What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 93



"Apa ini yah?'' kata Eric sambil menerima map dari tangan Pak Daniel.


"Kamu lihat saja sendiri" ucap pak Daniel.


Eric pun membuka map tersebut dan terlihat beberapa lembar kertas di sana. Satu persatu Eric membaca kertas tersebut. Matanya terbelalak tak kala membaca tulisan yang ada di beberapa lembar kertas tersebut.


"Ayah, ini ..."


"Ya Eric ... 35 persen saham yang kamu selidiki adalah milik papamu ... Aku tidak tau, sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia tiba-tiba menjual beberapa saham perusahaanya dan membeli saham di perusahaan ayah. Ayah tidak tau apa yang terjadi dengan papamu. Sampai sekarang pun ayah tidak berani menggali masalahnya kenapa dia bisa di incar oleh orang berdarah dingin seperti itu"


"Itu karena papa membunuh seseorang" ucap Eric sambil menundukkan kepalanya.


"Apa? Mana mungkin papamu membunuh orang? Aku kenal dengan baik seperti apa papamu. Dia tidak mungkin membunuh orang tanpa sengaja" kata Pak Daniel tak percaya.


"Papa memang membunuh orang ayah. Dia mungkin tidak sengaja menabrak seseorang dan membuat salah satu keluarganya menyimpan rasa dendam" jelas Eric.


"Pasti pria itu yang mengatakannya kepadamu. Lalu bagaimana kamu akan mengatasi pria itu? Apa kamu akan membalas dendam kedua orang tuamu? tanya Pak Daniel penasaran.


"Kita lihat saja nanti ayah" ucap Eric sambil meletakkan map tadi ke atas meja. "Lalu apa yang terjadi malam itu setelah dia mengejar mobil papa? Bagaimana keadaan papa saat itu? Apakah benar bapak sudah meninggal?"


"Tentu saja, setelah aku membawamu pergi ke rumah sakit, tak berselang lama aku mendapat kabar bahwa mobil yang ditumpangi papamu malam itu menabrak pembatas jalan dan rusak parah. Tentu saja papa mu juga meninggal seketika di sana" jelas Pak Daniel sambil menundukkan kepalanya merasa bersedih atas kepergian sahabatnya tersebut.


"Aku akan menyelidikinya pelan-pelan, tapi untuk pria itu sementara ini aku akan menahan nya"


"Terserah kamu saja Eric. Dan untuk ini" kata Pak Daniel sambil menunjuk map yang berada di atas meja. "Ini adalah milikmu, saham milik papamu. Kamu yang berhak memilikinya karena kamu adalah satu-satunya keluarga yang masih hidup. Ayah sengaja menyembunyikan identitas pemilik saham ini karena tidak mau Pak Freddy mengetahuinya. Dia pasti akan membuat masalah untuk dengan hal ini. Dulu ayah ingin memberikan ini kepadamu untuk melawan Pak Freddy, tapi sepertinya kamu bisa mengatasi badjingan itu dengan caramu sendiri"


"Hufft, sekarang pak Freddy sudah tidak ada di sini. Aku tidak butuh ini ayah"


"Bagaimana kamu bisa bilang seperti itu? Tentu saja saham sangat penting bagimu. Dengan saham milikmu ini dan juga dengan saham ayah. Maka kamu adalah pemegang saham tertinggi di perusahaan kita"


Eric pun terdiam dan mencerna kata-kata ayahnya tersebut.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Ric?" ucap Bu Sofia melihat wajah Eric yabg seperti dilanda dilema.


"Saham kalian adalah hak milik Kyra, bagaimana aku pantas memilikinya?"


"Apa kamu juga bukan anak kami?"


"Tentu saja ayah, tapi Kyra lebih pantas untuk ini"


"Saat kamu hadir di dalam keluarga kami. Waktu itu ibu sedang mengandung Kyra. Saat kamu datang, kamu langsung memanggilku ibu. Ibu sangat terharu sampai tidak bisa berkata-kata. Saat itu ibu sudah menganggap mu sebagai anak kami sendiri Ric. Ibu sangat bahagia karena kamu hadir di keluarga kami. Jadi, apa masih kamu pertanyaan apa kamu pantas atau tidak?"


"Kyra memilih untuk menjadi dokter. Dan kamu lebih pantas mengelola ini karena kamu adalah calon suaminya kelak, dan juga putra kami satu-satunya. Kamu mengerti?''


"Ayah ..."


Eric merasa tersentuh dengan kalimat yang diucapkan oleh Pak Daniel, dia merasa benar-benar telah dianggap seperti putra kandung mereka sendiri. Dan juga mereka menaruh kepercayaan yang besar kepadanya. Ia berpikir seumur hidup Eric akan membalas Budi kepada mereka berdua yang juga sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri selama ini.


"Baiklah Ayah aku tidak akan mengecewakan kalian" kata Eric memantapkan hatinya.


Setelah pembicaraan mereka selesai tanpa sadar langkah kaki Eric menuju ke kamar Kyra. Dan Kyra terlihat tengah tertidur pulas di atas ranjangnya.


"Setelah kita menikah, aku berjanji. Aku akan melindungimu dan juga anak kita. Aku juga akan memastikan bahwa ayah dan ibu akan menikmati masa tua mereka dengan bahagia. Kyra ... Selama kamu di sisiku, aku tidak takut akan dunia ini. Setelah aku mengingat semuanya. Aku takut aku akan sendirian di dunia ini. Tapi sekarang aku tidak takut lagi. Ada kamu, anak kita, dan juga ayah dan ibu. Aku harap kedepannya, hanya akan ada kebahagiaan yang menghampiri kita" gumam Eric lalu mencium kening Kyra.


"Eummh" Kyra pun menggeliatkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Eric.


"Apakah aku membangunkan mu?" lanjut Eric sambil mengelus rambut Kyra.


"Hem ... Ada apa? Apa kakak sedang sedih?" kata Kyra yang masih memejamkan matanya dan menyerukan wajahnya di pinggang Eric.


"Tidak, aku malah sangat bahagia"


"Baguslah, meskipun kakak mengingat masa lalu dan kehilangan kedua orang tua kakak. Tapi aku yakin, ayah dan ibu sangat menyayangi kakak. Jadi kakak tidak perlu merasa sedih karena di tinggal kedua orang tua kakak"


Eric tersenyum sambil menyingkirkan anak rambut Kyra. "Tentu saja, aku bahkan sangat bahagia karena telah bertemu dengan kalian"


Kyra pun mendongakkan kepalanya dan menaruhnya di atas paha Eric.


"Ayah dan ibu sangat menyayangi kakak dari pada aku tau"


"Benarkah?"


"Hemm" gumam Kyra sambil menganggukkan kepalanya. "Apa kakak tidak ingat? Saat aku berusia 6 tahun, kakak waktu itu sudah sangat besar bagiku. Kakak pulang sekolah dan merebut es krim ku. Aku menangis dan meminta es krim ku kembali. Tapi apa kakak ingat apa yang di katakan ayah? 'Kyra kakakmu kepanasan habis sekolah, berikan saja es krimnya' aku menangis tapi kakak malah mengejekku. Ibu bahkan lebih membela kakak dari pada aku" dengus Kyra.


"Benarkah?"


"Hem, apa kakak tidak ingat?"


"Hahaha, tentu saja aku ingat. Kamu bahkan menangis sampai keluar ingus. Apa kamu kesal?"


"Tentu saja, saat itu aku sangat kesal sampai-sampai ingin mengigit kakak sampai berdarah" kata Kyra dengan memasang wajah kesal.


"Baiklah, sekarang gigit aku sampai kamu merasa puas"


"Benarkah?"


"Hem" gumam Eric sambil menganggukkan kepalanya.


Kyra lalu menarik kepala Eric agar menunduk ke wajahnya. Tanpa bertanya Kyra segera menautkan bibir mungilnya ke bibir Eric. Eric pun terkejut, sebab jarang sekali Kyra mengambil inisiatif sendiri.


Setelah beberapa saat mereka berciuman, Kyra pun menggigit kecil bibir Eric.


"Sudah, aku sudah mengigit kakak" kata Kyra sambil tersenyum manis.


"Kenapa kamu masih saja tidak tau cara mengigit yang benar. Biar kau ajari sekali lagi" ucap Eric lalu menautkan kembali bibirnya.


Kyra pun melingkarkan kedua lengannya di bahu Eric. Bak seperti singa kehausan, Eric mencium Kyra tanpa memberinya sela untuk bernafas. Dia semakin gencar mengigit bahkan me*umat bibir Kyra.


Beberapa saat kemudian Eric pun melepaskan ciumannya.


"Aku mencintaimu Kyra"