
Eric yang merasa ada yang aneh dengan diri Kyra, ia pun segera menggendong tubuh Kyra dan membawanya ke kamar pribadi miliknya, ia tak ingin jika nanti tiba-tiba ada seseorang yang datang dan melihat kelakuan Kyra saat ini.
Sepanjang jalan menuju ke kamar, Kyra bahkan tidak berhenti mencium Eric yang tengah menggendong tubuhnya.
Setelah sampai di dalam, Eric pun mengunci pintunya, dan menghempaskan tubuh Kyra ke atas ranjang besar yang ada di sana.
"Kyra, ada apa denganmu?" ucap Eric.
Tanpa menjawab, seketika Kyra menarik tubuh Eric ke ranjang dan menindihnya.
Kyra yang sedari tadi sudah tak mampu menahan dirinya, kini kembali mencium bibir Eric dengan mesra. Eric yang tadinya hanya diam saja dan menerima apa yang di berikan Kyra, kini mulai terbawa suasana dan membalas ciuman Kyra.
"Mmhhh"
"Sssttt" desah Kyra di tengah ciuman panas mereka.
Bibir mereka pun saling terpaut, saling membalas ciuman yang di berikan, semakin lama semakin dalam, hingga tanpa sadar kini Kyra tengah menanggalkan dasi yang melingkar di leher Eric dan membuka satu persatu kancing kemejanya yang masih terbungkus jas warna biru tua.
Kini ciuman Kyra pun beralih ke leher Eric dan meninggalkan beberapa bercak merah di sana.
"Sssttt ... Kyra" desah Eric tak tertahan.
Kyra pun terus menelusuri tubuh Eric dengan bibirnya, dari leher, dada, hingga sampai di perut rata milik Eric.
Eric yang sudah semakin tak tahan dengan perlakuan Kyra, kini membalikkan tubuhnya. Ia pun melepaskan jas dan kemejanya lalu melemparnya ke sembarang arah.
Sejenak ia memandang wajah Kyra yang kini berada di bawah tubuhnya. Tanpa ba bi bu lagi ia pun menindih tubuh Kyra lalu kembali menciumi bibir Kyra dengan ganas sambil tangannya membuka kancing baju Kyra.
Namun beberapa saat kemudian Eric merasa tidak ada gerakan dari Kyra, ia pun menghentikan aksinya dan melihat wajah Kyra.
"Aish, tertidur ya?" gumam Eric sambil memandang wajah Kyra dan menyibakkan rambutnya.
Melihat Kyra yang tengah terlelap, membuat Eric tak tega ingin melanjutkannya. Ia pun berbaring di samping Kyra dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.
"Andai saja kamu tidak tertidur, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dasar kucing ganas"
Eric menarik tubuh Kyra ke pelukannya dan memandangi wajahnya sembari mengelus pipi Kyra, lalu beberapa saat kemudian ia pun terlelap bersamanya.
......................
Jam dinding mulai menunjukkan pukul 5 sore, namun Eric dan Kyra masih terlelap dalam tidurnya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara ponsel Eric berdering dari saku celananya yang membuat Kyra terbangun.
"Eummhh ..." gumam Kyra sembari mengerjapkan matanya.
Saat Kyra membuka matanya, pertama kali yang ia lihat adalah wajah Eric yang tengah terlelap dengan tubuh telanjang dan tangan yang melingkar di pinggang Kyra. Ia pun bingung dengan apa yang terjadi, kenapa ia berada di sana dan tidur di pelukan kakaknya? Kyra pun mencoba bangun namun ia merasakan sakit di kepalanya.
"Aww, kepalaku sakit sekali" gumam Kyra memegangi kepalanya dan membuat Eric terbangun.
"Heem, kamu sudah bangun?"
"Emm, kakak kita di mana? Bukanya aku tertidur di sofa ya?" ucap Kyra yang masih belum sadar tentang apa yang terjadi. "Eh, bajuku?" gumam Kyra yang sadar jika semua kancing bajunya terlepas dan menampakkan bra-nya yang berwarna hitam. "Kakak, apa yang sudah kamu lakukan ke padaku?" teriak Kyra sambil bangun dan membenarkan bajunya.
Eric yang baru saja terbangun terheran-heran melihat tingkah Kyra.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan?" tanya Eric lalu duduk di samping Kyra yang tangah merapikan bajunya.
"Kenapa kamu melakukan ini kepadaku?" ucap Kyra dengan menahan air matanya.
"Aku tidak melakukan apapun" jawab Eric santai. "Kyra, sebaiknya kamu ingat-ingat dulu apa yang terjadi denganmu sebelum kamu menyalahkan ku" kata Eric merasa tak bersalah.
Kyra pun mengingat-ingat kejadian setelah dia tertidur di sofa, samar-samar ia mengingat bahwa dia tertarik dengan kakaknya dan bahkan menciumnya dengan penuh gairah.
"Tidak mungkin" gumam Kyra yang tengah mengingat sesuatu.
"Apanya yang tidak mungkin?"
"Aku tadi hanya bermimpi, tapi sekarang ..."
"Apanya yang mimpi? Maksudmu ini juga mimpi?" kata Eric sambil menunjukan lehernya yang ada beberapa bekas merah akibat kelakuan Kyra.
"Hufftt ... Tidak mungkin"
Kyra pun tercengang menutup mulutnya dan tak percaya dengan apa yang terjadi, ia merasa bahwa tidak mungkin ia bersikap seperti itu kepada kakaknya.
"Kamu malu mengakui perbuatan mu ya, sampai-sampai kamu berpura-pura lupa?" ucap Eric yang kini tengah berada di atas tubuh Kyra.
"Kakak, itu pasti bukan aku" kata Kyra yang sekarang berada di bawah tubuh telanjang Eric.
"Lalu ulah siapa? Apa aku bisa mencium leherku sendiri?
"Ka—kalau itu perbuatan ku, pasti aku ingat, ya kan?" gumam Kyra dengan gugup karena ia memang sudah mengingat semuanya.
"Oh ... Jadi, kamu perlu di ingatkan ya ..." lanjut Eric lalu meraih tangan Kyra dan menuntunnya ke arah leher dan turun ke perut ratanya. "Apa kamu lupa? Bahkan kamu melakukannya dengan bibirmu" kata Eric masih mengarahkan jari-jari lembut Kyra untuk menyentuh tubuhnya.
Kyra hanya mampu menelan salivanya melihat tubuh kekar Eric yang kini berada di atas tubuhnya.
"Kakak, aku minta maaf. Aku tadi tidak sengaja" gumam Kyra lalu memalingkan wajahnya dari Eric karena merasa malu.
"Sudah ingat ya? Baguslah kalau begitu, mau di lanjutkan sekarang?" kata Eric menggodanya.
Kyra hanya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu menolak? Bukannya tadi kamu sendiri yang menggodaku?" ucap Eric di telinga Kyra lalu mencium lehernya.
"Hiks, hiks, kakak jangan"
Eric yang melihat Kyra tengah menangis, membuatnya tak tega untuk menggodanya lagi. Ia pun kini membaringkan tubuhnya di samping Kyra.
"Kenapa kamu menangis? Aku hanya menggoda mu saja tadi. Maaf, aku juga tidak mungkin melakukannya kepada mu" ucap Eric yang menarik tubuh Kyra ke dalam pelukannya.
"Hiks, hiks. Kakak, aku tidak tau apa yang terjadi. Aku tidak tau kenapa aku bisa seperti itu. Kakak pasti mengira aku adalah wanita yang ..."
"Sudahlah Kyra, aku tau kamu orang yang seperti apa, lain kali kamu harus berhati-hati dengan apa yang kamu makan ataupun minum yang di kasih orang lain" jelas Eric.
"Makan, dan minum?"
"Kenapa?"
Kyra pun menjelaskan kepada kakaknya tentang kejadian ketika ia terjatuh dan di tolong oleh Yeni sebelum sampai di ruangan Eric tadi. Ia curiga, mungkin karena air minum itulah dai menjadi lepas kendali.
"Heemm, syukurlah kamu sampai di ruangan ku sebelum terjadi sesuatu kepada mu di luar sana" kata Eric sambil memeluk Kyra lebih erat, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepada Kyra jika orang lain yang menemukannya lebih dulu.
"Memangnya kenapa?" ucap Kyra dengan polosnya.
"Kamu ini, kalau tadi yang membangunkan mu si Farhan atau laki-laki lain bagaimana? Mana mungkin mereka bisa menolak" gerutu Eric kesal sambil melepaskan pelukannya begitu saja.
"Memangnya kakak menolak? Kakak bahkan diam saja tidak menghentikan ku" gerutu Kyra terdengar Eric yang tengah beranjak dari tempat tidur.
"Bagaimana aku bisa menghentikan mu, kamu nya saja ganas seperti kucing kelaparan" gumam Eric sambil memakai kembali kemeja dan jasnya.
"Kakak, jangan di bahas lagi dong, aku malu" ucap Kyra lalu beranjak dari tempat tidur.
"Ppfft, hahaha. Baiklah aku tidak akan membahasnya lagi, tapi kamu harus bertanggung jawab"
"Tanggung jawab apa?"
"Nih, pasangkan kembali dasi yang sudah kamu lepas" ucap Eric sambil menyodorkan sebuah dasi kepada Kyra.
Kyra pun menerimanya dan memasangkan dasinya ke leher Eric. Sejenak ia memandang bekas ****** yang ia tinggalkan di leher Eric dan merabanya.
"Kenapa?" tanya Eric.
"Kak, apakah ini sakit?" tanya seorang gadis polos yang tak tau apa-apa itu.
Eric yang mendengarnya pun tertawa geli dalam hati, ia berfikir betapa polos dan bodohnya adiknya ini. Ia berniat untuk menggodanya sekali lagi.
"A—a—a, tentu saja itu sakit sekali. Aduh, leherku seperti terinfeksi" kata Eric sambil berpura-pura kesakitan.
Kyra pun mendekatkan wajahnya dan meniup leher Eric.
"Anak bodoh ini, kamu mau menggoda ku lagi ya?" batin Eric yang pikirannya sudah kemana-mana.
"Aish, sudahlah. Ayo kita pergi makan dulu, aku lapar sekali dari tadi siang belum makan" ucap Eric lalu menggandeng tangan Kyra pergi keluar dari ruangannya.
"Jika berlama-lama di sini, bisa-bisa aku akan memakan mu beneran"