
Keesokan harinya, Kyra masih meringkuk di bawah selimutnya. Di rasa hari sudah pagi dia pun mulai mengerjapkan matanya dan menggeliatkan tubuhnya yang masih terbalut handuk kimono dari semalam.
Sesaat dia mulai mengalihkan pandangannya ke samping tempat tidur dan terlihatlah Eric tengah tertidur pulas di sana sambil memeluk pinggang Kyra.
Perlahan Kyra menyentuh wajah Eric yang kini terlihat sangat pucat.
"Hem? kemarin kakak seperti sedikit demam, sekarang tubuhnya sangat dingin" gerutu Kyra sambil meletakkan punggung tangannya di pipi Eric.
Kyra lalu duduk dan mengambil remote AC lalu mematikannya.
"Kakak, apa perlu kita ke rumah sakit?" kata Kyra sambil memegangi tangan Eric yang juga terlihat sangat pucat.
Eric pun terbangun dari tidurnya dan mulai mengerjapkan matanya dengan malas.
"Kenapa?" tanya Eric dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Kakak terlihat sangat pucat sejak pulang, aku khawatir sekali"
Eric lalu bangun dan duduk di samping Kyra.
"Aku tidak apa-apa Kyra, kamu bukannya sedang ada kelas?" tanya Eric mengalihkan pembicaraan.
"Ada ... tapi, aku izin tidak masuk saja. Aku mau menemani kakak ke rumah sakit aja"
"Tidak perlu, aku tidak kenapa-kenapa kok. Sana cepat mandi!" kata Eric lalu pergi keluar dari kamar Kyra.
"Beneran nggak papa ya? tapi kok aku merasa kakak sedang tidak sehat ..." gerutu Kyra lalu berjalan ke kamar mandi.
Sedangkan Eric yang hendak pergi ke kamarnya tiba-tiba merasa pusing dan sesak di dadanya.
"Ukh!" gumam Eric sambil memegangi dada kirinya dan bersandar di tembok.
"Uh, apa racunnya masih belum sepenuhnya hilang?" gumam Eric sambil mencoba berjalan kembali ke kamarnya.
Sebenarnya Eric masih belum sepenuhnya pulih, setelah sadar dia langsung mengingat Kyra dan buru-buru untuk pulang ke apartemen.
Setelah sampai di kamarnya, Eric berdiri di depan cermin dan melepaskan kemejanya. Nampak luka di perutnya yang di perban dan kini terdapat noda darah segar di sana.
"Perasaan semalam aku tidak banyak gerak, kenapa lukanya merembes lagi? jangan-jangan Susan tidak merawatku dengan baik" gerutu Eric kemudian hendak melepas perban yang ada di perutnya.
Belum sempat Eric menggunting perbannya terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kak ... Sedang apa?" teriak Kyra di luar kamar Eric.
"Oh, aku sedang ganti baju, ada apa?"
"Tidak ada, aku sudah memesan makanan. Ayo kita sarapan" lanjut Kyra.
"Ya pergilah dulu, aku akan menyusul"
"Baiklah, cepat ya" teriak Kyra sekali lagi lalu pergi dari depan kamar Eric.
"Aku lanjutkan setelah Kyra pergi saja" Eric pun mengurungkan niatnya untuk mengganti perban dan mengambil kaos warna hitam yang ada di dalam lemari pakaiannya.
Sesaat kemudian Eric pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke meja makan menghampiri Kyra.
"Kamu mau ke kampus hari ini?" tanya Eric sambil duduk di kursi meja makan.
"Iya lah kak, memang mau kemana lagi?" kata Kyra sambil menaruh makanan di meja makan.
"Aku akan mengantarmu" kata Eric.
"Tidak perlu, kak Ardan sudah menjemput ku, mungkin sekarang dia sudah di bawah" kata Kyra lalu mulai melahap sarapannya.
Mendengar nama Ardan, Eric pun memandang Kyra dengan tatapan tidak suka.
"Siapa lagi Ardan? pacar barumu?" kata Eric dengan ketus.
"Apa sih, bukan. Dia anak buah kak Farhan, memangnya kakak nggak tau ya?"
Eric memutar bola matanya merasa tidak senang, dan mulai melanjutkan sarapannya lagi.
"Nggak" ucap Eric singkat tanpa memandang Kyra.
"Beberapa hari yang lalu setelah kak Farhan pulang dari rumah sakit dia di tugaskan untuk menjagaku, karena kakak sendiri kan juga belum pulang" jelas Kyra.
"Aku tidak perlu penjelasan mu, semua itu bukan urusanku, lagi pula dari awal kamu memang berniat menjauhiku kan? Dan sekarang kenapa aku harus tau semuanya tentang mu?" kata Eric dengan ketus.
Deg
"Kakak kenapa lagi? Aku cuma jelasin sedikit dianya malah nyerocos kayak ibu-ibu. Aneh ..." batin Kyra.
Drrrt drrrt drrrt
Ponsel Kyra pun berbunyi dan terlihatlah Ardan yang tengah meneleponnya.
"Halo kak, kenapa?" kata Kyra sambil menempatkan ponsel di telinganya.
"Yak! ini sudah jam berapa? Kamu masih tidur ya?" teriak Ardan dari seberang telepon.
Kyra dengan reflek menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara Ardan terlalu memekikkan.
"Jangan teriak-teriak ... Iya iya, aku turun sekarang" kata Kyra lalu menutup teleponnya.
Eric yang sedari tadi melihat Kyra dibuat cemburu karenanya. Dia tidak bisa melihat Kyra begitu dekat dengan laki-laki lain selain dirinya.
"Kak, aku berangkat dulu ya?" kata Kyra sembari mengambil tasnya yang berada di kursi sebelahnya.
"Hem" gumam Eric sambil memainkan ponselnya.
"Ck, dasar" gerutu Kyra lalu berjalan pergi dari meja makan.
Eric pun memandang punggung Kyra yang kini berjalan menjauhinya dan keluar dari apartemen.
"Sial, aku selalu saja di buat gila kalau berhadapan dengan Kyra" gerutu Eric sambil mengacak-acak rambutnya. "Tidak bisakah kamu memiliki perasaan sedikit saja kepada ku Kyra? Kamu bahkan pernah membalas ciumanku, lalu kenapa kamu masih saja ingin menjauhi ku?" Sambil merebahkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Jika kamu tau siapa aku sebenarnya, apa kamu mau menerima ku Kyra?" gumamnya.
Eric pun beranjak dari tempat duduknya, belum sempat dia melangkahkan kakinya tiba-tiba rasa sakit mulai menjalari dada kirinya lagi.
"Ukh! Susan sialan, kenapa kamu tidak becus mengatasi racun ini" gerutu Eric dan mulai berjalan menuju ke ruang kerjanya.
"Ukh!"
Eric pun terduduk di lantai dan mulai memuntahkan darah dari mulutnya. Begitu banyak darah yang keluar hingga membuatnya sedikit pusing. Dengan cepat Eric pun mengambil ponsel dari saku celananya dan menelpon seseorang.
Drrrt drrrt drrrt
"Hallo Susan" kata Eric dengan suara bergetar.
"Ada apa?" jawab Susan dari seberang telepon.
"Bawakan aku obatnya ...."
"Apa? kamu kambuh lagi? Sudah aku bilang kan jangan pulang dulu, racun di tubuhmu belum sepenuhnya hilang dan lukamu itu belum sembuh benar, dasar ngeyel emang" teriak Susan.
"Jangan banyak bicara, cepat bawakan. Aku ... tidak bisa bertahan lebih lama lagi" kata Eric yang kini merasa tubuhnya sangat kedinginan.
"Baiklah, sekarang kamu dimana?" kata Susan.
"Di apartemen"
"Ya tunggu sebentar, aku akan menyuruh seseorang untuk datang ke sana"
"Tidak bisakah kamu datang sendiri ke sini?" protes Eric.
"Kamu gila ya? aku sedang berada di luar kota bersama tuan Lee untuk mengerjakan proyek kita. Jangan banyak tingkah, dia orang yang bisa di percaya kok. Tunggu saja dia akan datang sebentar lagi" kata Susan lalu memutuskan teleponnya.
Eric pun bangkit dari tempatnya lalu berjalan gontai menuju ke sofa sembari menunggu orang suruhan Susan.
Sudah hampir sepuluh menit, namun orangnya belum datang juga.
"Tidak ... Aku harus bertahan, jika aku menutup mataku sekarang , mungkin nanti aku tidak akan pernah bisa melihat Kyra lagi" batin Eric sambil berusaha tetap terjaga agar racunnya tidak semakin menyebar.
Racun di tubuh Eric sudah di beri penawar oleh Susan tapi karena racunnya sangat kuat dia tidak bisa sepenuhnya menghilang dari tubuh Eric. Dan kini Eric hanya bisa bergantung ke obat buatan Susan jika sewaktu-waktu racunnya kambuh lagi.
Beberapa saat kemudian bel pun berbunyi. Dengan tubuh yang sudah lemas, Eric pun berusaha berjalan ke arah pintu dengan terseok-seok. Setelah Eric membuka pintu terlihatlah seorang wanita cantik dengan setelan biru muda tengah tersenyum di hadapannya.
"Hallo, apakah anda tuan Eric? eh ..." sapa wanita tersebut dan kaget melihat Eric yang terjatuh di hadapannya.
Wanita tersebut membantu Eric untuk berdiri dan membopongnya ke dalam.