
Matahari sudah mulai naik menandakan waktu sudah mulai siang. Namun Kyra masih terlelap di dalam pelukan Eric.
"Apa kamu benar baik-baik saja? Gak biasanya kamu tidur di jam seperti ini?" gumam Eric sambil mengelus rambut Kyra. "Akan lebih baik jika selalu seperti ini denganmu. Maaf Kyra"
"Maaf, aku terpaksa menikah dengannya. Dia sudah hamil anakku, dan aku tidak bisa begitu saja lari dari tanggungjawab. Aku bukan laki-laki yang seperti itu. Andai saja di malam itu benar-benar kamu orangnya, Aku pasti sangat bahagia. Impian untuk menikah dengan mu kini sudah hancur sekarang, biarkan aku hidup sebagai kakakmu untuk selamanya. Agar aku bisa dekat dengan mu seperti ini"
Eric pun mencium kening Kyra dan memeluknya dengan erat.
"Emmmhh" gumam Kyra. "Kak ..."
"Hem, ada apa? Sudah bangun?"
"Kak, kamu memelukku atau mau membunuhku. Aku kehabisan nafas tau" ucap Kyra.
"Ah? Maaf"
Eric pun melepaskan pelukannya.
"Eh? kakak nangis ya" kata Kyra yang kini memandang wajah Eric.
"E-enggak"
"Mata kakak merah kayak habis nangis"
"Itu karena aku baru bangun tidur, Apa kamu sudah merasa baikan?" tanya Eric.
Kyra pun menggelengkan kepalanya. "Entahlah, rasanya badanku lemas sekali. Jadi nyesel kemarin minum-minum"
"Aish, salah sendiri bandel, gak mau dengerin kakak" kata Eric sambil mencubit hidung Kyra.
"Ish, sakit tau"
"Habisnya kamu gemesin banget sih. Oh ya, mau makan apa? Biar aku masakin"
"Gak mau, aku gak mau makan" ucap Kyra dengan manja.
"Hey, kamu tadi gak sarapan dan sekarang sudah siang. Kalau gak makan mana bisa cepet sembuh"
"Emm ... entahlah, membayangkan makanan membuatku ingin muntah" kata Kyra sambil bergidik.
"Lah terus, mau makan apa?"
"Rujak buah"
"Gak, gak boleh. Rujak buah gak baik buat perut kosong" kata Eric sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
Kyra pun mengikuti Eric mengubah posisinya menjadi duduk.
"Gak mau, aku maunya rujak buah" rengek Kyra.
"Kyra ..." ucap Eric dengan lembut sambil mengusap pipi Kyra. "Boleh makan rujak buah, tapi harus sarapan dulu ya?"
"Gak mau" kata Kyra dengan mata berkaca-kaca. "Aku maunya rujak buah sekarang" Tanpa sadar air mata Kyra pun jatuh membasahinya pipinya. "Hiks hiks hiks"
Eric pun kebingungan melihat Kyra yang tiba-tiba menangis.
"Eh? Lah, kok nangis sih? Iya iya, nanti akan aku belikan rujak buah"
"Beneran?"
"Iya" kata Eric sambil mengusap air mata Kyra.
Kyra pun menyunggingkan senyuman lebar.
"Kalau begitu, ayo pergi sekarang" kata Kyra.
"Hais baiklah, cepat ganti bajumu sana"
"Baik boss" kata Kyra dan turun dari ranjang dengan semangat.
"Aish, kenapa kamu aneh sekali. Karena rujak buah saja sampai menangis. Apa segitu pengennya makan rujak?" gerutu Eric.
Eric pun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Beberapa saat kemudian, Kyra dan Eric pun keluar dari apartemen menuju ke basement.
Sebelum mereka masuk ke dalam mobil, terlihat seorang perempuan tengah mengahampiri mereka.
"Eric" sapa Serlyn.
Kyra dan Eric pun menoleh ke sumber suara.
"Serlyn?" gumam Eric.
Serlyn pun berjalan mendekati Eric.
"Eric, aku tadi mencarimu ke kantor tapi kamu tidak ada. Ternyata kamu masih di apartemen" kata Serlyn sambil memeluk lengan Eric.
Kyra yang melihat tingkah Serlyn merasa sangat tidak suka.
"Eric, sebentar lagi kita akan menikah. Aku mencarimu untuk fitting baju pengantin" ucap Serlyn setengah melirik ke arah Kyra.
Eric pun melihat ke arah Kyra yang kini sedang menatapnya dengan tajam.
"Kakak, kamu sudah berjanji akan menemaniku" Isyarat tatapan Kyra.
"Serlyn, itu bisa di bicarakan lain kali Hari ini aku tidak ingin di ganggu. Pergilah" ucap Eric dengan dingin.
"Tapi ..."
"Ayo Kyra" Eric pun menyuruh Kyra masuk ke dalam mobil.
"Ric" kata Serlyn sambil menarik tangan Eric.
"Sudah ku bilang hari ini aku tidak ingin di ganggu" Eric pun menepis tangan Serlyn dan masuk ke dalam mobil.
"Hey, kalian mau kemana?" teriak Serlyn sambil mengetuk kaca mobil Eric.
Namun Eric dan Kyra tidak menghiraukannya. Dan Eric pun melajukan mobilnya.
"Ahhh, sial. Bukankah tadi malam dia sedang marah dengan Eric? Kenapa sekarang malah seperti tidak terjadi apa-apa?" gerutu Serlyn dengan kesal.
Serlyn pun melangkahkan kakinya menuju ke mobil dengan kesal.
Ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Setelah sampai di rumah, Serlyn pun membanting tubuhnya di sofa dengan kesal.
"Ada apa kak? Kenapa kamu terlihat kesal?" kata Zian yang baru saja keluar dari dapur.
"Ini semua gara-gara kamu" ucap Serlyn dengan kesal.
"Aku? Apa salahku?" Zian pun kini duduk di sebelah Serlyn.
"Kalau tadi malam kamu berhasil memanas-manasi Kyra, hari ini mereka tidak mungkin akur lagi" dengus Serlyn.
"Apa maksudmu?"
"Ya, mereka hari ini sedang bersama, dan terlihat baik-baik saja. Bahkan Kyra tidak marah kepada Eric" ucap Serlyn dengan kesal.
"Itu wajar sekali kak, mereka adalah saudara. Jika setelah bertengkar terus baikan bukan kah itu hal yang biasa. Lagipula, kakak sudah bisa membuat Eric mau menikah denganmu. Apa yang perlu kamu khawatirkan tentang Kyra, dia kan adiknya. Meskipun pernah berhubungan, bagaimana pun juga dia tetaplah adiknya. Dia tidak akan membahayakan hubungan kalian kan" kata Zian sambil menyenderkan punggungnya.
"Enak sekali bicara mu. Aku harus menjauhkan Eric dari Kyra sebelum pernikahan ku di laksanakan"
"Memangnya kenapa?"
"Karena Kyra bukan adiknya Eric" ucap Serlyn dengan penuh penekanan.
"APA?" teriak Zian. "Bukan adiknya, maksudmu apa?"
"Hufft ... Eric bukan kakak kandung Kyra. Itu sebabnya aku harus memisahkan mereka berdua. Aku tidak mau, rasa cinta Eric menjadi penghalang pernikahan ku dengannya" jelas Serlyn.
"Sebentar sebentar ... Aku tidak mengerti maksudmu? Bagaimana bisa dia bukan kakaknya?"
"Aku tidak tau, yang jelas sekarang Eric sangat mencintai Kyra. Dan itu membuatku kesal"
"Bagaimana kamu bisa tau kalau Eric bukan kakak kandung Kyra?" kata Zian penasaran.
"Waktu Eric mabuk, dia tidak sengaja menceritakan semuanya. Dan dia bahkan menciumku karena menganggap diriku adalah Kyra" jelas Serlyn.
"Astaga" gumam Zian tak menyangka.
"Maka dari itu, kamu harus secepatnya mendekati Kyra apapun caranya. Aku tidak mau, Eric tiba-tiba berubah pikiran dan akan membatalkan pernikahannya. Apa lagi sampai dia tau kalau aku berbohong tentang malam itu"
"Tapi, jika Kyra menceritakan kejadian itu bagaimana?"
"Tidak mungkin, Kyra tidak akan melakukannya"
"Lalu kalau dia tau kamu pura-pura hamil bagaimana?" kata Zian.
"Aku tidak pura-pura. Aku memang hamil"
"Dan bukan anak Eric kan?" tanya Zian tak menyangka.
"Hem, jadi sebelum aku berhasil menikah dengannya. Aku tidak mau Kyra merusak rencanaku" kata Serlyn.
"Kakak tenang saja, aku masih ada cara lain kali ini" kata Zian penuh percaya diri.
"Apa?"
"Ini" Zian pun memperlihatkan beberapa foto di ponselnya.
Serlyn pun menyeringai melihat foto tersebut.