
Keesokan harinya, seperti biasa Eric mengantarkan Kyra berangkat ke kampusnya. Eric menghentikan mobilnya di seberang jalan.
"Nanti aku akan menjemputmu. Tapi ingat, hanya makan siang. Tidak boleh ada yang lain" kata Eric mengingatkan Kyra yang hendak makan siang dengan Farhan.
"Iya, aku tau. Kalau begitu aku berangkat dulu ya"
"Kamu melupakan sesuatu"
"Apa?"
Eric pun menunjuk pipinya. Kyra tersenyum dan segera mencium pipi Eric.
"Udah ya ... Daaahh" Kyra pun turun dari mobil dan segera berjalan masuk ke kampusnya. Dan Eric segera melajukan mobilnya untuk pergi ke kantor.
"Kyra .." teriak seseorang yang tak asing bagi Kyra.
"Hay Mikha"
Mikha setengah berlari menghampiri Kyra yang berada di depan gerbang kampusnya.
"Aku senang sekali bisa melihatmu kembali kuliah lagi. Aku kesepian tau gak ada kamu selama ini"
"Jangan lebay, udah ayo masuk"
Mereka berdua pun segera masuk ke dalam kampus. Namun, setelah Kyra masuk ke dalam koridor. Banyak mata yang memandangnya tak suka. Tak jarang mereka juga melontarkan kata-kata yang buruk kepada Kyra.
"Lihatlah, betapa tidak tau malunya dia" bisik salah satu mereka.
"Heemm, tidak hanya jadi istri simpanan. Dia juga sering jalan sama om om"
"Menjijikkan, dia bersembunyi dari balik wajah polosnya"
"Kalau aku jadi dia, aku pasti akan sangat malu dan tidak akan kembali ke kampus ini"
"Ya, dia cukup tidak tau malu"
Kyra yang mendengar pembicaraan mereka sedikit sakit hati.
"Mereka mengatakan semua itu, tapi tidak pernah tau bagaimana diriku sebenarnya. Sabar Kyra, jangan stress dan jangan marah. Kasian anakmu, dia akan ikut stress nanti. Mereka hanya bicara sembarangan, anggap saja angin lalu"
"Kamu tidak apa-apa Kyra?"
"Memangnya aku kenapa? Aku tidak apa-apa"
"Mereka bicara sembarangan, jangan anggap perkataan mereka"
"Aku tidak peduli dengan orang yang tidak mengenalku Mikha. Cukup orang terdekatku yang harus mempercayai ku. Itu sudah cukup, mereka hanya tau tentang omongan orang. Tapi tidak dengan diriku yang sebenarnya"
"Ini semua gara-gara Nuril. Aku akan buat perhitungan lagi dengannya" ucap Mikha geram.
"Untuk apa? Kamu buang-buang waktu saja Mikha"
Mereka berdua pun duduk di bangku kelasnya. Tak berapa lama, ada segerombolan mahasiswi yang menghampiri mereka.
"Heh, Kyra" ucap salah satu dari mereka.
"Kalian mau apa?" kata Mikha sedikit kesal. Sedangkan Kyra tak menganggap mereka.
"Pergi kamu dari sini. Dasar wanita jalng. Kamu gak pantes ada di kampus ini"
"Benar, kamu gak pantes kuliah di sini. Pergi kamu, kamu mencemari nama baik kampus ini"
"Siapa kalian bisa memutuskan aku pantas atau tidak kuliah di sini? Kalian juga tidak lebih baik daripada aku. Kalian tidak berhak memutuskan aku pantas atau tidak berada di sini" ucap Kyra tanpa Menoleh ke arah mereka.
"Dasar wanita jalng. Berani kamu bicara begitu ke kami. Kamu tidak tau siapa kami. Kami adalah anak dari komite di kampus ini"
Kyra yang tadinya sedang membaca buku, kini menutup bukunya dan beralih memandang mereka.
"Benarkah?" kata Kyra.
"Tentu saja. Ada apa hah? Kamu takut kan? Kamu itu siapa dasar jalng, sudah pergi sana. Jangan kuliah lagi di sini"
"Hahahaha, hanya komite aja bangga. Dasar sampah" imbuh Mikha.
"Apa? kamu ngatain kita sampah?"
"Tentu saja, kalian bukan mahasiswa berprestasi, tapi kerjaan kalian menindas orang lain. Apa lagi sebutannya kalau bukan sampah?" kata Mikha yang sedari tadi berdiri di samping Kyra yang tengah duduk di bangkunya.
Kyra yang jengah mendengar ocehan mete, ia mulai menyandarkan punggungnya dan menyilangkan kedua tangannya. "Kalian bicara apa? Sebelum kalian mengeluarkan Mikha dan aku. Kalian pasti akan keluar dari kampus ini duluan"
"Jangan sombong kamu, kamu wanita jalng yang tidak punya latar belakang dan mengandalkan om om di belakang mu"
Satu kalimat itu tepat sasaran, membuat Kyra marah dan muak.
"Katakan siapa papamu, aku akan menyuruh papaku untuk mengeluarkan mereka dari komite kampus ini" imbuh Mikha geram.
"Haha, kamu bercanda memangnya siapa papamu dasar bodoh. Kalau kamu anak pemilik kampus ini, aku akan tunduk kepadamu dan menjilat kakimu"
"Bagus, catat ucapan mu barusan" Mikha pun segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang. "Halo pa, ada orang yang menindas ku di kampus, dia bilang anak dari komite di kampus kita. Ya ... Dia semena-mena karena papanya adalah salah satu dari komite di sini. Hem ... baiklah pa" Mikha pun mengakhiri sambungan teleponnya.
"Sudah? Hahahaha, aku kira acting mu bagus juga" ejek salah satu dari mereka.
Tak berapa lama, salah satu ponsel mereka pun berdering.
"Halo pa ... Apa?"
"Ada apa?"
"Dasar jalng sialan, kamu bersembunyi di balik anak pemilik kampus ini. Kyra, aku tidak akan melepaskan mu dasar wanita jalng"
"Apa? Jadi ... Mikha beneran anak pemilik kampus ini?"
Kyra yang sedari tadi menahan amarahnya, dia pun sudah kehabisan kesabarannya. Kyra berdiri dan menghampiri mereka dengan tatapan mematikan.
"Katakan sekali lagi. Aku tidak mendengar ucapan mu"
"Kamu wanita jal-"
Plak
Sebelum dia menyelesaikan kata-katanya, Kyra dengan keras menampar pipi mahasiswi tersebut dan membuat seisi kelas terkejut dengan sikapnya.
"Kamu ... beraninya kamu menampar ku"
"Kamu pantas mendapatkan itu. Kamu bilang aku wanita jalng? Kamu sendiri bahkan lebih jalng daripada aku. Jangan kira aku tidak tau kehidupan malam mu. Tapi aku tidak bermulut besar seperti mu. Aku juga tidak pernah merasa menyinggungku. Tapi kamu melakukan ini semua seolah-olah aku merebut sesuatu darimu. Dengar ... Kamu tidak berhak melarang ku kuliah di sini. Aku sarankan kamu agar tidak menggangu ku. Atau kamu akan merasakan akibatnya" ancam Kyra.
"Dasar. Kamu ..."
"Ayo pergi dari sini"
Segerombolan mahasiswi itu pun segera meninggalkan Kyra dan juga Mikha.
"Kamu tidak apa-apa Kyra? Mereka keterlaluan"
"Aku tidak apa-apa, hanya saja ... Aku sedikit kehilangan kendali"
"Tidak apa. Kamu sudah beri mereka pelajaran. Ayo duduklah" Mikha pun mengajak Kyra kembali ke bangkunya. "Aku takut sekali tadi. Aku takut terjadi sesuatu kepada mu, mangkanya aku menelepon papa. Aku tidak mau mereka menyakitimu"
"Aku merasa marah karena mereka bicara yang tidak tidak. Jadi aku geram dan menamparnya"
"Tidak apa-apa. Kamu sudah benar. Tapi Kyra ... Sejak kapan kamu jadi pemberani seperti ini? aku tidak pernah tau kamu orangnya seperti ini sejak kita berteman"
"Aku juga tidak tau, akhir-akhir ini aku sedikit merasa agak kejam. Kamu lihat saja kemarin, saat kakak memerintahkan untuk mematahkan tangan wanita kemarin. Aku justru malah senang. Dan tadi ... Rasanya aku juga ingin memotong lidah mereka"
"Heemm .. Mungkin itu salah satu efek dari kehamilanku Kyra. Ah sudahlah, lupakan Mereka. Nanti ayo makan bakso, aku tau kamu paling suka bakso di kantin ini"
"Maaf Mikha, hari ini aku tidak bisa menemanimu makan siang. Aku ada janji dengan seseorang"
"Siapa?"
"Ah, nanti kamu juga akan tau"
"Kamu mulai menyembunyikan sesuatu dariku? aku tidak suka" kata Mikha cemberut.
"Setelah urusanku selesai, aku akan ceritakan semuanya kepadamu. Ini juga demi kebaikanmu"
"Benar ya? Awas kalau bohong"
"Beneran"
Sedang di kejauhan, Nuril mengamati mereka dengan kesal. "Sejak kapan dia bisa melawan? bukankah dulu dia orang yang gampang ditindas? sial, awas saja kamu Kyra.