What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 104



Jam makan siang pun sudah tiba. Kyra bersiap-siap hendak pergi keluar dari kampusnya.


"Kamu beneran tidak perlu di temenin?"


"Tidak perlu Mikha, cuma sebentar kok"


"Baiklah, hati-hati ya"


Kyra segera bergegas pergi menuju ke cafe di dekat kampusnya tersebut. Setelah beberapa menit berjalan, ia pun sampai di cafe tempat ia bertemu dengan Farhan. Setelah Kyra masuk, rapat di tengah cafe tersebut terlihat Farhan sedang melambaikan tangannya.


"Kyra"


Kyra menoleh dan segera menghampirinya. "Kakak sudah lama menunggu?" kata Kyra sambil duduk di hadapan Farhan.


"Tidak juga" ucap Farhan sambil tersenyum. "Oh ya, pesan makanan dulu Kamu mau makan apa?"


"Eemmm .. yang ini aja deh" kata Kyra sambil menunjuk menu makanan.


"Baiklah" Farhan pun memanggil pelayan dan segera memesan makanan. "Tumben kamu mengajakku makan siang. Ada apa?"


"Hanya ingin saja. Kak Farhan sedang sibuk ya?"


"Tidak juga kok"


"Heemm ... Baguslah"


"Oh ya, bagaimana keadaan mu? Sudah lebih baik sekarang?"


"Sudah jauh lebih baik. Terimakasih ya kak Farhan. Sudah menjagaku selama ini"


"Tidak masalah Kyra. Oh ya ... Untuk ucapan ku saat di rumah sakit waktu itu-"


Sebelum Farhan menyelesaikan kalimatnya, pelayan pun datang membawa pesanan makanan pada mereka. "Permisi, ini makannya tuan"


"Terimakasih" kata Kyra sambil tersenyum.


"Kyra aku-"


"Makan dulu kak, aku sudah sangat lapar" Kyra pun menyela kata-kata Farhan.


"Oh, baiklah"


Mereka segera melahap makanan yang ada di hadapannya. Tapi beberapa kali Farhan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Kyra.


"Aku berharap, hari ini kamu memberikan jawaban iya kepadaku Kyra. Aku sangat tulus kepadamu, aku tidak keberatan untuk menjadi ayah dari anak yang ada di dalam perutmu. Eric? Lupakan saja. Lagipula kamu belum tau kalau dia bukan kakak kandungmu" batin Farhan sambil tersenyum.


Kyra dan Farhan makan tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun. Dalam hati Farhan terbesit suatu harapan untuk mendengar jawaban Kyra dan mau menerima Farhan untuk menjadi suaminya. Namun lain halnya dengan Kyra. Ia berpikir bagaimana menjelaskan ke Farhan tentang kenyataannya bahwa dia akan segera menikah dengan Eric tanpa menyakiti hatinya.


Setelah selesai makan, Farhan membayar makanan yang telah mereka pesan. Berulang kali Farhan ingin mengingatkan Kyra tentang perkataannya di rumah sakit waktu itu, namun Kyra lagi-lagi mengalihkan pembicaraan. Ia ingin mengatakan di waktu yang menurutnya pas dan tidak ingin melukai perasaan Farhan apalagi persahabatannya dengan Eric. Setelah selesai, mereka berdua berjalan kaki di pinggir jalan mengarah ke kampus Kyra yang jaraknya lumayan dekat.


Di tempat lain, Mikha sangat cemas karena Kyra tidak kunjung kembali ke kampus padahal jam makan siang sudah hampir lewat.


"Dia kemana sih? Kelas sudah di mulai sebentar lagi" gumamnya sambil mengetuk-ngetuk meja bangkunya. "Apa dia sedang ada masalah? Apa dia di rundung lagi? Jangan-jangan ..." Mikha segera beranjak dari tempat duduknya. "Aku tidak bisa diam saja. Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya? Tapi ..." Mikha menghentikan langkahnya. "Tapi, dia bilang ingin menemui seseorang. Pasti ada hal penting yang ingin Kyra bicarakan dengan orang itu. Kalau tidak, dia pasti mengajakku. Tapi ... Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Bagaimana ini? Ah, sudahlah ... Aku cek saja di cafe itu, kalau terlihat dia baik-baik saja. Aku akan tinggalkan dia" Mikha segera berjalan keluar kampus untuk pergi menyusul Kyra. Hatinya tak berhenti khawatir dengan sahabatnya tersebut. Dia khawatir ada seseorang yang ingin mencelakainya, mengingat begitu banyak orang yang membencinya karena rumor yang di sebarkan oleh Nuril.


Mikha melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju ke arah cafe.


"Lah itu dia" kata Mikha yang melihat Kyra berjalan di tepi jalan. "Dia ... Bersama, tuan Farhan" Mikha melangkahkan kakinya hendak menuju ke Kyra. "Ah sudahlah, ini kesempatan ku untuk mendekati tuan Farhan. Jarang-jarang aku melihat tuan Farhan di dekat kampus. Hihihi, siapa tau bisa membujuknya untuk mengantarkan ku pulang" gumam Mikha dengan girang.


Sesaat, Mikha sudah hampir mendekati mereka. Dia hendak meneriakkan nama Kyra namun terhenti.


"Aku menyukaimu Kyra"


Deg


"A-Apa? Jadi ... Orang yang di sukai tuan Farhan adalah Kyra?"


Mikha memegangi dadanya dan meremas bajunya seolah di sana adalah tempat tersakit di tubuhnya. Bukanya pergi, Mikha justru menangis di balik pohon besar di pinggir jalan yang tak jauh dari tempat Farhan dan Kyra.


"Kenapa? Kenapa harus Kyra? Dia ... Sahabat terbaikku. Kenapa harus dia?" batin Mikha sambil merasakan sesak di dadanya seolah membuatnya hampir tidak bernafas. Tanpa ia sadari, air mata jatuh dari pelupuk matanya. "Tidak Mikha, kenapa kamu menangis? Dia mencintai Kyra, tapi bukan berarti Kyra juga mencintainya. Kamu tau sendiri Kyra sangat mencintai kakaknya. Dia juga akan segera menikah. Tidak mungkin mereka ada hubungan lain di belakangmu. Ayo sadarlah dan percayai sahabatmu. Pasti ada sesuatu yang tidak ingin Kyra katakan kepadamu" batin Mikha mencoba menyadarkan dirinya sendiri agar persahabatan mereka tidak putus karena di sebabkan oleh seorang laki-laki.


"Kak Farhan, aku juga menyukaimu" tutur Kyra dan langsung membuat Mikha yang sedang menguping menjadi salah paham.


"Dia ... Juga ..." gumam Mikha, ia pun hendak pergi dari balik pohon.


"Tapi maaf ... Aku menyukaimu hanya sebatas teman dan saudara" Satu penuturan Kyra yang membuat Farhan dan Mikha terpaku di tempatnya. "Aku menghargai ketulusan mu. Tapi ... Aku tidak bisa menikah dengan mu. Bukan, lebih tepatnya. Aku tidak mau kamu terluka"


"Tapi, aku bisa menjaga dan melindungi kamu dan anak mu Kyra. Jika laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab. Maka biarkan aku menjadi Ayahnya"


"Apa yang dia bicarakan? Apa dia tidak tau kalau anak Kyra adalah anak kakaknya?" batin Mikha yang memilih untuk tetap bersembunyi.


"Itu tidak adil bagi mu. Dan lagi ... Jangan mengharapkan sesuatu dariku kak Farhan. Jangan buang buang waktumu untukku. Sudah saatnya kak Farhan bangkit dan mencari wanita lain"


"Tapi Kyra, aku hanya menyukaimu. Aku tidak peduli. Aku bisa ikhlas menerima anak ini"


"Maaf kak. Aku akan segera menikah. Jadi ... Lupakan aku"


"Apa? Menikah? Tidak, kamu pasti berbohong kan?" kata Farhan tak percaya sambil memegang bahu Kyra.


"Aku tidak berbohong. Aku akan segera menikah dengan ayah dari bayi ini"


"Kyra, kamu pasti membohongiku kan? Kamu bilang ayah dari anak ini akan menikah dengan perempuan lain. Dan kamu bilang, kalian tidak akan bisa bersama. Kamu pasti bohong kan?"


"Tidak, dulu itu hanya sebuah kesalahpahaman. Sekarang, kami akan menikah"


Farhan melepaskan tangannya dengan pasrah. "Baiklah kalau itu keputusan mu Kyra. Aku akan sangat menghargainya asalkan kamu bahagia" ucap Farhan sedih. "Tapi bolehkah aku tau, siapa laki-laki beruntung itu?"


"Eric"


"APA?" kata Farhan terkejut.


"Aku akan segera menikah dengan kak Eric. Dan anak ini juga adalah anaknya"


"Jadi, dia adalah orangnya?" kata Farhan tak percaya. "Ya, aku tau dia bukan kakak kandungmu. Menikah? Aku rasa tidak mungkin. Ayahmu pasti tidak akan menyetujuinya"


"Aku juga tidak percaya. Tapi, ayah yang bersedia menikahkan kami" kata Kyra dengan senyum tulusnya.


Bak di sayat seribu belati. Hati Farhan seolah teriris melihat senyum yang terukir di wajah Kyra. Dia bisa merasakan bahwa Kyra begitu bahagia. Dia juga tau, bagaimana hubungan Kyra dan Eric selama ini. Asalkan Kyra tidak tau Eric adalah kakak kandungnya, maka dia masih ada kesempatan. Namun, sejak awal dia sudah kalah telak dengan Eric. Sakit? Pasti. Itulah yang dirasakan Farhan saat ini. Sesaat yang lalu dia terbang begitu tinggi dengan angan-angannya untuk menikah dengan Kyra. Namun sebentar saja, dia sudah terhempas ke jurang gelap yang sangat dalam sehingga menghancurkan seluruh jiwa dan raganya.


"Seandainya, aku lebih dulu mencintaimu. Apakah sekarang orang yang kamu nikahi adalah aku? Andai saja, sebelum Eric menempati hatimu. Aku terlebih dulu menemukan mu. Apakah orang yang kamu cintai adalah aku? ... Bagaimana ini Kyra? Aku sudah terlanjur mencintaimu sampai-sampai aku tidak bisa berpikir jernih. Ingin rasanya aku menyingkirkan Eric agar kamu bisa menjadi milikku. Tapi ... Eric juga adalah keluarga yang begitu berharga bagiku. Sepertinya ... Dari awal ... Aku memang sudah kalah dengan Eric. Tidak apa ... Asalkan kalian bahagia ... Aku bisa menerima sakit ini"


"Kak, aku mengatakan ini hanya karena aku tidak ingin menyakiti mu lebih dalam dan memberikan mu harapan palsu. Kamu sudah aku anggap sebagai kakak ku. Selama ini, selain kak Eric. Kamu yang selalu menjagaku. Aku sangat berterimakasih. Tapi aku ingin. Kamu juga bahagia dengan wanita yang benar-benar mencintaimu. Aku berharap kedepannya hal ini tidak akan berpengaruh terhadap persahabatan kalian"


Farhan tersenyum manis berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. "Bisakah aku memelukmu sekali saja"


"Baiklah"


Farhan segera menarik Kyra ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Kyra merasa canggung namun ia pikir ini hanya untuk sekali, dan dia pun membalas pelukan Farhan.


"Aku akan bahagia jika kamu juga bahagia Kyra. Aku akan mendukung setiap keputusan mu" kata Farhan sambil menyeka air matanya diam-diam.


"Terimakasih kak"


Mikha yang melihat semuanya, dia juga terisak-isak di balik pohon. Bukan menangis karena tau orang yang di cintai Farhan adalah Kyra. Melainkan menangis karena melihat betapa sedihnya Farhan yang cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Hiks hiks, kasihan sekali"