
"Huh" desah Farhan Terengah-engah. Ia pun kini menatap Mikha yang masih memejamkan matanya. "Astaga, apa yang aku lakukan?" batin Farhan. Mikha pun segera membuka matanya dan menatap Farhan yang sedari tadi memandanginya.
Melihat Mikha, Farhan pun menjadi gugup. "Maafkan aku" kata Farhan sambil memalingkan wajahnya. Farhan sangat malu, ia pun hendak pergi dari sana.
"Kenapa kamu minta maaf?" cegah Mikha.
"Tidak ada, anggap saja kejadian barusan tidak pernah terjadi"
"Apa?" Mikha pun beranjak dan berdiri di samping Farhan. "Kamu bilang apa barusan?"
Farhan menoleh ke arah Mikha yang sudah berdiri di sampingnya. "Anggap saja tadi tidak terjadi apapun di antara kita"
"Hah? Bisa-bisanya kamu mengatakan itu" kata Mikha tak percaya. "Apa begitu buruknya aku di matamu? Kamu berpura-pura tidak mengenaliku dan sekarang pura-pura tidak terjadi apapun di antara kita setelah apa yang kita lakukan barusan. Apa begitu caramu menghargai seorang perempuan? Tuan Farhan ... Anda ternyata benar-benar berbeda dari apa yang selama ini aku bayangkan"
Deg
Pernyataan Mikha membuat Farhan sedikit tidak tenang. Ya, dia merasa begitu egois dan keterlaluan. Dia pura-pura tidak mengenal Mikha yang jelas-jelas menyukainya. Dia juga melampiaskan rasa kesalnya dengan mencium Mikha. Ya, mungkin ini tidak adil bagi Mikha. Tapi, siapa suruh dia menciumku duluan, batin Farhan mencoba menyadarkan dirinya dari rasa bersalah.
Ceklek
Pintu kamar pun di buka lebar-lebar oleh Mikha. "Pergilah, terimakasih tuan Farhan telah mengantarku" kata Mikha sambil mengalihkan pandangannya ke samping.
Farhan menatap Mikha sejenak dan menghela nafas panjang. Entah mengapa dengan berat hati, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut. Saat ia di depan pintu, Farhan hendak berbalik namun Mikha dengan cepat menutup pintunya.
"Haish ... Memangnya ini salahku? Kamu sendiri yang menciumku. Aku ... Aku hanya ... Meneruskannya ... Apa itu salahku? Ck, dasar" gumam Farhan lalu pergi dari depan kamar Mikha.
Sedangkan di sisi lain, Mikha segera menyeruakkan wajahnya ke balik selimut setelah menutup pintunya.
"Dasar Farhan sialan. Dia pikir aku apa? Seenaknya saja menyuruhku melupakan apa yang baru saja terjadi. Itu kan ciuman pertama ku. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu? Dasar pria brengsek. Pantas saja Kyra lebih memilih Eric daripada dia" gerutu Mikha.
Dia pun mulai terbayang kembali saat Farhan menciumnya beberapa saat yang lalu. Hangatnya bibir Farhan masih bisa ia rasakan. Pipinya mengembang merah saat mengingat betapa manis ciuman pertamanya dengan Farhan.
"Woaaahhh ... Gila" teriak Mikha tertahan bantal. "Aku bisa gila kalau seperti ini" lanjutnya sambil menendang-nendangkan kakinya. "Huhhft huhhft, tenang Mikha, tenang ...." ucapnya menenangkan dirinya sendiri yang hampir menjerit-jerit. "Tapi, bibirnya ... Aakkkhh" Lagi-lagi Mikha berteriak sambil menutup mulutnya dengan bantal. Ia sangat senang mengingat Farhan sendiri yang berinisiatif menciumnya. Perasaan mendamba selama ini akhirnya tersalurkan meskipun hanya sebatas lewat ciuman sesaat bersama Farhan.
"Tapi ... Kalau di pikir-pikir lagi. Dia itu sangat keterlaluan. Aku sudah menyatakan perasaan ku berkali-kali dan dia juga menolak ku berkali-kali juga. Tapi ... Begitu aku menciumnya, dia jadi tidak tahan dan tidak ingin melepaskan bibirku. Apa yang dia pikirkan sebenarnya?" gumam Mikha sambil duduk memeluk guling. "Tau ah, karena dia bilang lupakan kejadian tadi. Maka aku akan berpura-pura saja. Lihat saja, apa yang akan dia lakukan jika aku juga berpura-pura tidak mengenalnya?"
Mikha segera merebahkan tubuhnya, dan beberapa saat kemudian ia pun terlelap.
Keesokan harinya, rumah kediaman keluarga pak Daniel pun sudah mulai sepi. Kyra dan Eric sudah pergi ke tempat yang sudah mereka pesan untuk melangsungkan acara pernikahannya.
"Apa kamu sudah menyiapkan yang saya katakan kemarin Farhan?" kata pak Daniel di depan pintu mobilnya.
"Sudah pak, semua sudah siap"
"Baiklah, kalau begitu ayo berangkat. Jangan biarkan Eric dan Kyra menunggu lama"
"Mikha, kamu berangkat bersama Farhan saja" kata Bu Sofia yang melihat Mikha hendak masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Tapi tan-"
"Biar lebih cepat, kita sudah terlambat. Nanti Eric akan mengamuk jika kita terlambat sedikit saja" kata Bu Sofia sambil masuk ke dalam mobil.
Farhan pun memandang Mikha penuh arti.
"Dia kenapa? Aneh. Dia gak pernah melihatku seperti itu sebelumnya" batin Mikha sambil membuang mukanya.
"Dia ... Masih marah? Tapi kemarin kan aku sudah minta maaf" Farhan pun segera berjalan ke arah mobilnya, lalu kembali memandang Mikha yang masih berdiam diri di tempatnya. "Dia kenapa sih? Biasanya juga selalu mencari kesempatan untuk mendekatiku. Kenapa sekarang malah cuek? Aku juga kenapa? Bukankah ini yang aku inginkan? Tidak di ganggu dan di buntuti olehnya. Tapi kenapa aku malah merasa ingin membujuknya?"
"Kamu mau berdiri terus di situ?" kata Farhan mengagetkan Mikha. "Cepat masuk"
Mikha memutar bola matanya malas. "Aku mau naik mobilku sendiri"
"Kamu mau diomeli Tante Sofia? Tante sudah menyuruhmu untuk berangkat bersamaku" kata Farhan mengingatkan, dan benar saja. Mobil pak Daniel dan Bu Sofia sudah sedari tadi pergi duluan.
"Gak peka sekali sih jadi orang. Aku tuh butuh di bujuk tau"
"Kalau kamu mau berangkat sendirian dan di marahi Tante ya sudah berangkat sendiri saja sana. Aku akan pergi duluan" kata Farhan sambil tersenyum tipis hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Eh tunggu" ucap Mikha terburu-buru. Mikha segera berlari ke arah mobil Farhan. "Baiklah, aku akan masuk" lanjutnya dengan kesal sambil masuk ke dalam mobil Farhan.
Farhan pun tersenyum penuh kemenangan. Dia segera masuk ke dalam mobil.
"*Sial, benar-benar nih orang. Gak tau cara bujuk cewek apa?"
"Kenapa kalau marah kamu jadi imut sekali? Aku baru tau kalau kamu secantik ini*" pikir Farhan dalam hatinya sambil mengemudikan mobilnya. "Apa yang kamu pikirkan Farhan? Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu?"
Farhan melirik Mikha yang duduk di sampingnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Ehem" gumam Farhan memecah kesunyian namun Mikha masih saja terdiam. "Ehem"
"Oh, ayolah. Kenapa aku tidak tahan melihat dia yang terdiam seperti ini? Biasanya dia selalu ngerecokin aku, dia diam seperti ini membuatku tidak tahan" batin Farhan yang tidak terbiasa melihat Mikha terdiam tanpa berbicara sedikitpun. "Kamu ... Masih marah?"
"Kenapa aku marah?" kata Mikha sewot.
"Tentang ... Emmm ... Kejadian kemarin. Aku minta maaf, aku kelepasan"
"Memangnya kemarin ada kejadian apa? Kenapa kamu minta maaf?"
"Kamu ..." Farhan pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Apa yang kamu lakukan?" Mikha pun terkejut karena Farhan tiba-tiba menghentikan mobilnya.
Farhan melepaskan sabuk pengamannya dan menoleh menatap Mikha.
"Ka-kamu mau apa?" kata Mikha gugup.
"Aku sudah minta maaf, kenapa kamu masih marah?" ucap Farhan sambil menatap Mikha dalam-dalam.
"A-aku ..." kata Mikha menggantung, sebenarnya dia tidak berniat marah kepada Farhan, hanya saja dia kesal karena Farhan mengatakan tidak terjadi apapun kemarin.
"Jangan bilang, kamu marah karena kemarin adalah ciuman pertama mu?" tebak Farhan yang memang benar.
"Ba-bagaimana kamu tau?"
"Baiklah kalau begitu, aku juga bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Jadilah pacarku" ucap Farhan tanpa ragu.
Mikha terdiam sejenak mencerna kata-kata Farhan. "Apa?"
"Jadilah pacarku"
"Apa kamu gila?" kata Mikha tak percaya.