What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 51



"Apa rencananya sudah berhasil?" tanya seorang perempuan dari dalam mobil.


"Tentu saja, aku pastikan dia mendengar pembicaraan ku sama Kyra tadi. Dan juga aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kalau dia keluar apartemen dengan keadaan marah" ucap Nuril yang kini duduk di sebelah perempuan tersebut.


"Bagus, ini bayaran mu" Wanita itu pun memberikan sebuah amplop berisikan sejumlah uang kepada Nuril. "Kerjamu bagus sekali"


"Terimakasih, lagipula ... Aku juga akan sangat senang jika melihat Kyra menderita" ucap Nuril lalu terkekeh kecil.


"Hem, sekarang keluarlah dari mobilku. Aku masih ingin melanjutkan rencana ku yang selanjutnya"


"Baik"


Nuril pun keluar dari mobil tersebut dengan membawa amplop pemberian wanita tadi. Tak berselang lama mobil itu pun melesat ke jalanan.


Sedangkan di sebuah bar, terlihatlah Eric yang kini duduk sendiri dengan di temani beberapa botol minuman. Ia pun mengambil sebuah botol dan menuangkannya ke dalam gelas.


"Apakah aku terlalu memalukan untukmu Kyra? Apa kamu menganggap perasaanku hanyalah sebuah lelucon? Sedikitpun apakah kamu tidak merasa kalau kita bukanlah saudara?" gumam Eric lalu menenggak minuman di gelasnya. "Aku benci dengan perasanku ini, tapi apa boleh buat aku hanya terlalu mencintaimu. Apa aku salah jika aku hanya ingin mendapatkan balasan atas perasaanku?"


"Hahah ... Eric Eric, lihatlah dirimu ... Kamu menyedihkan sekali" ucap Eric yang kini sudah mulai mabuk.


Tanpa sadar Eric menggenggam gelas terlalu kuat membuatnya pecah seketika dan melukai telapak tangannya. Namun Eric rasanya tidak mengindahkan tangannya yang terluka, yang ia rasakan kini hanya rasa sakit di dalam hatinya. Ia tidak menyangka bahwa Kyra merasa malu terhadap perasaan Eric.


"Eric?" sapa seorang wanita dan duduk di samping Eric.


Eric pun menoleh ke arah wanita tersebut dan menyipitkan matanya berusaha melihat dengan jelas wanita itu.


"Serlyn?" ucap Eric.


"Ya ampun tangan mu terluka" Serlyn pun dengan cepat meraih tangan Eric.


"Ini bukan urusanmu" kata Eric dengan dingin lalu menepis tangan Serlyn.


"Aku akan membalutnya, tunggu sebentar" Serlyn pun mengeluarkan kotak obat kecil yang ia simpan di tasnya.


"Tidak perlu" ucap Eric sambil menengguk minuman dari botolnya.


"Meskipun kamu tidak mau aku akan tetap melakukannya" kata Serlyn lalu meraih tangan Eric lagi.


Eric hanya diam saja dan masih sesekali menenggak minumannya. Sedangkan Serlyn kini tengah sibuk membersihkan luka Eric dan membalutnya.


"Hey, apa kamu sedang ada masalah?" tanya Serlyn namun Eric hanya diam saja dan dengan pandangan kosong menatap ke depan. "Kamu bisa cerita ke aku jika ada masalah" lanjut Serlyn.


Eric masih saja tak bergeming dan sesekali menenggak minumannya hingga tak tersisa setetes pun.


Merasa botolnya sudah kosong, Eric pun membuangnya ke tempat sampah. Ia pun kini mengalihkan pandangannya ke arah beberapa botol minuman yang ada di meja.


Belum sempat Eric mengambil satu botol minuman Serlyn pun dengan sigap merebutnya.


"Berikan kepada ku" ucap Eric yang kini sudah mabuk berat.


"Kamu sudah mabuk Ric, hentikan" kata Serlyn.


"Berikan" lanjut Eric dengan menatap tajam Serlyn.


"Ck, baiklah. Tapi janji hanya satu botol ini, setelah itu aku antar kamu pulang"


Serlyn pun membuka tutup botol tersebut dan memberikannya kepada Eric. Dengan cepat Eric pun menenggak minuman tersebut.


Tanpa di sadari Eric, Serlyn sudah mencampur beberapa obat ke dalam botol yang kini tengah di minum Eric.


"Hem... Habiskan lah Ric, setelah itu tidurlah dengan nyenyak" batin Serlyn.


Dan benar saja, belum sampai habis minuman di botol tersebut, Eric sudah kehilangan kesadaran dan tergeletak di sofa.


Serlyn pun dengan susah payah membopong Eric dan membawanya keluar dari tempat tersebut. Setelah mereka keluar dari sana Serlyn pun memasukkan Eric ke dalam mobilnya.


Tak berapa lama kemudian, mobil Serlyn pun melesat ke jalanan. Tak butuh waktu lama Serlyn sudah sampai di depan apartemen Eric.


Sebelum ia turun dari mobil, Serlyn memeriksa jas dan kantong Eric untuk mencari kunci apartemennya. Beberapa saat kemudian ia pun menemukan kunci tersebut di dalam kantung celana Eric dan tersenyum puas.


Ia pun turun dari mobil dan kembali berusaha membopong Eric yang badannya lebih besar daripada dia.


Dengan susah payah, Serlyn membopong Eric yang kini sudah benar-benar tidak sadarkan diri. Sebelum ia masuk ke area apartemen tiba-tiba datang seorang laki-laki di belakangnya.


"Sedang apa kalian?" ucap laki-laki tersebut.


Serlyn pun menoleh ke arah belakang, dan nampaklah Sorang pemuda tampan dengan sebuah jaket Hoodie hitam yang menutupi kulit putihnya.


"Ah, saya hanya ingin mengantarkan dia ke apartemennya" ucap Serlyn.


"Berikan dia kepadaku, aku akan membawanya" ucap laki-laki tersebut.


"Eh? tapi ..."


"Kamu tidak perlu khawatir, aku adalah sekretarisnya" lanjut laki-laki tersebut.


Laki-laki itu pun meraih tangan Eric dan melingkarkan tangan Eric di bahunya.


"Terimakasih sudah mengantar dia pulang. Siapa namamu?" ucap laki-laki tersebut.


"Ah ... namaku Serlyn tuan. Lagipula saya kenal dekat dengan tuan Eric jadi anda tidak perlu sungkan" kata Serlyn.


"Oh jadi kamu yang namanya Serlyn?" gumam laki-laki itu "Baiklah, ini sudah larut malam. Pulanglah, aku akan mengantarkan Eric ke dalam"


"Baik"


Laki-laki itu pun pergi dengan membopong Eric menuju ke dalam apartemennya.


"Sial!! Rencana ku gagal gara-gara laki-laki itu ... Aku harus memikirkan cara lain lagi untuk mendapatkan Eric" batin Serlyn dengan wajah kesal. Tak berselang lama Serlyn pun pergi dari tempat itu.


Laki-laki yang membawa Eric itu pun kini sudah berada di depan pintu apartemennya, dia memencet bel beberapa kali dan tak berselang lama Kyra pun keluar dari dalam apartemen.


"Kak Farhan?" ucap Kyra. "Eh? kakak kenapa?" lanjut Kyra yang kini melihat Eric tak sadarkan diri.


"Dia mabuk lagi, tolong bantu aku membawanya ke kamar" ucap Farhan.


Dengan cepat, Kyra pun meraih tangan Eric dan membantu Farhan membopong Eric ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Eric, Farhan pun membaringkannya di tempat tidur.


"Kak Farhan, ada apa dengan kakak?" kata Kyra.


"Entahlah, akhir-akhir ini dia sering sekali minum-minum" ucap Farhan. "Ini sudah malam Kyra, aku akan pulang"


"Hem, aku akan antar kakak ke depan"


"Tidak perlu, rawat saja Eric. Kelihatannya dia sudah mabuk berat" ucap Farhan.


"Baiklah"


"Kalau begitu, aku pergi dulu"


"Iya, terimakasih ya kak"


Farhan pun pergi dari kamar Eric dan berjalan keluar apartemen mereka.


"Kakak, ada apa denganmu? apa semua ini karena ku?" gumam Kyra.


Kyra pun mulai melepaskan sepatu dan jas yang di kenakan Eric. Beberapa saat kemudian Kyra mencoba melepaskan dasi yang melingkari leher Eric, tiba-tiba Eric membuka matanya dan menggenggam erat tangan Kyra.


"Eh? kakak?" ucap Kyra yang terkejut melihat Eric yang tiba-tiba terbangun.


Eric yang sedari tadi sudah mabuk berat kini mulai memandangi Kyra dengan tatapan sendu. Dengan cepat Eric membalikkan tubuh Kyra ke atas ranjang dan menindihnya.


"Kak ... Ada apa denganmu?" ucap Kyra yang kini bingung dengan kakaknya itu.


Tanpa menjawab Eric malah menautkan jari-jarinya dengan jari Kyra dan menarik tangan Kyra ke samping ranjang.


Eric pun menatap Kyra dengan penuh naf*su. "Kamu tidak akan bisa kabur kali ini ... Kyra"