
Jam dinding mulai menunjukkan pukul sembilan malam, Kyra yang kini berbaring di atas ranjang rumah sakit merasa tidak bisa tidur.
"Kenapa?" tanya Farhan yang kini tengah duduk di sofa.
"Nggak bisa tidur" ucap Kyra sambil memanyunkan bibirnya.
Gleek
.
.
.
"Imutnya ..."
"Kenapa? nggak nyaman sama kasurnya ya?" tanya Farhan sambil menghampiri Kyra.
"Enggak kok ... eh, kak Farhan udah baikan? kok nggak duduk di kursi roda aja sih?" ucap Kyra sambil mengubah posisinya menjadi duduk.
"Sudah kok, besok juga sudah boleh lepas nih infus" Sambil duduk di tepi ranjang.
"Yak! aku mau turun ah" Kyra hendak turun dari ranjang dan di hentikan oleh Farhan.
"Kenapa?''
"Ranjangnya bisa ambruk kalau kita berdua naik di sini"
"Ck, nggak mungkin lah" Sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. "Sini" ucap Farhan sambil menarik tangan Kyra dan menaruh kepala Kyra di pangkuannya.
"Apa sih kak?"
"Udah, diem aja ... Kenapa kamu nggak bisa tidur? aku lihat kamu tadi kelihatan sangat mengantuk" kata Farhan sambil mengusap-usap rambut Kyra.
"Nggak tau rasanya gelisah aja, pengen banget ketemu kak Eric, tapi ponselnya juga nggak bisa di hubungi" ucap Kyra sambil memanyunkan bibirnya kembali.
"Duh anak ini, itu bibir kenapa di monyong-monyongin terus sih? kan bawaannya pengen gigit tau nggak ... Hufft, sabar Farhan, sabar ... Ini ujian"
"Kak, kenapa ngelamun?"
"Eh, enggak kok" kata Farhan. "Tenang aja Kyra, kakakmu akan baik-baik saja" sambil kembali mengelus-elus rambut Kyra.
"Hem," gumam Kyra.
"Dah lah, cepet tidur gih ... Aku temenin di sini sampai kamu tertidur" ucap Farhan, lalu Kyra pun menatap ke arahnya. "Apa? tenang saja aku nggak akan macem-macem kok"
Kyra pun mengangguk dan mecoba memejamkan matanya, dia sangat percaya kepada Farhan seperti kepercayaan Eric kepada temannya itu.
Farhan tak berhenti untuk mengelus-elus rambut Kyra dan membuat Kyra semakin terbuai dalam kantuknya. Beberapa menit kemudian, Kyra pun tertidur pulas.
"Hem? sudah tidur beneran ya?" gumam Farhan sambil melirik ke arah wajah Kyra. "Dengan ini aja aku sudah bahagia kok Kyra. Aku tidak berharap lebih, aku nggak akan menghancurkan persahabatan ku dengan Eric hanya karena keegoisan ku semata" Sambil tetap mengelus-elus rambut Kyra.
Beberapa saat kemudian.
Tok tok tok
"Masuk!" kata Farhan.
Dan Ardan anak buah Farhan pun masuk ke dalam kamar.
"Ada apa?" kata Farhan dengan pelan takut Kyra terbangun.
"Ada hal penting boss" ucap Ardan.
Farhan pun mengarahkan dagunya ke arah pintu, memberi isyarat kepada Ardan untuk bicara di luar kamar. Ardan hanya mengangguk saja dan berjalan keluar dari kamar.
Dengan perlahan, Farhan memindahkan kepala Kyra ke bantal lalu berjalan keluar sambil mendorong tiang infusnya.
"Hal penting apa?"
Ardan lalu memberikan sebuah ponsel ke Farhan. "Tadi sore, kami menemukan seseorang yang mencurigakan di dekat kampus Non Kyra, kami berusaha mengejarnya namun dia berhasil kabur. Tapi untung saja kami sempat menemukan ponselnya yang terjatuh saat berkelahi tadi" jelas Ardan.
"Lalu?"
"Di dalam ponsel tersebut ada bukti percakapan sang pemilik ponsel dengan orang yang ingin mengincar Non Kyra. Juga ada bukti transfer uang ke rekening pemilik ponsel ini" jelas Ardan lagi.
"Bagus! Kerja bagus Ardan" ucap Farhan sambil menepuk-nepuk pundak Ardan. "Kamu boleh pergi, oh dan satu lagi ... Kirim seseorang untuk melindungi Kyra dari kejauhan"
"Baik boss" kata Ardan lalu berbalik meninggalkan Farhan.
Sebelum kembali ke kamar, Farhan pun mengambil ponselnya dan menelpon Jacob.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Farhan.
"Dia sudah membaik, tapi belum juga sadar" kata Jacob dari seberang telepon.
"Hem, apa yang terjadi? kenapa dia bisa terluka?"
"Dia di tusuk seseorang dan dalam pisaunya ada racun, beruntungnya Susan segera memberinya penawarnya" jelas Jacob.
"Ck, apa ini ulah pak Freddy lagi?" tanya Farhan sambil mengepalkan tangannya.
"Lalu siapa? apa kita masih punya musuh lagi?" kata Farhan terheran-heran.
"Entahlah, sebelum dia di serang dia marah dan meneriaki orang tersebut sebagai pembunuh, dia juga bilang kalau orang itu menembakkannya" jelas Jacob.
"Apa? jangan-jangan ..."
"Yah, sebaiknya kita juga berhati-hati, dia bukan orang sembarangan. Beberapa orang kita mati seketika saat aku menyuruh mereka mengejarnya"
"Hem ... Baiklah. Besok aku sudah di perbolehkan pulang, apa perlu aku menahan Kyra sedikit lama lagi di sini?" tanya Farhan.
"Tidak, biarkan saja ... yang penting perketat penjagaannya" kata Jacob.
"Baiklah"
Tut Tut Tut
Farhan pun meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku, sebelum ia hendak masuk terdengar suara tangisan dalam kamarnya.
"Hiks hiks hiks ..."
"Kyra!!"
Dengan cepat Farhan membuka pintu dan berjalan ke arah Kyra yang kini masih di atas ranjang.
"Hiks hiks kakak ...."
"Eh, kamu mengigau?" kata Farhan sambil mengusap air mata Kyra.
"Kakak ... kakak ... hiks hiks"
"Kyra, bangun Kyra ... Ayo bangun Kyra!"
"KAKAK!!" teriak Kyra dan seketika terduduk di atas ranjang dengan keringat dan air mata yang membasahinya.
"Kenapa? kamu mimpi buruk?" tanya Farhan sambil mengusap rambut Kyra.
Kyra pun menoleh ke arah Farhan yang ada di sampingnya. "Kakak ... hiks hiks" ucap Kyra lalu mulai meneteskan air matanya kembali.
"Ssstt ... Cup cup" Farhan pun menarik Kyra ke dalam pelukannya.
"Kakak ... aku melihat kakak di tusuk seseorang hiks ... saking parahnya dia hanya diam dan terus memuntahkan darah dari mulutnya ... Kak Farhan, aku takut hiks ... Aku ingin bertemu kakak..." ucap Kyra dengan berlinangan air mata.
"Sssttt, tidak apa-apa Kyra, kakakmu baik-baik saja. Dia hanya sedang bekerja, kamu tenanglah" kata Farhan mencoba menenangkan Kyra sambil menepuk-nepuk ringan bahu Kyra.
"Tapi ... Aku khawatir sekali, kak Farhan tolong beritahu aku di mana kakak sekarang, aku ingin bertemu dengannya" kata Kyra sambil melepaskan pelukan Farhan dan hendak turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana?" tanya Farhan sambil mencegah Kyra.
"Aku mau ketemu kakak, aku nggak akan bisa tenang kalau belum melihat wajahnya"
"Kamu gila ya? lihat sekarang sudah jam berapa?" kata Farhan sambil mengarahkan dagunya ke arah jam dinding.
Kyra lalu mengarahkan pandangannya ke jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul setengah satu dini hari.
"Tapi ... Aku ..." ucap Kyra sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, ayo kembali tidur ..." kata Farhan lalu menarik Kyra untuk berbaring kembali ke ranjang. "Besok aku akan keluar dari rumah sakit, dan kakakmu mungkin belum bisa pulang beberapa hari kedepan"
"Apakah masih sangat lama?"
"Entahlah ..." gumam Farhan sambil menyelimuti Kyra. "Apa kamu butuh sesuatu?"
Kyra hanya menggelengkan kepalanya.
"Baik, tidurlah ... Aku akan tidur di sana" ucap Farhan hendak pergi ke sofa dan di cegah oleh Kyra.
"Tidak , kakak tidur di sini saja. Aku yang akan tidur di sofa, kakak kan baru sembuh jadi tidak baik kalau tidur di sana" ucap Kyra.
"Tidak, kamu saja yang tidur di sini"
"Nggak, kakak saja"
"Baiklah kalau kamu memaksa ..." Sambil naik ke atas ranjang. "Kita berdua akan tidur di sini" sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"A—APA?" kata Kyra yang terkejut ketika Farhan tidur di sebelahnya. "Tidak Kak ... A—a—aku akan tidur di sofa .. " hendak pergi.
Farhan pun dengan cepat menarik Kyra dan terbaring lagi di atas ranjang.
"Diamlah ... Ayo cepat tidur" sambil memejamkan matanya.
"Aku tidak bisa tidur kalau seperti ini" ucap Kyra gugup sebab ini adalah pertama kalinya dia tidur di samping seorang laki-laki kecuali Eric.
"Aku tidak akan macam-macam, cepat tidurlah" kata Farhan.
"Sudahlah ... Sudah begini ambil kesempatan saja, besok juga sudah tidak bisa mendekati Kyra lagi" batin Farhan.
"Baiklah" kata Kyra, dan tidur membelakangi Farhan.