
Sore hari, Kyra baru saja pulang dari kampusnya. Ia pulang menggunakan taksi karena Eric tidak bisa menjemputnya. Setelah sampai di apartemen, Kyra segera masuk ke kamarnya dan mandi.
"Huh, hari ini hari yang sangat panjang" gumamnya sambil berendam di bak mandi. "Masak apa ya hari ini? Atau aku pesan saja?"
Setelah beberapa menit kemudian, Kyra bergegas keluar dari kamar mandi dan hendak mengganti pakaian. Saat Kyra tengah sibuk memilih baju di lemarinya, tiba-tiba punggungnya terasa hangat dan sebuah tangan kekar berada di pinggangnya.
"Kakak, kamu sudah pulang?"
"Hemmm" gumam Eric sambil menaruh kepalanya di bahu Kyra.
"Sejak kapan kamu ada di sini? Aku bahkan tidak melihatmu masuk"
"Kamu saja yang tidak memperhatikan ku" Eric semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Kyra yang masih terbalut handuk kimono.
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Tidak ada. Hanya saja aku sangat merindukanmu" bisik Eric sambil mencium aroma sabun mandi yang ada di tengkuk Kyra.
"Heeemmm ... Lepasin dulu, aku mau ganti baju. Tadi aku sudah pesan makanan. Kakak pergi mandi sana"
Bukannya melepaskan pelukannya Eric justru membalikkan tubuh Kyra agar menghadapnya. Ia pun mengecup kening Kyra.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba ..." kata Kyra menggantung.
"Hanya ingin saja, kenapa memangnya?" kata Eric sambil tersenyum menggoda dan Kyra hanya terdiam sambil menatapnya. "Bagaimana hari ini? Apa kamu kelelahan?"
"Tidak, kakak yang ada apa dengan hari ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?''
Eric meraih kedua tangan Kyra dan melingkarkan di bahunya. "Ya, hari ini ... Aku merasa senang sekaligus juga sedih"
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" kata Kyra khawatir.
"Tidak begitu serius. Tadi ... setelah makan siang Farhan menemuiku"
"Lalu?" kata Kyra dengan cepat.
"Dia bertanya, apakah aku akan segera menikah denganmu? Mendengar pertanyaannya sekaligus ekspresi wajahnya. Aku rasa kamu sudah mengatakan semuanya kepada Farhan. Jadi aku hanya mengiyakan saja" jelas Eric.
"Lalu? Bagaimana dengan dia? Apakah dia baik-baik saja?" kata Kyra khawatir.
"Dia baik-baik saja. Hanya saja, setelah itu dia tidak mengatakan apapun dan keluar dari kantor sejak siang tadi"
"Apakah dia akan baik-baik saja? Aku takut terjadi sesuatu kepadanya" gumam Kyra.
"Hey, calon suamimu ada di hadapanmu sekarang. Kenapa kamu memikirkan laki-laki lain?" gerutu Eric.
"Bukan begitu, aku hanya khawatir. Persahabatan kalian akan bermasalah karena hal ini. Bukankah kakak bilang dia sudah seperti saudara mu sendiri?"
"Iya ... Tapi mau bagaimana lagi? Biarkan saja semua terjadi, lagipula kita tidak bisa memaksa Farhan untuk membenci kita ataupun tidak. Yang pasti, kamu sudah menegaskan kepadanya. Ini hanya masalah waktu, setelah itu ... Aku yakin dia akan menerima keadaannya"
"Kakak bilang seperti itu, tapi dalam hatimu juga khawatir kan melihatnya?"
"Tentu saja, tapi untuk saat ini biarkan saja dia sendiri"
"Mungkin dia punya masalah lain, sudahlah jangan pikirkan mereka" kata Eric semakin mengeratkan pelukannya.
"Lalu? Kita mau apa lagi sekarang?" kata Kyra dan membalas Eric dengan mengeratkan pelukannya. "Apa ... Kakak ... Mau melakukan itu sekarang?" bisik Kyra sambil menyeringai dan membuat Eric mendelik terkejut.
"Ah, sial ... Kalau Kyra yang maju. Bagaimana aku bisa mundur? Aku harus segera kabur dari sini, aku sudah tidak tahan dengan godaannya"
"A-Apa maksudmu? Melakukan apa?" kata Eric tergagap sambil berusaha melepaskan pelukan Kyra.
"Kenapa?" Kyra malah semakin mengeratkan pelukannya. "Apa kakak tidak mengerti maksudku?" bisik Kyra lalu mengecup bibir Eric.
"A-aku mau mandi dulu, lepaskan pelukanmu"
Kyra pun memasang wajah cemberut. "Lihatlah, wajah kakak berubah menjadi merah. Sangat imut. Kakak seperti anjing kecil sekarang" kata Kyra berusaha menggoda Eric lagi sambil membuka kancing jas Eric.
"Ya! Ya! A-apa yang kamu lakukan?" Eric mencegah tangan Kyra.
"Apa lagi? Bukankah ini yang kakak mau? Datang ke kamarku dan memelukku. Bukankah kakak memang sedang menggodamu? Jadi kenapa sekarang terlihat aku yang sedang memaksamu?" kata Kyra sambil menahan geli saat melihat wajah Eric berubah menjadi merah merona.
"A-aku hanya merindukanmu, bukan untuk menggodaku. Ck, dasar. Sejak kapan kamu menjadi seperti ini?" kata Eric sambil berjalan mundur.
"Memangnya kenapa?" Kyra berjalan mendekati Eric.
"Te-tentu saja, i i-itu sangat menakutkan" kata Eric tergagap melihat wajah Kyra yang seolah-olah ingin memakannya mentah-mentah. "Sejak kapan gadis kecilku ini pintar menggoda pria? Lihatlah wajahnya ... Aakkkhh, aku tidak boleh tergoda. Eric, kuatkan imanmu ... Segera lah pergi dari sini. Kalau kamu sampai kalap, bisa habis kamu di gorok ayah"
"Oh ayolah kakak ... Kenapa kamu seperti melihat hantu"
"Aku mau mandi. Kamu segeralah mengganti pakaian" ucap Eric terburu-buru hendak membuka pintu. Namun dengan cepat Kyra memegang tangannya.
"Mandi saja di kamarku, aku juga bisa membantumu mandi" kata Kyra dengan gamblangnya sambil menaruh jari telunjuknya di dada Eric dan perlahan turun namun Eric segera menghentikannya.
"Apa? oh tidak ... Dasar setan kecil"
"Siapa juga yang mau kamu mandikan. Sudahlah, berhenti menggodaku"
Kyra malah mendekatkan wajahnya ke Eric. "Bukankah kakak dulu juga hobi sekali menggoda dan merayuku?" bisik Kyra sambil membelai telinga Eric dan mengedip-ngedipkan sebelah matanya membuat Eric merinding.
Gluk
Eric pun menelan salivanya. Ia mencoba menyadarkan alam bawah sadarnya. Sebenarnya, sudah sangat lama ia ingin menyentuh Kyra, namun ia sadar. Dia belum resmi menikah. Dan ancaman ayahnya, bukan hanya sekedar ancaman. Jika mereka melanggar, ayahnya pasti tidak akan segan-segan menghukum mereka. Lebih parahnya lagi, mungkin mereka pasti tidak akan jadi menikah.
"Oh ayolah, aku ingin memakanmu sekarang juga" batin Eric yang kini sedang memandang bibir mungil Kyra. "Tunggu dan lihat saja, setelah menikah. Aku akan menghabisi mu. Saat itu juga, kita lihat. Apakah kamu masih bisa menggodaku lagi"
"Ada apa? Apa kakak sedang memikirkan sesuatu?" ucap Kyra sambil menyeringai.
"Ish, dasar setan kecil" gumam Eric dan segera berlari keluar dari kamar Kyra.
Braakkk
Suara pintu kamar Kyra tertutup dengan keras.
"Pffftt. HAHAHAHA" kelakar Kyra tak tertahan. Sambil tertawa terbahak-bahak, ia berjalan ke arah ranjangnya. "Hahahaha, lihatlah wajah lucunya. Hahahaha, kakak, kakak. Kalau tau seperti ini, aku akan menggodamu dari dulu. Wajah lucumu itu, terlihat seperti anak anjing yang habis buang air di pinggir jalan. Hahahaha" Kyra pun merebahkan tubuhnya sambil tak henti-hentinya tertawa mengingat ekspresi Eric yang tertekan. "Hahhh ... Oh ayolah, tinggal beberapa hari lagi. Tapi terasa sangat lama sekali. Setelah itu, kita pasti akan menjadi keluarga yang sangat bahagia" gumam Kyra sambil tersenyum memikirkan kehidupannya setelah menikah nanti.