What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 109



"Kamu sudah siap?"


"Ya, lagipula bajuku juga banyak yang ada di rumah"


"Heemm ... Ayo"


Eric menggandeng tangan Kyra berjalan keluar dari apartemen untuk pergi ke ruang kedua orang tuanya. Tepatnya, sudah tersisa tiga hari untuk acara pernikahan mereka. Kyra mengambil cuti selama satu minggu.


"Apa temanmu itu akan ikut ke rumah?" kata Eric sambil menyetir.


"Hemmm ... dia akan menginap sehari sebelum acaranya di mulai"


"Heemm ..."


"Aku gugup sekali"


"Kenapa?"


"Ya, hari pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Aku sangat gugup, ini akan menjadi hari yang akan kita kenang di sisa hidup kita"


Eric menggenggam tangan Kyra sambil tersenyum. "Aku juga sangat gugup. Aku tidak menyangka, adik kecil yang dulu selalu manja dan aku goda sampai menangis kini akan bersanding denganku di pelaminan"


Kyra tersipu. "Heemm ... Kalau diingat-ingat, memang ini seperti mimpi. Kita besar dan tumbuh bersama. Dan setelah ini kita akan menjalani sisa umur kita bersama-sama"


Eric menautkan jari-jarinya ke jari Kyra dan mengecup punggung tangannya. "Aku mencintaimu Kyra"


"Aku juga, aku sangat bahagia"


Kyra dan Eric sama-sama tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka akhirnya mereka bisa menikah sebentar lagi. Hari yang paling di nantikan Eric. Perasaan bahagia dan gugup manjadi satu di benak mereka. Eric melajukan mobilnya sambil menggenggam tangan Kyra. Namun, saat Eric melewati depan supermarket tiba-tiba ada seorang perempuan seusia Kyra tengah menyeberang jalan sambil menangis. Ia tidak melihat mobil Eric yang melaju dengan kecepatan sedang sehingga membuat Eric hampir menabraknya.


"Aakkhh" Kyra terkejut karena mobil Eric tiba-tiba berhenti.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" ucap Eric khawatir kepada calon istrinya itu sambil menyibakkan rambut Kyra yang menutupi wajahnya.


"Kak, kalau nyetir hati-hati dong" protes Kyra sambil mengusap dahinya yang kemerahan akibat terbentur dasbor mobil.


"Maafkan aku. Tadi ada orang yang tiba-tiba menyebrang"


Kyra melihat ke depan mobil dan benar saja, ada seorang perempuan tergeletak di sana. Eric dan Kyra segera turun dari mobil untuk melihat keadaan perempuan tersebut.


"Mbak, tidak apa-apa?" kata Kyra yang kini berdiri di belakang Eric.


"Hiks hiks" Perempuan itu malah menangis sesenggukan.


"Mayang!!" teriak seorang pemuda sambil berlari ke arah mereka. Perempuan yang terjatuh tadi seketika bangun dari tempatnya dan terlihat ketakutan. Ia bersembunyi di belakang Eric sambil memeluk lenganya.


"Mayang, kamu tidak apa-apa?" kata pemuda tersebut.


"Jangan dekati aku" kata wanita yang di panggil Mayang itu sambil menangis.


"Maaf ini-"


"Mayang, ayo ikut aku. Aku ingin berbicara denganmu" pinta pemuda itu hendak menarik Mayang.


"Tidaaakk!!" teriaknya malah semakin mengeratkan pelukannya di lengan Eric.


Kyra terdiam di tempatnya melihat kejadian tersebut. Bola matanya menatap tajam ke lengan Eric yang di peluk oleh Mayang.


"Tuan, tolong aku. Dia sangat kejam, dia menyiksaku"


"Tapi-" Lagi-lagi ucapan Eric di potong oleh pemuda itu.


"Jangan mengada-ada Mayang. Ayo ikut aku. Orang tuamu sudah menunggumu"


"Aku tidak mau. Tuan, tolong bawa aku. Aku tidak mau ikut dia"


"Mayang ayolah, trik seperti ini tidak akan berguna. Kamu selalu mencari pria tua untuk melindungimu?"


"Jaga bicaramu. Pergi dari sini. Tuan, aku mohon. Bawa aku pergi"


Kyra mendorong tubuh Eric ke samping dengan cepat hingga terlihatlah Mayang yang sedang terkejut.


Plaaakk


"Aakkkhh"


Kyra dengan keras menampar wanita itu hingga dia terjatuh.


"Mayang" Pemuda itu segera menghampiri Mayang.


"Sayang" gumam Eric lirih.


"Siapa kamu berani-beraninya menyentuh calon suamiku sembarangan?" kata Kyra ketus dengan tatapan tajamnya.


"Maafkan Mayang nona. Mayang segera lah minta maaf"


"Apa kamu keluarganya?"


"Saya pacarnya nona"


"Bagus, ajari pacar mu ini sopan santun. Jangan biarkan sikap jalngnya merajalela ke semua laki-laki yang dia temui" kata Kyra dengan kesal. Ia segera masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya dengan keras.


"Saya minta maaf tuan"


"Kelian pergilah dari sini" Eric pun bergegas masuk ke dalam mobilnya. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" Eric hendak menyentuh kepala Kyra namun ia tepis.


"Jangan sentuh aku" kata Kyra ketus sambil menatap ke luar jendela.


"Kok kamu marah sih? Kenapa hah?" Eric mencoba mengusap punggung tangan Kyra.


"Sudah aku hilang jangan sentuh aku"


Eric sedikit bingung dengan sikap Kyra yang tiba-tiba marah kepadanya. Ia pun menangkup pipi Kyra. "Ada apa hemm? Aku berbuat salah ya?"


Kyra melepaskan tangan Eric dari pipinya. "Sudah tau salah masih aja tanya"


"Lah?" Eric semakin di buat bingung olehnya.


"Apa? Sudah tau perempuan itu cari kesempatan. Kenapa tidak langsung menepis tangannya? Kenapa masih membiarkan dia memelukmu dengan erat? Apa kamu suka dengannya? Kamu suka menyentuh dadanya? Kalau begitu kenapa gak sekalian ikut saja sama dia? Pergi dan ikut saja sama perempuan itu. Gak usah pedulikan aku" kata Kyra dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Lah? Nih orang Kenapa?"


"Sayang ... Dengerin aku dulu dong-"


"Dengerin apa? Dengerin kalau kamu suka sama dia? Kamu suka melihat dia memelukmu lebih lama?"


"Hey, kok gitu sih bicaranya?" Eric mencoba menenangkan Kyra dengan menggenggam tangannya.


"Habisnya, aku kesel liat kamu malah diam saja di peluk sama dia"


"Bukan gitu Kyra ... Aku hanya sedang bingung saja dengan apa yang terjadi"


"Meskipun begitu, kamu kan bisa mengingatkan dia kalau itu tidak pantas. Dan kata-katanya juga, dia itu terdengar seperti menggodamu. Apa kamu tidak tau itu?"


"Tapi-"


"Tau ah. Aku marah sama kamu" Kyra kembali merajuk dan mengalihkan pandangannya.


"Huhhh" desah panjang Eric melihat tingkah Kyra. "Kenapa jadi begini sih? Kenapa aku jadi yang bersalah di sini?"


Eric kembali mengemudikan mobilnya dan Kyra masih saja terdiam di sepanjang perjalanan. Setelah sampai di rumah orang tuanya. Kyra turun dengan kesal dan segera pergi ke kamarnya.


"Huhhh ... Mimpi apa aku semalam" gumam Eric yang kebingungan dengan sikap Kyra. Karena baru pertama kali ini Kyra marah dan tidak bisa di bujuk.


"Kamu sudah datang? Kenapa dengan Kyra?" kata Bu Sofia menghampiri Eric.


"Aku juga tidak tau Bu. Dia marah-marah karena tadi ada sedikit masalah di jalan"


"Sudah kamu bujuk?"


"Hemmm ... Tapi dia masih tetap marah. Aku juga bingung, baru kali ini Kyra marah dan tidak bisa di bujuk"


"Sabar Ric, namanya juga orang hamil. Moodnya bisa naik turun. Kamu bujuk gih sana. Biar dia gak lama-lama marahnya. Kasian bayinya juga, nanti ikut stress"


"Baiklah, Bu. Aku akan pergi menemuinya"


Eric segera menyusul Kyra ke kamarnya. Tanpa mengetuk pintu, Eric segera masuk ke dalam kamar dan menemui Kyra yang tengah menangis di sudut ranjangnya.


"Sayang, kamu kenapa?" Eric segera menghampiri Kyra.


"Kakak jahat. Sudah tau aku marah kenapa gak langsung mengikutiku dan membujukku? Apa kakak gak sayang lagi sama aku? Apa kakak benar-benar jatuh cinta sama gadis tadi?"


"Lah? Makin lama kok makin ngawur sih? Huh ... Sabar Ric, sabar ..."


"Di bawah aku ketemu sama ibu jadi aku ngobrol sebentar. Jangan bicara sembarangan dong. Aku mencintaimu, dan tidak mungkin melirik wanita lain. Jangan bicara seperti itu lagi, oke?"


"Benar kakak gak suka sama dia?"


"Iya lah, calon istriku ada di depanku. Mana mungkin aku suka sama perempuan lain" Eric menarik Kyra ke dalam pelukannya. "Maafkan aku ya. Aku tidak bermaksud membuatmu marah"


"Hiks hiks ... Aku gak suka kakak dekat-dekat dengan perempuan lain. Aku mau mematahkan leher wanita itu tadi"


"Baiklah, kedepannya aku akan menjaga sikapku. Oke? Sekarang kamu jangan marah lagi ya?" bujuk Eric dan Kyra pun mengangguk sambil merapatkan pelukannya.


"Lucu banget sih ... Tapi bisa pusing juga kalau setiap hari begini"