
Di sisi lain, Serlyn yang baru saja selesai bekerja, kini sedang buru-buru pergi ke sebuah cafe.
Di sana dia sedang duduk menunggu Zian adiknya.
Tak lama, Zian pun datang dan menghampirinya.
"Ada apa kak, kenapa tiba-tiba mengajakku ketemuan di cafe?" kata Zian sambil duduk di kursi.
"Ada sesuatu yang mau kakak bicarain ke kamu"
"Oh cepetan ya, soalnya jam makan siang udah mau selesai nih" ucap Zian sambil melirik jam tangannya.
"Oh ya, bukankah kamu tadi bilang cuti? Kenapa kamu kuliah?" kata Serlyn.
Tak berapa lama, pelayanan pun datang sambil membawa minuman.
"Pesanannya kak" kata pelayan sambil menaruh dua gelas minuman di meja.
"Terimakasih" kata Serlyn.
Pelayanan itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Hem, tentu saja ingin ketemu Kyra. Sudah dua hari dia tidak masuk. Setelah makan malam itu, aku tidak melihatnya sama sekali" kata Zian.
"Tentu saja, dia sedang di rumah sakit" ucap Serlyn dengan santainya.
"Apa? Rumah sakit? Dia sakit apa?"
"Biasalah, ibu muda. Dia hamil, kakak gak sengaja mendengar pembicaraan Eric dengan dokter tadi" jelas Serlyn.
"Uhuk uhuk" Kebetulan Zian sedang minum dan tersedak karena mendengar ucapan Serlyn.
"Eh, kamu gak papa?"
"Uhuk uhuk" Zian hanya menggelengkan kepalanya. "H-hamil?"
"Hem, dia hamil. Dan usianya hampir dua minggu"
"Anaknya Eric" kata Zian penuh keyakinan.
"Bagaimana kamu bisa tau? Siapa tau itu anak laki-laki lain"
"Tidak mungkin, kakak sendiri bilang. Setelah dia keluar dari kamar Eric, ada bekas darah keperawanannya di atas ranjang. Dan dari sifat Kyra, dia buka seperti wanita ja*lang, dia wanita baik-baik" kata Zian.
"Baik-baik apanya. Kalau dia wanita baik-baik bagaimana bisa hamil di luar nikah" kata Serlyn mencibir.
"Itu kan karena Eric mabuk dan obat dari kakak. Kakak juga hamil di luar nikah, kakak juga bukan wanita baik-baik" ucap Zain ketus.
"Hey, aku ke sini bukan mengajakmu bertengkar. Dengar ya, sudah seperti ini. Kamu harus cepat-cepat menikahi dia"
"Apa?" ucap Zian tak percaya.
"Hem, dari melihat reaksi Eric. Sepertinya dia sudah melihat foto yang aku kirimkan. Dengan begitu, dia pasti mengira bahwa anak yang ada di dalam perut Kyra pastilah anakmu"
"Kakak benar-benar gila" gumam Zian. "Kak, aku memang mencintai Kyra, tapi aku gak bodoh seperti Eric yang mau menampung anak orang lain"
"Maksudmu?''
"Aku gak mau menikahi dia, kalau dia gak suci, aku gak permasalahkan. Tapi kalau dia hamil ... itu beda lagi ceritanya" kata Zian. "Dan satu lagi kak. Kali ini kamu benar-benar keterlaluan. Kyra pasti sedih karena Eric tidak mau mengakui anaknya. Lebih baik kakak ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak tega melihat Kyra sedih. Dengan begini bukankah kakak yang malah menghancurkan masa depannya?''
"Heh, sudah seperti ini mau aku mengaku? gak akan. Eric hanya boleh menjadi milikku. Aku tidak akan biarkan dia bersama siapapun"
"Tapi kak, bagaimana dengan Kyra? Sudah seperti ini apakah kakak tidak kasihan kepadanya?"
"Mau bagaimana lagi, kita sudah sampai di tahap seperti ini. Apa kita mau mundur" kata Serlyn.
"Ya, aku akan mundur. Aku tidak ingin menyakiti Kyra lebih dalam lagi" ucap Zian sedikit menyesal.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? apa kamu mau bilang ke Eric dan Kyra apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak akan membiarkanmu Zian" kata Serlyn marah.
"Aku tidak perduli, aku akan beritahu Kyra apa yang sebenarnya"
"Baiklah, beritahu saja dia. Dengan begitu kamu akan melihat kakak mu mati" ucap Serlyn tanpa ragu. "Jika aku tidak bisa mendapatkan Eric, lebih baik aku mati saja"
Zian pun terdiam mendengar ucapan kakaknya. Pikirannya kini tengah di selimuti rasa bersalah kepada Kyra, namun ia juga tidak ingin kakaknya sedih.
"Kak, jangan mengancam ku"
Zian pun mengepalkan tangannya menahan rasa frustasi di dalam pikirannya.
"Hufft, aku akan kembali ke kampus" ucap Zian dan beranjak dari tempat duduknya.
"Ingat ucapan ku Zian" kata Serlyn mengingatkan.
Zian pun pergi dari cafe tersebut dan berjalan menuju ke kampusnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menikahinya? Lalu bagaimana dengannya? Jika aku tidak menolak, maka dia akan tau jika aku menggunakan cara ini untuk mendapatkannya, karena kita sama-sama tau, tidak ada yang terjadi malam itu. Setelah itu, pasti dia akan membenciku seumur hidupnya" gumam Zian sambil terus berjalan.
"Argh, bagaimana ini? Jika aku tidak mengaku, bagaimana Kyra akan melanjutkan hidupnya? ... Ahh, Kakak kali ini kamu begitu keterlaluan. Kyra juga kenapa harus hamil sih, aarrgghh aku pusing sekali"
Tanpa Zian sadari ada seseorang yang menarik kerah bajunya dari belakang. Sebelum Zian melihat jelas orang tersebut, dia sudah melayangkan tinjunya ke wajah Zian dan membuatnya jatuh tersungkur.
"Dasar bajingan busuk" kata orang tersebut yang tak lain adalah Eric.
"Akkh" rintih Zian sambil memegangi dagunya.
Dengan cepat, Eric menarik kerah Zian dan membuatnya berdiri.
"Dasar brengsek, kamu harus membayar apa yang telah kamu perbuat. Berani-beraninya kamu menyentuh Kyra ku"
Dengan cepat, Eric melayangkan pukulan ke perut Zian. Setelah Zian membungkuk kesakitan, Eric pun melayangkan pukulannya lagi ke wajah Zian dan membuatnya tersungkur ke tanah.
"Uhuk uhuk, aku tidak menyentuhnya" kata Zian dengan kesakitan.
Eric yang sudah gelap mata, kini memukuli Zian dengan beringas.
"Akan ku buat kamu cacat hari ini" ucap Eric sambil terus memukuli wajah dan tubuh Zian.
"Akkh" teriak Zian sambil melindungi wajahnya dengan kedua tangannya. "Dia bukan anakku, dia bukan anakku. Aku tidak pernah menyentuhnya"
"Dasar brengsek, sudah melakukannya masih tidak mau mengakui"
Tanpa henti Eric menghajar Zian habis-habisan.
Di waktu yang sama, Serlyn dan Nuril mengahampiri mereka.
"Ric Ric. lepasin adikku" kata Serlyn melerai namun Eric tak mengidahkannya.
Di saat yang sama, Susan dan Jacob yang sedang lewat habis makan siang pun mengahampiri mereka.
"Ric, cukup" kata Jacob sambil menarik tangan Eric.
"Lepaskan, aku masih belum puas menghajarnya" kata Eric penuh amarah.
Zian yang terkulai lemas, kini sedang di bantu duduk oleh Serlyn dan Nuril.
"Sudah, Ric. Selesaikan urusanmu tapi jangan di pinggir jalan. Bagaimana pun juga, kamu adalah boss. Gak enak kalau di lihat orang" ucap Jacob.
"Heh" Eric pun menyunggingkan senyuman miringnya. "Baiklah, kalau kamu tidak mau mengakuinya. Besok anakmu akan lenyap dari muka bumi ini" kata Eric.
"A-Apa?" ucap Zian terkejut.
"Susan, siapkan alat aborsi besok di rumah merah" kata Eric.
"Untuk apa?" kata Susan kebingungan.
"Laksanakan perintahku" kata Eric menatap tajam Susan. "Aku akan membuatmu menyesal karena telah menyentuhnya" Eric pun memandang Zian datar dan pergi dari sana di ikuti Jacob dan Susan.
"Tidak tidak Ric. Jangan lakukan itu. Kau mohon. aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." kata Zian hendak mengejar Eric namun di tahan oleh Serlyn. "ERIC, DENGARKAN AKU. AKU BISA JELASKAN SEMUANYA" teriak Zian namun Eric sudah pergi menjauh.
"Diam Zian" bentak Serlyn.
"Kakak, tidak bisa aku harus menghentikan Eric" kata Zian mulai meneteskan air mata.
"Kamu bodoh, kamu mau membeberkan semuanya kepada Eric? jangan harap Zian. Aku tidak mau rencanaku gagal" kata Serlyn.
"Kak, Kyra akan sedih jika begini. Dia akan kehilangan anaknya" ucap Zian.
"Aku tidak peduli" ucap Serlyn acuh.
Nuril yang sedari tadi mendengar dan melihat semuanya kini tersenyum senang.
"Wuah, sepertinya sebentar lagi kamu akan menderita Kyra" batin Nuril.