What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 25



Keesokan paginya, Kyra bangun dari tidurnya dan tidak menemukan Eric di sebelahnya.


"Kakak sudah bangun ya? atau tadi malam tidak tidur di sini?"


Ketika Kyra turun dari tempat tidurnya. Sesaat pandangan Kyra mengarah ke gorden jendela kamarnya yang sangat besar.


"Tadi malam aku langsung tertidur dan nggak tau kalau disini ada jendela kaca yang sangat besar" sambil membuka gorden. "Wow, pemandangan yang indah, kalau malam hari pasti lebih indah" lanjutnya sembari merasakan sinar matahari pagi yang langsung mengenai tubuhnya.


Kyra pun lebih penasaran dengan seluruh apartemen yang baru saja kakaknya beli itu. Kemarin ia tidak sempat melihat-lihat isi apartemennya karena perutnya sakit.


Kyra langsung berjalan keluar kamarnya dan berkeliling ke seluruh penjuru apartemen tersebut. Sambil melihat-lihat Kyra juga tengah mencari kakaknya.


"Kamu sudah bangun?" ucap Eric yang tengah membuatkan sarapan untuk Kyra di dapur kecilnya.


Kyra tersenyum melihat kakaknya yang kini tengah sibuk dengan pisau di tangannya. Sungguh pemandangan yang indah bagi Kyra melihat laki-laki yang selama ini terlihat gagah, berwibawa dan tampan dengan jasnya, kini tengah berada di dapur dengan kaos oblong, celana pendek selutut dan celemek yang menggantung di lehernya.


Betapa tampannya Eric hari ini bagi Kyra, Kyra pun kini tengah memandangi Eric dari meja makan.


"Kenapa kamu senyum senyum begitu?" ucap Eric yang menghampiri Kyra di meja makan sambil membawa masakan yang sudah matang.


"Nggak kenapa-kenapa," jawab Kyra sambil tersenyum.


"Ayo cepat sarapan" kata Eric lalu meletakkan secangkir teh jahe di samping piring Kyra.


Kyra hanya tersenyum saja sedari tadi dan mulai mengambil nasi dan lauk yang sudah di siapkan Eric. Mereka berdua pun akhirnya sarapan tanpa berbicara sedikitpun.


...----------------...


Di kantor Eric.


Tok tok tok


"Masuk!" ucap Eric dari dalam ruangannya.


Farhan, Jacob dan Susan pun masuk ke dalam ruangan Eric dan duduk di sofa.


"Tumben kamu datang agak siang Ric?" tanya Farhan.


"Hem, sibuk buatin sarapan Kyra jadi aku lupa waktu" ucap Eric yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Pfftt, hahahaha" kelakar Farhan. " Seorang boss besar ternyata bisa masak ya? jangan-jangan cuma masak mie instan lagi, hahahaha"


"Eh, diem nggak?" seru Eric sambil berjalan menuju ke sofa.


"Kelihatannya, kamu sangat peduli sekali dengan Kyra, bahkan lebih dari perhatian seorang Kakak pada umumnya" kata Jacob.


"Bagus dong, bukanya seperti itu ya seorang kakak?" tambah Susan.


"Ah sudahlah jangan membahas masalah pribadiku ... kenapa kalian pagi-pagi sudah berkumpul di sini bukannya malah bekerja?" tanya Eric.


"Kami kesini, masing-masing membawa berita untukmu, jadi kamu mau dengar dari siapa dulu?" ucap Farhan.


"Haish, terserah" gerutu Eric sambil duduk di samping Jacob.


"Kalau begitu aku dulu," kata Jacob. "Sepertinya Pak Freddy sudah mulai bergerak, dia sudah berhasil menggagalkan proyek pembangunan hotel kita,"


"Baguslah kalau begitu, cari semua buktinya agar kita bisa segera membereskannya" ujar Eric.


"Sepertinya tidak semudah itu Ric, dan lagi, ini adalah proyek yang menghabiskan dana dan waktu yang banyak, kalau kamu terus membiarkan dia dengan seperti itu, kita akan rugi besar" lanjut Jacob.


"Aku tau, aku akan mengatasinya" kata Eric, "Dan kamu Susan?" sambil melihat ke arah Susan.


"Ada seorang pengusaha dari Korea yang ingin berkerja sama dengan kita, dia ingin membangun sebuah perusahaan hiburan di sini, jadi dia ingin kamu membantunya. Jika kamu mau, Minggu depan orang itu akan datang ke Indonesia dan membahas masalah ini dengan mu" jelas Susan panjang lebar.


"Bagus, terima saja tawarannya, semakin kita melebarkan bisnis kita maka akan semakin kualahan si pak tua itu'" gumam Eric.


"Kalau aku membawakan berita tentang kasus pembunuhan yang kamu maksud tempo hari" jelas Farhan tanpa basa-basi.


"Ck, jangan bilang disaat kita lagi sibuk dengan pekerjaan, kamu sekarang malah masih terobsesi dengan mimpimu itu Eric?" gumam Jacob.


"Jelaskan temuanmu itu Farhan" ucap Eric tanpa menggubris perkataan Susan dan Jacob.


"Kamu benar, tepat sebelas tahun yang lalu, ada pembunuhan di kota ini" jelas Farhan "Istri pak Adijaya di temukan tewas di rumahnya dengan dua peluru bersarang di kepala dan dada kirinya"


Mendengar penuturan Farhan, Eric bak tersambar petir di siang bolong, wajahnya berubah menjadi pucat pasi dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.


"Benar dugaan ku, itu bukan hanya sebuah mimpi" batin Eric.


Siapa sangka, sebelumnya dia hanya iseng saja menyuruh Farhan untuk menyelidikinya, namun ternyata memang benar ada pembunuhan keluarga Adijaya.


"Eh, kamu tidak apa-apa Eric?" tanya Susan yang melihat ekspresi Eric yang kini berubah.


"Memangnya kenapa, apa hubungannya dengan mimpinya Eric?" lanjut Jacob.


Eric kini hanya diam saja, para sahabatnya itu juga terdiam melihat ekspresi Eric yang berubah dan menciptakan suasana hening di ruangan itu beberapa saat.


"Itu hanya mimpi kan? apa hubungannya dengan urusanmu?" kata Jacob memecah keheningan.


"Siapa bilang itu mimpi?" gumam Eric. "Kalau itu mimpi, mana mungkin aku tahu tentang pembunuhan itu dan menyuruh Farhan untuk menyelidikinya" jelas Eric yang membuat ketiga sahabatnya tercengang.


"Apa?" kata Jacob, Susan dan Farhan secara bersamaan.


"Jadi sebenarnya kamu tidak tau tentang pembunuhan itu, tapi kamu iseng menyuruh Farhan untuk menyelidikinya?" kata Jacob.


"Dan itu beneran ada, jadi kamu tau kalau memang mimpimu itu benar? pantas saja kamu shock sekali" tambah Susan.


"Lantas, apa yang terjadi dengan pak Adijaya Farhan?" tanya Eric.


"Di malam yang sama saat kematian istri pak Adijaya, dia mengalami kecelakaan beruntun, dan meninggal ketika di bawa ke rumah sakit" jelas Farhan.


"Jadi kamu ada hubungannya dengan mereka?" tanya Susan.


"Atau jangan-jangan kamu anak dari Adijaya?" lanjut Jacob.


"Ngawur, Pak Adijaya cuma punya satu anak laki-laki dan itupun dia di temukan tewas dengan wajah hancur karena melompat dari lantai dua rumahnya pada malam yang sama saat istrinya di bunuh" tambah Farhan.


"Lalu apa hubungannya dengan Eric? atau ini semua hanya kebetulan?" imbuh Susan.


"Benar juga, jika aku bisa melihat momen itu, tapi bukan anaknya Adijaya lalu siapa aku" batin Eric.


"Mungkin saja?" kata Farhan.


"Atau jangan-jangan itu cuma kebetulan mimpi dan jadi kenyataan?" tambah Susan


"Tidak, aku merasa itu bukan mimpi, terlalu sering melihat kejadian itu maka kepalaku akan semakin sakit" gumam Eric.


"Haish, kalau begitu, pergilah ke dokter ataupun tanya langsung ke ayahmu?" kata Jacob sambil menepuk pundak Eric.


"Betul juga, tapi kalau ayahmu juga tidak tahu, berarti kamu memang mengalami mimpi aneh" tambah Susan.


"Aduh, aku jadi ikut penasaran, aku akan menyelidikinya lebih dalam nanti" imbuh Farhan. "Ayo kita kembali".


Mereka bertiga pun hendak beranjak dari sofa. Sebelum mereka pergi, mereka melihat Eric yang tengah terhuyung dan terlihat seperti sedang menahan rasa sakit.


"Kamu tidak apa-apa Ric?" tanya Susan.


"Ah!" gumam Eric sambil memegangi kepalanya.


Dan Eric pun terjatuh ke lantai.


"Eh eh, dia pingsan ya?" kata Farhan sambil menghampiri Eric. "Ah ... dia beneran pingsan,"


"Ayo kita bawa ke rumah sakit saja!" ucap Susan dengan nada sedikit khawatir.


"Jangan, bawa saja ke apartemennya dan hubungi Kyra" lanjut Jacob.