
Eric dan Farhan berjalan mengendap-endap melewati samping gudang tersebut. Mereka masuk lewat pintu samping, namun di dalam hanya ada ruangan kosong.
"Kita berpencar Ric, kamu ke arah sana aku ke sini" kata Farhan.
"Tidak, lebih baik kita bersama-sama"
"Kamu gila, mana cepat ketemu Kyra nya" ucap Eric sedikit kesal.
"Kamu tidak tau seberapa bahayanya dia Farhan, kalau kita berpencar aku takut kamu juga tidak akan bisa lari darinya" jelas Eric.
"Halah, bilang aja kamu yang takut" kata Farhan mengejek.
"Terserah kamu sajalah"
"Hem, baiklah aku akan pergi ke sana. Jika kamu menemukan Kyra, cepat beri tahu aku"
"Ya, hati-hatilah Farhan"
Mereka berdua pun berpencar untuk mencari Kyra. setelah beberapa menit mereka mencari, Eric pun menemukan Kyra di sebuah ruangan kecil yang gelap dengan tubuh terikat di kursi.
"Kyra" ucap Eric sambil mengahampiri Kyra.
Kyra yang baru saja tersadar dari pingsannya, ia pun terkejut melihat Eric yang datang menghampirinya. Matanya membulat ketika memandang Eric yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Mhhh mhhh" gumam Kyra yang mulutnya tertutup lakban.
"Kyra tenanglah, aku ada di sini. Aku akan membawamu pergi dari sini" kata Eric yang bersimpuh hendak membuka ikatan tangan Kyra.
Tanpa Eric sadari, ada seseorang yang sudah berdiri di belakangnya.
"Mhhh mhhh" gumam Kyra berusaha memperingatkan Eric.
"Apa?"
Buaghhh
Satu pukulan benda keras mendarat di kepala Eric dan membuatnya tak sadarkan diri seketika.
"Kamu masuk ke dalam perangkap ku tikus kecil" ucap seseorang tersebut yang tak lain adalah Brian, pembunuh keluarga Eric.
"Mhhh mhhh" gumam Kyra yang kini sudah menangis.
"Diam lah gadis cantik, aku tidak akan segera membunuhnya. Justru aku akan sangat menikmati menyiksa dia" kata Brian.
Brian pun menyeret Eric dan mengikatnya di kursi.
"Tidak ... Jangan ... kakak ... jangan sakiti dia ..."
''Mhhh ..." gumam Kyra dengan air mata yang membasahi pipinya.
Kyra meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun apa daya. Ikatan di tangannya terlalu kuat.
Rasa cemas, takut, dan tak berdaya kini yang di rasakan oleh Kyra.
"Seseorang tolong selamatkan kami, kakak ..." batin Kyra sambil menangis memandangi Eric yang pingsan.
Setelah selesai mengikat Eric, Brian pun berjalan ke arah meja yang di atasnya ada beberapa benda-benda tajam. Ia mengambil sebilah pisau dan menghampiri Kyra.
Dengan seringainya, dia berjalan semakin mendekat.
"Apa yang akan dia lakukan?" batin Kyra yang melihat Brian sudah berdiri di hadapannya.
"Gadis kecil, ayo bermain-main sebentar. Hehe, jangan takut. Aku tidak akan kasar" ucapnya dengan tatapan dan senyuman yang menakutkan.
"Tidak, jangan ... Seseorang ... tolong aku ... kakak"
Setelah setengah jam berlalu, Eric pun tersadar dari pingsannya dan mendapati dirinya tengah duduk di kursi dengan tangan terikat.
"Ugh ..." gumam Eric sambil menggelengkan kepalanya.
"Oh? ternyata kamu sadar lebih cepat" kata Brian yang kini tengah berdiri di samping Eric. "Bukankah aku baik sekali? Aku membiarkanmu tidur agak lama"
"Dimana Kyra?" gerutu Eric sambil mengedarkan pandangannya.
Betapa terkejutnya Eric ketika melihat Kyra tergeletak di lantai.
"Hahahaha, tidak ada. Aku hanya bermain-main sebentar dengannya. Tapi lihatlah" ucap Brian lalu menghampiri Kyra. "Baru juga sebentar, dia sudah tak berdaya. Lemah sekali"
Buagh
Satu tendangan Brian mengenai perut Kyra.
"TIDAKK" teriak Eric dengan mata yang membulat.
"Ugh" Kyra pun menahan sakit dengan tubuh yang terlentang di atas lantai yang kotor. "Kakak ..." ucap Kyra dengan wajah sendunya.
"Kyra, Kyra ... kamu tidak apa-apa?" ucap Eric panik sambil berusaha melepaskan diri.
"Kakak ... sakit .... sakit sekali" gumam Kyra dengan air mata yang mengalir ke pipinya.
Eric yang melihat Kyra terkulai tak berdaya, hatinya seakan remuk berkeping-keping. Entah apa yang sudah di lakukan Brian kepada Kyra saat ia pingsan tadi. Mata Eric memandangi seluruh tubuh Kyra, cahaya yang minim di ruangan itu tak bisa menutupi luka yang ada di tibuh Kyra.
Mata Eric membulat tak percaya. hampir seluruh tubuh Kyra terdapat luka memar dan beberapa goresan benda tajam.
"K-kyra, bertahanlah. Aku akan segera menyelamatkan mu" gumam Eric.
Kyra yang sudah tak kuat menahan sakit, ia hanya bisa terdiam dan menatap Eric sendu.
"Kakak ... Tolong ... Tolong selamatkan ... anak ... kita" ucap Kyra lalu diapun kehilangan kesadarannya.
Deg
.
.
.
"Anak kita?"
"K-kyra, bertahanlah" ucap Eric.
"Anak kita? Kyra ... aku mohon bertahanlah sebentar lagi ... Sebentar lagi Farhan pasti akan menemukan kita. Aku masih berhutang maaf kepada mu. Kyra, aku mohon bertahanlah sebentar lagi"
"Hahahaha" kelakar Brian. "Bagaimana rasanya melihat orang yang kau sayangi sekarat di depanmu? Ini belum seberapa tikus kecil. Setelah itu aku akan membunuh satu persatu orang yang kamu sayangi"
"Dasar brengsek. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jika kau dendam kepadaku maka hadapi aku jangan kau sakiti Kyra" ucap Eric.
"Heh? Apa yang aku inginkan?" Brian pun menghampiri Eric dan berdiri di hadapannya. "Yang aku inginkan adalah menyiksamu"
Eric semakin di buat jengah dan kesal oleh pria paruh baya tersebut. Eric pikir semakin lama semakin dia membual. Orang yang berada di hadapannya tersebut tampak seperti seorang psikopat yang tak akan berhenti mengejarnya.
"Apa kamu tau? Kenapa aku membunuh seluruh keluargamu?" bisik Brian di telinga Eric.
Eric tak menanggapi perkataannya, namun ia pun kini juga berpikir kenapa Brian melakukan itu kepada keluarganya.
"Apa kamu tau? Papamu adalah seorang pembunuh"
"Tidak mungkin, kamu hanya membual saja" kata Eric tak percaya.
"Sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku masih tidak bisa melupakan kejadian itu. Seluruh keluargaku, hidupku. Semuanya telah di renggut oleh bajingan Johan itu" kata Brian dengan kesal. "Anakku masih berumur tiga tahun dan istriku ... istriku telah mengandung anak kedua kami. Tapi si brengsek Johan itu ... Dia telah membunuh mereka, dia telah menabrak mereka tanpa ampun seperti orang kesetanan. Apa kamu tau? betapa ketakutannya putriku saat itu? Dia menjerit ketakutan saat melihat mobil papamu yang melesat ke arah mereka. Semuanya hancur, hidupku, duniaku, dan juga keluarga ku. Tapi Johan? Dia hidup bahagia bersama keluarganya. Dia lepas dari hukum dan tanggung jawabnya. Dia bahkan tidak pernah muncul di hadapan ku dan meminta maaf kepadaku karena telah membunuh mereka. Dia bahkan tidak pernah merasa bersalah sedikitpun. Dia lari dari kenyataan dan tanggung jawab. Dia menjalani kehidupannya dengan baik, sedang aku? Aku harus menerima kenyataan dimana aku harus kehilangan seluruh keluargaku"
Penuturan Brian membuat Eric tercengang, dia merasa tidak percaya namun dari nada bicara Brian disana terselip rasa marah dan juga sedih yang sekian lama di pendam.
Brian pun berjalan dan berdiri di belakang kursi Eric.
"Itulah kenapa, aku harus membunuhnya. Aku benci melihatnya hidup bahagia, aku benci melihatnya baik-baik saja. Karena itu dia juga harus merasakan kehilangan orang yang dia sayangi, kehilangan seluruh keluarganya. tapi tak ku sangka dia telah menyembunyikan anak laki-lakinya sebelum dia tewas" ucap Brian di akhiri dengan seringainya. "Karena dia telah mati, makan kamu yang akan menggantikan papamu itu. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan" kata Brian Menghampiri Kyra.
"Apa yang akan kamu lakukan? Siksa saja aku tapi jangan menyentuhnya" ucap Eric.
Brian pun berjongkok di depan Kyra dan mengusap kepalanya.
"Aku tau, dia bukan adik kandungmu. Tapi aku lihat kamu begitu menyayanginya. oh ya? kalau aku tidak salah dengar, bukankah dia tadi bilang selamatkan anak kita? Woah, jadi kamu akan menjadi seorang ayah ya? ... Mari kita lihat, jika dia mati. Apakah kamu akan merasa sedih" kata Brian sambil mengambil pisau dari sakunya.
"Apa yang kamu lakukan? Jauhi dia" teriak Eric.
Namun Brian tak mengidahkannya dan mengangkat pisau ke arah Kyra.
"TIDAKK"