untuk masuk ke kamar lalu menutupnya.


"Apa yang kamu lakukan?" kata farhan sedikit terkejut.


"Apa kamu masih marah?"


"Apa maksudmu? Jangan bicara omong kosong" Farhan pun hendak pergi namun di tahan oleh Mikha.


"Aku tau kamu masih marah. Lagipula, bang Jio gak sengaja. Maafkan dia'


Farhan pun menatap Mikha dalam-dalam dan berjalan mendekati Mikha.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Kamu datang ke bar dan tidur di rumahku, sudah jelas kamu menginginkanku bukan. Akan aku pertegas, sampai kapanpun aku tidak akan menyukaimu"


"Kenapa? Kamu masih tidak bisa melupakan Kyra? Baguslah, dan aku juga tidak bisa melupakanmu. Tidak, setidaknya sekarang aku tidak bisa melupakanmu"


"Kamu ..." kata Farhan setengah berteriak sambil mendorong tubuh Mikha ke tembok.


Wajah mereka begitu dekat, hingga mereka bisa merasakan hembusan nafasnya. Farhan menatap mata Mikha lekat-lekat berharap Mikha ketakutan namun yang di dapat malah Mikha membalas tatapan matanya tanpa ragu.


"Sial. Kenapa aku yang malah takut dengannya?" Batin Farhan lalu mengalihkan pandangannya.


Mikha yang serius dengan perkataannya dan perasaanya tanpa ragu menarik dagu Farhan agar menghadapnya.


"Aku tidak peduli apakah kamu masih menyukainya. Aku juga tidak peduli kalau kamu masih belum mencintaiku. Hanya saja, jangan bersikap tidak mengenalku seperti tadi. Aku tidak bisa melihatmu pura-pura tidak kenal denganku"


"Memangnya siapa kamu sampai aku harus menuruti perkataan mu? Oh dan juga, kita memang tidak saling mengenal. Kamu dan aku hanya-''


Mikha dengan beraninya menutup mulut Farhan dengan mulutnya. Ya, Mikha menciumnya. Karena dia tidak tahan dengan kata-kata Farhan yang menyakiti hatinya. Farhan terkejut, namun di juga tidak berniat untuk mendorong Mikha darinya.


Mikha pun menarik dirinya. "Maaf, aku hanya tidak ingin mendengar kata yang menyakitkan darimu. Tuan Farhan ... Aku hanya ingin kamu tau, bahwa aku benar-benar menyukaimu" ucap Mikha sambil menatap Farhan dengan mata yang berkaca-kaca.


Entah kenapa, melihat mata Mikha rasanya Farhan tidak bisa berpaling darinya. Terbesit rasa tak tega dalam hatinya, juga rasa terharu karena baru pertama kali ada seorang wanita yang menyatakan perasaanya dengan berani kepadanya. Tanpa dia sadari, Farhan malah menarik tengkuk Mikha dan mencium bibirnya. Mikha terkejut karena Farhan menc*mbu bibirnya. Farhan semakin menarik tengkuk Mikha untuk memperdalam ciumannya. Mikha memejamkan mataya sambil meluk pinggang Farhan.