What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 91



"Kamu sudah mendingan?" kata Eric yang kini duduk di ranjang di sebelah Kyra.


Kyra pun mengangguk. "Hemm ... Aku sudah baik-baik saja"


"Kamu pasti sangat syok tadi, maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu" kata Eric sambil memegang tangan Kyra.


"Ya, aku hanya sedikit kecewa. Tidak ada satupun dari kalian yang memberitahu ku tentang hal besar ini"


"Aku ingin memberitahumu, tapi aku menunggu waktu yang tepat. Kamu tidak marah kan?"


Kyra pun memandang Eric sejenak. "Tidak, justru ... Aku malah senang. Orang yang ku cintai ternyata bukan kakakku. Apalagi, sekarang aku akan menikah dengannya" Kyra pun tersenyum manis kepada Eric.


"Benarkah?"


Kyra hanya mengangguk dan tersenyum kepada Eric.


"Hufft ... Aku lega sekali. Aku kira kamu akan marah kepadaku"


"Kalau aku marah, apa kakak mau membujukku?"


"Tentu saja, calon istriku marah. Tentu saja aku harus membujuknya" kata Eric sambil mencubit ringan pipi Kyra.


"Baiklah, aku marah sekarang. Ayo bujuk aku" ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya dengan bibir manyun yang di buat-buat.


Eric hanya diam saja tanpa bergerak ataupun bersuara.


"Ada apa?" kata Kyra sambil menoleh ke arah Eric. "Kenapa kakak diam saja?"


"Aku ingin memelukmu. Aku sangat bahagia sampai aku ingin memelukmu dan tidak ingin melepaskan mu Kyra"


Kyra pun segera bangun dari tempat tidurnya. Ia pun duduk mendekati Eric dan melingkarkan lengannya di pinggang Eric.


"Kalau mau peluk, ya peluk saja. Lagipula, aku juga sangat ingin memeluk kakak" gumam Kyra sambil menyembunyikan wajahnya di balik dada bidang Eric.


Eric pun membalas pelukan Kyra dengan erat lalu mengecup keningnya.


"Aku mencintaimu Kyra. Maaf atas kesalahan yang pernah aku perbuat. Mulai sekarang, aku akan membahagiakanmu dan juga anak kita" bisiknya di telinga Kyra.


"Aku sudah memaafkan kakak. Rasa marahku terkalahkan dengan rasa cintaku kepada kakak. Mulai sekarang, jangan ada rahasia lagi di antara kita. Janji?"


Eric pun melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Kyra.


"Janji. Aku janji, aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu"


"Ehem"


Tiba-tiba pak Daniel pun masuk ke kamar Kyra. Dengan cepat Eric dan Kyra pun mengubah posisi duduk mereka.


"Aku menikahkan kalian bukan berarti kalian sekarang bisa melanggar aturan lagi. Kalian tidak bisa menunggu sampai kalian menikah nanti?" kata pak Daniel sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Ayah ... Apa yang ayah katakan? Kami tidak melakukan apapun" ucap Kyra.


"Ayah ingin bicara denganmu Ric, pergilah ke ruang kerja ayah sekarang" kata pak Daniel.


"Baiklah ayah" Eric pun berbalik memandang Kyra. "Nanti aku akan kembali lagi" bisik Eric sambil mengusap pucuk kepala Kyra.


Eric pun berjalan keluar dari kamar Kyra menuju ke ruang kerja ayahnya seperti yang pak Daniel minta.


"Apa kamu sudah baikan?" kata pak Daniel sambil duduk di sebelah Kyra.


"Sudah ayah, ayah ..."


"Hem, ada apa?"


"Maafkan Kyra. Kyra telah mengecewakan ayah" ucap Kyra sambil menundukkan kepalanya.


Pak Daniel pun mengusap lembut kepala Kyra. "Ya, kamu dan kakakmu memang sangat mengecewakan ayah"


"Maaf"


"Dasar bodoh" gumam pak Daniel sambil tersenyum. "Apa kamu kecewa dengan keputusan ayah?''


"Keputusan apa?"


"Menikahkan mu dengan Eric. Awalnya, ayah tidak berniat melakukan itu, tapi ibumu terus memaksa ayah untuk menikahkan kalian berdua"


"Mana mungkin ayah tega melakukan itu kepada putri ayah. Bagaimana pun juga, kamu adalah putri ayah. Tidak peduli apa kesalahan mu, kamu tetap putri ayah"


"Ayah ..." ucap Kyra sambil memeluk ayahnya tersebut.


"Huuuhh, lihatlah. Waktu berlalu begitu cepat. Ayah rasa baru kemarin kamu menangis kepada ayah ingin di belikan es krim. Sekarang, kamu akan segera menikah. Ayah merasa masih merasa tidak rela" kata pak Daniel sambil mengusap-usap punggung Kyra.


"Apa bedanya Kyra sekarang atau nanti ayah. Kyra masih tetap putri ayah. Setelah menikah nanti Kyra masih bisa mengunjungi ayah, Kyra juga masih bisa menemani ayah kelak"


"Ya, ayah hanya sedikit merasa tidak percaya. Tapi ..." kata pak Daniel sembari melepaskan pelukannya. "Ayah ingin tau, apa kamu menyukai kakakmu?"


Kyra pun tersipu malu mendengar pertanyaan ayahnya tersebut. "Kenapa tiba-tiba ayah bertanya seperti itu?"


"Ayah hanya ingin tau. Apakah ayah menikahkan mu dengan orang yang tepat atau tidak".


"Ya, aku menyukai kakak. Bahkan lebih dari itu"


"Baguslah" kata pak Daniel lalu mengusap kepala Kyra. "Istirahatlah lagi, aku akan membahas sesuatu dengan Eric"


Pak Daniel pun hendak pergi namun Kyra tiba-tiba memegang tangannya.


"Ayah, apa ayah akan memarahi kakak? Ini bukan salah kakak, kakak hanya gak sengaja meminum obat yang di berikan oleh seseorang sampai hal itu terjadi. Jadi ini bukan sepenuhnya kesalahan kakak. Aku mohon ayah jangan memarahinya atau memukulnya" ucap Kyra penuh rasa iba.


"Jadi maksudmu kakakmu di jebak seseorang?"


Kyra pun mengangguk ringan. "Iya, jadi ayah jangan menyalahkan kakak"


"Siapa yang akan memarahinya atau memukulnya? Ayah hanya ingin bicara sesuatu tentang perusahaan. Ayah tidak ingin memarahinya" kata pak Daniel sambil melepaskan tangan Kyra.


"Huh, aku kira ayah mau marah-marah"


"Dasar, cepat pergi istirahat sana"


Pak Daniel pun segera keluar dari kamar Kyra.


"Huh, baguslah. Aku khawatir kalau ayah marah-marah lagi, penyakitnya akan kambuh" gumam Kyra lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Pak Daniel pun melangkahkan kakinya menuju ke ruang kerjanya. Di sana beliau mendapati Eric sudah duduk menunggunya sedari tadi.


Pak Dani pun segera duduk di sofa menghadap Erik.


"Ayah mau membicarakan apa kata Erik segera Setelah Pak Daniel tiba di sana.


Sebelum Pak Daniel menjawab pertanyaan Eric Bu Sofia pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Ada apa Bu? Kenapa ibu juga ikut masuk ke sini?" ucap Pak Daniel setelah melihat Sofia duduk disebelah Eric.


"Aku yang menyuruh ibu ke sini Ayah. Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu kepada kalian" kata Eric.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?"


"Ibu ayah aku sangat berterima kasih kepada kalian karena sudah merawat dan membesarkanku selama ini. Aku tidak tahu dengan cara apa aku harus membalas kebaikan kalian. Yang pasti aku benar-benar berterima kasih karena kalian sudah menganggapku seperti anak sendiri selama bertahun-tahun. Aku tahu ibu dan ayah menyembunyikan identitas ku yang sebenarnya karena kalian benar-benar menyayangiku. Aku bersyukur karena hal itu, ibu ayah sekali lagi terima kasih untuk selama ini"


Bu Sofia pun tak kuasa menahan air matanya. "Kamu bicara apa Sayang? Bagaimanapun masa lalumu kamu tetaplah anakku, kami menganggap mu sebagai anak kami sendiri. Kami juga sangat menyayangimu seperti anak kami sendiri. Jadi, kamu tidak perlu berterima kasih seperti itu. Sudah sewajarnya kami menyayangimu dan merawatmu dengan baik"


"Ya tentu saja Eric. Meskipun Ayah terkadang keras kepadamu ayah sangat menyayangimu layaknya putraku sendiri. Maafkan ayah juga jika selama Ayah membesarkanmu kamu merasa Ayah sedikit kasar dan keras dalam mendidik mu tapi itu semua demi kebaikanmu"


"Aku tahu ayah. Aku tahu ayah sangat menyayangiku"


"Ibu tidak menyangka hal ini akan terjadi. Selama ini ibu berharap ingatanmu tidak akan pernah pulih kembali, karena ibu tidak ingin setelah kamu mengingat semuanya kamu akan meninggalkan ibu dan ayah karena kamu tahu keluargamu yang sebenarnya" kata Bu Sofia dengan berlinangan air mata.


"Ibu bicara apa? Kalian adalah keluargaku, mana mungkin aku akan pergi meninggalkan kalian"


"Eric setelah kamu sudah mengingat semuanya dan tahu semuanya. Ayah berharap kedepannya kamu akan menjaga dan menyayangi Kyra seperti kami yang menjaga dan menyayangimu selama ini"


"Tentu saja yah, selama ini aku sangat menyayangi Kyra. Aku janji aku akan melindunginya dan membahagiakannya"


"Ya kami percaya kepadamu. Ayah ingin berbicara sesuatu yang penting sekarang"


"Apa itu yah?"


Pak Daniel pun mengeluarkan sebuah map dari laci yang berada disampingnya.


"Ini adalah milikmu"