What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 92



"Tuan Farhan?"


"Ya?" kata Farhan sambil fokus menyetir.


"Apa tuan Farhan pernah berpacaran?" ucap Mikha tanpa ragu.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Aku hanya penasaran. Apakah orang sedingin anda juga pernah berpacaran sebelumnya"


Sekilas Farhan pun melirik Mikha yang tengah duduk di sampingnya.


"Tentu saja aku pernah pacaran" kata Farhan tak mau di remehkan.


"Pffftt, pasti tuan di putusin kan?"


"Ya tentu saja. Memang kebanyakan laki-laki selalu begitu"


"Hemm ... Itu karena anda membosankan" gumam Mikha lirih.


"Apa katamu?"


"Tidak ada. Oh ya tuan, apakah tuan sekarang sedang menyukai seseorang?" kata Mikha sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Farhan.


Sejenak Farhan pun terdiam dan kini mengingat Kyra seseorang yang ia sukai saat ini.


"Sedang apa dia sekarang. Dari kemarin, saat pulang dari rumah sakit, aku sudah tidak melihatnya lagi. Tapi Eric bilang, dia mau pulang ke rumah orang tuanya. Apakah Kyra juga ikut? Hahh, tentu saja. Mana mungkin Eric meninggalkan dia sendirian" gumam Farhan dalam hatinya. "Mengingat Kyra ... Apakah dia akan menerima tawaran ku saat itu? Aku berharap dia mau menerimanya. Aku benar-benar tulus kepadanya, aku juga mau menerima anaknya. Aku harap dia mau untuk menikah dengan ku. Aku harus segera membujuknya, kalau-kalau Eric memberitahu Kyra jika dia bukan kakaknya. Maka kesempatan ku tidak akan ada lagi. Jelas dia akan menerima Eric daripada aku"


"Tuan?" kata Mikha yang melihat Farhan melamun. "TUAN" teriak Mikha.


"Jangan teriak-teriak, aku bisa mendengar mu" kata Farhan jengah.


"Lagian tuan melamun terus. Saat menyetir mana boleh melamun"


"Aku tidak melamun" sanggah Farhan.


"Benarkah?" kata Mikha sambil mengarahkan wajahnya lebih dekat ke Farhan.


"Apa yang kamu lakukan?" ucap Farhan terkejut.


"Tuan benar-benar sedang menyukai seseorang sekarang?"


Farhan pun mengedipkan matanya malas.


"Iya, kenapa memangnya?" ucap Farhan cuek.


"Benarkah? Seperti apa dia? Apa dia perempuan yang sangat cantik? Atau dia sangat hebat? Atau mungkin lebih kaya dari pada aku?" batin Mikha sambil membenarkan duduknya seperti semula.


"Ehem ... Apakah dia perempuan yang sangat cantik?" kata Mikha tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Farhan yang kini masih terbayang wajah Kyra ia pun tanpa sadar menanggapi pertanyaan Mikha.


"Iya, dia sangat cantik. Dia juga sangat baik" gumam Farhan tanpa sadar.


"Apakah dia lebih cantik daripada aku?" ucap Mikha setengah kesal.


"Oh? Apa?" kata Farhan terkejut.


"Aku tanya, apakah dia lebih cantik daripada aku?"


Farhan pun menoleh ke samping. Pandangan matanya bertemu dengan Mikha. Mereka pun saling menatap sepersekian detik.


Farhan menatap Mikha yang kini menatapnya dengan tatapan penasaran dengan bibir mungilnya yang sedikit di manyunkan. Tanpa sadar, tatapan mata Farhan terarah ke bibir mungil Mikha.


"Ehem" gumam Farhan mengalihkan pandangannya. "Tentu saja, dia lebih cantik" ucap Farhan setengah gagap.


Mikha pun membuang wajahnya ke samping sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Benarkah? Dia lebih cantik dariku?" gumam Mikha sambil menaikkan bibirnya.


"Aku penasaran. Seperti apa wanita yang dia sukai? Apa dia benar-benar cantik? Lihatlah, dia sampai melamun ketika mengingat wanita itu ... Hufft, ini tidak bisa di biarkan. Aku tidak akan menyerah. Bagaimana pun juga, dia belum menikah. Masih ada banyak kesempatan untukku" batin Mikha.


Diam-diam ternyata Farhan mencuri-curi pandang ke arah Mikha yang tengah duduk dengan raut wajah yang terlihat kesal.


Dia pun menyunggingkan senyum kecil melihat tingkah Mikha.


"Dia lumayan lucu juga"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" ucap Farhan.


"Aku hanya penasaran" kata Mikha tanpa menoleh ke arah Farhan.


"Benarkah?"


"Ya, memangnya apa lagi?"


"Entahlah. Tapi kenapa kamu terlihat kesal sekali?" kata Farhan.


"Aku tidak kesal"


"Benarkah? Wajahmu mengatakan semuanya. Kamu terlihat sangat kesal"


"Tidak"


"Bohong"


"Beneran aku tidak merasa kesal kok, hanya saja. Kenapa jalan ke rumahku rasanya agak jauh?" kata Mikha mengalihkan perhatian.


Mikha pun mengikuti arah pandang Farhan.


"Eh? Beneran? Ini bukan jalan ke rumah. Kenapa bisa kebetulan sekali"


"Tuan, ini memang bukan jalan ke rumahku" ucap Mikha sambil menunjuk ke arah jalan.


"Benarkah? Apa kita salah jalan?"


"Tentu saja, kita harus putar balik. Ini sudah sangat jauh dari jalan ke rumahku" kata Mikha dengan santainya.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kita salah jalan?" protes Farhan.


"Mana aku tau kalau tuan salah jalan"


"Haishh, ini sudah petang. Jalanan di sini akan semakin sepi" gerutu Farhan.


"Apa tuan takut?"


"Mana ada. Aku tidak takut. Aku hanya asal bicara"


"Benarkah?" gumam Mikha sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.


"Ada bagusnya juga kita salah jalan. Jadi aku bisa sedikit lebih lama berduaan dengannya" batin Mikha sambil memejamkan matanya.


Farhan pun melirik ke arah Mikha. "Kamu santai sekali. Kamu pikir aku supirmu?" gerutu Farhan.


"Tidak perlu mengomel. Aku bisa mendengarnya. Lagipula tuan sendiri yang membawaku masuk ke dalam mobil. Kenapa mesti protes?" kata Mikha dengan mata yang masih terpejam.


"Dasar, tau begini aku tidak akan mengantarmu pulang" kata Farhan kesal.


"Itu bukan salahku, jadi tidak perlu mengeluh. Tuan supir, cepat antar aku pulang" ucap Mikha dengan santainya.


Farhan pun membuka matanya lebar-lebar mendengar kata-kata Mikha.


"Beraninya kamu panggil aku tuan supir"


Mikha pun tersenyum kecil sambil berpura-pura tidur.


"Cih, dasar" gumam Farhan melihat Mikha yang semakin meringkukkan wajahnya.


Setelah satu jam lebih Farhan melajukan mobilnya. Ia pun kebingungan karena sedikit lupa dengan rumah Mikha.


"Hey, di mana rumahmu? Aku lupa dimana rumahmu" kata Farhan sambil celingak-celinguk melihat ke arah pinggir jalan. "Hey, kamu tidak mendengar ku ya?"


Farhan pun mengalihkan pandangannya ke arah Mikha. Terlihat Mikha sudah tertidur dengan pulasnya.


"Aish, dasar merepotkan"


Farhan pun memeras otaknya untuk mengingat-ingat kembali dimana dia mengantar Mikha tempo hari.


Setelah setengah jam berlalu, ia pun menepikan mobilnya ke pinggir jalan di depan rumah besar berpagar besi warna putih.


"Akhirnya" desah Farhan sambil melonggarkan dasinya. "Kenapa dia ngebo sekali. Dari tadi tidak bangun-bangun"


Farhan pun melepaskan sabuk pengamannya dan turun dari mobil mendekati rumah tersebut.


Setelah sampai di balik pintu pagar, Farhan langsung menekan tombol bel di sana. Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya pun keluar dari sana.


"Permisi, benarkah ini rumah Mikha?" tanya Farhan.


"Iya, ada apa?" jawab wanita tersebut.


"Oh ... Dia tadi kakinya terkilir. Sekarang dia sedang tertidur di mobil saya" kata Farhan sambil menunjuk mobilnya. "Saya tidak enak untuk membangunkannya. Bisa tolong anda panggilkan seseorang untuk membawanya masuk"


Wanita tersebut melihat ke arah mobil dan benar saja, Mikha tengah tertidur di dalam mobil Farhan.


"Tuan, di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Bisakah anda membawanya masuk?"


"A-Apa? Saya?" kata Farhan tak percaya.


"Iya. Semua orang sedang mengikuti tuan dan nyonya keluar kota. Di rumah hanya ada saya dan penjaga, namun saya tidak tahu dimana dia sekarang"


"Haduh. Yang benar saja, masa rumah sebesar ini tidak ada orang satupun? Sudah seharian aku mengantarnya. Sekarang masih harus menggendongnya masuk" gerutu Farhan


Farhan pun berjalan kearah mobilnya dan membuka pintu. "Hey, bangunlah. Kamu sudah sampai rumah" kata Farhan kepada Mikha, namun Mikha masih saja tidak bergeming.


"Hey cepat bangun lah, aku tidak mau menggendong mu masuk ke dalam. Kamu pasti berpura-pura tidur kan? Cepat bangun lah"


Beberapa kali Farhan mencoba membangunkan Mikha namun dia tetap saja tidak bangun.


"Dasar menyusahkan" gerutu Farhan sambil mengangkat tubuh Mikha.


Ia pun berjalan masuk mengikuti wanita paruh baya tersebut untuk membawa Mikha ke dalam kamarnya.


"Tuan Farhan kenapa anda cuek sekali?" gumam Mikha dalam tidurnya.


"Dalam tidur pun kamu bisa mengoceh rupanya" gerutu Farhan sambil tersenyum kecil.


"Kamu menyebalkan Tuan Farhan"


Setelah sampai di kamar Mikha Farhan pun menaruh tubuh Mikha di atas ranjang pelan-pelan.


"Sekarang mengoceh lah sampai puas dan aku akan pulang" kata Farhan sambil menyelimuti tubuh Mikha.