
"Apakah anda baik-baik saja tuan?" kata wanita itu sambil membantu Eric berjalan dan duduk di sofa.
"Cepat ... berikan ... obatnya" ucap Eric dengan nada bergetar.
"Eh, iya tuan" kata wanita tersebut lalu membuka tasnya dan mengambil beberapa bungkus obat di sana. "Ini tuan" lanjutnya lagi sambil memberikan obatnya kepada Eric.
Tanpa berpikir panjang, Eric lalu membuka satu persatu obat tersebut dan segera memakannya
"Uhuk uhuk"
"Anda sudah gila ya? dimana-mana kalau makan obat ya harus pake air lah, obat segitu banyaknya langsung di telan, mau mati? ... Nih" ucap wanita tersebut sambil memberikan sebotol air mineral ke arah Eric.
Eric pun menenggak air tersebut hingga habis.
"Hufft ... Siapa kamu beraninya berbicara kasar dengan saya?" ucap Eric sambil meremas botol air mineral tersebut dan melemparnya ke tempat sampah.
"Eh! maaf tuan saya keceplosan" ucap wanita tersebut sambil menjauhkan diri dari Eric. "Duh nih mulut kebiasaan banget sih" gerutunya.
"Kamu sudah boleh pergi!" kata Eric dengan dingin.
"Tidak bisa" ucap wanita tersebut dengan cepat.
"Apanya yang tidak bisa?"
"Saya masih punya tugas untuk mengganti perban tuan" jelasnya.
"Aku bisa sendiri"
"Saya juga harus menyuntikkan obat di—"
''Tinggalkan saja obatnya, saya bisa sendiri" kata Eric memotong kalimat wanita tersebut.
"Tidak, Susan akan memarahi ku nanti. Lagi pula luka anda sepertinya harus segera di tangani" lanjutnya sambil melirik ke arah kaos hitam Eric yang terlihat basah.
"Tidak perlu, pergi—"
"Tidak akan" kata wanita dengan cepat.
"Baiklah, terserah kamu saja" ucap Eric sambil memutar bola matanya.
"Apa ... Anda akan berbaring di sini" ucap wanita tersebut sambil melihat ke arah sofa tempat mereka duduk sekarang. "Kurasa ini tidak nyaman"
"Ck, baiklah. Kita ke kamar ku saja" kata Eric lalu bangkit dari duduknya.
Belum sempat dia melangkahkan kakinya tiba-tiba rasa pusing kini menyengat di kepalanya.
"Ah hati-hati tuan" kata wanita tersebut sambil memegangi tubuh Eric.
"Aku bisa sendiri, lepaskan!"
Tanpa menjawab wanita tersebut malah menarik tangan Eric dan melingkarkan di bahunya.
"Kamu ...."
"Maafkan saya tuan kalau saya kurang ajar, tapi saya juga sedang sibuk. Kalau melihat tuan yang seperti ini, bisa-bisa membuang-buang waktu saya yang berharga" jelas wanita tersebut.
Eric hanya mendecih saja dan mulai berjalan ke arah kamarnya di bantu wanita tersebut. Sesampainya di dalam kamar Eric melepaskan tangannya dan mulai melepas kaos hitamnya.
Gleek
.
.
.
"Wah ... Pria ini selain tampan juga atletis sekali" batinnya ketika melihat Eric telanjang dada yang kini membelakanginya.
"Cepat lakukan tugasmu dan segera pergi dari sini" kata Eric sambil berbaring di atas ranjang.
"Hem, baiklah"
Wanita tersebut langsung mengambil peralatannya yang ada di kotak yang dia bawa tadi. Eric mulai memejamkan matanya dan meletakkan tangannya di samping tubuhnya.
"Wah... sangat tampan" batin wanita tersebut sambil memandangi wajah Eric yang tengah menutup matanya.
Dengan lembut dia mulai membuka perban yang ada di perut Eric dan membersihkannya.
"Apa kamu bisa di percaya?" tanya Eric yang masih terpejam.
"Apa maksud anda tuan?"
"Pffft ... Saya ini dokter, mana mungkin saya tidak bisa dengan hal sekecil ini" jelas wanita tersebut yang masih sibuk mengobati Eric.
"Bagaimana bisa kamu kenal Susan?"
"Susan itu sahabat saya sejak masih SMA, tuan tenang saja saya bisa di percaya kok" lanjut wanita tersebut sambil mengambil perban di kotaknya.
"Siapa namamu?" tanya Eric dengan dingin.
"Serlyn, anda bisa memanggil saya Serlyn"
Eric hanya diam saja dengan masih dengan mata terpejam. Beberapa saat kemudian Serlyn pun selesai dengan pekerjaannya.
"Sudah tuan" ucap Serlyn lalu menegakkan badannya.
Eric pun membuka matanya dan duduk dengan perlahan.
"Obatnya ini harus—"
"Aku sudah tau, Susan sudah memberitahu ku" kata Eric memotong kalimat Serlyn.
"Hem, Baiklah"
"Ck, dasar pria dingin" batin Serlyn.
Serlyn pun memasukkan kembali peralatannya ke dalam kotak yang ia bawa tadi.
"Ah, tuan ... Bolehkah saya pinjam kamar mandi sebentar" ucap Serlyn sambil mengangkat kedua telapak tangannya.
"Hem, pergilah" kata Eric dengan dingin.
Serlyn pun bergegas menuju kamar mandi milik Eric yang ada disana. Sedangkan Eric kini berjalan menuju lemari pakaiannya dan mengambil sepotong kemeja warna hitam di dalam sana.
"Aku tidak ingin Kyra tau tentang hal ini, nanti dia bisa khawatir" gerutu Eric sambil berdiri di depan cermin besar di sana.
Eric pun mulai memakai kemejanya dengan cepat dan menggulung lengannya sampai ke siku.
Serlyn pun keluar dari kamar mandi dan kini mendapati Eric yang sedang berdiri di depan cermin. Sesaat dia menatap punggung Eric sebentar, dia sangat kagum dan juga terpesona oleh ketampanan Eric, apalagi sekarang tengah memakai kemeja hitam baginya itu sangat menawan dan cocok sekali dengan Eric.
"Bukannya sudah selesai? kenapa masih di situ? cepat pergi sana" ucap Eric tanpa memandang ke arah Serlyn.
"Ck, iya iya saya pergi" kata Serlyn lalu berjalan mengambil tas dan juga kotaknya yang berada di nakas Eric. "Sombong banget sih, bilang makasih atau apa gitu. Dasar" gerutu Serlyn. "Baiklah kalau begitu saya permisi tuan"
"Hem" balas Eric dengan dingin.
"Tuh kan, dasar gunung es" gumam Serlyn sambil berjalan melangkah keluar dari kamar Eric.
Serlyn pun terus berjalan menuju pintu utama hendak pergi dari apartemen Eric, namun sebelum dia keluar, dia melihat noda darah bekas Eric tadi yang ada di lantai.
Dia ingin pura-pura tidak melihatnya namun instingnya ingin membantu membersihkan noda darah tersebut. Serlyn pun mengeluarkan tisu dari tasnya dan mulai membersihkan noda tersebut.
"Apa dia tidak punya pembantu?" gumam Serlyn.
Beberapa saat kemudian Eric pun keluar dari kamarnya dan kini tengah melihat Serlyn yang hampir selesai membersihkan lantai.
"Sedang apa kamu?'' tanya Eric yang kini berdiri di samping Serlyn. "Bukankah saya sudah menyuruhmu pergi"
"Ah, maaf tuan saya sudah lancang sekali" ucap Serlyn lalu berdiri dari tempatnya. "Apakah saya bisa pinjam kamar mandinya sekali lagi" Sambil menunjukkan tangannya yang kotor.
"Aish kamu ini, sana" kata Eric sambil mengarahkan dagunya ke arah kamarnya.
"Terimakasih" ucap Serlyn sambil menyunggingkan senyuman manis.
Eric memandangi punggung Serlyn yang kini tengah berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Ck, kenapa sifatnya sama seperti Susan? berbuat seenaknya saja" gerutu Eric.
Eric berjalan ke arah dapur dan mengambil air minum, setelah selesai menenggak satu gelas air dia pun berjalan kembali hendak menuju ke ruang kerjanya.
"Kyra?"
Eric pun kaget yang kini melihat Kyra baru masuk ke apartemen mereka.
"Kenapa kamu sudah pulang?" lanjut Eric dan menghampiri Kyra.
"Oh, itu tadi dosenku sedang ada—"
"Saya sudah selesai, terimakasih" kata Serlyn yang baru saja keluar dari kamar Eric lalu menghampirinya. "Eh?" gumamnya yang kini melihat Kyra berdiri di hadapan Eric.
"Kak, dia siapa?"