What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 108



"Bi ... Mana Mikha?' kata pak Fino yang baru saja pulang dari luar kota bersama istrinya.


"I-itu" jawabnya tergagap.


"Hemm ... Biasanya kalau kita pulang dari luar kota, dia selalu datang menyanbut kami"


"Tuan, nyonya. Non Mikha tidak pulang semalam"


"Apa?" kata pak Fino terkejut. "Dia kemana Sampai semalam gak pulang?"


"Non Mikha bilang dia pergi ke rumah tuan Jio semalam"


"Baiklah, akan aku telpon Jio sekarang" kata Bu Raya.


"Tidak perlu, biar aku saja yang telepon Jio" pak Fino pun segera menelepon Jio.


Sedangkan di waktu yang sama, Jio sedang bersiap-siap hendak pergi ke kantor. Ponselnya pun berdering dan segera mengangkatnya.


"Halo om" ucap Jio.


"Apa semalam Mikha pergi ke rumahmu?" kata pak Fino dari balik telepon.


"Iya om, kenapa emangnya?" tanya Jio tak curiga sambil memasang jam tangan di pergelangan tangannya.


"Suruh dia pulang, papa dan mamanya baru pulang dari luar negeri dia malah gak di rumah"


"Hah? Apa?" ucap Jio terkejut. "Bocah sialan itu semalam gak pulang? Sial. Kemana dia pergi? Kalau om Fino tau dia pergi sehabis aku tunjukkan alamat itu, bisa mampus aku. Bagaimana ini?"


"Halo, Jio? Dia ada di sana kan?"


"Eh? Em .. Iya .. om ... Maaf, aku masih ada sedikit urusan dengan Mikha. Nanti kalau selesai, aku akan menyuruhnya pulang" Jio pun berbohong.


"Baiklah kalau begitu, tapi ingat. Kalau selesai suruh dia segera pulang. Jangan biarkan dia kelayapan"


"I-iya om"


Jio segera mematikan teleponnya.


"Sial, pergi kemana gadis bodoh ini? Awas saja kalau kamu menimbulkan masalah lagi. Goblk, seharusnya aku menghentikan dia tadi malam"


Jio segera mengambil ponselnya dan kunci mobil. Dia bergegas turun dari lantai dua rumahnya.


"Pa, gantiin aku rapat pagi ini ya" kata Jio saat sampai di lantai bawah.


"Kenapa memangnya? Itu kan tugas kamu"


"Gak bisa pa, jio ada urusan penting"


"Urusan penting apa?"


Jio memutar bola matanya malas. "Ck, kalau kedua orang tua ini aku beri tahu bahwa Mikha gak pulang sehabis dari sini. Bisa-bisa gempar seluruh antero nanti"


"Pokonya penting pa. Gantiin aku ya, tapi gak papa sih kalau gak mau. Proyeknya juga bakal di batalkan. Papa akan kehilangan tempat itu. Dah pa" Jio melambaikan tangannya dan segera pergi.


"Dasar anak curut. Berani-beraninya dia mengancam ku"


"Anak curut itu belajar dari kamu pa"


Jio segera masuk ke dalam mobil, tak lupa dia juga melacak keberadaan Mikha. Setengah jam lebih, akhirnya Jio sampai di depan gedung apartemen.


"Ck, masih bau kencur berani main ke apartemen orang. Awas aja, aku jewer kupingmu nanti kalau ketemu" Jio turun dari mobilnya sambil memandang layar ponselnya mencari lokasi Mikha.


Sedangkan di tempat lain, Mikha sedang tertidur di atas ranjang Farhan. Farhan yang baru keluar dari kamar mandi, sejenak melihat wajah polos Mikha yang masih tertidur lelap.


"Disaat aku butuh seseorang, kenapa yang datang malah kamu" batin Farhan sambil mengusap kepalanya dengan handuk.


"Hoaaamm" Mikha terbangun dari tidurnya dan terkejut mendapati dia sudah berada di atas ranjang. "Eh? kenapa aku di sini?" Mikha menatap tempat asing itu dan mengingat kejadian semalam.


"Kamu ketiduran di sofa dan aku membawamu ke sini" kata Farhan yang kini tubuhnya hanya tertutup handuk sepinggang.


Mikha refleks mengalihkan pandangannya. "Kenapa kamu gak pakai baju?"


"Tentu saja karena aku habis mandi"


"Cepat pakai pakaian mu"


"Kenapa? Apa kamu malu? Kalau malu, pulang saja sana. Siapa juga yang menyuruhmu tetap di sini" Farhan mengambil kaos putih polosnya. Ia bahkan tidak malu berganti pakaian di sana yang bahkan masih ada Mikha.


"Kenapa kamu tidak tau malu sih? Kenapa kamu ganti pakaian di situ?"


"Ini kamarku, terserah aku lah"


"Ck, dasar"


Tak berselang lama, bel apartemen Farhan pun berbunyi.


"Siapa sih pagi-pagi buta begini bertamu ke rumah orang" gerutu Farhan lalu berjalan keluar hendak membuka pintu.


"Dasar, aku di buat deg-degan melihat dia" gumam Mikha dan berjalan mengikuti Farhan karena penasaran dengan siapa yang datang kerumah Farhan.


Farhan membuka pintu, dan terlihat seorang pria memakai setelan abu-abu berdiri di depan pintunya.


"Dasar bangst. Di mana Mikha. Katakan" Jio memukuli Farhan.


"Bang Jio" ucap Mikha yang baru saja datang.


Jio sekilas melihat ke arah Mikha. Melihat Mikha yang berantakan, Jio malah semakin marah dan memukuli Farhan dengan bringas.


"Sial, dasar bajingn"


"Bang, lepasin dia bang" Mikha mencoba melerai.


"Minggir Mikha, aku mau kasih pelajaran ke pria brengsk ini. Berani-beraninya dia menyentuhmu"


"Bang ... Aakkk" Mikha tak sengaja terkena pukulan Jio di pipinya. Ia terjatuh ke lantai sambil meringis kesakitan.


Jio berhenti dan menoleh ke arah Mikha. "Mikha!!" teriak Jio langsung menghamburkan diri ke Mikha. "Mikha, kamu gak papa?" Jio segera memeluk bahu Mikha.


Mikha memegangi pipinya yang merah sambil terisak. "Sakit" gumam Mikha lirih.


"Maafin Abang Mikha" Jio memeluk tubuh Mikha merasa bersalah kepada adik sepupunya tersebut.


Sedangkan Farhan, kini tengah terduduk dengan wajah lebam sambil memperhatikan mereka. Entah kenapa, melihat Mikha menghadang pukulan untuknya. Hati Farhan sedikit terenyuh melihatnya.


"Demi aku, dia bahkan rela kena pukul. Sial, kenapa harus kamu sih"


Jio menangkup kedua pipi Mikha. "Maafin Abang ya, Abang gak sengaja"


"Udah jangan pukul dia lagi bang, dia gak salah" kata Mikha sambil sesenggukan.


"Oke, oke. Kalau begitu kita pulang ya" Jio segera membantu Mikha berdiri dan merangkulnya. Sebelum dia dan Mikha keluar. Jio menatap Farhan yang hanya terdiam.


"Awas kamu"


Jio dan Mikha keluar dari apartemen Farhan. Mereka segera masuk ke dalam mobil Jio.


"Masih sakit? Sini aku lihat" Jio memegang dagu Mikha dan terlihat pipi Mikha memang lebam. "Haish, kamu sih. Kan sudah kubilang minggir tadi" Jio mengambil kotak obat yang ada di laci mobilnya.


"Bang Jio juga ngapain mukul dia?"


"Dia udah ngelecehin kamu, aku gak tahan dengan itu" Jio mengoleskan salep ke pipi Mikha.


"Sssttt, pelan-pelan dodol"


"Hahh, iya iya maaf" Jio kembali mengoleskan salep dengan pelan.


"Tidak terjadi apapun di antara kami. Aku kemarin membawa dia pulang saat mabuk, dan aku tertidur di sana. Itu saja"


"Tapi penampilanmu seperti gadis yang baru di perk*sa tau gak"


"Sialan, aku baru bangun tidur tau"


"Ya, aku pikir kamu di apa-apain dia. Seorang laki-laki dan perempuan bermalam di sebuah apartemen. Mana bisa aku tidak berpikir yang macam-macam"


"Ish, meskipun begitu. Bang Jio juga gak seharusnya mukul dia"


"Jadi ini semua salah Abang gitu?"


"Iya"


"Ya udah deh, nanti aku minta maaf"


"Beneran?"


Jio meletakkan kembali kotak obat ke tempatnya.


"Iya, tapi bo'ong"


Mikha memutar bola matanya malas.


"Ck dasar"


"Udah deh, kamu cepatan pulang. Om sama Tante nyariin kamu tuh. Mereka pikir kamu ada di rumahku. Aku sengaja bilang iya supaya kamu gak kena masalah. Jadi kalau mereka bilang nanti jawab aja aku sedang meminta bantuan mu"


"Papa sudah pulang?"


"Hemm, aku kasih tau kamu agar jawaban kita bisa sama. Kalau gak, kamu tau sendiri. Papamu orangnya sangat jeli"


"Woooaahh. Makasih ya bang. Abang pengertian banget deh" Mikha memeluk Jio dari samping. "Kalau papa tau aku semalam gak pulang dia pasti marah besar. Bisa-bisa aku gak boleh keluar rumah lagi"


"Nah itu tau. Mangkanya jangan suka kelayapan"


"Ish, aku gak kelayapan tau. Gak sengaja aja ketiduran"


Jio terdiam sejenak sambil menatap ke depan. "Kamu pergi ke club hanya untuk menjemputnya? Apa kamu pacarannya?"


Mikha terdiam.


"Bukan ya? Jadi ... Kamu suka sama dia?" Lagi-lagi Mikha terdiam. "Haish, dasar anak muda"